Pacar Bohongan

Pacar Bohongan
Berakhir


__ADS_3

Aku sudah memutuskan untuk memesan dan makan sendiri di kantin. Melewatkan warung nasi padang favorit dan rela mengantre bersama yang lain di depan warung mie kocok kaki sapi. Khusus hari ini saja, aku ingin menyeruput kuah mie yang nantinya akan diberi sambal tiga sampai empat sendok makan. Urusan sakit perut bisa kita rasakan nanti, tetapi yang terpenting dan utama sekarang, aku harus memakan yang pedas-pedas guna stres di kepalaku hilang setengahnya.


Sedang asyiknya menunggu, ponselku tiba-tiba bergetar, menampilkan satu pesan pop-up dari aplikasi WhatsApp. Kak Bagas tersangka yang mengirim pesan tersebut.


Dari : Abang ❤️


Bekal makanan ambil di koperasi


Gaya bahasanya pun sudah berubah. Tadi pagi dia masih terasa hangat. Banyak mengirimkan emoticon kebucinan. Sungguh berbeda dengan sekarang yang datar dan terkesan memerintah. Aku sudah tidak mau berharap banyak, terlebih karena mantannya begitu bertekad untuk menarik Kak Bagas pulang. Ah, daripada aku mengganggunya yang sedang berpikir, lebih baik aku melewatkan makan siang buatan Bu Ester.


Dari : Abang ❤️


Ditunggu ya. Kakak mau ngomong sesuatu.


Napasku mendengkus. Mau tak mau aku mengangkat kaki dari antrean yang sudah setengahnya ini. Niat hati ingin makan pedas pun teralih untuk sementara waktu. Aku harus cepat menemuinya di koperasi. Mendengar topik yang hendak dia bahas, syukur-syukur kalau Kak Bagas sudah bisa memutuskan pilihannya, dan memastikan hubungan denganku.


Saking dihantui rasa penasaran, aku sampai berlarian kecil keluar dari area kantin, menyusuri lorong kelas, dan melewati halaman belakang. Tinggal beberapa langkah lagi menuju koperasi.


Pintu rolling door yang sudah bisa kulihat jelas itu, tanpa terduga menyajikan pemandangan yang indah. Saking indahnya, aku sampai tertegun dengan hati yang sesak. Di dalam toko, di balik etalase, aku melihat lelaki yang menjadi pacar bohongan itu berpelukan dengan sang mantan. Judulnya pacar bohongan, sih, tetapi melihat hal sekecil ini napasku bisa-bisanya tertahan. Sensasinya seperti melihat pacar sungguhan tengah berpelukan dengan gadis lain.


Mataku mengerjap beberapa kali, tubuh yang gemetaran sebisa mungkin kutahan dengan mengepalkan kedua tangan. Satu detik, dua detik, tiga detik, aku sampai menghitungnya di dalam hati. Bahkan hingga detik kelima, pelukan itu belum kunjung mereka lepaskan. Aku yang keburu sadar dan paham situasi, mengambil langkah mundur perlahan. Tugasku di sini sudah tuntas. Sudah lebih dari cukup aku membantunya. Saatnya mengembalikan hubungan kami ke tempat semula.


Sambil berjalan, tanganku merogoh ponsel, membuka aplikasi pengiriman pesan yang tadi, lalu mengetik beberapa kata di sana.


^^^Untuk : Abang ❤️^^^


^^^Kak Bagas, makasih untuk 25 hari yang penuh sensasi. Dara ngerasa waktu yang kita jalani bener-bener kayak naik roller coaster. Dara juga enggak nyangka kalau tujuan kita bisa tercapai dengan cepat. Enggak perlu nunggu sebulan, para barisan mantan udah balik ke pelukan masing-masing ya! Jadi, dengan ini Dara menyatakan diri pamit undur diri dari hadapan kakak. Langgeng terus sama Shafiranya, jangan biarin dia pergi untuk yang kedua kali.^^^


......***......


Sepulang sekolah, aku tidak lagi keluar kamar. Memilih merebahkan diri sambil menatap langit-langit ruangan dengan perasaan tak menentu. Sesekali air yang menetes di ujung mata, aku usap perlahan. Ada yang lebih sakit daripada melihat Arfan berselingkuh ternyata. Aku baru tahu hari ini, setelah mendapati Kak Bagas dipeluk dan memeluk Shafira.


Seolah luka itu belum cukup untuk aku terima, Kak Bagas juga mengirimkan balasan atas pesan yang kukirim tadi siang. Aku sudah membacanya berulang kali. Saat menaiki taksi menuju rumah pun, aku tiada berhenti membacanya. Sudah aku baca berkali-kali, tetapi rasanya tetap sama. Dadaku malah kian sesak. Kian terluka dan tak tahu harus bagaimana.


"Padahal waktu Arfan nembak Cecil, aku enggak hancur-hancur banget," gumamku sambil menghapus air mata lagi.


Merasa ingin disakiti lebih dalam, aku kembali membaca isi pesan yang dikirim olehnya.


Dari : Abang ❤️


Makasih juga Dara


Saya pamit juga


Ketukan pintu mendadak terasa mengganggu aktivitas pertapaanku. Sedikit malas kepalaku mendongak perlahan, mendapati sosok Bi Inah—tukang cuci dan setrika sudah melongok ke dalam ruangan.


"Mbak Dara, itu ... anu, di depan ada tamu."


Aku langsung beranjak, mengganti posisi rebahan dengan duduk tegak menghadap Bi Inah. "Siapa yang datang?"

__ADS_1


"Maaf, bibi enggak tau, yang jelas cowok, ganteng, tinggi, putih—"


"Dara turun sekarang!"


Penuh semangat juang aku turun dari ranjang, menengok cermin sebentar untuk memastikan wajah tidak berantakan.


"Udah disuruh masuk, kan?" Aku memastikan sambil lalu.


Saking tak sabarnya bertemu tamu, aku sampai melewati dua anak tangga setiap mengambil langkah. Bodohnya dalam kondisi terluka hati begini, aku masih mengharapkan kedatangan Kak Bagas. Aku begitu ingin mendengar penjelasan tentang Shafira dan isi pesan itu meskipun maknanya sudah bisa kutangkap dengan jelas.


Namun sepertinya, harapan itu musnah dan hancur berantakan. Sosok yang menungguku di ruang depan bukanlah Kak Bagas. Dia Arfan, orang yang sempat diusir Mami, kembali datang.


Mood-ku sontak berantakan. Mau tak mau, walaupun terasa jijik, aku tetap mendudukkan diri diposisi berhadapan dengannya. "Ngapain ke sini?" tanyaku ogah-ogahan.


"Mau liat kondisi kamu."


Anehnya, ucapan itu lebih tertangkap sebagai ejekan ketimbang rasa iba dan kasihan.


"Gue baik-baik aja!" Dustaku karena tak ingin dia bersenang-senang di atas penderitaan ini.


"Ra, kamu bohong," ucapnya yang sok tahu. "Mata kamu gendut, kamu pasti abis nangis."


"Ya, terus apa peduli lo?" semprotku karena sudah tertangkap basah.


"Bisa enggak, Ra, sopan sedikit? Biasanya juga kamu panggil saya Kakak. Kenapa sekarang jadi beda? Pasti gara-gara Bagas, kan?"


Aku menelan ludah bulat-bulat sebelum menjawab pertanyaannya. "Jangan bawa-bawa dia!"


Mataku memicing. "Emangnya lo layak dihormati?"


Ah, baru aku sadari kalau Arfan memang hadir di waktu yang tepat. Aku bisa meluapkan seluruh rasa terbakar hati dengan sempurna.


"Ra, kasih saya kesempatan. Sekali, aja!" bujuknya yang tidak tepat waktu dan sasaran. "Lagian ini pertama kalinya saya ngelakuin kesalahan yang fatal, kan?"


"Udah tau salah, kenapa masih lo lakuin?" Aku ingat, Arfan belum pernah memberitahu alasan yang sebenarnya.


"Saya tergoda," jawabnya yang membuatku kebingungan. "Cecil ngasih hal yang enggak pernah kamu kasih ke saya."


"Keperawanan?" tebakku, walaupun ragu.


"Bukan," sanggahnya. "Ciuman."


Mendengar itu, aku mendadak kehilangan akal dan tidak mampu berkata-kata.


"Ra, saya bosen. Tiga taun bareng kamu cuma pegangan tangan dan pelukan, doang. Saya penasaran, kepengen tau rasanya gimana, dan kebetulan Cecil ada di sana. Dia mau, terus-terusan mau—"


"Jijik gue dengernya," umpatku sedatar mungkin.


Arfan tersentak. Dia pasti terkejut karena aku sudah berubah 360°. Aku bukan lagi Dara yang dulu dikenal olehnya.

__ADS_1


"Kalau lo nyari yang bisa muasin nafsu, mending balik lagi ke Cecil."


Arfan kelabakan. Dia turun dari sofa, berjalan sambil berlutut ke arahku. "Ra, please! Saya kapok. Demi Tuhan enggak bakalan diulang lagi. Setelah tau rasanya biasa, aja, saya beneran enggak mau lagi."


"Pergi sana," tepisku yang semakin merasa jijik.


"Ayolah, Ra. Saya bela-belain putus sama dia."


"Lah! Gue, kan, enggak pernah nyuruh kalian buat udahan. Ya, ajak balikan lagi, aja. Siapa tau dia masih mau," cerocosku begitu ringan di mulut.


"Ra, please kasih saya kesempatan. Kalau kamu nolak saya karena peduli sama Bagas, itu percuma! Percaya sama saya. Percuma kamu bela-belain Bagas. Dia enggak akan balik sama kamu. Dia punya Shafira. Cuma Shafira pemilik hatinya dari awal sampe akhir."


Mendengar hal itu, hatiku kembali merasa hancur. Aku yang tak sanggup menahan getaran sesak, berujung menangkup kedua wajah dan menangis sejadinya.


"Ra!" panggilnya sambil menggenggam kedua bahuku.


"Lepas," tolakku dengan suara teredam.


"Ra, balikan sama saya, ya? Saya bakal lakuin semuanya buat nebus kesalahan yang kemarin."


"Astaga!" jeritku disela isak tangis. Aku mulai muak mendengar suaranya. "Harus berapa kali gue bilang? Gue enggak mau balikan. Gue enggak mau sama lo."


"Terus kamu mau sama siapa?" Arfan balas berteriak. "Bagas udah punya Shafira."


"Ya, gue enggak peduli," jeritku lebih histeris lagi. Bi Inah yang sedang bertugas di halaman belakang pun sampai menyusul ke ruang depan guna menyaksikan kehebohan ini.


"Sadar, Dara! Bagas udah ada yang punya!"


"Lo yang harusnya sadar! Udah gue bilang enggak mau, masih tetep maksa-maksa." Telunjuk sudah mengarah ke wajahnya.


"Cuma saya yang bisa kamu andelin! Cuma saya yang bisa bahagiain kamu, Dara."


"Arfan!" bentakku. Sudah waktunya mengakhiri ini semua. "Pergi dari sini!" Telunjukku sudah beralih, mengarah ke pintu yang terbuka.


"Ra?"


"Pergi dari sini," ulangku lebih mantap lagi.


Arfan terdiam, tampak mengambil napas, lalu mengangguk untuk mengalah. "Oke, saya pergi." Ransel yang disimpannya di sofa tamu, kembali ia sampirkan ke kedua bahu. Sebelum berjalan, dia masih menyempatkan diri menengok ke wajahku, dan berkata, "Boleh saya ajuin satu pertanyaan?"


"Apa?" tanyaku masih nge-gas.


"Kalau waktu bisa diulang, siapa yang pengen kamu hindari? Saya atau Bagas?"


"Enggak dua-duanya," jawabku spontanitas, langsung dari hati.


"Kenapa kayak, gitu?"


"Kalau enggak lo khianati, Bagas belum tentu hadir dihidup gue."

__ADS_1


......***......


__ADS_2