Pacar Bohongan

Pacar Bohongan
Jadi Menguping


__ADS_3

Kertas susunan acara beserta agenda rapat sudah kupeluk sambil mengikuti Prayoga menyusuri lorong kelas. Pak Abigail biasa diam di ruangannya, di lantai dua. Perlu melewati ruang staf dulu sebelum sampai di sana.


Setiba di gedung pengurus sekolah, walkie talkie yang dibawa Prayoga kembali berbunyi. "Pak Ketu, masuk, Pak Ketu." Kali ini Dion yang menghubungi. Dia yang bertugas sebagai ketua lapangan pasti hendak memberitahu masalah atau informasi penting yang datang.


"Ya, monitor," balas Prayoga cepat.


"Tolong dibantu, Pak Ketu. Kelas XII minta lompat jam tanding." Masalah benaran datang.


"Tanding apa? Kenapa alasannya?" Wajah santainya berubah serius dan menegang.


"Badminton ganda putri. Mau ada praktikum tambahan ilmu resep, katanya." Alasan yang disebutkan cukup meyakinkan untuk diberi lompatan jam.


Prayoga menatapku, bermaksud meminta saran dan aku membalasnya dengan anggukan. Selama alasan yang mereka buat berkaitan dengan pelajaran, bagiku sah-sah saja dalam mengabulkan keinginannya.


"Ya, udah tukar jam tanding, aja," kata Prayoga akhirnya.


"Gak semudah itu, Ngab. Lawan mereka berhalangan hadir kalau tandingnya sekarang. Mereka pengen sesuai jadwal, katanya."


Informasi terakhir membuatku menahan senyum. Sudah tidak aneh lagi. Setiap acara pasti ada saja kendalanya. Pasti ada yang membuat kesal, entah dari pihak panitia ataupun peserta.


Prayoga yang kini dihadapkan pada situasi darurat terlihat menggaruk kepala, menatap sebentar ke arah pintu ruang staf, sebelum akhirnya memberikan keputusan. "Kalau gitu tunggu lima menit. Saya ke sana sekarang."


"Oke, Roger."


Walkie talkie pun berhenti berbunyi. Prayoga yang mendadak memiliki tugas tersendiri berujung memberiku perintah untuk menangani Pak Abigail sendiri. Tentu saja aku tidak masalah dengan hal itu. Dari awal, tugasku memang menjadi asistennya. Asisten akan selalu bersedia, jika diminta menggantikan ketua yang memiliki kendala.


"Saya nanti nyusul ke sana," janji Prayoga sebelum berlari meninggalkanku.


Napasku berembus panjang. Pagi hari yang menyibukkan, tapi sensasinya bikin menegangkan. Langkahku berlanjut mendekati ambang pintu ruangan staf. Sebelum melewati meja-meja mereka, ada baiknya aku menyapa dan bertanya keberadaan Pak Abigail. "Selamat pagi, Bu." Aku memilih menyapa Bu Nadia.


"Pagi juga, Dara. Mau ke siapa?" tanyanya setelah mengangkat wajah dari kertas-kertas tugas.


"Mau ke Pak Abigail. Ada di atas, ya?" Aku menunjuk langit-langit ruangan, tempat pembina OSIS biasa menetap.


"Ya, langsung ke ruangannya aja, Ra."


Tanpa banyak berpikir aku bergegas melewati meja para staf. Menaiki beberapa anak tangga sampai mendengar gelak tawa dari atas sana. Pak Abigail sedang berbincang.

__ADS_1


Lemari yang menjadi sekat antara tangga dan meja beliau pun sengaja kujadikan sebagai penutup diri. Akan sangat tidak sopan, jika aku langsung mendekat, hingga menyela obrolan. Lebih baik telat bertugas daripada harus mengganggu kepentingan beliau bersama tamunya.


Aku merapikan lembaran kertas yang nantinya akan dijadikan laporan. Berusaha bersikap santai dan tidak menguping pembicaraan sampai ejekan seseorang terdengar.


"Dia bucin Dara, Pak."


Tanpa melihat wajahnya pun aku sudah bisa menebak kalau yang baru saja bicara itu Kak Cecilia. Jantungku berdegup cepat, mengingat Kak Bagas juga ada di sini untuk menyaksikan acara. Sudah pasti, gelak tawa lelaki yang tadi terdengar adalah dirinya.


"Ya, gak salah-salah amat sih. Dara memang cantik." Pujian terdengar dari mulut Pak Abigail.


"Bukan cuma cantik sih, Pak." Suara Kak Bagas terdengar sedikit berbeda. Agak serak-serak basah dan tertahan. Pantas saja aku tidak menyadari tawanya tadi.


"Dara itu ... paling pinter bikin saya nyaman."


"Masa, Gas?" Kak Cecilia meragukan hal itu. "Kalau Dara bikin nyaman, kenapa kemarin dilepas coba?"


Cukup terkejut mendengarnya. Ternyata Kak Cecilia mengetahui perpisahan kami.


"Bukan dilepas," sanggahnya. "Cuma salah paham, aja. Saya minta break, tapi Dara malah ngira putus. Break sama putus, kan, maknanya beda."


"Beda itu menurut kamu, Gas. Menurut kami para cewek, break itu sama dengan putus," tandas Kak Cecil kembali mewakili perasaanku.


"Sayang nilai dong, Gas. Udah capek-capek berkorban malah putus."


"Nah ...." Kak Cecil menimpali.


Aku maju selangkah. Berharap mendengar arti berkorban yang mereka bicarakan. Apa maksudnya coba? Bukankah yang paling berkorban itu aku?


"Itu kelanjutannya gimana, Gas? Kenapa bisa ketahuan bohong?" tanya Pak Abigail, seperti hendak mengupas tuntas permasalahan yang terjadi.


"Salahnya, Bagas itu bawel, Pak. Coba kalau alasan tukar OFF-nya gak dikasih tahu ke siapa-siapa. Bakal aman dan tentram, Gas, nilai kamu."


Ada beberapa poin penting yang Kak Cecil sebutkan, yakni tukar OFF, alasan yang disebarluaskan, hingga nilai. Berharap sekali bisa mendengar kelanjutan obrolan mereka. Aku yakin alasan ini menjadi pemicu Kak Bagas berubah.


"Saya cuma kasih tahu Fabian, Pak," ucap Kak Bagas.


"Kenapa kamu kasih tahu dia?" Pak Abigail sudah memulai sesi interogasi.

__ADS_1


"Awalnya dia minta tips supaya di-acc libur Senin. Ya, udah saya cerita kalau alasan pengajuan liburnya harus bener-bener urgent. Dari situ dia tahu semuanya, tapi saya pikir dia gak bakalan ember bocor, Pak."


"Pasti ember bocor, lah. Namanya juga jatuhin saingan," sahut Kak Cecil.


"Nah, seharusnya kamu gak gampang percaya sama orang. Ketahuan bohong macam begini, kan, jadi susah ke depannya." Pak Abigail terdengar menarik napas. "Terus dikasih hukuman apa sama mereka?"


"Dapat jumping sif dan gak dapat jatah libur sampai prakerin selesai," jawab Kak Bagas.


"Jadi, selama seminggu kamu kerja terus-menerus?" Pak Abigail terdengar tidak percaya.


"Iya, Pak. Bagas udah jadi kayak robot. Gak istirahat sama sekali. Tuh, suaranya udah mulai kayak penyanyi, serak-serak basah." Kak Cecil beralih mengasihi Kak Bagas.


"Parah, lho, itu. Kenapa kamu gak aduin ini ke pihak sekolah? Hukuman juga harus tahu batasan."


Aku mengangguk, setuju dengan ucapan beliau sekarang.


"Sengaja gak ngadu, Pak." Kak Bagas malah pasrah. "Mereka bilang, saya harus bersedia taati aturan dan hukuman kalau mau nilai aman."


"Terus sekarang, kamu lagi libur apa, gimana?"


Aku sama penasarannya dengan beliau.


"Libur, Pak. Dibantu Cecil. Mereka percaya alasan saya karena harus masuk sekolah."


Hening beberapa saat sampai Pak Abigail kembali mengembuskan napas berat. "Hah, Bagas ... Bagas ...."


"Gak habis pikir ya, Pak. Demi cinta." Kak Cecil kembali mengejek. "Masih mending kalau Dara masih sayang. Lah, ini? Udah gak jadi makan, dapat hukuman, terus diputusin Ayang."


"Apesnya berlipat-lipat, ya," kekeh Pak Abigail ikutan menertawakan kebodohan muridnya. "Lain kali, jangan begitu lagi ya, Gas."


"Enggak, Pak. Gak akan begitu lagi. Gak akan saya ulangi. Cukup sekali saya kehilangan Dara," ucapnya dengan lantang.


"Malah kehilangan Dara. Nilai, Gas. Kehilangan nilai. Rugi banyak kalau nilai kamu jadi korban," sahut Pak Abigail gemas.


"Nilai gak jadi masalah, Pak, buat saya."


"Gak jadi masalah itu buat kamu. Memangnya, Dara masih sayang kalau nilai kamu anjlok?" tantang Pak Abigail.

__ADS_1


"Pak, zaman sekarang yang penting itu good looking. Urusan nilai, bisa diurus belakangan."


***


__ADS_2