
Karena dilapak baru kelamaan, mending kita lanjut dilapak ini, tapi ya.
1 | Kelompok Camping
Pagi ini aku diantar Papa. Berkendara mobil menuju sekolah karena Kak Bagas sudah lebih dulu sampai di sana. Tentunya karena dia panitia penyelenggara, wajib datang lebih pagi daripada peserta guna menyiapkan ini dan itu sebelum acara dimulai.
Ransel gunung yang aku pinjam dari Kak Sonia, diboyong Papa sampai ke pos satpam. Niat hati ingin meminta bantuan beliau supaya membawa tas itu sampai ke kelas, tetapi gagal aku lakukan karena kakak senior sudah berdiri sambil berkacak pinggang di depan gerbang.
Aku tahu, aku tahu. Mereka seperti itu karena tak boleh kami diantar orang tua, kan? Kami juga dituntut untuk mandiri dan membawa ransel segede gabon sendiri, kan? Aku paham. Tanpa dipelototi begitu pun aku paham.
"Nak, minta Bagas coba." Papa berbisik, tidak menghiraukan Kak Esa dan Kak Yuan yang memelototiku sedari tadi.
"Papa kepengen aku digorok mereka?" bisikku sambil berdesis. Sudah tahu posisi anaknya sedang diujung tanduk. Masih saja melayangkan candaan begini.
"Lah, pacar kamu ketua. Masa kamu enggak dapet perlakuan istimewa."
Tak tanggung-tanggung, aku lekas mencubit lengan Papa. "Sekelas surga, aja, enggak bisa ngandelin orang dalem, apalagi ginian."
"Bercanda. Ya, udah. Kamu hati-hati. Jaga badan, jaga kondisi, sama jaga hati."
"Kalau hati enggak usah ditanya lagi, Pa. Udah kekunci milik Kak Bagas, aja."
Papa mengacak rambutku sambil menggelengkan kepala melihat anaknya yang terlalu diperbudak cinta oleh Kak Bagas. Setelah memberiku sebuah pelukan, beliau lekas berjalan keluar gerbang sekolah.
"Lain kali jangan menye-menye! Mentang-mentang cewek ketos, berani ambil langkah dianter bokap," ejek Kak Esa sambil menatapku tajam.
Aku menatap sekitar, memastikan bukan hanya aku yang diantar oleh Papa. Terbukti, kok, semua orang di sini juga diantar orang tua mereka. Ranselnya juga sama diletakkan di teras pos satpam oleh kedua orang tuanya. Letak kesalahanku di mana coba?
Tak ingin memperpanjang masalah, aku berusaha sekeras mungkin mengabaikan omongan Kak Esa. Berjalan sambil membawa tas gendut di punggung. Sesekali aku menjeda langkah, terdiam beberapa saat guna menetralkan napas yang kelimpungan. Baru berjalan beberapa langkah saja, beban berat ini terasa menusuk ke tulang. Hah, sepertinya aku harus mengencangkan aktivitas olahraga supaya otot-otot tubuh bisa mengangkat beban dengan mudah.
"Semangat, Sayang!"
Pekikan dari sebelah badan lantas membuatku menolehkan kepala. Entah sejak kapan dia berada di sana. Ah, barang melihat saja aku sudah ingin mengadu dan melemparkan ransel ini padanya.
"Kakak enggak bisa bantu. Enggak boleh pilih kasih soalnya."
__ADS_1
Ya, tanpa dijelaskan pun aku sudah tahu soal itu. Mana mungkin aku mencampuri urusan dia sebagai Ketua OSIS yang diminati banyak orang. Diberi ucapan semangat saja sudah terasa istimewa dan membuatku senang bukan kepalang.
"Kak," panggil pelan.
"Hem?"
"Kenapa barang bawaannya banyak, sih? Kan, cuma semalem," keluhku mulai mengadu.
"Semalem juga, kan, bakalan dibuat spesial. Yuk, jalan lagi! Kakak liatin dari belakang."
Aku mengangguk patuh, kembali melangkahkan kaki menuju titik pusat perkumpulan peserta LDKS, yakni lapangan upacara. Kak Bagas benar-benar menemaniku berjalan. Sebisa mungkin dia memelankan langkah, supaya aku tetap berjalan lebih dulu. Hah, aksi kecil begitu saja sudah membuatku ketar-ketir, bagaimana kalau aksi besar coba?
Aku berdiri di pertengahan barisan. Sudah menurunkan tas punggung itu, lalu menyimpannya di samping badan. Beberapa menit menunggu barisan terpenuhi. Seseorang yang sudah tak asing dari pandangan berjalan ke arah pusat suara, mengambil mikrofon, lalu menekannya sampai tombol dinyatakan ON.
"Tes ... tes ... satu ... dua ... satu ... dua ...."
Ucapan itu nyatanya lekas menarik perhatian audiens. Segelintir orang yang bermain hape lekas memasukan benda mungil itu ke sakunya masing-masing. Arfan sebagai pembawa acara pagi ini lantas bersuara lagi.
"Selamat pagi," sapanya yang tak luput dari balasan selamat pagi juga. "Udah siap belum buat acara hari ini?"
"Udah!" jawab kami serempak.
Lah, aku baru sadar kalau dia memang cocok menjadi anak jurnalis. Dia tidak asing membawa mikrofon karena sudah terbiasa menggunakannya selama di sekolah putih biru. Pantas saja waktu itu dia menyuruhku bergabung di klub yang sama.
"Sebelum berangkat, saya mau bagi kalian menjadi lima kelompok. Nantinya kelompok ini bakal satu tim ke mana-mana. Dari awal naik mobil sampai tenda, kalian bakal bareng-bareng terus sama mereka. Paham, ya?"
Perihal ini juga sempat dijelaskan Kak Bagas saat bertukar kabar denganku via WhatsApp. Tidak terlalu terkejut, sih, hanya sedikit takut. Kira-kira siapa yang akan bergabung menjadi kelompokku?
Kelompok satu dan dua sudah dibacakan oleh Arfan. Mereka diminta membentuk barisan baru karena nantikan akan satu mobil dan satu tenda. Tiba di giliran ketiga, namaku disebutnya mantap.
"Kelompok tiga, ketuanya Dara. Tim yang tergabung di kelompok tiga ada Riska, Putri, Shafira, dan Eren."
Sukses mataku terbelalak. Ini aku tidak salah dengar, kan? Kenapa aku satu kelompok dengan mereka? Okelah kalau Eren, aku bisa menerima dan berdekatan dengan alumni kubu jongkok, tetapi kenapa harus ada Riska, Shafira, dan Putri?
"Ayo, kelompok tiga buat barisan baru di sebelah kelompok dua." Arfan berkata sambil melemparkan sebuah senyum miring padaku. Tidak salah lagi, ini pasti sudah direncanakan.
Baru saja kakiku melangkah untuk membuat barisan, tetapi tertahan karena pemandangan di depan mendadak jadi pusat perhatian. Kak Bagas mendatangi Arfan, merebut mikrofon beserta selembar dari tangannya. Matanya melotot ke arah bawahannya itu.
__ADS_1
"Sekira enggak bisa profesional, mending lo diem di ruangan!" Kak Bagas berkata disertai penekanan.
"Lo enggak malu? Enggak layak seorang ketua mengimprovisasi bawahannya yang lagi kerja." Arfan ikutan membusungkan dada.
"Gue lebih malu ngeliat lo enggak profesional dalam hal kerja!"
Tanpa mereka sadari, kata per kata yang mereka ucapkan tercerna jelas karena mikrofon masih dalam mode menyala.
"Heh ... heh ... heh! Ngapain kalian pada adu mata kayak gini?" Pak Abigail yang mendengar keributan di antara mereka lekas berlari untuk melerai.
"Ada apa ini?" tanya beliau setelah hadir di tengah-tengah mereka.
"Dia enggak profesional, Pak!" Tunjuk Kak Bagas ke wajah orang yang bersangkutan.
"Saya kurang profesional gimana, Pak? Udah jelas-jelas tulisannya kayak begitu." Arfan merebut kertas yang berada dalam genggaman Kak Bagas. Menunjukkan dengan penuh percaya diri ke arah pembina mereka.
"Tuh, Pak. Dara ketua kelompok tiga dan ini anak-anaknya."
Aku menatap wajah mereka satu sama lain. Kenapa Kak Bagas tidak bercerita soal ini? Kenapa dia hanya bilang kalau kami akan dibagi kelompok? Kenapa tidak membahas Putri dan Riska?
"Jelas-jelas dia bohong, Pak. Saya ngeliat acara pengocokan nama kemarin dan Dara ada di kelompok tiga, tapi bukan mereka anak-anaknya." Kak Bagas kukuh pada argumentasinya.
"Ini kamu dapat dari mana?" Pak Abigail seperti lebih mempercayai bukti yang ada di depan mata ketimbang ucapan ketua organisasinya sendiri.
"Dari Cecilia. Dia sekretaris, Pak. Masa bohong." Arfan berkata sambil menatap tajam lawannya.
"Ya, sudah. Ikuti kelompok yang tertulis dalam kertas."
Hasil dari debat singkat di depanku memang mengecewakan. Kak Bagas yang ikut merasa kecewa, langsung mengendurkan pertahanan, mendengkuskan napas keras-keras setelah pembinanya berlalu dari hadapan semua orang.
"Gue bakal bikin perhitungan sama cewek lo!" tandas Kak Bagas dengan rahang mengeras.
"Jadi, sekarang lo paham, kan? Orang yang enggak bisa profesional itu lo! Bukan gue."
Lidah Kak Bagas berdecak. Disertai wajah memerah padam, dia berjalan ke arahku. Ditatapnya aku dengan penuh kekhawatiran. Tangannya berujung mengambil alih tali ranselku, sedangkan tangan yang satunya menggenggam lenganku erat.
"Maaf karena enggak bisa perjuangin hak kamu buat jauh dari mereka, tapi Dara tenang aja, ya! Kakak bakal lindungi kamu dari mereka."
__ADS_1
Bisikan itu sedikit membuat hatiku tenang dan lega. Setidaknya, aku tidak sendiri di sini. Masih ada orang yang akan mengawasiku dari orang-orang jail dalam kelompokku.
...***...