
Selesai rapat untuk LDKS, Kak Bagas menahanku dan Shafira supaya tetap di dalam ruangan. Bertemankan Kak Wisnu sebagai penengah dan penasihat, kami berempat duduk berhadapan di satu meja. Posisinya tentu saja dipisahkan. Aku berdampingan dengan Kak Bagas dan Kak Wisnu yang memilih duduk di samping Shafira. Mungkin kedua lelaki ini khawatir, takut terjadi aksi saling jambak di antara aku dan si rubah jingga.
Ponsel yang menjadi bahasan utama sudah diletakan di tengah meja. Aku sempat menangkap rahang Kak Bagas yang mengeras, tatapan tajamnya tertuju langsung kepada Shafira. Lain dengan Kak Bagas, Shafira justru terlihat santai. Tidak ada kerutan rasa bersalah sedikitpun dari wajahnya. Dia yang memasang tampang seperti itu membuatku meragukan cerita yang selama ini terdengar. Apa benar perundungan itu membuatnya terguncang sampai memutuskan berhenti sekolah? Kalau dilihat dari perilaku yang kurang ajar, sih, seharusnya dia bisa bertahan lebih lama dariku. Seharusnya, ya!
Kak Wisnu berdeham, bermaksud membuka pembahasan dalam pertemuan ini. "Dara sama Shafir ngerti, kan, maksud dan tujuan Bagas nahan kalian di sini?"
"Iya, tau," sahutku karena tak ingin mengulur waktu lebih lama lagi.
"Dara tau? Shafir, sih, enggak tau. Emangnya kita mau ngapain?"
Sukses aku mendengkuskan napas. Kak Bagas yang mendengarnya pun turut mendecakkan lidah. Dia bahkan mengubah posisi dari duduk tegak, jadi bersandar ke punggung kursi.
"Shafir, tolong dikondisikan, ya!" Kak Wisnu terlihat meradang. Raut wajah yang biasa humble dan menyenangkan berubah tanpa ekspresi.
"Saya tau kamu enggak sebodoh itu," lanjut Kak Wisnu.
"Oke." Shafira pun berakhir mengalah.
"Silakan, Gas. Mulai ajukan pertanyaan."
Kak Bagas kembali mengubah posisi duduk, menyimpan tangan yang saling bertautan di atas meja, lalu menghela napas perlahan. "Shafir, ada yang mau kamu akuin, enggak?" Intonasi bicaranya masih tenang dan nyaman.
"Ada."
"Apa?" tanya Kak Bagas cepat. Matanya begitu berkilat, dia benar-benar mendambakan kejujuran Shafira.
"Shafira masih sayang kamu."
"**** it!" maki Kak Bagas sejadinya. Emosinya jadi terpancing sekarang.
"Shafir, kamu tau kalau Bagas enggak nanya soal itu." Kak Wisnu pun sudah tidak bisa bersabar lagi dengannya.
Mau tak mau, aku harus mengambil alih untuk menolong dua lelaki yang tengah mengatur napas karena tak ingin tersulut emosi lebih dalam. "Shafir," panggilku yang langsung mendapat tatapan matanya. Lagi-lagi wajah tanpa dosa yang dia tampilkan.
"Kamu yakin masih sayang sama Kak Bagas?" tanyaku sembari melipat tangan di dada.
"Yakin, lah. Buktinya kemaren aku kasih kalian denah, kan?"
__ADS_1
Dia membahas itu seolah jasanya begitu besar dan tak bisa tergantikan oleh apa pun.
"Terus kenapa kamu lari sendirian? Kenapa enggak bertahan di samping Kak Bagas? Seharusnya kalau sayang, ya, bertahan dong!" cerocosku ikutan tersulut emosi.
"Dara, kamu pacar bohongan, tapi lagaknya melebihi aku yang pacar beneran."
Mulutku menganga. Semakin diajak bicara, dia semakin mengesalkan juga ternyata.
"Kamu tau darimana status bohongan kita?" Kak Bagas pun mengambil alih menginterogasinya.
"Dari hape kamu." Jawaban itu jelas saja memicu pertanyaan yang lain.
"Kamu yang ambil hape aku, kan?" tuduh Kak Bagas.
"Enggak, Bagas," sanggahnya dengan gelengan kepala. "Aku enggak ngambil, aku cuma nemuin."
"Bohong, ya, kamu?" todongku karena tak percaya dengan mulutnya.
"Bener, kok. Aku mantau Bagas, dari mulai dia duduk sampe ngejatuhin hape ke rumput. Harusnya, Bagas terima kasih sama aku. Untung aku yang nemu, kalau orang lain gimana? Kalian bisa makan hujatan karena status pacar bohongan," katanya panjang lebar.
"Oke. Baik." Kak Bagas memejamkan mata, menahan gemas. "Kita bakal anggap, omongan kamu bener. Kamu enggak ada niat ambil dan beneran cuma nemuin, tapi ...." Kak Bagas menggantungkan ucapan sejenak. "Kenapa enggak langsung kamu balikin? Kenapa malah buka password-nya? Kenapa malah obrak-abrik galeri foto?"
"Sayang ... sayang apa, sih, Shafira?" jerit Kak Bagas yang terlihat hampir menyerah.
"Aku punya buktinya!" Shafira tanpa terduga ikutan menjerit. "Password kamu buktinya!" Dia sampai menunjuk ponsel yang disimpan di tengah meja dengan mata terbelalak.
"Password apaan?" Kak Bagas seperti tidak paham.
"020040." Shafira mulai menyebutkan sandi ponsel Kak Bagas. "Itu tanggal jadian kita!"
Hatiku terasa sesak. Ternyata diam-diam Kak Bagas masih ingat tanggal jadiannya dengan Shafira.
"Itu tanggal jadian?" Kak Bagas malah tertawa geli. "Ke PD-an kamu," semprotnya membuatku menolehkan kepala. "Itu bukan tanggal jadian. Itu tahun lahirnya Dara."
Hati yang terasa sesak tadi berubah jadi berbunga dan membuncah bahagia. Aku yang tak kuasa menahan senyum, jadi menundukkan kepala.
"Enggak mungkin." Shafira menggeleng tak percaya.
__ADS_1
"Itu bukan 20 April. Itu 2004, tahun lahir Dara. Sengaja ditambah angka 0 didepan dan dibelakang karena password hape harus 6 digit."
Hening dan Kak Bagas tergelak sendiri. "Shafir, kalau mau PD, tuh, mikir dulu. Kamu udah putusin aku. Alasan itu, aja, udah cukup jelas. Aku enggak mungkin sayang sama kamu terus-terusan. Aku udah punya Dara. Dara udah lebih dari cukup."
Sekelebat hawa panas menjalar di kedua pelupuk mata. Ternyata lelahku dalam berjuang sampai akhir membuahkan hasil yang istimewa. Bukankah sudah jelas? Kak Bagas memilihku ketimbang Shafira.
"Tapi kalian, kan, cuma pacar kontrak. Masa ada kata sayang-sayangan?"
Pertanyaan Shafira, membuat Kak Bagas menolehkan kepala. Dia menatapku sambil tersenyum lekat. "Awalnya emang, iya, karena kontrak, tapi lama-lama jadi kebiasaan." Tangan Kak Bagas bergeser, menyentuh tanganku, lalu menggenggamnya erat.
"Bagas!" Shafira beranjak dan berjalan mendekati Kak Bagas. "Coba kamu sadar! Mungkin kamu lagi khilaf. Masa semudah itu kamu lupain aku?"
"Shafir, kita cuma pacaran tiga hari. Momen bareng kamu, tuh, cuma segede upil. Enggak ada apa-apanya kalau dibandingin sama Dara," jelas Kak Bagas yang makin-makin membuatku senang.
"Tapi kenapa kamu masih respons setiap kali aku meluk kamu?"
Nah, iya. Aku jadi ingat kejadian waktu di koperasi kemarin. Lebih dari tiga detik mereka berpelukan. Kak Bagas juga terlihat mendekatinya.
"Kamu peluk aku dua kali, kan? Pertama waktu di parkiran, terus kedua pas di koperasi. Coba kamu pikirin lagi! Aku ngereponsnya disebelah mana? Udah jelas-jelas aku kaget waktu itu. Waktu di koperasi juga aku nyuruh kamu lepasin, kan? Aku sama sekali enggak bales pelukan kamu, kan?"
Shafira terdiam. Dia sudah kalah sekarang.
"Shafir, dulu kamu enggak kayak gini. Kenapa sekarang jadi nyebelin banget, sih?"
Benar. Dia memang menyebalkan Kak Bagas.
"Bagas, kamu beneran milih dia?" Alih-alih menjawab pertanyaan, dia malah melemparkan topik yang berlainan.
"Udah seharusnya aku pilih Dara," jawab Kak Bagas terdengar mantap. "Dia rela bareng aku, enggak ngelepasin tangan aku sedikit pun."
"Dia kayak, gitu, karena terikat kontrak Bagas."
"Justru karena dia terikat kontrak makanya lebih aku pertahanin." Kak Bagas beranjak sampai melepaskan genggaman tangan kami. "Dia tau kalau aku cuma pacar bohongan, tapi totalitas dia tanpa batas. Dia rela di-bully, padahal dia bisa lari kapan, aja. Diliat dari sisi manapun Dara beribu kali lipat lebih baik dari kamu."
"Jadi, kamu tetep pilih dia?" Shafira bertanya dengan tubuh yang gemetaran. Dia seperti menahan tangis.
"Iya, aku cuma pilih orang yang enggak pernah lepasin tanganku duluan."
__ADS_1
......***......