
"Selamat pagi," sapaku ketika membuka pagar.
Kak Bagas sudah stand by di sana, sudah memeluk helm di badan motor, sambil tersenyum lebar. "Pagi juga, Adek! Udah siap?"
"Udah."
Dia memberiku helm satunya, membantu memasang, dan mengaitkan talinya di leherku. "Mau ke mana?" Aku bertanya sambil berpegangan tangan padanya. Aku masih belum biasa menaiki si moge, padahal sudah dibonceng beberapa kali.
"Pilihannya banyak, kok. Mau ke Ciwalk, Skywalk, This is Me, Teras Cikapundung, Venue Gantole. Kalau mau di luar Cihampelas juga boleh, mau ke Lembang boleh, asal jangan ke Ciwidey, aja!"
"Hah, kenapa?" Kepalaku maju dan menetap di bahu kanannya.
"Ciwidey mah nanti. Bareng sama anak-anak OSIS. Kita LDKS di sana."
"Oh, ada LDKS-nya. Pantesan adek enggak denger info apa-apa lagi setelah perekrutan." Aku baru paham.
Kak Bagas mulai memutar kunci, lalu menyalakan mesin motor. "Mau ke mana, nih?" tanyanya sedikit memiringkan badan untuk melihat kondisi jalan.
"Teras Cikapundung, aja!"
"Terus?"
"Kok, terus?" Aku malah balik bertanya.
"Masa cuma satu tempat. Kan, mau seharian."
Ah, benar juga.
"Ya, udah habis dari Cikapundung, lanjut ke Skywalk."
"Yakin?"
"Yakin," kataku pasti.
"Oke, pegangan dong!"pintanya yang lekas aku lakukan.
Aku sengaja memilih tempat dengan karcis yang murah. Biar hemat saja. Kasihan Kak Bagas. Gaji jaga koperasi, kan, hanya seratus ribu. Aku tidak tega kalau mengajaknya nonton di Ciwalk, atau foto-foto di This is Me. Cari yang murah, biar uang jajannya bertahan sampai minggu depan.
......***......
Tempat pertama yang kami datangi di jam setengah 9 pagi. Sebelum si moge menepi di parkiran, kami diharuskan membayar tiket terlebih dahulu. Agak terkejut, sih, pas tahu tarifnya berubah. Dulu waktu ke sini bersama teman SMP, harganya masih lima ribu per orang. Sekarang sudah menyentuh harga sepuluh ribu per orang. Aku merasa tak enak. Niat hati ingin menghemat uang, malah jadi pemborosan. Namun, Kak Bagas seperti tidak terpengaruh dengan hal itu. Dia sebenarnya bawa uang berapa, sih? Aku takut jatah jajan minggu depan digunakannya hari ini.
__ADS_1
"Ayo," Kak Bagas menggandeng lenganku dan mengajak berjalan masuk.
Aku tidak mengamati jalan, melangkah sambil memandangi wajahnya yang tersenyum lebar. Kalau dia benar-benar tidak terpengaruh dengan harga tiket, berarti kantongnya aman, kan?
"Dek, sepi, ya!" gumamnya yang menarikku menengok sekeliling.
"Sepi gimana? Itu banyak orang, Bang!" tunjukku mengarah ke kerumunan orang-orang yang melingkari sesuatu.
"Bukan mereka. Maksud sepi, tuh, biasanya kalau hari Minggu suka ada live music atau nonton bareng."
"Oh, iya?" Perasaan setiap kali aku ke sini, tidak pernah ada dua hal yang disebutkan Kak Bagas.
"Iya, lho. Waktu pertama abang ke sini ada dangdutan. Terus yang kedua kalinya malem-malem nonton bola bareng."
Nonton bola bareng?
Tiga kata itu terus-menerus berlayar di kepalaku. Sama siapa, nih? Sama Shafira? Yakin nonton bola? Memangnya dia suka?
"Sendiri, kok!"
"Hah?" Langkahku tertahan dan menatap Kak Bagas yang sudah berdiri berhadapan.
Sukses aku menahan senyum. Dia menggoyangkan tangan kami di samping wajahnya. Ah, gila! Bisa-bisanya hatiku malah berdetak cepat disertai rasa hangat yang menyebar ke seluruh badan.
"Ayo!" ajaknya untuk melanjutkan langkah.
Kami mengikuti kerumunan massa. Melingkari lahan bulat yang akan mempertunjukan pesona air mancur. Terlihat masing-masing orang mengangkat ponsel mereka, bersiap merekam video saat pertunjukan dimulai. Aku yang tak ingin melewatkan momen itu, lekas mengambil ponsel dan mencari icon kamera dalam bilah layar.
"Sayang!"
Panggilan itu membuatku menoleh. Kak Bagas tersenyum, terlihat manis sekali. Ponselnya terangkat ke depan wajahku.
"Senyum, dong!"
Aku mengikuti instruksi, tersenyum lebar sambil menatap lurus ke bulatan kecil yang tersedia di belakang ponselnya. Lalu tanpa terduga, pertunjukan yang kami tunggu tiba. Air memancar dari satu lubang ke lubang yang lain. Mereka bagai menari ke udara, saling memercik, lalu turun kembali. Begitu terus sampai mata pengunjung puas menyaksikan pesona air mancur buatan.
Ah, andai saja pengelola taman mengizinkan kami untuk menjejakkan kaki di lahan air, mungkin aku sudah berlari ke tengah pancuran sambil menarik lengan Kak Bagas.
"Kayaknya kalau malem tambah cantik, ya, Bang?" Aku bertanya untuk meminta pendapatnya.
"Kayaknya enggak ada yang bisa ngalahin model cantik di depan abang."
__ADS_1
Sontak aku menoleh dan membelalakkan mata. "Kenapa rekam adek terus, sih?" Aku mulai sebal.
"Habisnya cantik. Sayang, aja, kalau dilewatin."
Pasaran, tetapi ... WAH! Napasku sampai tertahan karena jantung sudah tak aman. Kalau begini terus, aku bisa terbiasa dengan kehadiran Kak Bagas.
"Udah, yuk! Malah ngelamun!"
Tangannya menggandengku lagi Membimbingku menuju menuju lokasi kedua, yakni jembatan merah.
"Mau foto di sini?" Iseng aku bertanya. Ya, siapa tahu saja Kak Bagas berkenan memotret dirinya denganku.
"Boleh!"
Dia berkata sambil mengajakku berlari, menepi di pertengahan jembatan ini. Tanpa melepaskan genggaman tangan, Kak Bagas kembali mengangkat ponsel, memilih mode kamera depan.
"Senyum, ya!" perintahnya.
Satu foto berhasil ditangkap, cukup menunggu beberapa detik dan hasil tangkapan sudah bisa kami lihat di dalam layar. Kedua wajah yang dihiasi senyum dan rona merah itu terlihat begitu bahagia.
Puas dengan tangkapan pertama, Kak Bagas berujung mengambil beberapa foto lagi. Namun, diam-diam ada satu foto yang sengaja gayanya aku bedakan. Satu foto yang membutuhkan satu juta keberanian untuk melakukannya. Satu foto yang pandanganku tertuju ke arahnya diiringi senyuman bahagia. Aku harap Kak Bagas bisa melihat foto itu nanti.
"Mau lanjut, enggak?" tanyanya yang sudah selesai mengambil tangkapan dan memasukkan lagi ponsel ke saku celana.
Aku mengangguk, menuruti sang penunjuk jalan menuju lokasi ketiga. Setelah menuruni jembatan, kami disambut sebuah papan harga wahana yang bisa dinikmati di lokasi ini.
"Mau yang mana? Terapi ikan, perahu karet, atau perahu bebek?" tawar Kak Bagas setelah melihat daftar.
"Perahu karet!" Aku memutuskan dengan cepat.
"Yakin?" tanyanya yang lekas aku jawab dengan anggukan. "Enggak akan naik perahu bebek?"
"Enggak, enggak," tolakku cepat. "Mending perahu karet, aja! Adek takut kalau naik perahu bebek, takut berhenti atau kebalik di tengah sungai. Kalau perahu karet, kan, didayung sama penjaganya."
"Bener juga. Pacar abang emang pinter!"
Pujian yang disertai acakan di pucuk kepala itu sukses membuat jantungku tak lagi aman. Cuma beberapa detik, sih, dia melakukannya, tetapi efek yang ditimbulkan terasa menetap dan tak berkesudahan.
Aku tak berhenti menatap punggungnya yang semakin mengikis jarak di antara kami. Bahkan bibirku ikut tersenyum tatkala melihatnya berbicara dengan beberapa petugas wahana. Perlahan aku menyadari, ada rasa yang tak seharusnya tercipta di hatiku untuk Kak Bagas. Momen dan tempat ini membuatku sadar. Aku tidak mau kontrak ini berakhir. Aku ingin menjadi egois dan memilikinya sampai akhir.
......***......
__ADS_1