
"Dek! Mami, kan, udah. Papinya kapan?"
Masih pagi, tetapi Kak Bagas sudah membicarakan itu. Setelah mendapat perlakuan istimewa kemarin siang, Kak Bagas jadi kecanduan dikenalkan kepada orang tuaku. Terlebih karena Arfan kalah telak dan langsung pamit pulang. Alhasil, dia seorang diri yang Mami manja dan bangga-banggakan.
"Dek?" panggilnya karena aku malah termenung mengingat kejadian tadi.
"Mau pagi ini?"
Aku menawarkan. Papi cuma tiga hari di Bandung. Lusa akan kembali bekerja di Banten. Sengaja menawarkan hari ini, supaya tidak terkesan mendadak.
"Boleh!" jeritnya penuh semangat. "Abang ini langsung caw, kok!"
"Oke. Adek tinggal dandan doang." Aku lekas mengambil ponsel dan menyimpannya di meja rias.
"Mana liat mukanya?" Wajah Kak Bagas sudah memenuhi layar. Dia bilang begitu karena sedari tadi yang terlihat olehnya hanya langit-langit kamar. Maklum, aku sedang berganti pakaian setelah mandi.
"Ini." Aku mulai menata ponsel. Menyandarkannya ke kotak kosmetik sampai benda itu fokus menangkap wajahku.
"Udahlah, enggak usah dipoles. Udah cantik, kok."
Pujian itu hanya kujawab dengan anggukan. Bukankah cowok biasa begitu? Bilang tidak perlu dandan, sudah cantik, sudah oke. Giliran cewek bening lewat, ya, tetap melipir juga.
"Dek, abang ini berangkat, ya. Tungguin, lho! Jangan dimatiin dulu!"
"Hati-hati di jalannya," ucapku sambil membubuhkan krim di wajah.
"Iya, sebentar, ya."
Aku tidak menjawab lagi karena pemandangan di layar sudah berganti hitam. Kak Bagas seperti memasukan ponselnya ke saku celana. Tak lama setelah itu, aku bisa mendengar bunyi grasak-grusuk yang tak menentu. Sambil menunggu tampilan layar berganti jadi pemandangan pagi, ada baiknya aku kembali mematut diri.
Setelah semua sudah terpampang rapi, aku lekas beranjak dan menyampirkan ransel di bahu. Aku menyaksikan layar ponsel sambil berjalan keluar kamar. Layar yang semula hitam sudah berubah menjadi pemandangan jalanan pagi yang Kak Bagas lewati. Dia sudah pergi rupanya dan sedang dalam perjalanan menuju kemari. Aku mempercepat langkah menuruni anak tangga. Bergabung bersama Papi, Mami, dan Kak Sonia yang sudah bersiap menyantap makanan.
"Mi, enggak perlu pake kantong." Aku menahan aktivitas Mami yang hendak menyiapkan bekal sarapan untukku dan Bagas.
"Lho, kenapa?" Mami keheranan karena mungkin tidak seperti biasanya.
"Mau makan di luar kali, Mi," ujar Kak Sonia yang salah tebakan.
"Dara izin makan di sini, ya. Kak Bagas juga mau ikutan," tuturku sambil melihat wajah Papi dan Mami secara bergantian.
"Cie ... ada yang go-public," kelakar Kak Sonia dengan kerlingan mata.
"Nah, gitu dong! Kenalin ke orang tua. Jadi, papi sama Mami tau wujud orang yang jemput Dara." Papi berkata dengan tenang.
...***...
__ADS_1
Cukup menunggu lima belas menit dan orang yang sedang berada dalam perjalanan sampai. Keluargaku yang begitu antusias menyambut sarapan bersama Kak Bagas rela tidak menyentuh makanan sampai sosok yang ditunggu-tunggu ini tiba. Aku lekas berlari keluar rumah saat layar ponsel memberi isyarat kalau dia sudah menepi di depan pagar. Video call aku putus sementara waktu, menyimpan ponsel di saku rok, lalu bergegas membuka pintu pagar.
"Selamat pagi," sapanya yang sudah biasa terdengar di telingaku.
"Pagi," balasku dengan senyum bersemangat. "Bang, jangan dimasukin ke garasi, ya!"
Kak Bagas terlihat menekan remnya kencang. Dia memasang wajah sedikit terkejut.
"Naik moge aja ke sananya," ucapku menjelaskan alasannya.
"Serius?" Mata Kak Bagas berubah antusias. Dia pasti tidak menyangka.
"Iya." Aku mengangguk mantap.
"Kok tumben? Bukannya takut buka paha?"
"Adek nanti pake celana panjang kok."
Ya, sekali-sekali menerima kesenangannya tidak salah juga kan? Aku hanya perlu mengganti celana dengan rok saat sudah sampai di sekolah. Kak Bagas saja kemarin berkenan menerima keribetan menukar motor moge dengan matic. Mungkin sudah saatnya kami berganti posisi.
Kak Bagas sudah selesai memarkir motor di halaman, melepas helm sebentar sebelum berjalan menghampiriku. Seperti biasa, aku menyempatkan diri menyisir rambut bagian depannya dengan jari.
"Jadi, nih, ketemu Papi?" tanyanya yang belum kuberitahu tentang sarapan bersama.
"Jadi dong. Sarapan bareng, ya?" ajakku hati-hati. Takut Kak Bagas tiba-tiba tidak setuju dan nyalinya jadi menciut.
Sayangnya, dia malah menjawab penuh semangat. Sungguh berbeda dari tebakanku.
"Abang malah seneng. Jadi, keliatan sopan-santunnya kan?" Senyumnya lagi-lagi lebar dan menawan. Baru kali ini aku melihat sosok lelaki yang begitu antusias ketika dikenalkan kepada kedua orang tuaku. Arfan saja dulu tidak seperti ini reaksinya.
Aku berjalan masuk lebih dulu, disusul Kak Bagas yang tak lepas membuntutiku. "Mi, Pi, ini Kak Bagas." Sengaja aku menggeser posisi tubuh, supaya Kak Bagas bisa mudah terakses oleh Papi dan Mami.
"Mami dan Papinya Dara, maaf Bagas ganggu pagi-pagi."
"Sini masuk, Bagas!" Papi mempersilakan tamunya untuk lekas bergabung ke meja makan.
"Ketemu lagi, ya, Bagas," sapa Mami yang mulai menata piring kosong di samping mejaku.
"Iya, Mi. Jangan bosen-bosen, ya!"
"Ya, enggaklah. Masa mami bosen," balas Mami.
Aku memandangi wajah Kak Bagas yang tiada hentinya menebar senyuman. Bagus juga. Dia menerapkan sistem SKSD, sehingga lebih mudah dalam fase mengambil hati.
"Ayo, Gas. Duduk dulu!" Mami sudah selesai membenahi piring kami supaya bisa duduk bersebelahan.
__ADS_1
"Dara jangan bengong terus dong! Ajak Bagasnya makan," perintah Papi yang lekas aku setujui.
"Ayo, Bang!" ajakku pelan karena takut terdengar keduanya.
Kami duduk di posisi masing-masing. Papi tetap berada diposisi yang memimpin meja, Mami di sebelah kanannya, kemudian Kak Bagas di sebelah kirinya, aku terpaksa menggeser duduk Kak Sonia karena ingin lebih dekat dengan Mami.
"Kakak ke mana, Mi?" tanyaku yang mulai menyentuh sendok dan piring.
"Ke belakang dulu. Sakit perut kayaknya."
Aku tidak berkata lagi karena memilih fokus menyantap makanan. Sesekali aku melihat Papi yang terus memberi lauk-pauk ke piring Kak Bagas. Mendapati respons yang baik, hatiku jadi yakin kalau Papi menyukainya. Sebelumnya, Papi tidak seperti ini. Mungkin karena dulu Arfan tidak pernah mau bila diajak bergabung di ruang makan. Alhasil, ketika Kak Bagas berbeda, Papi jadi senang dan lebih terbuka. Hah, syukurlah! Sepertinya, aku tidak salah memilih hati dan menyukai seseorang sekarang.
......***......
"Kenapa sih senyam-senyum terus?" tanyaku karena sedari berangkat dia tak berhenti menampakkan senyuman. Tangannya tetap menggenggam tanganku ketika berjalan melewati barisan motor di parkiran.
"Seneng aja!" Dia semakin tersenyum lagi. Saking lebarnya, kedua mata itu terlihat menyipit.
"Gara-gara makan sama ortu adek?" tanyaku memastikan.
Aku menghentikan langkah karena Kak Bagas tiba-tiba berpijak. Dia berubah mengulum senyum dan lekas memberikan jawaban dari pertanyaanku barusan. "Iya. Ini pertama kalinya abang dikenalin ke ortu cewek. Pake makan bareng pula."
Ah, benar. Kak Bagas kan tidak pernah pacaran lama sebelumnya. Cuma terhitung tiga hari. Pantas saja belum punya momen berkenalan dengan orang tua pihak wanita. Sedikitnya, aku jadi merasa malu. Momen pertamaku kenal orang tua lawan jenis, ya, tiga tahun yang lalu. Saat berpacaran dengan Arfan.
"Tau, enggak? Abang tuh ngedadak punya rasa percaya diri yang tinggi."
"Apa, sih?" decakku sebal. Mulai deh lebaynya!
"Serius. Abang jadi lebih PD karena udah dapet restu. Yes!" Tangannya yang terkepal mengapung ke udara.
Dia benar-benar senang rupanya. Tahu dia akan begini, mungkin sudah kubawa ke depan Mami-Papi dari jauh-jauh hari.
"Udah deh, Bang!" Aku menepis tangannya yang terapung karena mulai dilihat beberapa orang yang berlalu-lalang. "Malu."
"Bodo amat, ah! Abang bahagia banget soalnya. Udah mah kemaren dipilih sama Mami, terus hari ini disambut baik sama Papi. Ah, udahlah! Jadi, pengen diem di rumah Adek terus," jelasnya panjang lebar dan penuh semangat. "Besok-besok kita sarapan di rumah adek aja, ya?" ajaknya yang hanya kujawab dengan anggukan. "Suruh Mami berhenti buatin kita bekal nasi karena abang—"
"BAGAS!"
Teriakan yang tiba-tiba itu membuat ucapan Kak Bagas berhenti. Kami celingukan mencari sumber suara yang baru saja memanggilnya. Beberapa detik mencari, kami pun menemukan sosok itu. Mataku lantas membulat. Dengan kening mengernyit ingatanku menguap. Kejadian malam itu tidak mungkin aku lupakan. Cewek yang memanggil Kak Bagas tadi adalah sosok itu. Dia pernah bertemu denganku, disertai aura misterius memberikan selembar denah anak JurMad untuk memudahkan investigasi pelacakan Ketua BagasLovers.
Senyumnya yang menawan terlempar ke arah kami. Aku pun berlanjut memperhatikan wajah Kak Bagas. Dia mematung, bahkan tidak berkedip sedikit pun. Mendadak sekelebat firasat buruk menghampiriku. Apakah gadis yang datang ini, dia?
Lalu, sebuah adegan tiba-tiba muncul di depan mataku. Gadis itu berlari menembus barisan motor yang terparkir rapi, lalu dalam sekali sentakan dia memeluk tubuh Kak Bagas erat-erat. Tentu saja hal itu diluar nalar dan dugaan seorang Dara Dwiana. Aku sampai menahan napas karena tidak pernah menyangka sosok gadis itu mengenal Kak Bagas.
"Aku pulang, Bagas! Makasih udah nepatin janji buat nangkap mereka. Makasih!"
__ADS_1
Sedang asyiknya menonton pertunjukan yang mengharukan, tubuhku kembali harus tersentak karena genggaman Kak Bagas di tanganku mendadak mengendur dan terlepas. Dia yang tadinya mematung, berakhir mengedip beberapa saat sebelum berkata, "S-Shafira."
......***......