
Dua gadis yang merundungku sudah berlari terbirit karena mendengar bel masuk berbunyi. Aku yang ditinggal sendiri memilih tidak melakukan pergerakan apa pun. Kaki yang terlalu lemas membuat tubuhku merosot ke lantai.
Aku mengatur napas, meredam gemetaran tubuh sambil menengadah ke langit-langit toilet. Kepalaku bersandar di ambang pintu. Dengan mata terpejam, aku merasa-rasai perihnya kepala rambut efek dijambak si perundung. Napasku kian sesak, jika mengingat kejadian tadi. Ini kali pertamanya aku mengalami nasib yang mengenaskan.
Tanganku merogoh ponsel dari kantong rok. Tujuanku sekarang menanyakan keberadaan Riska yang belum juga datang. Hanya dia satu-satunya yang bisa memapahku ke kelas. Satu panggilan aku tujukan untuknya. Cukup menunggu beberapa saat hingga kami sambungan terhubung.
"Ris, di mana?" tanyaku lemah dan serak.
"Di Koperasi. Pembalut aku abis, Ra. Jadi, melipir dulu ke sini."
Ah, itu alasannya.
"Tolongin aku, Ris!" Kepalaku mendadak terasa berat. Rasa peningnya menjalar sampai leher belakangku menegang.
"Iya, nanti aku ke situ. Mau titip salam buat Bebeb, enggak?"
"Ris, tolong!" Tanpa sadar air mataku menetes. "Tolong!"
"Ra? Kamu kenapa? Iya, iya, ini aku ke situ, ya! Tunggu!"
Sambungan pun terputus. Selama penantian ini, mataku tak berhenti meneteskan air mata. Harapanku hari ini cuma satu, Riska datang menolongku dan memapahku sampai ke kelas.
Lima menit menunggu, terdengar derap langkah seseorang yang kian mendekat. Firasatku mengatakan sosok yang datang itu pastilah Riska, sahabatku. Benar saja. Riska memang datang, membawa kantong plastik putih berisi sebungkus pembalut. Dia tertegun beberapa saat di ambang pintu sebelum akhirnya menghampiri dengan seribu kepanikan.
"Ra ...." Bahkan telingaku menangkap getaran hebat dari suaranya. "Kamu kenapa? Jatoh? Kenapa bisa basah gini?" Rentetan pertanyaan itu lebih terdengar sebagai rengekan. Terlihat hidung Riska memerah disertai mata yang mulai berair. Dia berjongkok didekatku, membelai rambut dan wajahku yang basah.
"Tolongin, ya," pintaku lirih. "Aku pengen balik ke kelas."
"Ra, mending ke UKS, yuk!" ajaknya. "Istirahat dulu di sana, sambil diperiksa Bu Ani juga."
"Bajuku basah, Ris." Bodohnya aku, tanpa diperjelas pun, mata telanjang Riska bisa melihatnya dengan jelas.
"Iya, enggak pa-pa. Nanti aku tanya Putri, barangkali dia tau tempat pinjem seragam." Riska bangkit lebih dulu, memasukan sebungkus pembalut ke dalam kantong rok. Dia bahkan menyempatkan diri mengambil napas panjang. Setelah merasa siap, kedua tangannya terulur untuk membantuku bangkit. "Yok, pelan-pelan!"
Aku menurut, menggenggam pegangan itu erat-erat. Pelan-pelan aku ajak kedua kaki untuk menopang tubuh lagi. Namun, tepat saat kakiku berpijak kunang-kunang memenuhi seisi pelupuk mata, membuat penglihatanku kabur lalu menggelap.
......***......
__ADS_1
Suasana jadi satu warna dalam penglihatan. Mulai dari langit-langit, tirai gorden, hingga selimut yang menutupiku hingga dada. Semua terbalut dalam satu warna, yakni putih. Aku ingat kejadian terakhir di toilet tadi. Sudah dipastikan aku tidak sadarkan diri saat hendak bangkit dibantu Riska.
Mengingat satu nama itu, mataku lantas terbelalak. Benar, Riska. Di mana dia? Cukup satu kali hentakan, aku bangun dari posisi terlentang. Menengok kiri dan kanan untuk mencari seseorang, tetapi hanya tirai gorden yang kudapat.
Kepalaku menengok nakas. Secercah harapan datang karena ponselku tersedia di sana. Pukul 11.05. Ah, mungkin Riska meninggalkanku di sini dan pergi ke kelas seorang diri. Merasa sudah dalam kondisi membaik, perlahan aku menyingkap selimut putih yang menutupi.
Sejenak aku tertegun. Aku baru menyadari pakaianku telah berganti. Tidak lagi memakai kemeja dan rok yang basah. Aku menghirup setelan olahraga yang ku kenakan. Tidak seperti bau baju baru. Lebih seperti bau pewangi dan pelicin laundry. Ah, mungkin Riska berhasil meminjam baju ganti untukku.
Aku menuruni bangsal bertelanjang kaki. Membuka tirai berwarna putih, lalu mengamati sekitar. Tidak ada Bu Ani, petugas yang selalu menjaga ruangan ini. Aku benar-benar ditinggal seorang diri.
"Sudah bangun?"
Astaga. Tubuhku tersentak. Sebelah tangan yang tersimpan di depan dada meremas kaos olahraga pelan. Ada Bu Ani ternyata. Dilengkapi jas dokter beliau berdiri di ambang pintu.
"Masih pusing?" tanya beliau lagi.
"Sudah agak mendingan, Bu." Aku merasa sudah bisa melangkah tanpa bantuan orang lain.
"Jalan ke sini udah bisa belum?" Tangannya melambai, memintaku untuk menyusul keluar ruangan. "Barangkali mau cari angin sebentar."
Aku mengangguk, menuruti keinginan beliau untuk berjalan keluar UKS. Sesampai di ambang pintu, beliau lekas merangkul lenganku. Dibimbingnya sampai aku bisa bersandar di tembok balkon.
Sedikit bingung, tetapi aku tidak menyahuti ucapannya. Beliau menggerakkan dagunya perlahan, memberiku isyarat supaya melihat ke bawah balkon. Tatapanku turun, mengamati kawanan siswa yang tengah mengisi lapangan basket.
Ah, jadi itu maksud melihat pacar. Dari balkon UKS, aku bisa menangkap wajah lelaki yang kemarin tidak mengantarku pulang.
"Lagi marahan, ya?"
Tebakan itu mengalihkan pandanganku dari seorang Bagas Raharja yang tengah menggiring bola. Sontak aku menggeleng untuk menutupi hubunganku yang sedang tidak baik-baik saja. "Kami baik-baik aja, kok, Bu."
"Yakin? Bagas ngerasa bersalah, lho, sampai engga nafsu makan siang tadi. Tuh, nasi ramesnya masih utuh di meja." Benar. Ada dua buah pincuk nasi yang masih tertata rapi di meja.
"Dia dari tadi nungguin kamu, lho, baru turun pas ngeliat kamu lepas infus."
"Oh, ya?" Aku sedikit tidak percaya.
"Itu, kan, yang kamu pake seragamnya Bagas."
__ADS_1
Aku melihat kembali setelan olahraga yang memang sedikit kebesaran.
"Ibu tadi liatin dia dari sini. Sebelum basket sempet dihukum dulu sama Pak Dian."
"Dihukum karena enggak pake seragam?" tanyaku memastikan dan Bu Ani mengangguk.
"Iya, kayaknya dia ngasih alesan lupa bawa seragam. Jadi, disuruh lari keliling lapangan basket 10 putaran."
Informasi itu cukup meluluhlantakkan hatiku. Aku tidak menyangka dia masih peduli padaku, padahal hubungan kami sedang memburuk. Spontan mataku turun kembali, mengamati sosok yang berlari di lapangan basket. Larinya tidak selincah orang lain yang mengenakan setelan olahraga. Pasti pengap, pasti tak nyaman.
Dia yang tak sadar sedang diperhatikan mendadak berhenti di samping lapangan. Tubuhnya membungkuk dengan kedua tangan disimpan di lutut. Punggung yang kembang-kempis itu sudah memberiku petunjuk kalau dia di ambang batas kelelahan. Hingga tanpa terduga, dia membuka satu per satu kancing kemejanya.
"Woi ... woi ... woi, seksi, woi!" teriak beberapa siswi yang sedang menonton pertandingan basket kelasnya.
"Jangan buka di sini, Bagas!" teriak yang lainnya mulai kehebohan.
Namun, Kak Bagas tampak tidak peduli. Dia sudah selesai melepas kancing, lalu melempar sehelai kemeja itu ke sembarang tempat. Beruntung tubuhnya masih dibalut kaos putih, terlihat sedikit menerawang akibat peluh yang sudah membasahi punggung dan dadanya.
Kak Bagas kembali berlari mengejar bola. Mataku tanpa sadar tak luput memperhatikan pergerakannya. Pesona Kak Bagas ketika berpeluh keringat memang bukan main tampannya. Pantas saja fan fanatiknya begitu barbar tadi. Mungkin karena ini juga alasannya.
Beberapa detik berlari, Kak Bagas akhirnya berhasil merebut bola dari tim lawan, menggiringnya mendekati ring. Kalinya berpijak di garis lingkaran, bersiap melakukan shooting ke ring tujuan. Namun, saat bola itu terangkat, pandangannya melipir ke arahku. Dia sempat tertegun untuk memastikan bahwa yang didapatinya benarlah seorang Dara. Tanpa terduga, bola yang selangkah lagi masuk ke dalam ring dilemparnya ke sembarang arah.
"Gas, gila?" jerit teman-temannya karena Kak Bagas mundur dari lapangan dan berlari sampai tak terlihat lagi. Bola pun menggelinding di lapangan dipandangi kawanan orang yang keheranan dengan aksi Kak Bagas yang berubah mendadak.
"Dara!"
Teriakan itu menarik kepalaku untuk menoleh ke sumber suara. Mulutku terbuka lebar, begitupun wajah Bu Ani yang mengernyit heran. Tersangka yang membuat heboh kawanan anak di bawah sana, sudah berpijak di lorong yang sama denganku. Dadanya kembang-kempis disertai peluh yang bercucuran di sekitar pelipis.
Dia lagi-lagi berlari mendekat dan langsung menangkap kedua bahuku supaya mau berdiri berhadapan. "Dek!" Panggilannya tercekat karena napas yang tak karuan.
Aku yang paham pemikirannya lekas menenangkan. "Dara baik-baik, aja."
Terdengar embusan napas penuh syukur darinya. Matanya sampai terpejam saking sesaknya dada efek berlari menaiki anak menuju ke depan ruangan. "Dek," panggilnya lagi dengan kepala menunduk. Aku menunggu, menatapnya khawatir. karena dada Kak Bagas tidak berhenti kembang kempis.
Beberapa menit menunggu, napasnya berangsur membaik. Dia yang berhasil mengacuhkan pertandingan, berdiri tegak dan menatapku dalam. Bodohnya aku karena di saat seperti ini aku masih saja berharap lebih. Berharap dia menangkup pipiku sambil menanyakan kembali keadaanku. Namun, alih-alih mengabulkan harapan hatiku, dia malah berucap hal yang membuatku menganga.
"Dek, abang laper. Makan, yuk!"
__ADS_1
......***......