
"Kabarin, aja, nanti kakak jemput," pesan Kak Sonia sebelum menarik gas sepeda motornya.
Aku memeluk helm, memasuki pelataran sekolah sendirian. Dari tempat parkir, aku melihat tangan Kak Wisnu melambai. Kakiku terhenti sementara. Mencoba bersikap sopan santun kepadanya. Bagiamanapun, terlepas dari masalahku dengan kawannya, Kak Wisnu tetap lelaki yang baik. Sudah selayaknya bersikap profesional. Menghormati dia yang menghormatiku dan mengabaikan dia yang menyakitiku.
"Hei, Kak," sapaku supaya terlihat baik-baik saja, padahal mata gendut akibat menangisi takdir kemarin, tidak juga mau pergi.
"Ra, baru dateng?" Dia terdengar berbasa-basi, tetapi aku tetap menjawab dengan sekali anggukan. "Disuruh Bagas ke atap."
Benar, kan. Dia tadi sekadar berbasa-basi. Niat sebenarnya menyapaku hanya untuk menyampaikan itu.
"Mau ngapain?" tanyaku mulai malas.
"Ada yang mau diobrolin, katanya. CITO."
CITO, CITO, dikira resep obat harus CITO (segera).
"Dara enggak mau ke sana, ah!" ucapku menolak pergi dan melangkah sambil lalu.
"Eh, Ra, ke sana dulu," pekik Kak Wisnu, tetapi tidak menahan atau menghalangi langkahku.
"Iya, nanti Dara ke sana. Kalau niat itu juga." Aku masih berkata tanpa menengoki sosok Kak Wisnu yang tertinggal di belakang.
"Ra, kasian, lho! Di atap, kan, dingin."
Mendengar itu, tubuhku pun berbalik penuh emosi. "Suruh siapa diem di sana! Makanya kalau punya dosa, tuh, gentle! Hadapin bukan cuma suruh-suruh kurir, doang!"
Alhasil, niat menghormati Kak Wisnu pun gagal karena hatiku kembali terasa panas. Dia, sih, pakai acara memaksa. Sudah jelas-jelas aku menolak bertemu dengan orang itu. Jadi, kena imbasnya juga, kan!
Kakiku kembali melangkah, melewati deretan motor sampai keluar area parkir. Sedikitnya sudut mataku memang menangkap sosok itu. Benar-benar sudah menunggu sampai mematung di atap sana. Pandangannya pun tertuju ke arahku. Sebisa mungkin aku berusaha supaya tidak terlihat peduli padanya.
Napas kuatur begitu menapaki kelas X-1. Sesekali menengoki arah belakang, meskipun sosok itu sudah tidak bisa kutangkap dengan mata telanjang. Hatiku teriris lagi. Ternyata berpura-pura tidak peduli itu sulit, ya.
"Eh, Dara."
Tangan gadis yang melambai itu seolah memberiku sebuah kesadaran. Benar. Masalahku belum sepenuhnya selesai. Masih ada sosok yang harus aku hindari. Namun sepertinya, menghindari dia sangatlah tidak mungkin untuk aku lakukan.
"Baru sampe, ya?"
Ah, kenapa caranya berbasa-basi begitu membosankan? Sudah tahu aku baru sampai, masih dipertanyakan pula. Aku masih bergerak seolah tidak mempedulikannya. Duduk di bangku milikku perlahan, lalu melepas tali ransel dari kedua bahu.
Buru-buru aku mengeluarkan ponsel dari saku kemeja. Biar terlihat sibuk. Biar tidak diajak bicara juga olehnya.
"Dara tadi aku bareng sama Kak Bagas."
Terus? Gue harus bilang WOW, gitu? Please, deh! Mau lo pergi terus lompat ke ujung jurang bersama Kak Bagas pun gue tidak akan peduli.
"Terus tadi Kak Bagas juga kasih info. Hari ini kumpul OSIS, mau bahas LDKS anggota baru."
"Ya," jawabku tidak bernafsu.
__ADS_1
Indah betul jadi pacar sungguhan Ketua OSIS. Baru masuk sekolah saja, sudah tercatat sebagai peserta LDKS. Tahu ada konsep KKN begini, mending tidak usah diadakan perekrutan. Tidak adil!
"Nanti ke sana bareng, ya, Dara." Mendapati aku yang diam saja, dia kembali bersuara. "Dara mau, kan, bareng-bareng sama Shafir?"
"Shafir," tegurku yang baru mau mengangkat pandangan dari ponsel. "Kamu tau, kan, aku siapa?"
"Aku tau."
Baguslah, kalau kamu tahu. Dengan begitu mulutmu bisa diam untuk sementara waktu.
"Kamu Dara, kan?"
Astaga. "Bukan itu. Maksud aku, kamu tau, kan, aku mantannya Kak Bagas?"
"Kalian, kan, cuma pacar bohongan. Ya, enggak ada kata mantan, dong, harusnya!"
ANJAY!
Mulutku yang terbuka langsung tertawa tanpa suara. Sumpah! Bisa-bisa aku gila jika terus-menerus duduk berdampingan dengannya. Serius, dia menyebalkan sekali. Tahu dirinya sudah another level. Terdeteksi sudah tidak bisa disembuhkan.
Tak mampu berkata lagi, aku hanya mengepalkan kedua tangan guna menahan rasa gemas. Semoga dengan hadirnya kejadian ini, tingkat rasa sabarku jadi meningkat tiada batas. Aku tidak mau berujung memukul atau menamparnya. Lebih baik aku membatin karena memendam semua kekesalan ini.
......***......
Masalah seputar batin rupanya masih berlanjut. Kali ini Kak Bagas sendiri yang turun tangan. Dia tak tanggung malu, mendekatiku yang sedang duduk seorang diri di meja kantin. Aktivis menyantap kuah mie kocok pedas ini terpaksa tertahan karena nafsuku mendadak menghilang.
"Kamu kenapa enggak nyusul ke atap tadi?" tanyanya. Dia sudah duduk di hadapanku sekarang.
"Kakak, kan, mau ngomong sesuatu sama kamu."
"Omongin di sini, aja," sahutku masih belum mau menarik pandangan dari mangkuk.
"Ra, please! Dengerin dulu bisa?"
Napasku lantas tertahan. Omongannya barusan cukup memancing emosi dan membuat mood-ku kembali berantakan. Sekuat tenaga, aku membanting sendok ke dalam mangkuk. Membuat air kuah pedas itu berceceran ke mana-mana.
"Kakak dari tadi ngomong, kan? Dara juga dari tadi dengerin, kok. Terus letak masalahnya di mana? Tinggal ngomong, aja, kenapa lama dan belibet banget, sih?"
"Masalahnya Kakak enggak bisa ngomong depan umum kayak gini," ujarnya menatapku dengan mata memerah. "Ini tentang kita, Ra."
"Kita?" Aku sampai memicingkan mata. Dengan mudahnya dia menyebut kata KITA? Seolah pesan perpisahan itu tidak pernah ia kirimkan padaku.
"Kita, Ra," ulangnya penuh penekanan. "Ayo, ikut kakak."
"Enggak mau!" Aku menepis genggaman tangannya di lenganku. Perhatianku teralih, tiba-tiba menyusuri area kantin. Beberapa dari mereka ternyata ikut melihat dan memantau pergerakan kami. Ah, saking emosinya aku sampai tidak sadar sudah diperhatikan oleh CCTV berjalan.
"Ra, ikut kakak dulu, ya?" bujuknya dengan mata berair.
Melihat wajahnya yang penuh kehancuran seperti itu, dadaku jadi ikutan sesak. Lambat laun pertahanan yang kubuat pun terasa mengendur. Tak ingin tampak lemah di hadapannya dan semua orang, aku berujung menggelengkan kepala kuat. Sebelum memberinya keputusan akhir, aku menyempatkan diri menelan ludah bulat-bulat. "Udah enggak ada kata KITA. Tolong jangan paksa Dara lagi, Kak."
__ADS_1
...***...
Sebelum pulang, disertai keterpaksaan aku tetap mendatangi ruangan OSIS. Informasi yang dibawa si rubah ternyata benar. Memang ada perkumpulan di sini. Beruntungnya, aku tidak datang terlambat. Ya, meskipun tetap duduk dibarisan belakang karena barisan depan sudah dipenuhi siswi yang ingin melihat ketampanan senior organisasi.
Masih seorang diri saja di sini. Duduk dipojokan, tempat terakhir yang membuatku menjadi pusat sorotan. Ya, tempat yang waktu itu Kak Bagas menyimpan dagunya di pucuk kepalaku. Kira-kira apakah hari ini dia akan melakukan hal yang sama? Tentu saja hal itu tidaklah mungkin terjadi. Pawang baru Kak Bagas sudah bertengger ceria dibarisan terdepan. Gila saja kalau sampai dia berani mendekatiku atau bahkan berani menyimpan dagunya di pucuk kepalaku.
Beberapa menit berlalu, sosok yang menjadi biang belum dimulainya rapat pun datang. Aku terkadang heran dengannya. Dua kali rapat bersama dan dia selalu datang terlambat. Apa tidak malu dengan deretan penduduk yang sudah menunggu?
Lelaki itu masuk ditemani Kak Wisnu si kurir pesan. Tangan kirinya sibuk membawa laptop, sedangkan tangan kanannya sibuk membawa charger. Dia meletakan dua benda itu di meja, lalu duduk di kursi kepemimpinan.
"Oke, kita mulai saja, ya!" Kali ini Kak Wisnu sebagai pembawa acara.
Aku baru sadar kalau sedari tadi batang hidung Arfan belum juga kutemukan. Hanya ada Cecilia, dipojok ruangan sana. Kepalanya tertunduk karena sedang fokus menatap ponsel.
"Agenda rapat hari ini akan membahas tentang kelanjutan perekrutan anggota baru. Kemarin, kan, kalian sudah mengisi pendaftaran. Nah, seleksinya itu lewat LDKS atau Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa. Konsepnya itu camp dua hari satu malam. Sabtu berangkat dan Minggu sore pulang. Dilaksanakannya akhir minggu ini, lokasi di Ciwidey," tutur Kak Wisnu langsung pada intinya.
Aku senang, nih, kalau rapat gerak cepat begini. Tidak muluk berbasa-basi seperti yang dilakukan Arfan tempo lalu. Kulihat Kak Bagas mulai beranjak, menyambungkan kabel proyektor ke lubang koneksi di laptopnya. Cukup menunggu beberapa saat, layar proyeksi yang ada di depan kami menyala.
Napasku seketika tertahan. Bagaimana tidak? Layar proyeksi yang baru menyala itu menampilkan sebuah foto yang dijadikan sebagai halaman utama laptop. Foto yang dengan jelasnya menunjukkan senyumku saat bermain di Teras Cikapundung.
Sekelebat rasa sesak bermunculan. Banyak pertanyaan juga yang mendadak lewat dalam benak. Kenapa ada fotoku? Kenapa dia masih menyimpannya? Sejak kapan wajahku terpampang dan menjadi wallpaper laptopnya? Apa maksud Kak Bagas sebenernya, sih? Apa dia lupa kalau ini akan berefek buruk bagi reputasiku? Apa dia lupa juga kalau si rubah jingga sedang menatap tajam ke arah belakang?
"Bagas, kok, sweet banget, sih?" komentar Kak Eren yang duduk di samping Kak Cecil.
Dikomentari begitu, Kak Bagas hanya menampilkan senyum tipis. Matanya kosong menatap ke arah layar. Aku kebingungan sekarang. Kenapa dia terlihat begitu kehilangan, padahal jelas-jelas dia pun membalas pesanku untuk berpamitan? Ayolah, aku merasa seperti dipermainkan sekarang!
"Oh, ya, sebelum bahas daftar barang yang harus dipersiapkan. Saya selaku moderator, mau mengumumkan berita kehilangan."
Sontak semua wajah terlihat serius.
"Jadi, tepatnya kemarin. Rekan saya Bagas kehilangan ponselnya."
Pandanganku lekas teralih. Bukan lagi menatap si pembaca agenda rapat. Perkataan Kak Wisnu seolah dibenarkan Kak Bagas. Dia terlihat mengangguk sembari menundukkan kepala dalam-dalam.
"Ilangnya di mana, Bagas?" tanya Kak Siska, member OSIS yang lain.
"Pagi-pagi, di halaman belakang, depan koperasi." Kak Bagas menjelaskan lokasi kejadian.
Sebentar, sebentar. Aku berusaha memutar otak. Jadi, sehabis menyuruhku pergi Kak Bagas bertapa di halaman belakang, begitu? Di tempat itu pula dia kehilangan ponsel. Lalu siapa yang mengirimiku pesan pas jam istirahat? Apa jangan-jangan pesan perpisahan itu tidak dikirim oleh Kak Bagas? SIALAN! Berani benar dia membuatku salah paham.
Aku tak mau lagi ditipu begini. Enak sekali pemegang ponsel itu. Semalam suntuk aku menangisi nasib dan membenci Kak Bagas, tetapi nyatanya orang yang bersangkutan tidak melakukan kejahatan padaku. Pantas saja sedari tadi dia ngotot ingin bicara. Ternyata ini yang ingin dia bicarakan.
Buru-buru aku mengambil ponsel. Firasatku tidak pernah salah soal ini. Aku sudah bisa menebak sosok yang menemukan dan mengambil ponsel Kak Bagas.
Diam-diam, ketika perhatian terpusat ke arah depan. Tanganku dengan cepat membuka aplikasi WhatsApp, lalu menekan kontak Kak Bagas. Cukup menunggu beberapa detik, icon telepon yang sudah kutekan menunjukkan sebuah status berdering. Itu artinya, ponsel Kak Bagas aktif. Tak perlu menunggu lama, musik Leave the Door Open yang dinyanyikan oleh Bruno Mars menyela hiruk-pikuk ruangan ini. Si Empunya ponsel beranjak bertepatan denganku yang ikut turun tangan.
Serempak seisi ruangan hening. Saling tengok kanan-kiri karena mendengar lagu itu mengalun terus-menerus. Aku berjalan, begitupun dengan Kak Bagas yang ikutan mencari di sekelilingnya. Tubuhku baru bisa terpaku setelah berjalan ke barisan depan, tempat si rubah jingga duduk dengan tenang dan pandangan ke depan. Sudah kuduga, pasti dia yang menjadi tersangka utamanya. Kak Bagas menyusulku, berdiri di sampingku, dan menatap objek yang sama.
Sosok itupun mendongakkan kepala. Penuh percaya diri, dia memamerkan senyum pongah nan menyebalkan.
__ADS_1
"Kalian mau nangkap Shafir, ya?" bisiknya, tetapi masih terdengar tenang. "Boleh, aja, tapi sebagai gantinya, Shafir mau kasih tau semua orang kalau status kalian cuma bohongan."
......***......