Pacar Bohongan

Pacar Bohongan
Break atau Putus?


__ADS_3

Aku membisu. Menahan napas sambil menatap jauh ke dasar bola matanya. Situasi yang mendadak hening ini membuatku sedikit berharap bisa menemukan secercah penyesalan dari ucapan itu. Berharap Kak Bagas meminta maaf, tetapi yang kudapati hanya sorot mata yang serius.


Aku berujung mengangguk, tersenyum simpul, lalu beranjak dari pinggiran ranjang. Hanya satu kata yang bisa aku lemparkan sebagai jawaban untuknya. "Oke."


"Oke?" Kak Bagas balik terkejut. Dia sampai menahan tanganku, supaya tidak melangkah melewatinya. "Apa maksudnya, Ra?"


"Break itu apa?"


Jujur, masih setengah sadar aku bertanya begini. Aku hanya ingin mencocokkan pemikiranku dengan pemikirannya perihal kata break.


"Break itu putus, tapi untuk sementara waktu. Kenapa gak dipikir dulu sebelum jawab oke?"


"Iya, Kak," sahutku yang sudah mencocokkan artinya. Aku menepis genggaman tangannya, berjalan mendekati meja belajar untuk mengambil tas dan ponsel.


"Ra?" panggilnya lagi, kali ini dia ikut berjalan ke ambang pintu kamar. "Kamu masih ngantuk, ya? Masih setengah sadar? Kenapa reaksinya cuma begitu, doang?"


Aku menunduk. Jauh di dasar hati, rasaku sudah hancur berkeping-keping. Aku begini karena pembawaannya yang santai dan tidak merasa bersalah. Aku begini karena merasa Kak Bagas sudah mantap mengambil keputusan.


"Kamu paham arti break, kan? Kakak minta ini bukan maksud ngajak putus lho, Ra. Kakak cuma minta jeda waktu buat jalani hidup sendiri-sendiri. Kakak pengen fokus selesaikan dinas yang tersisa, udah begitu—"


"Iya," pungkasku yang tidak menerima alasan apa pun.


"I-iya?"


"Terserah kakak, aja." Kali ini aku berucap sambil menatap langsung ke bola matanya. Tentu saja Kak Bagas tertegun. Matanya yang berair membuatku yakin kalau ucapan barusan mampu menohok dasar jiwanya.


Mumpung dia tertegun, mumpung dia lengah, aku kembali mengambil langkah. Perlu melewati ambang pintu kamar, melewati Kak Arman dan kekasihnya, sampai akhirnya langkahku kembali terjeda karena ucapan seorang wanita. "Ra, pesenan kamu."


Masih dalam mode menahan napas dan mengepalkan tangan, aku mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu untuk membayar pesanan itu. "Makasih, Kak."


"Kebanyakan, Ra," ucap Kak Arman.


"Gak masalah, Kak. Anggap, aja, buat ganti bensin." Aku memberikan senyum terlebar kepada mereka sebelum akhirnya pergi tanpa membawa seporsi makanan pun.


"RA?!"


Terdengar sebuah teriakan dari orang yang sama. Derap langkahnya yang lebar dan terburu cukup mengisi gendang pendengaranku yang masih terduduk di teras gedung. Tanganku yang mulai gemetar cukup kesulitan memakai sepatu di kedua kaki.


"Ra?" Kali ini dia ikut duduk di sampingku. "Denger dulu! Kayaknya kamu salah paham."


Aku terdiam. Berusaha mengabaikan karena fokusku hanya pada sepatu.


"Kakak gak minta putus, Ra. Kakak cuma minta break. Itu pun gak lama. Cuma satu setengah bulan. Kakak janji, udah prakerin kita balik kayak dulu lagi, oke?"


Selesai. Pekerjaan mengikat sepatu selesai bersamaan dengan mulut Kak Bagas yang kembali tertutup. Dadaku menjadi kian sesak karena duduk berdampingan dengannya. Masih berusaha tegar aku berdiri, memberinya senyum yang terakhir kali, lalu membungkukkan badan tanda diriku memutuskan pulang.


"Ra?" Dia menggenggam tanganku lagi, menahan langkahku lagi seolah persetujuan dariku belum memuaskan hatinya sama sekali. "Kamu kenapa begini, sih? Kasih kakak jawaban, Ra. Kamu gak penasaran sama alasannya?"


Penasaran, tapi aku yakin alasan itu cuma akal-akalan. Alhasil, pergerakanku tetaplah sama. Aku menghempaskan tangannya, sebelum kembali berjalan pulang.


Kedua tanganku terkepal. Sebisa mungkin aku mengatur napas, supaya tidak memberatkan dada yang terus sesak. Berjalan seperti ini, di tempat ini, membuatku hancur sejadi-jadinya. Aku ingin menangis, menjerit kencang, tetapi diwajibkan bersikap seolah segalanya baik-baik saja. Sulit, tetapi harus dilakukan. Aku tidak boleh menangis di sini. Aku merasa tidak bersalah, sehingga tidak layak bersedih di depannya.


"Ra?!"

__ADS_1


Teriakan itu terdengar lagi. Aku yang menguatkan pertahanan, pura-pura tidak mendengar sehingga terus memacu langkah.


"Ra?"


Teriakan yang sama disertai derap langkah lebarnya lagi. Sebenarnya, untuk apa dia mengejarku? Aku sudah mengiyakan, tapi kenapa dia belum merasa puas?


"Ra!?"


Sukses tanganku digenggamnya lagi.


"Jangan begini, lah! Hm? Kamu serem banget sumpah! Kakak lebih rela dipukul, ditampar, dimaki, atau apalah sejenisnya. Kakak lebih rela kamu kayak begitu daripada diem begini."


Dia bicara dengan dada yang naik-turun. Matanya yang memerah kini sudah berubah jadi berkaca-kaca. Sungguh heran, ya. Dia yang meminta, tapi dia juga yang terluka.


"Jangan diem terus dong, Ra! Kakak takut kalau kamu kayak begini."


Aku menelan ludah, mengepalkan tangan sekuat mungkin, supaya mulut tidak memberinya untaian kata. Pertahananku ada di bibir, sekali saja berucap, tangis yang tertahan ini bisa diprediksi pecah seketika.


"Ra?" panggilnya sambil menggoyangkan kedua tanganku. "Tampar kakak! Pukul atau lempar juga boleh. Kamu boleh lakuin apa pun asal jangan diem begini. Kakak ... kakak ngerasa kamu bakalan pergi. Kakak—"


"Kak," panggilku pada akhirnya. "Kita putus, aja." Nyatanya, benar. Baru berucap beberapa kata tetes-tetes air mengalir di kedua pipi.


Kak Bagas yang mendapati kehancuranku langsung tertegun lama. Tangannya berujung lemas, tidak lagi menggenggam apalagi menahanku berjalan.


Aku berinisiatif lagi, mengambil langkah mundur, sebelum akhirnya menjauh pergi. Terlanjur basah, aku membiarkan tangis pecah, mengabaikan tubuhnya yang bergetar hebat karena pergulatan hebat emosi dari dalam diri.


Begitu sampai di pagar indekos, aku menyempatkan diri menahan langkah. Kepalaku menunduk dalam disertai tangan yang terkepal.


"Jangan ... Dara!" isakku. "Jangan lihat ke belakang, jangan tengok dia, pokoknya jangan!" Sebelah tanganku menghapus tetes air mata.


Tidak dikejar, tidak ditahan, tidak pula dipanggil. Begitu bodoh karena aku mengharap ketiga hal itu setelah acara pemutusan hubungan. Tanganku yang terkepal berakhir menangkup wajah karena ingin terus terisak sejadi-jadinya. Aku tidak peduli lagi, aku sudah menanggalkan rasa malu, membiarkan diri dilihat oleh lalu lalang motor yang lewat.


Beberapa menit berlalu, isak tangisku berakhir karena suara ponsel yang berdering nyaring. Mula-mula aku mengatur napas, lanjut mengambil ponsel, lalu melihat layar. Sebuah panggilan masuk dari Kak Soraya. Kebetulan memang, sehingga aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan.


"Kamu di mana?" tanyanya setelah jaringan tersambung.


Aku berdeham, menetralisir suara karena tidak ingin Kak Soraya menebak kekacauan hati dan hidupku. "Masih di sini, Kak."


"Mau pulang jam berapa?" tanyanya lagi dan terdengar tidak menyadari getaran suara adiknya.


"Sekarang. Sekarang banget."


Tidak ada jawaban. Telingaku hanya menangkap suara kendaraan yang melintas diujung sana. Tidak berapa lama kemudian, Kak Soraya kembali berkata, "Kakak berangkat sekarang. Kamu bisa nunggu, gak?"


Aku mengangguk, meskipun tahu Kak Soraya tidak bisa melihat itu.


"Sembunyi dulu, gih! Biar gak ketemu Bagas."


Sontak dadaku bergemuruh. "Kakak tahu?" Ucapannya tadi seolah tahu situasiku yang sedang terjepit.


"Masalah jelasnya gak tahu, tapi kakak yakin kalian lagi gak baik-baik, aja. Share lokasi kalau kamu sembunyi. Kakak lagi di jalan. Sebentar lagi nyampe."


Panggilan terputus bertepatan dengan motor yang berhenti di hadapanku. Sialan! Belum sempat sembunyi, dia sudah datang kemari.

__ADS_1


Pakaian Kak Bagas sudah berganti. Tidak lagi memakai seragam dinas. Dia sudah mengenakan jaket kulit, lengkap dengan helm kesayangan.


"Ayo, Ra! Naik!"


Aku memalingkan pandangan. Tidak kuasa mengangkat mulut karena takut menangis lagi.


"Ra?" Tanpa tahu malu, dia sampai menggenggam tanganku. "Naik dulu, ya?"


Dia yang aku abaikan beralih memutar kunci, lalu turun dari motor. Bukan lagi menggenggam sebelah tangan, kali ini dia menggenggam tangan yang lainnya juga. Berusaha keras dia mendorong wajah, mengikuti arah gerakku yang terus memalingkan muka.


"Jangan putus, bisa? Kakak cuma minta break. Break beda dari putus, Ra."


Berbeda dari putus, tetapi panggilan adik tidak digunakan lagi. Maksudnya apa coba? Maunya apa?


"Alasan kakak kayak begini—"


"Aku gak mau tahu," tolakku sambil menggeleng kuat.


"Denger dulu, Ra. Kamu harus tahu alasannya."


Apa lagi coba kalau bukan jarak? Itu, kan, yang membuat dia lelah?


"Kakak gak mau kamu ngalah terus. Kakak ngerasa banyak dosa karena udah biarin kamu sendirian. Kakak gak enak kamu selalu ada buat kakak, padahal kakak gak bisa lakuin hal yang sama."


Sepele. Kalau benar karena itu, seharusnya dia bertahan saja.


"Cuma break, Ra. Kakak gak mau putus."


Keheningan terjadi lagi. Kak Bagas yang terus diabaikan terlihat melipat bibir dan menahan tangis. Dia berhasil memancingku untuk sesak lagi. Berhasil menarikku ke dalam rasa iba. Beruntung karena sebuah mobil berhenti di belakang motor Kak Bagas. Rasa iba yang baru saja terasa langsung menguap ke awang-awang.


"Ra?!" teriak Kak Soraya sembari tangan melambai lewat jendela.


Aku melihat ke arah lambaian itu, mengangguk singkat, lalu melepas genggaman tangan Kak Bagas di lenganku.


"Ra?!" Dia masih menahan langkahku. "Jangan putus, ya! Jangan ikut mobil Kak Aya juga! Kakak bisa anter kamu pulang."


Aku tidak menggubrisnya. Sekali lagi, aku menghentak genggaman tangan itu, supaya dia berhenti menahan langkahku. Kak Soraya sampai ikut andil dalam perpisahan ini. Dia turun dari mobil, membuka pintu belakang, dan menungguku masuk.


Sayangnya, sebuah tangan lagi-lagi mencekal lenganku. Kali ini genggamannya terasa kuat dan menyesakkan. "Ra, kakak mohon! Kakak gak mau putus," kata orang yang terus memeras pergelangan tanganku.


Sementara waktu aku termenung. Sedikit memikirkan rangkaian kata berulang yang dia lontarkan sedari tadi. Kenapa hanya itu yang dia katakan terus-menerus? Kenapa dia tidak mengatakan kata ajaib yang bisa menahanku untuk pergi dari sini?


"Ra? Pulang bareng kakak, ya?"


Tak tahan dengan situasi, aku lantas membalikkan badan. Kudapati wajahnya yang basah disertai mata memerah. Hati bukan lagi teriris melihat orang terkasih menangis. Kembali aku tepis tangannya yang terus menahan pergerakanku.


Setelah mengatur napas, aku memberinya senyuman terhangat. Baiklah, akhirnya kita sampai di penghujung rasa sakit ini Kak Bagas. Aku hanya akan memberi hadiah kecil sebelum pulang.


Tubuh sengaja kubawa mendekat. Kedua tangan pun ikut menelusup di samping tubuh Kak Bagas. Aku hanya akan memeluk sebentar. Sebentar, janji tidak akan lama.


Tanpa terduga, Kak Bagas membalas pelukan itu. Begitu eratnya, dia membawaku ke dalam dekapan sampai kepalanya tertunduk dalam. "Jangan putus ya, Ra. Kakak cuma minta break. Janji abis prakerin kita kayak dulu lagi."


Kepalaku menggeleng. Masih dalam dekapan, aku berusaha memberinya keputusan telak. "Kak, di hidup Dara keputusan atas hubungan itu cuma dua. Jadian atau udahan. Bagi Dara break itu udahan. Jadi udah, ya. Jangan ngerasa capek lagi! Dara beneran ikhlas bebasin Kakak dari hubungan ini."

__ADS_1


***


__ADS_2