
Selepas jam istirahat, aku tidak lagi fokus menerima pelajaran. Pikiranku terlalu semrawut karena strategi yang disusun kemarin bisa dibilang gagal. Bukannya menemukan petunjuk, aku malah menemukan hal-hal yang tidak masuk akal.
Pertanyaan demi pertanyaan terus berhamburan di kepalaku. Aku benar-benar membutuhkan Kak Bagas untuk mencerna semuanya. Lagipula tak ada angin, tak ada hujan, kenapa tiba-tiba Riska memberiku sebuah gelang? Pakai acara ikrar jadi sahabat pula. Terus itu, tuh, si Putri. Kenapa bisa barengan sama dua orang perundung di toilet waktu itu? Kenapa semua ini terasa memusingkan bagi seorang Dara?
"Astaga ...." Tanpa sadar aku mengucapkan kata itu sampai terdengar oleh Riska yang duduk di sampingku.
"Kenapa, Ra?"
"Hah? Enggak," ucapku cepat.
Beruntung Riska tidak banyak bertanya lagi. Dia kembali fokus menulis materi yang ditulis sekretaris kelas.
"Ris," panggilku dalam mode berbisik karena guru yang bersangkutan tengah berdiri di belakang barisan.
"Ris?" panggilku lagi dan kali ini sambil mencolek lengannya.
"Hem?" jawabnya.
"Kamu tau, enggak, nama kakel yang tadi ngobrol sama Putri?" Aku berharap dia tahu. Biarpun strategi gagal, minimal aku bisa mengantongi dua nama orang itu supaya bisa menyerahkannya kepada Kak Bagas.
"Tau."
Jawaban singkat itu terasa mengandung sejuta harapan.
"Siapa namanya?" tanyaku buru-buru.
Riska tampak berpikir dan mengingat-ingat sebelum menjawab. "Nola sama Maria kalau enggak salah. Kenapa kamu enggak tanya Putri, aja? Itu, kan, kenalannya Putri."
Dia begitu kukuh menyebut kalau dua kakak kelas tadi kenalannya Putri. Jika hanya sebatas kenalan Putri, kenapa dia bisa tahu nama dua orang itu coba? Merasa tidak ada ucapannya yang masuk di akal, aku lekas memutuskan. "Oke," kataku. "Aku tanya Putri nanti."
......***......
Keinginanku untuk bertanya kepada Putri seperti disambut Tuhan dengan baik. Momen ini terlalu pas sampai orang yang ingin aku hindari pergi duluan tanpa menungguku dijemput Kak Bagas. Sedikit aneh memang, Riska yang biasanya bersikukuh ingin melihatku pulang lebih dulu, jadi bertolak belakang dan memilih meninggalkanku.
Tujuan utama setelah melepas kepergian Riska adalah kantin. Tempat yang menjadi lokasi pertama pertemuanku dengan Putri. Semoga dia belum pulang. Semoga Putri sedang menunggu jemputan.
__ADS_1
Mataku mengekor setiap orang yang lewat dan memasuki warung-warung makanan. Tak sabar ingin menemukan orang yang bersangkutan, aku memilih melancarkan cara cepat, yakni mengirimnya pesan untuk menanyakan keberadaannya.
^^^^^^Untuk : Putri X-1^^^^^^
^^^Put^^^
Lima detik menunggu, tetapi Putri belum juga membaca bahkan membalas pesan. Belum mau menyerah, aku kembali mengetik di laman yang sama.
^^^^^^Untuk : Putri X-1^^^^^^
^^^Kamu udah pulang?^^^
Baru. Setelah pesan kedua itu terkirim, Putri menunjukkan tanda-tanda online. Jantungku berdegup, menunggu dia yang sedang mengetik balasan. Kepalaku masih saja celingukan, memastikan kalau Putri benar-benar tidak berada di lokasi yang sama denganku.
Dari : Putri X-1
Lagi di toilet
Kenapa Ra?
Sukses terbaca. Alih-alih membalas, aku malah memacu langkah. Begitu terburu sampai aku mengabaikan beberapa wajah yang tak sengaja berpapasan denganku. Rasa penasaranku sudah dipuncak kepala. Tak ingin kehilangan jejaknya, aku berlari sampai menepi di depan toilet wanita. Tempat yang menjadi pusat perundungan pertamaku.
Setelah mental terasa siap, kakiku perlahan melangkah. Mengikis jarak sampai menepi di depan pintu toilet. Tanganku yang bergetar berusaha menyentuh kenop pintu. Namun, baru saja terulur, tanganku sudah ditepis seseorang dari belakang.
Kak Bagas menarik tanganku, menggenggamnya erat disertai gelengan kepala kuat. Aku yang terkejut efek mendapat perlakuan mendadak hanya mampu melongo di tempat. Dia pun tak lupa memberiku isyarat supaya tenang dan tidak mengatakan apa pun.
Setelah memastikan kondisi tetap dalam situasi hening. Kak Bagas mengambil satu langkah ke depan, badannya yang cukup lebar mampu menghalangi pandanganku. Aku yang paham akan dilindungi berusaha mengintip dari belakang punggungnya.
Kak Bagas lain dariku, dia tidak menggenggam kenop pintu sama sekali. Satu kakinya, lah, yang mengambil alih posisi untuk membuka pintu. Cukup satu kali sentakan dan BAM!
Satu batu bata utuh meluncur setelah pintu terbuka lebar. Sebisa mungkin aku menahan jeritan dengan membekap mulutku sendiri. Mataku yang terbelalak menatap Kak Bagas saat ia menoleh ke arahku.
Kak Bagas yang paham rasa terkejutku berujung memeluk erat sambil membelai rambut perlahan. Begitu jelasnya dia juga membisikan kalimat-kalimat penenang. "Untung, Dek. Abang enggak telat. Abang bisa lindungin Adek."
......***......
__ADS_1
Kak Bagas mengajakku ke kantin untuk sekadar menenangkan diri. Dia bahkan memberiku sebotol air mineral dingin. Sayangnya, air itu tidak menarik minatku sama sekali.
Efek batu bata yang meluncur mulus tadi, pikiranku terus-terusan melayang. Aku tak menyangka akan ada bahaya di sana. Aku juga tak menyangka, mereka bisa berperilaku sampai sejauh itu. Bagaimana kalau tadi aku benar-benar tertimpa? Kalau begini terus, kasus perundungan ini bakalan berubah jadi kasus percobaan pembunuhan.
"Dek!" Panggilan lembut itu baru bisa menarikku untuk kembali ke akal semula. "Ada abang!"
Mataku menatapnya tajam. "Apa enggak ada bahasa lain selain itu?"
Kak Bagas mengangkat kedua alis. Terlihat kaget mendengar reaksiku.
"Dari tadi Abang udah bilang itu. Apa enggak ada kata-kata lain?" semprotku yang ingin melampiaskan kekesalan, ketakutan, dan kepanikan.
"Ada, kok, kata-kata yang lain. Mau denger?" tanyanya yang langsung aku iyakan dengan anggukan. "Kuat, ya! Adek kuat. Adek harus bertahan sampai akhir pokoknya."
Astaga. Untung dia tampan, kalau jelek sudah aku jitak kepalanya. Bisa-bisanya dia memikirkan kata-kata dari perjanjian kontrak, padahal tadi aku hampir meregang nyawa.
Aku yang kecewa mendengar pernyataannya, berujung menciptakan suasana hening. Rasa haus yang semula tak ada, perlahan bermunculan. Tanpa ragu, air dalam botol mineral itu aku tenggak dan kuhabiskan.
"Udah tenang, kan?" tanya Kak Bagas disertai kerlingan mata.
Alih-alih menyahuti candaan, aku memilih menanyakan hal yang dirasa mengganggu dan penting.
"Abang tau darimana tentang batu bata tadi?"
"Dari Wisnu," jawabnya yang mengundang pertanyaan baru dariku. Namun, belum sempat aku membuka mulut, dia sudah lebih dulu menjelaskan. "Dia tadi laporan, sempet liat anak kelas X dan XI bawa batu bata ke toilet."
"Abang tau orang-orangnya?" tanyaku yang ingin memastikan kesesuaian nama dari Riska dengan pengetahuan Kak Bagas.
"Putri, Nola, dan Maria."
Kedua mataku berhenti berkedip. Masih tidak menyangka dengan ucapan Kak Bagas barusan, aku memilih kembali bertanya. "Kapan mereka bawa batu batanya?"
"Jam istirahat, pas kamu ditemenin Riska."
Benar berarti. Kumpulan orang yang melingkar itu ternyata kawanan BagasLovers.
__ADS_1
"Dek," panggil Kak Bagas dengan tatapan tegas dan serius. "Untuk saat ini, jangan percaya sama siapa pun selain abang dan Wisnu. Pegang ucapan abang. Musuh itu kebagi jadi dua. Pertama, anak buah. Mereka pasti terang-terangan ngasih pergerakan dan itu masih bisa kita lawan. Kedua, bos atau dalang. Ini yang paling bahaya. Mereka yang biasa punya ide di balik layar, susah buat ke ungkap. Topeng mereka tebel. Mereka bisa jadi apa, aja. Bisa jadi baik, sok peduli, ngedadak jadi temen atau bahkan mengajukan diri jadi sahabat."
......***......