Pacar Bohongan

Pacar Bohongan
BC 20 | Teman Kakak


__ADS_3

Tanpa aba-aba aku menggandeng tangan Kak Soraya. "Ayo, pulang!"


"Eh, eh, apaan, Ra?" Dia bertahan di tempat, tidak mau diseret pulang. "Kenapa pulang? Misi, kan, belum dimulai."


"Misi apa?" Suara lelaki yang tadi meminta nomor teleponku terdengar.


"Marcel!" jerit kakakku mendadak penuh semangat. Dia sampai melepas gandengan tanganku demi mendekati lelaki yang bernama Marcel.


"Sori, ya. Pasti nunggu lama." Sederet gigi putih dan mulusnya terlihat karena dia memberikan Kak Aya senyuman terlebar.


"Enggak ... enggak. Aku sama adikku juga baru datang."


Sukses aku mendengkuskan napas. Baru datang, katanya. Baru datang, padahal sudah berjamur hampir setengah jam. Bukan main kakak gue!


"Oh, kamu bawa adik." Dia menunjuk ke arahku yang tepat berada di belakang Kak Soraya.


"Iya, mau kenalan?"


Aku melangkah mundur. Mencoba memberi isyarat kepada kakakku yang dungu, supaya tidak memperkenalkan kami.


"Terserah, sih. Mau dikenalin boleh. Gak juga, gak jadi masalah."


Eah! Bisa, aja, si Bambang. Cool mode ON ceritanya, ya?


Kak Soraya yang berpikir lelaki itu lelaki keren langsung menggandeng tanganku guna berhadapan dengannya. Dia yang awalnya terlihat tidak peduli dengan perkenalan ini malah mengulurkan tangan terlebih dulu. Begini saja sudah terlihat jelas ini lelaki ada belangnya. Aneh, kenapa Kak Aya tidak melihat hal itu, sih?


"Marcel," ujarnya masih memasang tampang yang sama seperti saat menyapa kakakku.


"Iya." Aku menjawab asal tanpa membalas uluran tangan. Jelas saja, perilaku tak mengenakan itu membuat Kak Aya mencubit lenganku keras. Mau tak mau penuh rasa keterpaksaan aku membalas uluran tangan lelaki ini.


"Namanya siapa, Dek?" tanyanya yang malah mendapat pelototan mata dariku.


"Ra!" tegur Kak Aya yang kembali memberiku cubitan gemas.


"Dara." Jawaban yang ingin didengar lelaki itu akhirnya terdengar.


"Oke, Dara. Salam kenal, ya. Mungkin kedepannya kita bakalan sering ketemu."


Aku tersenyum masam, sedangkan Kak Aya yang kepanasan. Dia memukul lengan Marcel pelan sambil berkata, "Kamu bisa, aja, Cel."


"Lho, aku gak salah omong, dong. Memangnya kamu gak mau ketemu aku terus?"

__ADS_1


Anj**, playboy kelas kakap. Aku lantas memalingkan muka karena malu melihat tingkah Kak Aya yang salting brutal.


"Oke, sekarang kita mau ke mana?" tanya Marcel sudah bersiap membawa kami berkeliling mal.


"Hm, terserah, sih. Mau ke mana-mana juga, oke," tanggap Kak Soraya yang sukses membuatku geli.


Ya Tuhan. Ternyata begini, ya, melihat orang diperbudak cinta itu. Aku yang biasa menjadi lakon, baru tahu kalau berada diposisi penonton itu menggelikan.


"Eh, malah terserah," gumam Marcel sambil melihat ke berbagai arah. Dia semacam mencari titik terbaik untuk pertemuan ini. Terbukti bingung mengambil keputusan, dia kembali melihat ke arah kakakku. "Gimana kalau adik kamu yang tentuin?"


"Dara?" Aku menunjuk diriku sendiri.


"Iya," sahut Marcel cepat. "Barangkali ada yang pengin kamu datangi."


"Nonton, nonton. Bilang, nonton. Cepetan!" bisik Kak Aya di telingaku.


Sudah tahu punya keputusan dan tempat tujuan kenapa tidak diutarakan, ya? Kenapa malah memintaku untuk mengutarakan pendapat?


Diiringi kemalasan penuh aku pun menjawab, "Nonton."


"Oke, boleh!" seru lelaki itu dengan mata berbinar.


Kami langsung menuju lantai tiga tempat teater berada. Aku dan Kak Aya diberi kebebasan memilih tiket, sedangkan lelaki yang memberi uang tiket bioskop memilih duduk di sofa tunggu. Sedikitnya sekarang aku bisa berembus lega. Ada beberapa hal yang ingin aku utarakan kepada Kak Aya sebelum memasuki area tontonan. Dia yang sedang asyik memilih kursi terpaksa mendapat sedikit bisikan dariku. "Kakak di tengah, aja, duduknya."


"Puji syukur Tuhan. Aku senang banget. Iya, gak masalah. Kakak duduk berduaan, aja, sana." Saking senangnya aku sampai memukul lengan kakakku.


Ah, tidak perlu khawatir lagi. Lebih baik aku menjauh dari orang itu, daripada disalahpahami oleh kakakku sendiri. Bukannya negatif thinking dengan perilaku Marcel. Firasatku mendadak kuat saja. Dia seperti ... hanya memanfaatkan Kak Soraya, tetapi tidak tahu dalam hal apa.


Tiket menonton pun berhasil kami miliki. Sengaja, aku biarkan Kak Aya menghampiri kawannya lebih dulu. Aku sampai merelakan diri kelimpungan membawa dua pop corn dan tiga botol minuman karena ingin menghindar dari lelaki buaya darat satu itu.


Sayangnya, aksi kerelaanku tertangkap basah oleh Marcel. Dia yang tengah membahas perbedaan tiket dengan Kak Aya pun sampai berhenti bicara karena ingin mengambil beberapa barang dari pelukanku.


"Saya bantu, Dara."


"Gak apa-apa, Kak. Biar Dara yang bawa." Aku menolak memberinya muatan ini.


"Kamu keteteran Dara. Sudah saya bantu." Dia tetap bersikukuh dan aku tidak punya pilihan lain selain memberikan tiga botol minuman. Urusan pop corn biar aku yang membawanya karena terasa ringan.


Bukannya marah karena doi membantuku, Kak Aya malah tersenyum penuh rona bahagia. Dia terlihat semakin memuja seorang Marcel yang mungkin dikira peka karena menolong adiknya membawa makanan.


"Cocok jadi kakak iparmu kan, Ra?" bisik Kak Aya saat kami berjalan menyusuri lorong teater.

__ADS_1


Aku tidak berani menjawab karena masih perlu meneliti lebih dalam. Punggungnya yang berjalan lebih dulu semakin menarikku untuk terus memperhatikan. Entahlah, aku merasa Kak Soraya layak mendapat pilihan terbaik.


***


Selesai acara menonton kami pulang dengan masing-masing kendaraan. Kak Aya yang sengaja membawaku untuk menilai gerak rasa seseorang pun tak sabar mendengar kesimpulan hebat dari pengamatanku.


“Fix, dia suka kakak, kan?”


“Kakak kenal di mana, sih?” Aku menangkap sekilas kalau keduanya kenal baru-baru ini.


“Di komunitas keagamaan.


“Sejak kapan Kakak ikut komunitas itu?” Perasaan selama bolak-balik gereja, dia tidak pernah sekalipun tertarik pada komunitas tersebut.


“Sejak tahu kalau ketuanya dia.”


Astaga. Memang dari awal sudah diperbudak cinta. Kalau sudah begini, akan sulit meyakinkan Kak Aya tentang perilaku Marcel yang sebenarnya.


“Nih, lihat sama kamu. Dia ganteng tahu.” Kak Aya mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Bermaksud menunjukkan sebuah foto yang memang mengupas tuntas ketampanan Marcel.



Iya, aku tahu dan menyadari kalau dia tampan, tetapi kalau terlalu tampan begini aku juga takut sendiri.


“Lebih ganteng dari Bagas, kan?” Dia mulai berlebihan dalam memuja sesuatu.


Aku yang terlalu sibuk dengan pemikiran kusut berujung memberikan sebuah kata sebagai bentuk jawaban. “Hm.”


“Jadi, gimana? Setelah ketemu dia hari ini, menurut pengamatan kamu, dia ada rasa gak sama kakak?”


“Gak ada,” jawabku mantap dan singkat.


Jawaban itu sontak membuat Kak Aya menolehkan kepala dari jalanan. Dia yang tidak terima dengan hasil pengamatan adiknya langsung bereaksi tak suka. “Kok, penilaian kamu begitu? Beda banget sama penilaian teman-teman kakak.”


“Memangnya penilaian mereka gimana?” tanyaku penasaran.


“Ya, mereka menilai kalau kebaikan Marcel ke kakak itu beda. Dia kayak melihat kakak lebih dari seorang teman,” jelasnya yang membuatku manggut-manggut saja. “Coba jelasin! Kenapa kamu berpikiran kayak, gitu?”


Aku terdiam lama. Menimbang-nimbang dengan benar tentang kejadian di depan stan minuman tadi. Masa, iya, aku harus melayangkan kejujuran? Apa Kak Aya bakalan percaya kalau sebelum bertemu dia, Marcel sempat meminta nomor ponselku?


“Ra? Kenapa bengong terus, sih?” Dia mulai gemas.

__ADS_1


“Enggak.” Aku mulai menemukan titik terang dari pertanyaan-pertanyaan Kak Aya. “Aku merasanya dia baru sebatas tertarik sama Kakak. Kalau untuk perasaan suka, kayaknya belum ada. Gimana kalau Kakak jangan terlalu dibawa rasa dulu? Gimana kalau Kakak tunggu pernyataan baru tumbuhin rasa sayang? Biar aman dari kecewa, aja.”


***


__ADS_2