Pacar Bohongan

Pacar Bohongan
Tumbang


__ADS_3

Kursi anggota kembali ditata di pinggir ruangan. Sengaja menyisakan lahan kosong di tengah ruangan, supaya tim konsumsi tidak terganggu saat menyimpan beberapa makanan. Sudah ada sebakul nasi liwet, sepiring ayam goreng, tumis kangkung, sambal goreng, dan aneka lalapan. Menu sederhana dan ala-ala ini memang menggugah selera perut yang keroncongan.


Acara makan-makan belum sepenuhnya dimulai. Masih ada Prayoga yang harus mengucap sepatah, dua patah kata untuk menutup acara hari ini. Dia yang memang sudah duduk di depan menu makanan pun berkata, "Mohon izin berbicara." Jeda sebentar karena dia ingin seisi ruangan menerapkan mode hening.


"Puji Tuhan. Acara yang sudah kita susun akhirnya selesai dilaksanakan. Terima kasih atas kerjasama, kerja keras, hingga pengorbanan yang kalian berikan sampai acara kita selesai. Saya juga memohon maaf, jika selama menjadi pemimpin acara kurang mengayomi dan memberikan yang terbaik. Saya juga berterima kasih kepada Kak Bagas dan Kak Cecilia karena sudah menyempatkan waktunya datang ke sekolah dan melihat langsung pagelaran acara." Prayoga mengulurkan tangan ke arah Kak Bagas yang duduk di sampingku. "Silakan, Kak. Barangkali ada kata sambutan yang ingin kakak sampaikan kepada kami."


Dia tidak langsung bereaksi. Mungkin terkejut juga dan tidak menyangka akan berkata-kata di depan juniornya. Selama beberapa saat dia menoleh, memberi senyuman, lalu berdiri sambil mengacak pucuk rambutku. Langkahnya sampai ke samping Prayoga. Sambutan tangan dari pemimpin acara pun dibalas Kak Bagas erat. Ada rasa bangga yang terlihat dari matanya.


"Wah ...." Kak Bagas menggelengkan kepala. "Saya gak tahu bakalan kasih sambutan, makanya kaget tadi. Jujur belum ada persiapan ini."


Kami tersenyum. Baru setengah bulan melepaskan jabatan sudah lupa caranya berpidato.


"Oke. Saya cuma mau ngomong seadanya, aja." Hening sejenak karena dia terlihat berpikir. "Tadi saya sama Cecil sempet keliling ke beberapa lapangan sama ke kelas-kelas yang dipakai buat perlombaan. Saya juga kebetulan dapat salinan konsep kalian dari Pak Abigail tentang acara ini. Evaluasinya cuma dari waktu dan follow up. Udah gak asing, ya, sama hal itu. Pasti, aja, ada yang bikin ngaret. Entah itu dari peserta atau dari panitia. Sangat wajar, sih, karena setiap acara gak selalu berjalan bagus, tapi sejauh ini acara perdana kalian bisa saya nyatakan SUKSES!"


Riuh tepuk tangan terdengar begitu satu kata pujian itu terlontar.


"Enggak sia-sia kami melimpahkan tanggung jawab kepada kalian. Baru satu setengah bulan, tapi cikal bakal penerus udah keliatan. Bangga, pokoknya. Usahakan untuk tetap kompak seperti sekarang," ujarnya lagi. "Oh, ya, ada bocoran untuk pentas seni nanti."


"Apa, Kak? Apa?" tanya semua anak yang siap mendengarkan.


"Langsung bikin konsep dari sekarang. Proposal juga harus selesai di minggu-minggu sekarang. Tujuannya, biar dana yang turun lebih besar dari dana barusan."


Sudah jelas. Bisikan yang Kak Bagas bawa menarik semua mata ke arahku. Siapa lagi kalau bukan aku kuncinya? Harus aku yang cepat. Harus aku yang tanggap.


"Hei!" Kak Bagas mengapungkan tangan guna menarik perhatian semua orang. "Kenapa jadi lihatin Dara? Semuanya juga harus berkontribusi, dong. Gimana Dara mau bikin proposal kalau konsep dan rincian dananya gak ada?"


Tidak ada sahutan bahkan anggukan dari kami. Semua mata seakan tertuju kepada satu hal. Aku juga tidak bisa berkata-kata. Mendadak mematung saking begitu terkesiap melihat aliran darah yang keluar dari hidung Kak Bagas.


"Kak!"

__ADS_1


Beruntung ada Prayoga yang menyela obrolan. Sontak orang yang dipanggil pun menoleh.


"Hidungnya, Kak," jelas Prayoga sambil menunjuk hidung Kak Bagas.


Tahu kalau dia tidak akan paham, aku bergegas membuka ransel. Tidak ada stok tisu kering ternyata. Ah, sudahlah. Tidak ada tisu kering, tisu basah pun jadi. Mau tidak mau aku mengeluarkan tisu yang ada, yakni tisu basah berlogo bokong bayi.


Kak Bagas menyadari tentang darah itu ketika tangannya meraba hidung. Dia bergegas menghampiriku sambil mengulurkan sebelah tangan. "To-long, Sayang," pintanya karena kesulitan membuka penutup kemasan dengan sebelah tangan.


Aku langsung membantu mengeluarkan sehelai tisu untuk dipakai menyeka darah. Begitu mendapat benda yang dibutuhkan, Kak Bagas kembali beranjak dan berjalan.


"Kak, mau ke mana?" teriakku refleks.


Dia mendengar, tapi terus berjalan keluar ruangan. Sudah bisa ditebak, dia membawa hidung yang berdarah itu ke toilet.


Tentu saja aku tidak tinggal diam. Sebelah tangan yang tidak menggenggam kemasan tisu terapung. "Ga, izin keluar." Tanpa dijelaskan pun Prayoga pasti tahu alasanku keluar ruangan.


Begitu melihat gerakan setuju dari kepala Prayoga, aku bergegas keluar ruangan. Langsung saja memacu kaki, supaya berlari secepat yang aku bisa. Sesuai tebakan, Kak Bagas memang memasuki salah satu bilik toilet pria. Tidak bisa melangkah lebih jauh lagi, aku pun mengetuk pintunya sambil membisikan sesuatu. "Dara tunggu di sini, ya."


Aku menunggu, menyandarkan punggung ke dinding yang menjadi penghalang kami. Sudah aku dengarkan. Suara air keran yang menyala, suara Kak Bagas yang sibuk membersihkan kotoran di hidung, hingga suara air yang ditumpahkan di segala sisi lantai.


Tidak memakan waktu banyak dalam hal menunggu. Pintu yang semula tertutup pun perlahan dibuka, menampakkan sosok dia dengan wajah pucat dan hidung kemerahan.


Khawatir sudah meliputi hati, tapi senyumku tidak boleh pudar. Aku mengambil lagi beberapa helai tisu basah. Saatnya melakoni hal yang ingin aku lakukan sedari tadi, yakni menyeka sesuatu dari wajahnya. Entah itu air atau darah, aku ingin menyekanya sebelum dia berlari kemari.


"Kenapa gak di sana aja, sih?" tanyaku lembut. "Dara bisa bantu bersihin juga tadi."


"Takut yang lain jijik, Sayang." Suaranya semakin serak saja.


"Ke UKS, yuk!" ajakku tiba-tiba.

__ADS_1


"Gak usah. Kakak udah baikan sekarang. Balik ruangan lagi, yuk. Adek belum makan, kan?"


"Belum makan dan belum lapar. Mending ke UKS, yuk! Di sana bisa sama-sama rebahan." Setidaknya, alasan itu yang bisa menarik minat Kak Bagas untuk pergi mengistirahatkan diri. Aku tadi memang merasa lapar dan lelah, tapi segalanya mendadak menguap karena kondisi Kak Bagas yang tidak terduga.


"Yakin, nih?" Dia memberiku senyuman tipis.


"Iya, ayo! Ke sana, aja." Aku mengalungkan lengan, menarik tubuh Kak Bagas sampai dia berkenan melangkah menuju tujuan. Dia benaran lelah, perlu istirahat panjang, supaya tubuhnya kembali bugar.


Setiba di lokasi, kami tidak menemukan penjaga UKS. Ruangan benar-benar dibiarkan kosong dengan pintu terbuka lebar. Tidak ada pilihan lain. Berhubung sudah di sini, ada baiknya aku menjaga Kak Bagas dengan sepenggal ilmu yang pas-pasan.


Kak Bagas memilih bangsal ketiga, paling dekat dengan jendela yang menghadap ke lapangan futsal dan kantin. Setelah memastikan dia merebahkan diri dengan baik, aku berjalan lagi mendekati dispenser. Beruntung karena lampu merahnya masih menyala. Aku bisa menyajikan teh manis hangat dengan cepat sekarang.


"Minum dulu, Kak," kataku saat kembali dari membuatkan air.


Senang sekali karena dia lebih penurut sekarang. Tanpa diminta dua kali, Kak Bagas memosisikan diri, duduk bersandar ke bantal yang ditata di belakang punggung. Dia mengambil gelas berisi teh hangat itu, lalu menyesapnya perlahan.


"Kepalanya pusing gak?" tanyaku, membuatnya menggelengkan kepala.


"Ada badan yang sakit, gak?" Aku bertanya kembali dan dia masih memberi jawaban dengan gelengan.


"Ada yang kakak butuhin, gak?" Sampai di pertanyaan ketiga pun dia masih menjawab dengan gelengan kepala.


Aku berakhir mengembuskan napas. "Oke, kalau begitu kakak tunggu adek sebentar, ya."


"Mau ke mana?" Dia baru bersuara sekarang.


"Ambil barang-barang dulu ke bawah." Dusta. Sebenarnya, aku berniat mengambil dua porsi nasi untuk dimakan di sini. Tahu betul, sih, pasti Kak Bagas belum makan dari pagi.


"Nanti aja, lah, ambilnya." Dia menarik sebelah tanganku. "Duduk di sini. Jangan ke mana-mana dan jangan ngapa-ngapain juga. Kakak cuma butuh adek di sini."

__ADS_1


***


__ADS_2