
"Dara ....!?!"
Teriakan itu terdengar, tetapi mataku teramat berat untuk terjaga. Efek bergadang semalam suntuk. Demi terciptanya proposal yang sempurna untuk acara PORSENI. Aku mengorbankan waktu habis-habisan hingga selesai di jam dua dini hari.
"Dara ....!?!"
Teriakan itu lagi. Suara Mami, sih. Duh, tetapi tolong! Aku masih ingin mendekap bantal dan selimut yang hangat.
"Dara, Bagas jemput!"
Mendengar nama yang tidak bisa disebutkan Mami, mataku spontan terbuka lebar.
"Siapa?" tanyaku dengan suara serak.
"Bagas, Bagas jemput, tuh! Datang jam enam pagi."
Tidak tanggung-tanggung. Bagai mendapat tamparan segepok uang, tubuhku bangkit. Segera meninggalkan seperangkat ranjang yang empuk dan berlari keluar kamar. Tangga yang jumlahnya belasan itu dilangkahi dua sampai tiga anak tangga. Kecepatan bagai kuda demi bertemu sang pujangga.
"KAKAK!"
Aku mengabaikan fakta pagi hari dan berteriak sekencangnya. Benar kata Mami. Kak Bagas menjemput, sudah standby di ruang tamu menungguku.
Sosok yang menunggu tersebut menunjukkan pergerakan serius. Dia beranjak dari sofa tamu, merentangkan kedua tangan seolah memberiku aba-aba siap berpelukan. Aku sampai melompat dan mendekapnya erat. Tak mau kehilangan, tak mau dia pergi kelamaan.
"Kirain udah siap," katanya di tengah pelukan pagi hari kami.
"Kenapa bisa mikir, gitu?" Perasaan semalam dia tidak berbicara akan menjemput.
"Ya, kan, Adek tahu kakak pulang kemarin. Kirain bisa nebak kalau hari ini diantar jemput sekolah."
"Diantar jemput?" Aku tercengang mendengar dua kata tersebut.
"Hm-m."
"Serius?" Kepalaku mendongak, berusaha menatap wajahnya dengan kilatan mata dan rona bahagia.
"Serius, Sayang. Kakak bela-belain datang pagi cuma buat anter Adek sekolah, lho, ini."
"Waaahhh ...." Semakin gila saja aku dibuatnya.
"Udah-udah pelukannya. Ketahuan tetangga dibawa ke KUA, lho." Mami sudah menyusul ke ruang depan.
"Dara malah ikhlas, Mi, kalau dibawa ke KUA," tantangku.
"Bagas juga siap, Mi, kalau detik ini disuruh nikahi Dara."
"Aduh, kalian ini. Dikira nikah itu gampang." Mami menanggapi dengan gelengan kepala. "Udah, Dara, mandi sana. Lihat! Masa Bagas udah ganteng, kamunya masih bau."
"Adek bau, gitu?" tanyaku kepada orang yang kini pelukannya sudah terlepas.
"Wangi, kok, tetap cantik pula."
"ASTAGA!" Mami mengomel lagi. "DARA?!"
"I-iya, Mami, iya. Ini mandi." Tidak mau Mami mengamuk lebih dahsyat lagi, buru-buru aku berlari menaiki tangga.
***
Tadi sarapan bersama dan sekarang sampai di sekolah bersama lagi. Yeay. Senang lahir batin, pokoknya. Kak Bagas tidak menepati janji soal menjenguk kalau libur dinas.
"Kakak langsung pulang?" tanyaku setelah melepas helm dan memberikannya kepada Kak Bagas.
"Enggak. Kakak mau jaga koperasi."
__ADS_1
"Serius?" Hal kedua yang mencengangkan, setelah dijemput tanpa aba-aba.
"Serius, Sayang," jawabnya lagi seperti tadi.
"Disuruh jaga sama Bu Nurmala, gitu?"
Kak Bagas turun dari motor sambil tak lupa menjawab pertanyaanku. "Gak, sih, cuma inisiatif kakak, aja."
Mengulang seperti kemarin-kemarin, kami melangkah melewati lapangan sambil bergandengan tangan. Sebelum menuju koperasi, dia terlebih dulu mengantarku sampai ke kelas.
"Nanti pas bel istirahat langsung ke koperasi aja, ya," pesannya saat aku tengah melepas sepatu.
"Lho, adek gak disuruh belanja, nih?"
"Gak usah. Makanannya biar kakak yang beli biar hemat waktu istirahat Adek juga."
Nyatanya, dia benaran membelikanku makan siang. Sudah tertebak, sih, pasti membelinya nasi padang. Menu mewah ala kami yang masih mengharap uluran tangan dari orang tua. Kali ini porsi dan menunya di sama ratakan oleh Kak Bagas.
"Cie ... rendang dua-duanya," candaku, padahal senang ditraktir begini.
"Ya, kali dibeda-bedain. Udah seminggu sekali. Sekalinya ketemu makan asin, kan, gak mungkin, Sayang."
"Ah, setiap hari ketemu juga kita jarang makan asin. Hampir gak pernah malah," kataku setelah mengingat-ingat.
"Memangnya mau makan asin?"
"Ya, selagi temennya nasi liwet, kenapa enggak?"
Kak Bagas tidak bersuara lagi. Kepalanya hanya manggut-manggut, memahami ucapanku. Keheningan yang mengisi ini memunculkan sebuah ide brilian dalam benak.
"Kak," panggilku saat Kak Bagas menyuap nasi ke mulut.
"Hm?"
"Yakin?" tanyanya yang mendapat anggukan cepat dariku.
Tidak terdeteksi gerakan apa pun hanya terdengar bunyi grasak-grusuk tak menentu. Tentu saja aku penasaran. Bukannya mendapat suapan, mataku yang semula terpejam jadi terbuka lebar. Kak Bagas sibuk sendiri, memindahkan porsi makananku ke makanannya.
"Kenapa, gitu?" Aku merasa tidak menemukan jawaban atas ulahnya.
"Katanya pengin disuapi. Ini kakak gabungin makanan kita biar gak ribet. Jadi, kesannya sepiring berdua."
Mau heran, tetapi Kak Bagas. Selalu ada saja ulah yang membuat mulutku menganga. Lalu, sedetik kemudian makanan yang aku idamkan pun terulur di depan mulut.
"Aaaa ...."
Aku menyuap sesendok penuh nasi beserta lauknya, mengunyah dengan penuh senyuman, sambil tak berhenti menatap wajah Kak Bagas. Bagaimanapun ini sekali dalam seminggu. Besok dia akan kembali bertugas dan aku akan kembali ditinggalkan.
"Kak," panggilku lagi disela kunyahan.
"Apa, Sayang?"
"Hari ini mau ke mana?"
Tanpa terduga, Kak Bagas malah tersenyum. "Perasaan dari tadi tanya terus arah perjalanan kakak."
"Iya, gitu?" Aku meragukan ingatannya.
"Iya. Baru datang tanya, kakak langsung pulang? Terus sekarang ada tanya, mau ke mana? Takut ditinggal apa, gimana?" Dia sampai terkekeh-kekeh.
"Bukan. Bukan takut ditinggal. Adek cuma tanya. Masa gak boleh." Sengaja aku merajuk.
"Gak akan ke mana-mana, Sayang. Kenapa? Mau jalan-jalan?"
__ADS_1
Tentu saja aku mengangguk penuh semangat. "Ayo, ayo! Ke mana?"
Kak Bagas tampak berpikir sejenak. "Keliling Bandung, aja, gimana? Atau mau nonton? Ke arcade juga boleh."
Ah, satu-satunya hal yang tidak menguras dompet cuma keliling Bandung. Nonton jelas harus bayar tiket, pop corn, dan minuman. Arcade sendiri ... duh, pasti habis uang buat beli koin. Alhasil setelah pertarungan sengit dalam otak, aku memilih satu penawaran yang Kak Bagas ajukan. "Jalan-jalan keliling Bandung, aja."
***
Pulang sekolah jam tiga sore, dilanjut mengukur jalan dengan Kak Bagas dan si moge. Terhitung dua jam kami berkendara. Ke sana-sini tanpa tujuan, hanya sesekali berhenti kalau melihat taman kota yang lengang. Tentu saja tujuannya untuk beristirahat dan membeli minuman kemasan.
Waktu sehari yang diberikan Kak Bagas nyatanya tidak cukup membunuh rindu. Masih ada ketakutan, masih ada rasa ngilu setiap kali ingat esok akan berbeda dengan sekarang. Terlebih karena petang sudah menyapa sekeliling kota. Mau tak mau, perjumpaan ini harus kami akhiri sebentar lagi.
"Keliling terus, Adek lapar gak?" tanyanya yang hanya kujawab dengan anggukan lemah.
"Mau makan ke tempat langganan kakak, gak?" tanyanya lagi masih menunjukkan getar-getar semangat, padahal jam tujuh malam harus mengantarku pulang.
"Tempat langganan yang mana?"
"Ada. Tukang bakso langganan dari jaman SD." Ceritanya.
"Oh, ya? Bisa langgeng, gitu, ya, hubungan sama tukang bakso." Maksudku, benaran bisa jadi langganan begitu, ya. Aku saja sepertinya, manusia yang selalu berpindah tempat dan pedagang sampai lupa waktu SD pernah jajan di mana.
"Bisa, dong. Baksonya enak, Sayang. Terus kalau kakak jajan di sana itu suka ke ingat momen makan sama ibu."
"Memangnya, sekarang udah gak pernah makan sama ibu?" tanyaku keheranan.
"Bukan gitu, Dek. Jadi, maksudnya itu kalau makan di sana kakak suka jadi ke ingat waktu kecil pernah diajak jajan ibu di sana, disuapi, dikasih ini dan itu. Kalau sekarang, kan, mana bisa? Udah kalah saing posisi kakak sama Baim."
Ah, benar juga. Aku yang dikenal sebagai anak bungsu mana paham tentang cerita itu.
"Mau kan, Dek, makan di sana?"
"Ya, maulah. Pertanyaan Kakak aneh. Kesannya, tuh, aku gak mau diajak makan di sana."
"Bukan begitu, Sayang." Dia memberi klarifikasi. "Masalahnya tukang bakso langganan kakak itu kios kecil, warung kaki lima, bukan kedai atau kafe. Gak masalah?"
"Ya Tuhan, Kakak. Kakak kira adek ini anak bungsu manja? Adek gak masalah, Kak. Mau diajak makan di mana-mana juga. Gak masalah, sumpah! Mau makan di kaki lima, kios pinggir jembatan atau jalan raya juga gak masalah. Asalkan itu diajak Kakak, ya, ayo-ayo, aja."
***
Ternyata, benaran diajak makan di warung pinggir jembatan. Beruntung karena air jembatan berwarna cokelat, sehingga hidung kami terselamatkan dari bau-bau air atau sampah yang menyengat.
Penuh percaya diri Kak Bagas menggandeng lenganku, mengajak masuk setelah sebelumnya selesai memarkir moge dan melepas helm. Ada aura bahagia tersendiri yang dia pancarkan setelah kami memasuki warung.
"Bu." Sapaan Kak Bagas terdengar.
Sosok pedagang yang ditaksir berumur empat puluh tahun itu menoleh melihat kedatangan kami.
"Eh, Bagas," balas sapa beliau. "Udah lama gak ke sini, sekalinya ke sini bawa cewek cantik."
Aih, bisa saja. Aku sampai menundukkan kepala karena takut hidung satu-satunya ini terbang.
"Iya, Bu. Jarang-jarang Bagas bawa cewek, kan, ya? Mumpung punya cewek, jadi Bagas bawa, deh." Mata Kak Bagas mengerling bangga ke arahku.
"Nah, begitu, dong. Makannya ajak-ajak pacar. Jadi, kan, bisa lebih menikmati Bakso si Cinta ini." Saking akrabnya beliau sampai terlihat luwes memukul lembut lengan pacarku.
"Ya, udah kalau begitu Bagas pesan menu yang biasa ya, Bu."
"Boleh, boleh. Mau seporsi atau dua porsi, nih?" tanya beliau sebelum berlalu ke balik gerobak bakso.
"Dua porsi, Bu. Biar pacar saya juga rasain enaknya Bakso si Cinta."
"Oh, kirain mau pesan seporsi. Ya, sudah kalian duduk dulu. Cari kursi yang enak dan nyaman aja, ya. Ibu buatkan pesanannya sekarang."
__ADS_1
***