Pacar Bohongan

Pacar Bohongan
BC 10 | Monthly Anniversary


__ADS_3

“Happy 1st monthsary!”


Sebuah kotak hadiah yang sebelumnya diperdebatkan, diulurkan Kak Bagas ke hadapanku. Dia menampilkan senyuman lebar, seolah meyakinkan hatiku bahwa inisial S memang dibuat dan dikarang langsung olehnya. Benaran inisial dari nama Sayang, bukan lagi inisial dari nama Shafira. Gila sekali, pokoknya. Kenapa juga aku termakan omongan Arfan yang jelas-jelas ingin menghancurkan hubungan kami?


Namun, disamping itu. Ada hal lain lagi yang membuat benakku penasaran. Alih-alih menerima kotak hadiah yang diulurkan, aku malah melipat tangan di depan dada. Bersiap meluncurkan pertanyaan padanya.


“Kenapa aku gak tahu tentang tanggal ini?”


Aku bahkan tidak tahu kapan tepatnya kami resmi berpacaran. Secara, hubungan kami diawali dengan sebuah perjanjian.


“Masa, sih? Kakak ingat betul malahan. Tanggal 23 Maret itu spesial tanggal jadian kita.”


“Oh, ya?” Semakin dibuat bingung saja. Bagaimana cara menghitungnya coba? Kapan tanggal jadian kami diresmikan? Mulainya kapan? Saat penandatanganan kontrak pacar bohongan atau setelah memilih mengakhiri kontrak tersebut?


“Kok, Adek kayak yang bingung?” Kak Bagas seperti melihat alasanku yang diam terus.


“Memang bingung.” Aku mengakui sambil nyengir kuda. “Ini perhitungannya gimana? Kenapa bisa tanggal 23 yang jadi hari spesial kita?”


Kak Bagas tertawa. Sebelum menjawab dia menyempatkan diri mencubit sebelah pipiku sembari menahan gemas. “Tanggal ini dimulai sejak kita sepakat untuk mengakhiri kontrak.”


“Ah, langsung dimulai di hari itu juga?”


“Iyalah, setiap harinya dihitung. Kan, berharga.”


“Apaan, sih?” Aku menyenggol lengannya yang masih memegang kotak.


“Udah. Jangan over thinking lagi. Ini hadiah memang buat Adek, kok.” Dia kembali mengulurkan hadiah itu supaya aku tertarik untuk membukanya.


Rasa sakit dan sedih yang terasa pun seakan menguap karena Kak Bagas tidak seperti yang dibicarakan Arfan. Penuh keseganan aku menerima kotak tersebut, lalu membuka penutupnya. Mataku melebar mendapati dua lipatan jaket dengan model dan warna serupa. Begitu membaca merek yang tersemat, aku lantas memukul lengan Kak Bagas keras.


“Apa? Kenapa?” tanyanya karena mendapat beberapa kali pukulan.


“Jadi, ini alasan Kakak hemat gila-gilaan selama seminggu?”


Aku sampai mengeluarkan dua buah jaket dari tempatnya. Pantas saja dia memilih jajan lima ribu sehari. Barang yang dia beli kali ini harganya bisa mematok tiga ratus ribu untuk satu potong jaket. Itu baru satu jaket dan nyatanya yang dia beli itu dua. Konsep jaket couple, nyatanya tidak menguntungkan sama sekali. Aku santai-santai menghabiskan uang jajan, sedangkan Kak Bagas berhemat untuk membelikan jaket pasangan.

__ADS_1


“Iya, itu. Uang yang kakak sisihkan buat itu dan kayaknya minggu depan kakak mulai menghemat lagi buat beli hadiah ulang tahun Adek.”


Pengakuan polos itu kembali memancingku untuk melancarkan pukulan di lengannya. Aku benaran tidak terima dengan caranya menyiksa diri hanya demi menyenangkan hati pasangan.


“Jangan begitu, Kak. Aku gak suka,” ujarku sambil mengakhiri pukulan. “Aku sayang Kakak apa adanya. Gak dikasih hadiah pun gak akan jadi masalah.”


“Tapi ini masalah penting buat kakak. Kakak gak mau mengecewakan perempuan terbaik. Selama dikasih waktu dan kesempatan, ya, kakak bakalan jaga dengan baik hati dan perasaan Adek.”


Hening. Aku tidak menyahut karena terlalu fokus melihat ekspresi wajahnya. Dia tulus. Entah kenapa aku bisa merasakan hal itu. Dia benaran sayang dan aku yang bodohnya keterlaluan. Sungguh sia-sia saja kesetiaan Kak Bagas kalau aku sampai mempercayai lagi ucapan buaya.


“Udah. Keburu bel masuk, mau dicoba dulu gak jaket couple-nya?” Jaket dalam genggamanku diambil alih olehnya. Kak Bagas terlebih dahulu memotong tali hang tag dengan gunting yang tersedia. Sebelum diberikan padaku, tak lupa dia juga membaca ukuran yang tersemat di bagian punggungnya.


“Dapat ide dari mana sampai kepikiran beli jaket pasangan?” Aku pikir sekelas Kak Bagas tidak tertarik memakai pakaian yang sama dengan kekasihnya. Biasanya, kan, laki-laki begitu. Kalau tidak malu alasannya, ya, gengsi.


“Kepikiran pas kita pulang LDKS.” Jaket size M direntangkan Kak Bagas hingga terbuka lebih lebar. “Pinjam tangannya, Sayang.”


Permintaan itu lantas aku indahkan. Penuh rasa pasrah, aku merentangkan lenganku supaya Kak Bagas mudah memasukkan dan memakaikan jaket itu di tubuhku. Terasa pas, tidak ketat, tidak pula kedodoran.


“Adek pernah bilang waktu itu dan kebetulan kakak kepikiran terus.”


“Adek nunjuk pasangan yang lagi jalan sambil pakai jaket couple. Katanya, bagus, kan?”


“Ah, itu ....” Aku memang mengatakannya, tetapi tidak pernah berharap Kak Bagas akan membelinya. “T-tapi aku gak minta Kakak—“


“Iya,” potong Kak Bagas seraya menempelkan telunjuknya di bibirku. “Kakak tahu Adek gak minta. Kakak cuma pengin cobain sensasinya, aja.”


“Sensasi pakai jaket yang sama begitu?”


Dia mengangguk sambil tersenyum puas. “Sini, sini, dampingan.” Kak Bagas menarik lenganku, mengajak berdiri berdampingan menghadap ke sebuah cermin besar yang baru-baru ini dibeli dan dipajang staf koperasi.


"Tuh, kan, kita juga bagus kalau pakai ginian.”


Itu dia yang bilang. Nyatanya, setiap lelaki juga memiliki sisi manis tersendiri. Artinya, bukan cuma aku yang over-reacting di sini. Mumpung suasana dipenuhi hati merah muda, buru-buru aku mengalungkan tangan di lengannya. “Foto yuk, Kak. Terus jadikan foto profil WhatsApp. Berani, gak?” tantangku.


“Beranilah. Masa pajang foto pacar gak berani.”

__ADS_1


Dia bergerak membuktikan diri. Bermodalkan ponsel Kak Bagas, kami mengambil beberapa gaya berfoto, saling berkirim hasil gambarnya melalui aplikasi pesan online. Tantangan mengganti foto profil WhatsApp pun selesai kami lakukan.


“Dek,” panggil Kak Bagas saat aku selesai mengoperasikan ponsel. “Nanti pas Hari Kartini, Adek mau pakai kebaya, gak?”


“Hm ....” Aku mencoba berpikir cepat. Pakai, tidak, ya? Kalau pakai pasti ribet, kan? Mana harus bolak-balik beraktivitas karena bertugas menjadi panitia di luar ruangan.


“Kalau gak mau pakai juga gak jadi masalah.” Kak Bagas seolah tahu kegamangan hatiku.


“Eh, memangnya bisa, ya? Bukannya setiap siswa wajib pakai kebaya dan pangsi, ya?” Waktu sekolah menengah, sih, begitu. Apa mungkin di SMK beda lagi peraturannya?


“Kakak punya cara biar Adek gak usah repot-repot pakai kebaya.”


“Oh, ya?” Mataku sontak berbinar. “Coba kasih tahu caranya,” pintaku penasaran.


“Nanti pas pemilihan tugas panitia, kamu pilih tugas jadi panitia kontes mojang jajaka, aja. Sudah pasti diam di ruangan karena harus urus model-model sekolah. Ada pengecualian, kok, untuk panitia bidang itu. Mereka diperbolehkan gak pakai kebaya dan pangsi,” jelas Kak Bagas panjang lebar.


“Kakak, kok, menyarankan itu? Gak mau, ya, lihat aku dandan terus pakai kebaya?” Aku menatap penuh selidik.


Kak Bagas terpantau nyengir kuda. “Bukan gak mau lihat. Adek tahu sendiri kalau pakai kebaya repotnya bukan main. Kakak takut Adek gak bisa naik moge nantinya.”


“Ah .....”


Jadi, alasannya tidak lain dan tidak bukan karena motor hijau kesayangan. Saking tidak mau meninggalkan moge, aku sampai dikorbankan dan dihasut supaya tidak memakai kebaya.


“Iya, begitu. Pokoknya ribet, Yang, kalau pakai kebaya.” Dia masih bersikukuh membujuk.


“Nanti aku pikir-pikir lagi, deh.” Sayangnya, aku tidak mau kalah diprioritaskan dengan si moge.


“Lho, katanya tadi gak mau.”


“Ya, masa Kakak pakai pangsi, aku pakai seragam. Gak nyambung, dong.”


“Kata siapa? Kakak gak bakalan pakai pangsi. Cukup tahun kemarin, aja, kakak pakai baju begitu. Tahun ini gak mau.” Dia mengelak keras sampai menggenggam tubuhku erat. “Kita janjian, ya? Sama-sama jangan pakai baju adat.”


***

__ADS_1


__ADS_2