Pacar Bohongan

Pacar Bohongan
Dia Mulai Gila


__ADS_3

Dari : Ayang


Ra kenapa gak bales chat?


Kakak tunggu loh ini


Ra?


Break beda dari putus Ra


Coba kamu tanya temen-temen. Mereka pasti sependapat sama kakak


Ra jangan dibaca doang dong


Kakak juga butuh jawaban


Ra kita masih jadian kan?


Kakak baru inget kalau waktu itu ada salah ngomong


Maksudnya bukan capek sama hubungan. Kakak capek kerja, cuma salah sebut aja


Ra?


Kakak begini bukan ada yang baru kok


Murni emang gak ada waktu buat kamu aja


Kakak gak mau ngerasa bersalah terus


Kamu terlalu banyak ambil bagian, padahal kakak gak bisa bales semuanya


Ngerasa gak guna aja sebagai pacar


Kamu kangen, kakak gak ada


Mungkin dengan break dan gak terlalu terikat sama kakak, kamu bakalan punya banyak waktu buat seneng-seneng sama temen


Cuma itu doang kok alesannya, gak lebih dan gak kurang. Sumpah demi Tuhan bukan ada yang lain


***


Sudah tiga kali putaran mengecek pesan-pesan Kak Bagas yang kemarin terkena mode terjun bebas. Tidak ada satu pun pesan yang membahas tentang jumping sif atau ketahuan bohong. Masih tidak ada keterbukaan ternyata. Masalah sebesar itu, menyangkut nama diriku, tapi tidak dibahas dalam alasan mengajak break.


Aku mendengkuskan napas, meletakan ponsel dengan posisi terbalik ke meja. Setelah menguping tadi, aku jadi enggan bertemu dirinya. Kerugianku tidak ada apa-apanya ketimbang ujian yang sedang ia lalui. Sudah tahu masalahnya separah ini, aku harus bagaimana dalam menyikapi Kak Bagas?


Seolah tahu sedang dipikirkan, ponselku yang menelungkup bergetar. Pesan lain darinya, dikirim baru saja.


Dari : Ayang


Online, tapi gak nge-chat. Mau ngehindar, ya?


Kalau bisa pindah planet, sudah pasti aku memilih menghindar. Masalahnya, kami berada di lokasi yang sama. Mau menghindar ke mana coba? Tugasku juga di sini sedang aktif-aktifnya. Ya, kali mengabaikan tugas supaya tidak bertemu mantan. Bukan seorang Dara banget.


Pesan pertama tidak dibalas, lanjut mengirim pesan kedua. Dari kemarin kalau soal berjuang, dia memang penuh perjuangan dan tidak mudah menyerah, sih.


Dari : Ayang


Lagi di mana?


Ingin mengetik, tapi jariku tertahan lagi. Semacam ada sekat tinggi yang menghalangi untuk menyambut kedatangannya. Bukan karena diajak break. Sekarang aku memiliki faktor lain. Faktor yang akhirnya membuatku merasa bersalah dan merasa menjadi manusia kejam. Tega sekali mempertaruhkan nilai pasangan hanya demi makan malam.


Pintu ruangan yang digebrak seseorang membuat tubuh terperanjat. Hampir-hampiran serangan jantung. Aku pikir yang datang Kak Bagas.

__ADS_1


"Ra, sori. Kirain gak ada kamu." Sofia nyengir kuda, memasuki ruangan bersama Maya.


"Lagian Dara bertapanya sambil tutup pintu. Kirain gak ada orang," gumam Maya sambil berjalan mengitari meja lalu berhenti di kursinya. 


"Iya, lagi pengen sendiri," kataku yang kebingungan dalam memberi alasan.


"Lagi senggang, Ra?" tanya Sofia sambil duduk di sampingku. Aku manggut dan dia kembali bicara. "Ya, udah minta tolong Dara."


"Minta tolong apa?" tanyaku agak waswas. Takut diminta ke ruangan Pak Abigail lagi. Yakin, sih, MC dan AS masih ada di sana. Bisa berabe kalau bolak-balik ke sana terus.


"Ayam kurang katanya, Ra." Maya memberitahu inti permasalahan seraya tangan sibuk mengaduk dompet.


"Iya, Ra. Kurang sekilo," tambah Sofia.


"Kenapa bisa kurang, Sof?" Bukannya sebelum belanja mereka menghitung dulu?


Sofia mulai memberi alasan. "Iya, aku pikir Kak Bagas dan Kak Cecil gak akan datang. Tahunya tadi Prayoga nyuruh masak lebih karena mereka mau diajakin makan bersama."


Mati lu, Ra. Benar-benar tidak bisa berlari. Pasti akan ada waktunya bertemu. Tinggal pasrah dan siapkan hati sekuat baja saja.


"Nih, bawa lima puluh ribu. Jadi, siapa yang mau berangkat ke pasar?" Maya menatapku dan Sofia bergantian. Uang untuk membeli ayam sudah ia simpan di meja. Tinggal mencari orang yang bersedia blusukan.


"Aku, aja." Tidak bisa menawar dagangan pasar, tapi sengaja mengajukan diri. Ingin pergi dari sekolah. Untuk apa coba? Ya, jelas untuk menghindari dia.


"Yakin, Ra? Perlu dianter, gak?"


Sebenarnya, ingin menyetujui tawaran Sofia. Hanya saja, dia terlihat sibuk dan kewalahan menjadi seksi konsumsi. Keningnya sudah berpeluh, padahal jarum jam masih menunjuk angka sembilan. Belum lagi seragamnya, sudah dibalut celemek yang kotor di sana-sini.


"Aku berangkat sendiri aja." Begini lebih baik.


"Serius, Ra? Apa aku yang anter?" Maya juga menawarkan bantuan.


"Eh, gak usah," tolakku. "Kamu, kan, disuruh diem di ruangan. Takut anak lain minta duit dadakan kayak begini." Aku ingat betul pesan Prayoga tadi.


Aku menurut, mengucap pamit, lalu mengambil kunci motor dari ransel. "Oh, ya. Aku mau titip pesan buat Prayoga."


"Oke, apa?" Maya siap mendengarkan.


"Tadi belum sempet ketemu Pak Abigail karena ada tamu. Jadi, belum bikin laporan. Ini berkasnya aku simpan di sini. Jaga-jaga kalau misalkan dia mau datang ke sana sendiri," pesanku.


"Nanti aku bilangin ke Prayoga."


Selesai dengan urusan pesan, aku berlarian keluar ruangan dan menyusuri koridor kelas karena takut berpapasan dengan tamu kehormatan. Kunci motor sudah aku masukkan ke lubangnya. Tinggal memasang helm, menaiki motor, lalu kabur.


"Mau ke mana?"


Aku tersentak, membalikkan badan, sambil menahan helm yang hampir jatuh ke tanah. Mataku lantas terpejam. Baru berniat kabur sudah lebih dulu ketahuan. Sial bukan main memang. Orang yang paling ingin aku hindari, kini berdiri tepat di depan mataku.


"Jangan bilang mau kabur," ucapnya dengan suara berat dan seperti menahan sesak.


"Enak, aja," tampikku sambil meletakkan lagi helm di batang kaca spion. "Gak ada niatan buat kabur, tuh!"


"Yakin?" Dia tersenyum miring. "Terus itu bawa motor mau pergi ke mana?"


"Beli ayam buat anak konsumsi," jawabku percaya diri. Memang dasarnya itu, kan? Tidak salah-salah amat aku menampik pemikiran Kak Bagas tentang kabur.


"Gak bisa diwakilkan, gitu? Masa sekretaris blusukan pasar."


"Ya, memang kenapa kalau sekretaris blusukan pasar? Gak boleh begitu bantu temen yang kewalahan?" Aku sudah percaya diri menghadapinya. Berlagak sombong dengan dagu maju beberapa senti.


"Ganti yang lain aja, gimana? Kamu mending ikut kakak." Dia mengulurkan sebelah tangan. Tangan yang dulunya selalu menggenggamku tatkala berjalan.


Kepalaku menggeleng cepat. Tidak bisa, Dara! Jangan dulu jatuh ke wisata masa lalu!

__ADS_1


"Gak bisa. Mereka juga punya tugasnya masing-masing. Cuma Dara yang lagi senggang."


Ayo, mau bicara apalagi? Masa mau mendorongku untuk mengabaikan tugas dan tanggungjawab. Malu, dong, sama jabatan.


"Oke," ucap dia pada akhirnya. "Kakak anter ke pasar."


"Eh, ngapain—"


Belum juga selesai bicara, bertindak, dan menolak, dia sudah lebih dulu menarik tanganku untuk menjauhi motor. Dia juga menyambar helm dengan cepat, memasangnya di kepalaku, lalu menaiki motor. Lagaknya sudah bisa disebut sopir ojek dadakan.


"Udahlah, kakak mending tunggu di sini. Biar Dara yang pergi. Helm-nya juga cuma satu."


Bukannya mendengar dia malah menyalakan motor. "Udah naik aja, ayo!" ajaknya lagi tanpa memandangku karena bergerak mengatur arah kendaraan.


Aku mendengkus keras. Dia berubah jadi keras kepala dan aku tidak suka itu. Kelamaan berdebat malah membuang-buang waktu. Kasihan Sofia dan anak konsumsi kalau sampai ayam sekilo telat masuk wajan. Mau tak mau aku mengikutinya. Ada sekelebat hawa panas begitu tubuh kami berdekatan. Entah karena faktor cuaca, entah juga karena faktor lainnya. Aku tidak tahu dan tidak berusaha untuk mengerti.


Dia yang keras kepala mulai melajukan motor. Terasa mulus dan pelan keluar parkiran, hingga berhenti di samping pos satpam. Jelas aku bingung. Tidak mengerti dengan gelagatnya sekarang. Apa dia berhenti untuk meminjam helm Pak Ado?


"Cil! Cecil!" teriaknya sambil melongok masuk ke ruangan penjaga sekolah.


Cecil? Dia memanggil Kak Cecil, kan? Ada di pos satpam? Sedang apa coba?


"Apa?" teriak orang yang dipanggil sambil berjalan keluar. "Eh, Dara ...." Matanya melebar dan berbinar, memberiku pertanda kalau ia senang bertemu denganku.


"Hei, Kak," sapaku apa adanya.


"Bantu saya," ucap Kak Bagas tiba-tiba.


Apalagi coba? Kenapa banyak sekali siasat dia, sih? Semakin banyak gaya.


"Bantu apaan, sih? Dari tadi minta bantuan mulu, gak capek lo?" cerocos Kak Cecil ikutan sebal dengan tingkahnya.


"Beli ayam sekilo ke pasar."


"Kenapa nyuruh Kak Cecil?" Aku sampai berteriak saking terkejut mendengarnya.


"Iya, kenapa nyuruh gue?"


Wajar saja kalau dia bingung. Tidak ada angin dan hujan, tiba-tiba disuruh beli ayam.


"Dara gak bisa nawar harga. Mending kamu yang beli, gih! Kasian kalau adik kelas kekurangan duit. Mana dikasihnya pas-pasan."


Melongo total. Alasan yang masuk akal dan mengundang rasa iba orang. Jelas saja Kak Cecil mengangguk tanpa menyanggah. Dia mengulurkan tangan bermaksud meminta helm kepadaku. "Sini, Ra. Biar aku yang urus," katanya.


Langsung hening. Galau juga kalau begini nyatanya. Aku memang tidak bisa menawar harga, tapi kalau Kak Cecil yang pergi ... apa tidak masalah? Sofia, kan, mengamanahkan ayam sekilo padaku.


"Ra?" tegur Kak Cecil sambil menggoyangkan tangan yang terulur. "Gak usah banyak pikiran, deh! Nanti aku yang ngomong ke mereka."


"Tapi, Kak—"


"Kasihin, Sayang!" potong Kak Bagas tanpa tahu malu malah memanggilku sayang.


Aku langsung memukul pundaknya, turun dari motor, lalu memberikan helm kepada Kak Cecilia. "Cuma beli sekilo, Kak. Ini uangnya." Selepas memberikan uang dan mendengar jawaban Kak Cecil, aku tergesa menjauhi pos satpam. Berjalan jauh meninggalkan mereka, meskipun Kak Bagas tidak berhenti meneriaki namaku.


Laju lari orang yang mengejar semakin memancingku untuk melangkah lebih cepat. Sampai tak berapa lama, kejaran tersebut berangsur mengendur dan tidak terdengar sedikitpun.


"Cie ... mental kacang!" ejek seseorang yang berhasil membuatku terpaku. Suaranya terdengar serak-serak basah, tersendat, dan sesak. Sudah bisa ditebak kalau si pengejek adalah Kak Bagas.


Aku langsung membalikkan badan, mendapati dirinya yang kewalahan mengatur napas. Kami hanya berjarak enam meter, tapi aku bisa menangkap jelas senyumnya yang menyeringai. Terlalu menantang dan dia seakan memberiku kibaran bendera perang.


"Mana yang katanya gak akan ngehindar? Dusta kali, ya?" ejeknya lagi seolah kata sebelumnya tidak cukup menarik perhatianku. Selesai dengan pengaturan napas, tangannya pun melambai. "Sini, deh, kalau berani! Jangan mau dikejar mulu!"


***

__ADS_1


__ADS_2