
Kak Bagas memantau pergerakan kelompok tiga. Berusaha menahan diri untuk membantu karena tidak ingin kekasihnya menjadi pusat hujatan akibat pilih kasihnya sang ketua. Aku yang dituntut harus serba bisa pun tidak mau mengandalkan status kami sebagai pasangan. Cukup dia hadir di dekatku maka aku akan merasa kuat menghadapi apa pun.
"Serius Kakak minta maaf, Sayang."
Dia masih merasa bersalah karena anggota tim-ku menyebalkan semua. Aku tersenyum, meredam lelah sambil berkata, "Gak masalah, Kak. Kelompok ini, kan, dibuat mereka. Dara cuma harus nunjukin kalau Dara mampu." Tak lupa aku melayangkan pelototan mata ke arah Arfan yang tengah mengurusi kabel mikrofon.
"Nanti Kakak bantu, Kakak janji," ucapnya lagi seolah ucapan ketika kami di lapangan tadi belum, lah, cukup dalam meyakinkanku.
"Kakak balik ke tim, gih!" Sudah waktunya bagiku merelakan Kak Bagas supaya kembali memandu tanggungjawabnya.
"Ingat! Kalau ada apa-apa, cepat kabari Kakak." Dia sempat menangkup kepalaku, memberi belaian lembut sebelum berlari ke tenda panitia.
Hah, baiklah! Kini giliranku yang harus menyelesaikan tugas sebagai ketua. Mataku lekas melihat wajah-wajah tim yang ada. Riska, Putri, dan Eren sudah standby di sisiku. Duduk bersimpuh menahan penat dan lelah akibat membawa tas camping yang besar-besar. Napasku mendengkus begitu menyadari seorang tim tidak kunjung kemari.
"Shafir ke mana?" tanyaku kepada mereka.
"Di parkiran," jawab Eren.
"Astaga. Masih di sana?" Tanganku sudah berkacak pinggang, memerhatikan wajah tiga orang yang terduduk secara bergantian. Melihat tidak ada yang peduli dengan Shafira, mau tak mau aku yang dijadikan ketua berjalan lagi. Memang merepotkan anak satu itu. Mungkin ini alasan Arfan memilihkan anggota yang menyebalkan, supaya aku terus bersiaga tanpa rasa lelah bukan?
Baru saja menyusuri setengah jalan, langkahku terjeda karena sosok Shafira langsung mengisi pelupuk mata. Bukan di parkiran, dia sudah berada di area lapangan, tetapi tertahan di pos keamanan. Ransel besar miliknya diseret ke ruang panitia. Entah masalah apalagi yang akan dibuat olehnya.
Kembali kakiku melangkah, menyusul dia yang sudah tak terlihat ujung kepalanya. Dari ambang tenda aku sudah bisa mendengar keributan yang dibuat Shafira di dalam sana.
"Ya, kali aku sekelompok sama musuh. Kalian sengaja apa, gimana?"
Satu teriakan yang aku tangkap darinya.
"Lo berani banget datang ke sini. Apa susahnya terima kenyataan? Kalau kami pilih lo di kelompok tiga, ya, udah terima, aja."
Aku yakin itu suara Kak Esa. Orang yang menyindirku ketika diantar Papi sampai ke pos satpam sekolah.
"Ra ...."
Sebuah tangan menarikku supaya menjauh dari ambang pintu. Aku yang mendapati sosok itu adalah Arfan langsung menepis tangannya dari lenganku dengan kasar.
"Kamu mau protes juga?" tanyanya dengan getaran khawatir.
"Kagak," ucapku penuh percaya diri. "Buat apa protes?"
Justru itu yang kalian inginkan. Kalian tahu aku tidak menerima kelompok ini, tetapi tetap membuatnya untuk melihat titik sabarku sampai di mana. Jadi, untuk apa aku protes? Bukankah aksi Shafira sekarang yang ingin kalian lihat dariku?
__ADS_1
"Kamu bisa, aja, memohon biar diganti anggota kelompoknya."
"Me-mohon?" ulangku dengan mata memicing.
"Ya, memohon. Cukup sama aku. Gak perlu sampai masuk ke dalam. Gak perlu sampai berurusan sama Geng Cecila. Cukup sama aku, Dara. Aku bisa ganti kelompok kalian sekarang juga."
Bahkan sekelas Kak Bagas saja tidak bisa mengganti kelompok yang nama anggotanya sudah disebarluaskan olehmu, Arfan. Kamu punya kuasa apa sampai menawarkanku kesepakatan begini?
"Udah, lah!" Tanganku sampai mengibas di depan wajahnya. "Aku terima kelompok ini. Jadi, aku gak perlu mohon-mohon di depan kamu, kan?" Tak mau mendengar sahutannya, aku bergegas melangkah melewati Arfan.
"Kamu yakin, Dara?" tanyanya sedikit lebih tegas sampai mampu menahan langkahku di samping tenda panitia. "Kamu yakin gak perlu bantuan aku?"
Aku mengangguk, memancingnya untuk berbicara lagi.
"Dara, cuma aku yang bisa ganti kelompok kamu. Bagas gak bisa."
Bodoh amat, ah, Bambang!
Aku kembali mengabaikannya, berjalan menyusul Shafira, lalu menarik manusia itu keluar tenda. Mataku sudah tertutup kabut emosi. Aku sampai tidak menggubris teriakannya. Amarahku sudah ingin tertuntaskan, aku tidak peduli dia terseok bahkan terjatuh karena pikiranku cuma satu. Menyeretnya sampai ke lokasi kelompok tiga menepi.
"Kamu apa-apaan, sih?" bentakku setelah kami menjauh dari tim panitia.
"Aku cuma mau bantu kamu, Dara. Kamu gak suka sama aku, kan? Kamu gak suka sama tim ini, kan? Kita korban ketidakprofesionalan mereka. Harusnya, kamu dukung aku. Bukan malah seret aku ke sini," cerocosnya teramat lancar.
"Gerah, ya, sekelompok sama pacarnya mantan?" Senyumku berubah jadi menyeringai. "Tahan, Sayang! Cuma sampai besok, kok. Jangan manja! Tahan harga! Ganjen, aja, bisa. Masa bertahan seatap sehari gak bisa! Dasar, mental tempe!"
***
Masalah satu sudah teratasi. Kini aku mencoba menghirup udara camping dengan penuh ketenangan. Selepas mendirikan tenda dan memakan makanan buatan panitia, aku mengajak Eren mengambil seember air bersih. Nantinya, ember air ini akan diletakan di depan tenda. Entah itu untuk mencuci tangan atau mencuci peralatan makan, pokoknya aku ingin ada seember air bersih didekat tenda.
Kepalaku menoleh saat mendengar derap langkah kaki yang mendekat. Kak Bagas rupanya. Keningnya sudah berpeluh manja, tetapi dia masih bisa menampilkan senyuman untukku.
"Rajin amat," ledeknya sambil mengacak rambutku.
"Ra," panggil Eren yang tiba-tiba beranjak. "Aku duluan, ya."
"Eh, mau ke mana?" Aku menahan tangannya. "Gak pa-pa di sini, aja. Kak Bagas juga gak bakalan ganggu." Kasihan dia kalau harus kembali ke tenda dan berbaur dengan tiga musuh bebuyutanku.
"Gak, ah!" tolaknya halus sambil menepis lenganku. "Aku mau jalan-jalan sebentar, sambil mau lihat tenda yang lain. Kamu di sini, aja, sama Kak Bagas. Mumpung ada waktu berduaan."
Dia pergi selepas mengucapkan kata-kata itu. Kak Bagas yang datang tanpa diundang pun menjadi pusat pemukulan dariku. Sudah mengaduh dan hampir terjerembab ke sungai, aku tetap memukuli tangannya.
__ADS_1
"Kasihan tahu temenku," ucapku dengan dada kembang kempis.
Dia malah terkekeh, menggenggam tanganku yang tadi memukulinya. "Eren bagus tahu. Paham situasi. Dia tahu, aja, kalau kita susah punya waktu berduanya."
"Iya, tapi dia kasihan. Jadi, gak punya temen." Aku menyaksikan punggung Eren yang masih tertangkap pandangan.
"Gak apa-apa. Kita juga, kan, di sini ngobrol sebentar. Nanti kamu temenin dia, aja, lagi." Ucapan itu tidak cukup hebat untuk mengalihkan pandanganku dari punggung Eren yang semakin menjauh.
"Gimana tendanya? Udah dibangun?"
"Hah, ke mana, aja? Kenapa baru nanya tenda?" Aku melengos. Tak mau menatap wajah Kak Bagas yang baru muncul setelah kesulitanku membangun tenda bersama anak-anak.
"Maafin, ya! Tadi kakak telusur dulu jalur yang mau dipake jurit malam." Dia berkata sambil menyeka pipi yang terkena cipratan air sungai. "Nanti kamu ikutan, ya. Semoga penjaganya kakak."
"Oh, ada penjaganya, ya?" Pertanyaan itu sontak mendapat anggukan dari Kak Bagas.
"Satu tim bakalan punya satu senior. Semoga kali ini mereka gak berlaku curang. Semoga kita bisa satu kelompok biar kakak bisa lindungi kamu."
Anehnya, aku tidak mengaminkan doa tersebut. Sudah bisa menebak lebih dulu kalau rasanya tak mungkin Kak Bagas yang akan menjadi penjagaku. Hah, risiko pacaran banyak godaan. Untuk bersama saja terasa sulit.
"Pahitnya kalau misalkan bukan kakak yang jaga, semoga bisa Wisnu yang gantikan, ya."
Nah, dia sendiri saja pesimis. Berarti memang peluang untuk kami bersama itu sulit. Tidak masalah, sih, bagiku. Siapa pun penjaga kelompok tiga nanti, pasti dia akan bertanggung jawab 'kan?
"Sayang, dengar Kakak!" Kak Bagas langsung merangkul, mengajakku supaya melihat objek yang dia tunjuk. "Nanti ada tiga titik jebakan. Jebakan satu kolam air, jebakan dua tumpukan pasir, dan jebakan ketiga kolam lumpur. Tiga jebakan itu ada satu pendorongnya. Kamu harus bisa jawab dengan benar supaya kelompok gak masuk kubangan."
"Oke, paham," kataku pasti.
"Paham?" Kak Bagas malah meragukan kepercayaanku.
"Iya, lah. Waktu SMP juga sering yang begini. Pertanyaannya random 'kan? Hal yang gak penting, aja, biasa ditanyakan sama mereka."
"I-iya, sih."
Aku yang tahu gelagat itu lantas mengapungkan tangan ke depan wajahnya. "Gak perlu, Kak. Gak perlu kasih aku petunjuk."
"Eh, kenapa? Kakak beneran mau kasih petunjuk, lho, biar kalian gak masuk jebakan." Kak Bagas menahan lenganku lalu menggenggamnya erat.
"Aku gak mau manfaatin posisi kakak di OSIS. Aku masuk OSIS niat bener-bener, lho. Urusan masuk jebakan atau enggak, ya, anggap seru-seruan, aja. Gak seru kalau hidup berjalan mulus terus."
"Aduh, bahaya!" Kak Bagas malah mencubit pipiku sembari menahan gemas. "Makin sayang kalau begini jadinya. Makasih, ya, udah ngerti sama posisi kakak. Hampir, aja, kakak gak profesional."
__ADS_1
***