Pacar Bohongan

Pacar Bohongan
BC 24 | Persiapan Makan Malam


__ADS_3

Tiga hari setelah jalan-jalan bersama Kak Bagas. Kembali menjadi Dara yang kesepian, pulang-pergi naik motor sendiri, makan siang beli sendiri, sampai akhir pekan pun dilalui seorang diri. Ingin mengadu, tapi takut disangka lebay. Alhasil saking tidak mau membuang-buang tenaga aku memilih menghabiskan malam minggu di rumah saja.


Sebuah kalender meja kembali kuambil dan amati, tersisa seminggu lagi menuju hari ulang tahunku. Memang, sih, jatuhnya di hari Senin. Masih jauh dari hari libur Kak Bagas, tetapi harapanku semoga saja dia bisa menggeser hari liburnya. Semoga bisa dipercepat, supaya acara makan malam yang aku impi-impikan bisa terlaksana. Baiklah. Mumpung si pacar belum memanggil, ada baiknya aku mengerjakan sebuah konsep makan malam itu.


Selembar kertas dan bolpoin hitam kuambil dari kotak penyimpanan. Laptop yang sudah terbuka sengaja dijadikan ajang pencari tempat sempurna untuk makan malam. Tidak lama, cukup menunggu beberapa detik layar yang semula menampilkan laman pembuka pencarian pun berubah. Beberapa rekomendasi restoran dengan desain romantis di Bandung terpajang dibeberapa website. Aku sampai membuka seluruh halaman yang terpajang, menulis nama, lokasi, deretan menu, dan harga yang dibandrol untuk sekali reservasi.


Perjalananku dalam merekap semua lokasi impian menghabiskan waktu kurang lebih dua jam. Kini, tinggal menghitung budget yang ada. Percuma saja, kan, kalau keinginan tidak sesuai uang? Aku tidak mungkin meminta tambahan jatah bekal hanya untuk kencan bersama pacar.


Lemari yang menjadi tempat teraman dalam menyimpan beberapa kotak celengan terbuka. Lantainya kujadikan alas dalam menghitung lembaran jatah jajan yang sudah terkumpul. Selembar, dua lembar, hingga tertata dua puluh lembar. Total pendapatan ada dua ratus ribu rupiah. Sekarang tugasku tinggal mencocokan data yang ada.


Namun, pergerakan mencocokan itu harus tertahan karena dering ponsel yang menyala panjang. Benda mungil yang sedari tadi dibiarkan di ranjang kembali menarik pusat perhatian diri. Aku simpan dulu uang beserta peralatan yang dibutuhkan untuk merancang konsep makan malam impian. Ah, tamu yang akan diundang makan malam sudah menelepon. Saatnya meluapkan rasa rindu via video call.


“Kakak,” sapaku saat wajahnya sudah mengisi layar ponsel.


Pagi tadi kami tidak sempat bertukar pesan. Aku yang takut mengganggu siap-siapnya sebelum dinas, jadi memilih menunggu. Biar dia yang mengirim pesan dan memanggil lebih dulu. Tugasku hanya stand by di depan ponsel sampai dia dinyatakan membawa kabar dan waktu luang. Sesimpel itu rasa rindu Dara yang mencoba melatih mengendalikan diri saat berjauhan dengan pasangan.


“Lagi apa, Sayang?”


“Hm ....” Tidak mungkin aku jujur soal rencana itu. “Lagi diem, aja.”


“Gak nugas?” tanyanya lagi dan aku menggeleng. “Sudah makan?”


“Udah. Kakak makan sama apa tadi?” Dia sempat mengirim foto nasi dan soto bandung saat jam istirahat. Nah, saat jam makan sore atau malam dia belum mengirim apa pun.


“Siang apa sore?”


“Sore. Pulang dinas,” jelasku supaya dia mengerti.


“Oh, belum makan lagi sampai sekarang.”


“Kenapa?” tanyaku sedikit khawatir.


Dia yang dikhawatirkan malah cengengesan sebelum menjawab, “Uangnya diirit-irit.”


“Diirit-irit? Uang jajan dari ibu kurang, gitu?”


Bukankah seminggu sekali dia diberi uang jajan. Itu pun naik nominal karena berada jauh dengan orang tua. Kenapa bisa mengirit coba?


“Bukan kurang. Moge butuh pengobatan, Sayang.”


“Moge?” Aku sampai meninggikan suara.


“Iya. Dia, kan, sekarang rutenya naik-turun gunung. Jadi, rem-nya mudah habis. Ban-nya juga mulai gundul. Kakak butuh sekitar enam ratus ribu buat benerin itu.”


Napasku berembus berat. Kemarin demi jaket couple. Sekarang demi moge. Ya, kali itu lambung bakalan kuat kalau lama-lama diajak susah terus.

__ADS_1


“Sayang, jangan marah. Kakak benerin moge juga, kan, biar bisa nyamperin Adek.”


“Iya.” Aku mencoba tersenyum meskipun sedikit kesulitan. Susah, sih, kalau itu motor kesayangan.


“Jangan marah,” ulangnya.


“Iya, Sayang,” balasku kali ini lebih berbesar hati. “Kakak.” Aku mencoba mengalihkan topik pembicaraan. “Senin depan bisa tuker off, gak?”


Agak deg-degan, sih, saat bertanya tentang ini. Takut dia menebak langkahku di hari ulang tahunku. Ya, masa dia lupa hari ulang tahun ceweknya. Masa, iya!


“Senin besok?” Wajahnya menunjukkan reaksi kebingungan.


“Bukan. Senin depan. Besok, kan, Senin. Nah, Senin depannya.” Sedikit gereget, tetapi mencoba menahan diri supaya tidak keceplosan.


“Oh, jadi kakak geser hari libur ke Senin, terus Rabu-nya masuk, begitu?”


“Iya.” Aku tersenyum puas karena dia mengerti juga.


“Hm ....” Dia berpikir lama. “Memang mau apa, Sayang?”


“Ya ... ketemu, aja.”


Kok, pakai tanya mau apa? Masa dia lupa Senin depan ulang tahunku? Tidak diberi bocoran juga seharusnya dia paham dan tahu.


“Oh, gitu, ya ....” Kecewa, tetapi sebisa mungkin aku memberinya senyum tertulus.


“Coba nanti kakak pikir-pikir dulu, ya, alasannya apa. Biar kedengaran logis, aja, sama pembimbing.”


Entah menghibur atau benaran akan mengusahakan, kekecewaanku tidak berkurang setengahnya.


“Kalau ... gak bisa juga gak apa-apa, Kak.” Aku mencoba mengalah.


“Lah, kok, kalah sebelum berjuang. Nanti kakak kabari kalau memang benaran bisa dituker hari liburnya. Jangan sedih, lho. Nanti kita ketemu. Oke?”


Aku tersenyum sambil mengangguk pelan.


“Senin, kan, ya? Senin depan?”


Aku mengangguk lagi.


“Oke, kakak bakal usahain biar bisa tuker OFF.”


“Makasih, ya, Kak.” Lumayan terobati untuk sekarang.


"Pakai acara terima kasih segala. Apa pun kalau demi Adek bakalan kakak usahain!"

__ADS_1


***


Aku melanjutkan lagi aktivitas merancang konsep saat sambungan terputus. Tidak menelepon sampai tengah malam karena Kak Bagas harus mengirim laporan harian dinas via email. Sibuk sekali ternyata PKL itu. Aku yang belum mengalami mana paham. Itulah salah satu alasanku membiarkan dia dengan waktunya. Aku hanya menerapkan kata ‘sibuk’ dalam otak supaya tidak berpikiran aneh-aneh. Dia bukan rindu. Dia hanya sibuk. Kesibukannya pun bukan bermain wanita, game, atau bermain motor. Kesibukannya tentang sekolah, dinas, dan pelajaran.


Langkahku menyiapkan rencana kembali tercekal karena kedatangan orang yang tak diundang. Kak Soraya tidak mengetuk pintu, langsung masuk tanpa permisi. Spontan karena tidak ingin disoraki, buku berisi rekapan restoran kututup dan kusembunyikan.


“Ada apa?” Todongku dengan raut tak sedap.


“Itu apa?” tanyanya sembari menunjuk lembaran uang sepuluh ribuan.


“Duit,” jawabku asal sambil mengalihkan pandangan ke laptop.


Laman yang menampilkan beraneka suasana restoran lantas kututup. Tak lupa memakai mode santai karena tidak ingin dicurigai kakak sendiri.


“Bukannya bulan ini kamu yang ulang tahun.”


“Terus?” sahutku cepat.


“Kenapa kamu yang kumpulin duit?”


“Takut gak dikasih hadiah sama semua orang. Jadi, ancang-ancang kumpulin duit biar bisa beli kado sendiri.”


Jawaban barusan nyatanya menarik simpati Kak Soraya. Dia kemudian mengeluarkan dompet, lalu memberiku uang seratus ribu rupiah sebanyak tiga lembaran.


“Ini apa?” Kebalikannya, kali ini aku yang bertanya.


“Duit.” Jawaban yang sama persis seperti tadi.


“Maksudnya buat apa?”


“Beli hadiah. Jadi, nanti pas hari H jangan minta hadiah lagi. Udah kakak kasih, tuh!”


“Eh, serius?” Aku yang tadinya ketus dan masam berubah berbinar dan menghampirinya dengan penuh semangat.


“Serius, lah.” Kak Soraya berbeda lagi dari sebelumnya.


“Ada syaratnya gak, nih?” Takut saja seperti waktu itu. Takut ada imbalan dan takut aku dijadikan mata-mata.


“Kagak ada syarat, emang benaran kakak kasih buat hadiah ultah.”


Aku terdiam. Memilih menyelidiki ekspresi ketimbang melihat uang yang ia berikan.


“Ya Tuhan, Dara. Udah terima, aja. Jaga-jaga. Kalau misal Bagas gak kasih hadiah, kan, kamu gak terlalu sedih nantinya.”


***

__ADS_1


__ADS_2