Pacar Bohongan

Pacar Bohongan
Nama Mantan


__ADS_3

⚫⚫ Khusus hari Sabtu-Minggu, sehari up 2 chapters, kalau dapet 20 komentar dari orang yang berbeda ⚫⚫


Kami sampai di depan rumah. Kak Bagas kukuh mengawal motorku sampai ke depan pintu. Dia selalu beralasan karena kesehatanku belum sepenuhnya pulih atau takut Dara pingsan lagi. Sedikitnya, aku jengkel karena dia terus beranggapan hal yang salah.


Dia terus menyangkut-pautkan dengan terlambat sarapan. Jujur anggapan itu cukup mengganggu sampai aku kehilangan fokus saat menyetir. Beruntung karena lalu lintas tidak terlalu padat, sehingga aku bisa melewati jalanan dengan baik.


Gerah karena dibilang telat sarapan terus, niatku yang semula ingin menutup rapat kejadian, berakhir mengajaknya masuk ke rumah. "Mampir, yuk, Bang!" ajakku setelah selesai menggeser pintu pagar sampai cukup dilalui dua motor.


"Ada Mami, enggak?" tanyanya seperti biasa.


"Pergi kayaknya," tebakku asal. Kak Bagas selalu ciut kalau ada Mami. Dia mendadak jadi pendiam, padahal aslinya cerewet tak ketulungan.


Motor kami berhasil berbaris di garasi. Kak Bagas sengaja memarkirnya di belakang motorku supaya mudah saat hendak pulang nanti. Aku yang tidak terlalu mempermasalahkan hal itu, menariknya memasuki ruang tamu dengan tergesa.


"Abang duduk dulu, adek mau ambil sesuatu." Langkahku tertuju ke ruang keluarga. Ada lemari penyimpanan obat yang disimpan Mami di sana.


Tak membutuhkan waktu lama, kotak obat yang menjadi sasaran berhasil aku temukan. Aku bawa kotak itu ke ruang depan, tempat Kak Bagas terduduk sambil berpangku tangan. Tatapannya langsung tertuju ke objek yang dibawa olehku. Dia pasti heran.


"Siapa yang sakit?" tanyanya yang sengaja aku acuhkan.


Kotak P3K, aku simpan di atas meja. Tanpa berpikir dahulu, jemariku lekas mengambil salep Betadine berukuran 5 gram yang penutupnya sudah tidak disegel. Aku memberikan salep itu kepada cowok yang masih melongo total.


Setelah memastikan salep itu digenggamnya dengan baik. Aku mulai membungkuk, menyibak rambut di bagian yang tadi ditarik cewek menyebalkan itu.


"Dek, kenapa?" tanya Kak Bagas. Tangannya perlahan menyentuh zona sakit yang sedari tadi terasa ngilu-ngilu sedap.


"Enggak luka, kok," ucapnya karena aku meringis pelan. "Tapi agak botak." Dia masih belum paham isyarat ini rupanya. "Emang tadi jatuhnya gimana, sih? Kena kepala belakang? Tapi, kok, yang basah muka dan badan depan."


Aku mengangkat kepala, berhenti membungkukkan badan, dan mulai bercerita. "Adek enggak jatuh." Mendengar keterangan itu Kak Bagas mengangguk seolah memberiku ruang yang luas untuk berbicara. "Tadi emang posisinya adek lagi di toilet. Pas udah selesai, buka pintu, ada orang yang nyapa terus byur!" Aku mempraktikkan aksi si penyiram ember menumpahkan isinya ke wajahku.


"Disiram?" tebak Kak Bagas yang lekas mendapat anggukan dariku. "Adek kenal orang yang nyiramnya?"


"Enggak. Demi Tuhan, adek enggak kenal, Bang!" Aku sampai mengapungkan dua jari ke depan mukanya. "Dia cuma bilang dari Klub BagasLovers."


"Oh, sudah," tukasnya yang membuatku mengakhiri cerita. "Abang paham." Dia menatapku serius. "Terus botak-botak di area tadi itu akibat dijambak?"


"Iya," jawabku cepat karena Kak Bagas seolah sudah tahu pelakunya.

__ADS_1


"Kasusnya sama kayak mantan yang dulu."


Ah, malas! Sudah bawa-bawa mantan. Memangnya dia mau berbagi nama mantannya?


"Namanya Shafira."


"Hah?" Nama siapa ini? Mantannya atau si penyiram air?


"Mantan Abang."


Aku tertegun. Ada hal aneh yang semestinya tidak aku rasakan. Kemarin aku begitu menggebu ingin tahu nama mantannya, tetapi setelah Kak Bagas memberitahu secara sukarela, bukannya senang, hatiku malah berdenyut ngilu.


"Gini kronologisnya, sehari setelah Abang nembak dia di depan semua orang, dia di-bully habis-habisan. Ngakunya dari BagasLovers, padahal abang sendiri enggak pernah bikin klub penggemar. Abang bukan artis, Dek. Ngapain coba ada klub penggemar macam artis Korea? Mana pada ngelunjak lagi." Kak Bagas memberi jeda untuk mengambil napas.


"Sehari, dua hari, tiga hari diperlakukan dengan sadis, dia muak dan mutusin abang depan semua orang juga. Waktu itu, kondisinya abang enggak tau apa-apa. Demi Tuhan, abang enggak tau dia di-bully. Dia enggak pernah terbuka, Dek. Cerita blak-blakan kayak Adek gini, tuh, enggak pernah. Abang tau hal ini, tuh, sehari setelah dia pindah sekolah, berarti terhitung satu bulan sejak dia mutusin abang."


"Dia pindah sekolah?" Aku setengah tidak percaya.


"Iya. Abang tau cerita ini dari temennya. Kamu kenal Ayu? Anak OSIS yang waktu itu nanya, abang udah punya pacar apa belum."


"Dia ngomong semuanya. Ternyata setelah dia mutusin abang depan umum, hujatan dan bully-an itu masih terus berlanjut sampe dia pindah sekolah. Ayu bilang BagasLovers pelakunya, tapi sampe detik ini abang nyari, enggak ketemu itu ketua ataupun anggotanya. Bener-bener bersih, enggak ada jejak mereka itu."


"Kak Ayu tau orangnya enggak?"


"Enggak." Kak Bagas menggeleng keras. "Ayu cuma tau yang suka ngejek depan umum. Ya, kayak ngehina, bandingin fisik abang sama fisik dia. Selebihnya, kalau yang main tangan itu Ayu enggak tau. Mereka beraksi kalau Shafir lagi sendirian."


Mendengar hal ini aku jadi merasa takut. Mana status pacar bohongan baru berjalan seminggu. Duh, bagaimana aku harus menghadapi situasi ini?


"Adek tenang, aja!" Kak Bagas menarik perhatianku dari kekhawatiran diri dengan menggenggam erat tanganku. "Sebisa mungkin abang bakalan jaga dan kejar orangnya. Inget, harus jujur, harus ngomong kalau ada apa-apa! Bantu abang buat cari mereka, ya!"


"Kenapa harus Dara?" tanyaku yang tak bisa menahan rasa penasaran ini lagi.


"Kalau bukan Adek, siapa lagi yang harus abang ajak kerjasama?"


Tanganku menepis genggaman itu. "Banyak orang, kok, di sekolah! Kenapa enggak ambil temen sekelas Abang biar gampang mantaunya?"


"Mental dan nyali mereka enggak sekuat Adek."

__ADS_1


"Abang tau darimana soal mental Dara? Kita belum lama kenal, Bang. Tolong inget itu!"


"Cuma Adek yang berani lawan Cecilia, di depan semua orang pula. Cuma Adek yang bisa tahan hujatan meskipun faktanya Adek yang kehilangan Arfan. Apa alasan itu enggak cukup buat abang tertawan hati?"


"Karena itu?" Aku menatapnya sanksi. Bisa-bisanya dia melihat hal itu sebagai patokan dari kuatnya mental seseorang. Hatiku yang tadi ngilu, semakin terasa berdenyut. Kak Bagas benar-benar memanfaatkan perjanjian kontrak ini dengan baik dan benar. Aku sampai merinding karena ambisinya yang ingin menangkap kawanan BagasLovers tanpa menghiraukan mental seseorang.


"Adek pasti bisa lewatin semua ini dan abang pasti bisa jagain Adek."


Matanya yang menatapku lekat membikin hatiku berubah haluan. Dia hangat, tetapi lingkungannya sulit untuk dihangatkan. Kenapa manusia ada yang begitu, sih? Kenapa mereka membuat sulit idola sendiri?


"Oh, iya, satu hal lagi. Shafira selalu kabur-kaburan makanya Ayu enggak pernah ada di lokasi kejadian."


"Maksudnya gimana?" Aku kebingungan.


"Shafira kalau mau ke toilet, kantin, atau perpustakaan, enggak pernah ngajakin Ayu. Tau-tau perginya sendiri. Ya, maklum, sih. Namanya juga waktu kelas X, belum lama kenal. Jadi, canggung bareng terus ke mana-mana. Kalau Adek gimana?" tanyanya yang lebih membuatku bingung lagi.


"Gimana, apanya?"


"Ada yang tau, enggak, Adek mau ke toilet pagi tadi?"


Deg!


"Emang kenapa?" tanyaku dengan gejolak perasaan tak menentu.


"Ya, bisa jadi orang itu yang bocorin ke Klub BagasLovers. Buktinya mereka udah ada di depan toilet, kan?"


Aduh, kok, jadi begini?


"Ada, enggak?"


"Ada," jawabku dengan mulut bergetar.


"Siapa?"


"Riska."


......***......

__ADS_1


__ADS_2