
Rapat pemilihan tugas panitia pun digelar. Sebelum acara dimulai, Kak Bagas sudah lebih dulu mengedipkan sebelah mata padaku. Dia bersikeras memberi isyarat supaya aku mau menuruti keinginannya. Tak ingin dia kecewa, aku tidak punya pilihan lain selain menuruti keinginan Kak Bagas tersebut.
Aku menawarakan diri, mengapungkan tangan mendahului yang lain demi mengisi slot panitia lomba busana mojang jajaka. Beruntung karena moderator rapat kali ini dipegang langsung oleh Kak Wisnu. Dia tanpa bertanya alasan langsung menuruti permintaanku dan menuliskan namaku di bagian penanggung jawab lomba tersebut. Eren dan Riska tak kalah menyusul. Seolah tak ingin berpisah dariku, mereka juga ikut menawarkan diri. Alhasil, jadilah kami bertugas di divisi yang sama.
Pemilihan tugas panitia pun selesai. Sekarang kami diberi tugas oleh Ketua OSIS untuk merumuskan susunan acara, peraturan lomba, hingga uang pendaftaran untuk tiap kelas yang akan berpartisipasi dalam perlombaan di Hari Kartini bulan depan.
Aku, Riska, Eren, Kak Bima, dan Kak Wisnu mengambil posisi duduk melingkar di lantai. Sengaja tidak melibatkan kursi keanggotaan karena ingin lebih leluasa dalam pembahas konsep terbaru dari perlombaan busana mojang jajaka. Tim kami pun larut dalam diskusi panjang. Aku yang bertugas sebagai notulensi divisi tak berhenti menuliskan setiap bait saran yang mereka ajukan.
“Bagas!”
Teriakan Kak Cecilia yang tiba-tiba itu terdengar membahana di segala penjuru ruangan. Kami yang mendengar hal itu sampai menghentikan aktivitas berdiskusi karena ingin mendengar maksud dan tujuan dia memanggil sang ketua.
“Bagas, aku punya saran buat tim mojang jajaka,” ucap Kak Cecil setelah semua tim memusatkan perhatian padanya.
“Saran apa?” tanya Kak Bagas santai dan tetap duduk di kursi pimpinan.
“Gimana kalau tahun ini ada inovasi baru buat peserta lomba?”
“Inovasi gimana, contohnya?” tanya Kak Wisnu yang cepat tanggap.
“Inovasi penambahan perwakilan peserta,” jawab Kak Cecil yang masih terdengar mengambang dan membingungkan. “Perwakilan mojang jajaka dari setiap organisasi dan ekstrakulikuler sekolah, kan, belum ada, tuh, dari tahun kemarin-kemarin.”
“Coba jelaskan lebih rinci,” pinta Kak Bagas.
Kak Cecil yang mendapat angin segar lantas berdiri di depan ruangan. “Dari tahun kemarin, kan, acara mojang jajaka itu diikuti antar kelas melulu. Nah, gimana kalau tahun ini, rivalnya ditambah? Peserta yang daftar bukan cuma antar kelas, tapi juga antar organisasi dan esktrakulikuler sekolah.”
“Oh, jadi setiap organisasi dan ekstrakulikuler harus mengirimkan perwakilan anggota mereka buat ikut kontes mojang jajaka, begitu?” Kali ini Arfan yang bertanya.
Bukannya menjawab pemahaman Arfan, Kak Cecilia malah melengos dan menatap ke sembarang arah. “Mau aku jelasin lagi, gak?”
“Saya gak butuh penjelasan, butuhnya jawaban. Saya mau tanya, Cecil.” Arfan mengapungkan tangan untuk menarik perhatian lawan.
“Sampai sini pada paham, ya?” Kak Cecil masih berusaha mengabaikan. Masih berusaha menatap ke arah yang berlawanan.
“Hei, Cecil. Saya mau tanya!” Arfan kembali menggoyangkan tangan yang terapung karena gemas.
“Kak, saya mau tanya!” Putri juga tak kalah memanasi suasana. Dia ikut mengapungkan tangan menyaingi Arfan.
__ADS_1
“Iya, Putri. Silakan mau tanya apa?”
“Kira-kira perwakilan OSIS untuk kontes mojang jajaka siapa, ya?”
“Hm ....” Kak Cecil menebar pandangan. Mulai dari arah kiri, kanan, hingga menepi di tempat duduk Kak Bagas.
Tahu jalan pikiran perempuan itu, aku lantas menundukkan kepala. Napasku tertahan dalam sekejap. Ah, sudah tertebak. Sudah bisa aku duga. Pasti. Sudah pasti Kak Bagas yang akan dipilih mereka dan sudah pasti aku yang akan menjadi mojangnya.
“Kalian pasti sudah punya pilihan ‘kan?” Dia kembali bersuara dan kali ini terdengar lebih bahagia. “Kalau aku, sih, pasti pilih Ba-Ra couple.”
“Setuju ....”
Teriakan semua orang berangsur terdengar. Tim yang tergabung dalam panitia mojang jajaka juga tak kalah heboh. Eren bahkan tidak berhenti menggoyangkan sebelah lenganku saking bahagianya dengan kabar itu.
“Eh, tunggu ... tunggu,” sela Arfan hingga beranjak dari posisi lesehan.
Aku yang sedari tadi menunduk pun ikut melakukan pergerakan. Kepalaku terangkat karena ingin melihat tingkahnya yang mulai kepanasan.
“Saya tadi mau tanya. Dari tadi udah acungin tangan malahan. Kenapa kamu diam aja, Cil?” Kedua tangan Arfan sudah bertengger manis di pinggangnya.
Penasaran dengan reaksi lawannya, perhatianku beralih ke arah Kak Cecilia.
“Wah, sejak kapan Cecil dan Arfan gak saling peka?” celetuk salah seorang senior yang tidak kuketahui namanya.
“Kalian udah putus?” tanya Kak Bima ikut-ikutan.
“Ya, pasti putuslah. Seorang Cecil juga lama-lama muak kalau Arfannya gak ada perubahan,” sahut Kak Esa yang tergabung dalam circle persahabatannya.
“Oh, sekarang saya paham,” ujar Arfan. “Kamu mau ngikutin jejak si Bagas yang gak bisa profesional, ya?”
“Coba sadar diri deh, Fan! Memang situ udah profesional, ya? Selama masih sering cemburu dan sirik sama orang, gak usah merasa diri paling benar.”
Mantap. Aku tersenyum lebar melihat tingkah mereka berdua. Benaran puas karena kini Kak Cecil berani melakukan pergerakan. Ah, kalau sudah begini, aku yakin Arfan akan berubah haluan jadi menyukai Kak Cecil.
“Sudah, ya.” Kak Cecil kembali bersuara. “Aku mau pamit ke toilet dulu. Urusan perwakilan, silakan bahas ulang sama si Paling Profesional ini.”
Ruangan jadi hening karena adu mulut mereka berdua. Aku yang melihat kepergian Kak Cecil lantas mengapungkan tangan menghadap Pak Ketua. “Izin ke toilet, Kak.”
__ADS_1
Setelah mendapat persetujuan Kak Bagas, aku berlari keluar ruangan. Tentu saja karena bermaksud menyusul Kak Cecil. Aku tahu dia berlari dan menghindar karena tak ingin berhadapan lebih lama dengan Arfan. Hatinya pasti tak aman sekarang. Antara sangka dan tidak menyangka karena sudah melancarkan perlawanan pada sang mantan.
“Hah, udah gue tebak pasti lagi ngumpet,” ejekku begitu menemukan Kak Cecilia di kamar mandi wanita.
Pintu tak lupa aku tutup rapat, memberikan akses privasi yang lebih dalam karena aku tidak ingin pembicaraan ini terdengar orang luar.
Kak Cecil tampak mengatur napas, melihat ke arahku sebelum akhirnya melemparkan sebuah pertanyaan. “Gimana gue tadi? Keren, gak?”
Dua ibu jariku langsung mengapung, memberinya jawaban sebagai wujud apresiasi atas tindakan yang berani. Sudah sepantasnya Arfan diberi ketegasan. Kalau tidak begitu, dia tidak akan sadar dan malah semakin seenaknya memperlakukan Kak Cecilia.
“Jangan mau dibaik-baikin lagi sama dia. Jangan dulu kemakan bujuk rayu dia pokoknya. Tahan, aja, sabar dulu. Dia memang begitu, harus ditarik ulur biar sadar setelah kehilangan,” cerocosku saat memberi saran.
“Dulu ... lo kayak begini juga gak, sih?”
Kepalaku menggeleng. “Gue juga gak paham kenapa dia tiba-tiba berubah. Dulu dia baik banget, sumpah.”
Mendengar itu, Kak Cecil berujung menghela napas berat. “Gue sengaja buat inovasi baru tentang kontes mojang jajaka.”
Nah, aku lupa. Aku menyusul dia juga, kan, ingin meminta pertanggungjawaban. Gara-gara dia yang memberi saran, aku jadi terpilih sebagai perwakilan mojang jajaka OSIS.
“Kenapa coba pakai ada acara rival tambahan? Gue jadi kepilih, kan!”
“Ini siasat, Ra. Lo mana paham.” Dia kembali menghela napas berat.
“Ya, coba jelasin biar gue paham,” pintaku tanggung penasaran.
“Nih, ya, tahun kemarin gue sama Bagas jadi perwakilan kelas buat jadi mojang jajaka. Memangnya lo mau melihat pacar bucin lo bersanding sama gue? Pakai baju kebaya pula. Memangnya lo bisa rela?”
Ah, jadi itu alasannya.
“Gue sengaja, bikin Bagas jadi perwakilan OSIS. Biar ujungnya gue sama Arfan yang jadi perwakilan kelas.”
“Astaga ....” Aku berujung menepuk jidat melihat tingkah Kak Bagas dan Kak Cecil yang tidak jauh beda. Mereka sama-sama memanfaatkanku untuk kepentingan sendiri. Sedih benar nasibku ini.
“Jadi ... sori kalau misal lo merasa dimanfaatkan sama gue. Gini, deh, lo ambil sisi positifnya, aja.”
“Sisi positif apa?” tanyaku sewot. Tidak ada sisi positifnya di sini.
__ADS_1
“Ya, anggap, aja, acara mojang jajaka nanti sebagai gladi resik pernikahan lo sama Bagas. Baik sekarang ataupun nanti juga bakalan sama, aja. Sama-sama pakai kebaya.”
***