Pacar Bohongan

Pacar Bohongan
Melawan Hujatan dengan Aksi


__ADS_3

Selesai sarapan aku kembali masuk kamar, menarik selimut dan melanjutkan kegiatan rebahan sambil membaca chat yang terkumpul di grup kelas. Hah! Pagi-pagi aku sudah panen hujatan. Satu per satu pesan kubaca dengan hati lapang.


Maya


Zaman sekarang mah gampang, enggak perlu cantik yang penting gatel!


Nanda


Dibuang Arfan, dipungut Bagas. Bukan maen!!!!


Emil


Please! Racikin obat anti pelet buat Bagas.


Yusti


SaveforBagas


Sri


Modal gatel doang gue juga bisa


"RA!"


"Y-ya?" Tubuhku tersentak dan hampir melempar ponsel ke ranjang. Teriakan Kak Sonia di ambang pintu cukup menusuk gendang telinga sehingga konsentrasiku buyar seketika.


"Ngapain, sih? Serius amat." Dia berjalan memasuki teritorial kamar.


"Kakak yang ngapain? Bukannya ketuk dulu," dumelku seraya mengambil ponsel yang sempat terjatuh.


"Lagi nonton bokep, ya?" candanya sambil melompat ke kasur.


Aku sudah biasa mendapat candaan seperti itu berujung memperlihatkan ponsel dengan layar yang menyala. "Ini bokep?" Sengaja wajahku memasang raut datar.


"Eh, kenapa masih dihujat, sih?" Mata Kak Sonia sontak terbelalak. Diambil ponsel itu guna membaca isi pesan lebih lengkap.

__ADS_1


"Kenapa, ya?" tanyaku pada diriku sendiri meskipun sudah tahu perihal jawabannya.


Tangan Kak Sonia masih menggulirkan layar, bola matanya naik-turun membaca keseluruhan pesan yang kudapat hari ini. "Bagas, siapa, sih?" tanyanya dengan raut tak suka.


"Yang kemaren pergi bareng aku."


"Oh, yang punya moge?" Ekspresinya langsung berubah drastis. Dia terlihat bahagia saat mengungkap fakta pemilik moge yang kemarin terparkir di garasi. "Namanya Bagas, kenapa enggak dikenalin ke kita?"


Maksud yang dibicarakan kita itu Mami, Papi, dan Kak Sonia. "Belum waktunya. Lagian baru keitung hari, kok, jadiannya."


"Lah, bukannya waktu sama si Dodot sehari jadian juga udah ditarik ke depan Mami-Papi?" cibir Kak Sonia dengan mata mengerling.


Tentu saja bukan itu alasan yang sebenarnya. Kak Bagas berbeda posisi dengan Arfan. Dia sengaja aku kenalkan karena memang pacar sungguhan, sedangkan Kak Bagas hanya pacar bohongan.


"Kenapa?" Kak Sonia menoyor daguku karena tiba-tiba termenung. "Cerita, dong, kalau banyak pikiran, tuh! Jangan dipendem sendiri!"


"Kak! Waktu SMK, ketua OSIS-nya punya pacar, enggak?" Aku jadi penasaran, Kak Sonia, kan, lulusan SMKF Bangsa. Apa netizen berketikan pedas sudah terlahir saat dia masih sekolah di sana?


"Punya. Kamu inget Kak Ervi?" Kepalaku mengangguk karena mengingat sahabat Kak Sonia yang sekarang mengambil jurusan Kebidanan. "Nah, dia pernah pacaran sama ketos."


"Ya, sempet, tapi cuma beberapa hari, kok. Bagas Ketua OSIS juga emangnya?" Tebakan Kak Sonia kujawab dengan anggukan. "Eh, gila, lu! Pantes, aja, ada bahasa dibuang Arfan, dipungut Bagas."


"Iya, karena itu." Mataku mendelik ke arah ponsel yang masih digenggamnya.


"Enggak pa-pa. Bawa santai, aja! Minggu depan pasti mereka berhenti hujat, kok. Maklum, aja! Mungkin mereka kaget karena kamu dapet yang lebih baik."


......***......


Kak Bagas datang menjemput lebih pagi dari hari Sabtu. Alasannya, sih, karena takut kesiangan upacara. Lalu lintas hari Senin memang tidak bisa disepelekan. Jalanan Cihampelas biasanya super-duper macet sampai sulit rasanya untuk memajukan kendaraan.


Masih mengendarai motorku, dia memimpin jalanan yang mulai dipadati kendaraan. Beruntung karena keahliannya menjalankan motor sudah diatas rata-rata, sehingga tak sulit baginya menembus kemacetan dengan mengambil jalan kecil di samping mobil.


Kami sampai pukul 06.10. Butuh waktu 40 menit untuk sampai ke sekolah. Motorku terparkir di barisan ke lima. Sayup-sayup terdengar suara beberapa siswa yang tengah mengecek mikrofon untuk persiapan upacara. Seperti sudah menjadi kebiasaan, aku menyerahkan helm kepada Kak Bagas supaya ditata dengan baik.


"Rambut abang udah rapi?" tanyanya tampak sedikit tergesa.

__ADS_1


Aku tersenyum simpul, mengulurkan sebelah tangan seraya berkata, "Sini!" Sedikit bingung, tetapi Kak Bagas tetap mengitari motor dan mendekatiku. "Lain kali minta tolong, aja, enggak usah liat kaca spion, ya!" Tanganku menyisir rambut yang menutupi dahinya sampai rapi. "Udah," ucapku sambil menatap langsung bola matanya.


Napasku tertahan disertai degupan jantung yang tak biasa. Berhadapan dengan jarak sedekat ini membuat pergerakan tubuh dan otak sedikit melambat. Aku hanya mampu mengedipkan mata karena terlalu jatuh dengan pesona wajahnya. Wah, ternyata Kak Bagas punya tahi lalat kecil di tulang pipi sebelah kanan. Kenapa aku baru menyadarinya, ya?


"K-kamu liatin apa, Ra?"


"I-itu," tunjukku tepat di tahi lalatnya. Aku menelan ludah karena kerongkongan terasa tersumbat meskipun tak ada penyebabnya. "Tahi lalatnya lucu." Aku terkekeh-kekeh sambil menjauhkan pandangan. Terlalu gugup sampai aku menjadikan tahi lalat sebagai perlindungan.


Kak Bagas terdiam. Terlihat berusaha tidak menganggap serius hal tadi. Dia bahkan berdeham sebelum mengajakku berjalan. "Ayo!" Tangannya menggapai sebelah tanganku, mengajak masuk ke area sekolah sambil bergandengan. Jujur ini diluar dugaan. Dia tidak memberiku isyarat terlebih dulu untuk melakukan ini di depan umum. Alhasil, aku meremas genggaman tangannya sambil mengikuti langkah dari belakang.


"Santai," gumamnya, menoleh ke arah belakang, lalu menyematkan senyuman. Kepalaku mengangguk dan ikut tersenyum juga.


Kami harus melewati kawanan orang yang sudah memarkir motor dengan wajah melongo. Banyak dari mereka yang tidak menyangka, terkejut, dan berusaha acuh. Aku cukup berbangga hati diperlakukan begini. Kak Bagas tanpa pandang malu menggandeng tanganku, menunjukkan status kami ke hadapan semua orang. Tentu saja ini membuatku percaya diri, menampar ketikan berisi hujatan dengan sebuah aksi nyata.


"Bang!" Aku menarik lengannya supaya kami berhenti melangkah.


"Kenapa?" tanyanya yang masih belum sadar kalau arah ke kelasku mengharuskan kami belok kanan dari lapangan upacara ini.


"Pisah di sini, aja, ya," pintaku yang memaklumi rasa tergesanya. Dia pasti tak enak hati karena belum bergabung dengan anak buahnya dalam mempersiapkan peralatan upacara.


"Abang mau anter sampe kelas, lho, tadinya."


"Yakin?" Aku menatap sanksi.


"Yakin, Sayang!"


"Tapi arah ke kelas adek bukan ke sana." Aku menunjuk arah yang dia tuju. Sudah jelas kalau menempuh jalan lurus akan sampai di anak tangga menuju lantai dua.


"Astaga, Sayang, maaf!" Kak Bagas menangkup kepalaku, lalu tersenyum sambil memejamkan mata. Aksi spontanitasnya berujung mendapat sorakan dari anak OSIS.


"Udeh, Pak, udeh! Bantu kita sini! Pacaran mulu!" teriak Kak Ayu dari dekat tiang bendera.


Kak Bagas mengambil posisi semula. Berdiri tegak dan meluruskan pikiran yang kalut akibat tergesa. Dia menangkupkan kedua tangan depan dada, memohon permintaan maaf karena datangnya didahului oleh para anak buah.


Sudah puas menjadi pusat perhatian, buru-buru aku mengambil sekantong jatah sarapan Kak Bagas dari ransel. Tanganku menarik tangannya yang menangkup, lalu memberikan kantong plastik itu. "Makan dulu, ya! Jangan sampe enggak dimakan! Nanti Mami marah."

__ADS_1


......***......


__ADS_2