
Perjuangan tim yang bukan main. Imbas dari memohon hingga berlutut membuat Shafira aman dari kubangan lumpur. Alhasil hanya kami berempat yang terjun hingga waktu tak terbatas. Wajah, balutan pakaian, tak luput dari kotornya tanah yang licin. Kami sampai melepas sepatu karena tak ingin tergelincir bersama. Harus ada yang kami jaga. Masih harus memboyong Shafira dalam tanggungan supaya bisa sampai ke area kemah sekolah bersama-sama.
Sejauh kaki melangkah, aku tak berhenti mengatur pergantian napas. Ingin menyerah saja rasanya, tetapi malu karena anggota tim yang lain juga ikutan membantu. Putri dan Riska ikut menopang pantat Shafira supaya punggungku tidak terlalu keberatan. Ada juga Eren yang berjalan di depan sambil menjinjing sepatuku dan menyoroti jalan dengan lampu senter.
Bagai mendapat secercah harapan, terdengar derap langkah cepat dari beberapa orang dari arah yang berlawanan. Belum melihat sosok yang datang, tetapi hatiku sudah meyakini kalau mereka yang menempuh jalur ini tergabung dalam tim bala bantuan.
Benar saja. Keyakinan hati memang tidak bisa dipungkiri. Langkah kami terhenti begitu berpapasan dengan Pak Abigail, Kak Bagas, Cecilia, juga tim medis. Rasa-rasanya aku ingin menjerit dengan kencang. Mengutarakan perjuangan kami untuk sampai ke titik ini bukanlah suatu perkara yang mudah.
"Itu, Pak, pasien daruratnya." Cecilia yang kami tunggu bak orang kesetanan sudah menunjuk Shafira.
Kak Bagas yang semula terdiam karena bersitatap denganku buru-buru menyadarkan diri. Dia melangkah mendekat, lalu mengambil Shafira di belakang punggungku. Tim medis juga tak kalah membantu, mereka menidurkan Shafira di tandu, lalu bergegas mengambil tindak pertolongan pertama.
"Sori, lama. Gue susul tim medis dan Pak Abigail ke tenda panitia," ucap Cecilia dengan wajah kemerahan. Peluhnya yang membasahi keringat membuat pandanganku terhadapnya melunak. Dia tidak lari rupanya.
"Cuma Shafira saja 'kan? Kalian tidak ada yang tumbang 'kan?" Pak Abigail mencoba memastikan dengan menatap satu per satu wajah yang tertutup lumpur tebal.
"Semua aman, Pak. Hanya Shafira saja." Laporku kepada beliau dengan keyakinan penuh.
Pak Abigail merangkul kami satu per satu. Mengajak berjalan berdampingan menyusuri sisa-sisa perjalanan jurit malam. Hanya aku dan Kak Bagas yang masih terdiam di tempat. Masih saling menatap dengan posisi berhadapan. Tanpa bertukar kata. Aku seolah bisa menebak wujud syukurnya atas keselamatanku yang terjaga. Lalu, sedetik kemudian tangannya terentang.
"Aku kotor, Kak," tolakku yang tak ingin jatuh ke dalam pelukan. Jujur perlakuan itu bisa dengan mudah menghancurkan benteng mental baja yang sedari tadi membalut diri. Ditatap begitu saja aku sudah merasa sedih, apalagi ditambah pelukan. Sudah tertebak pasti langsung ambyar.
Tak mau mendapat penolakan, Kak Bagas malah menarik lenganku yang berlumur lumpur. Kerasnya tarikan itu mau tak mau membuat tubuhku masuk ke dalam dekapannya.
"Makasih udah berusaha menjadi yang terhebat."
Hah, apa kubilang. Mental baja yang tadi ada langsung berjatuhan hingga menyisakan isak yang tak berkesudahan. Aku membalas pelukan Kak Bagas. Merasa tidak menyangka dengan segelintir kejadian yang baru saja dialami tim tiga. Kami berasa membawa pasien yang sekarat. Jujur selama perjalanan aku merasa sudah kehilangan harapan. Hati terdalamku sudah pasrah. Aku takut Shafira tiada karena kegagalanku membawanya ke pusat pertolongan pertama.
"Maaf karena kakak gagal sebagai ketua. Harusnya, kakak tebar tim medis di mana-mana."
Mendapati dia yang menyalahkan dirinya sendiri, hatiku malah semakin tersayat-sayat. Bukankah kejadian ini tidak terduga? Dia sudah berusaha menyiapkan perjalanan yang aman dan menyenangkan. Anggap saja malam ini semua orang sedang kena apesnya.
Dekapan yang memakan waktu kurang dari lima menit itu terlepas perlahan. Kak Bagas menyempatkan diri mengusap wajahku yang penuh lumpur dengan menggunakan sehelai sapu tangan. Telapak tangannya menangkup pipiku penuh kehangatan. Dia mendekatkan pandangan sampai tersisa jarak sepersekian senti.
"Ada yang luka?" tanya masih dengan jarak yang sama. Aku menggeleng, masih berusaha menemukan sisa-sisa suara di tengah isak tangis sebelumnya.
"Ada yang sakit?" tanyanya lagi dan masih mendapat gelengan sebagai wujud jawaban. Napas Kak Bagas pun mengembus penuh syukur. Dia sampai terpejam beberapa saat seperti tengah mengusir kabut dari pelupuk mata.
"Kakak," panggilku yang baru bisa menemukan sisa-sisa suara itu.
__ADS_1
"Hm? Kenapa? Bilang sama kakak." Sorot tatapnya berubah siaga.
"Aku takut banget tadi ...." Jemariku menunjuk ke arah belakang. Tahu terlambat, tetapi hati ingin tetap mengadu kepada si kekasih hati.
Kepalanya mengangguk. "Kakak tahu. Kamu hebat. Kamu memang selalu melangkahi ekspektasi kakak." Dia kembali mengusap wajahku dengan penuh kelembutan. "Sekarang kita susul yang lain, yuk! Kamu perlu bersih-bersih dulu, biar istirahatnya nyaman."
"Iya," sahutku singkat sambil menjauhkan wajah dari jarak yang dekat ini.
Kak Bagas tidak berkata apa-apa. Dia hanya membalikkan badan, lalu berjongkok di depan kakiku. "Naik, Sayang."
"Kakak ...." Aku memekik. "Demi Tuhan, bajuku kotor banget." Kasihan saja kalau lumpur lengket ini harus melekat juga di bajunya.
"Nurut, Sayang," perintah Kak Bagas sambil menepuk badan belakangnya.
Penuh rasa enggan, aku menuruti keinginan Pak Ketua. Tak lupa memposisikan diri di tubuh belakangnya dengan nyaman. Cukup sekali sentakan, Kak Bagas beranjak dari posisi jongkok sambil membawaku dalam gendongan. Kami mulai menyusuri jalan setapak lagi. Tanpa berbekal senter ataupun sumber penerangan yang lain.
"Kamu ringan banget," gumamnya entah sebagai pujian atau ejekan.
"Gelap, lho, Kak." Jadi takut Kak Bagas tersandung hingga kami terjatuh.
"Kakak bisa lihat, kok. Kamu tenang aja, ya. Pasti aman sampai tenda," janjinya.
"Kakak gak peduli. Kotor tinggal mandi, Sayang," ucapnya penuh percaya diri.
Hah, aku jadi tak merasa sungkan lagi. Lebih memberanikan diri, aku sampai menyimpan dagu di sebelah pundaknya. Menyandarkan tubuh sepenuhnya kepada Kak Bagas. Anehnya, perhatian-perhatian kecil begini malah berefek menenangkan bagiku.
"Kak," panggilku dengan sengaja. Tak mau situasi hening saja. Sudah gelap, hening, kan, jadi bikin ngeri, ya.
"Kenapa?"
"Tim satu gak masuk kubangan?" Aku baru ingat kalau mentor juga harus dipenuhi lumpur sama seperti anggota tim yang dipegangnya.
"Enggak."
"Kok, bisa?" semprotku. Apa jangan-jangan mereka curang? Kenapa Ketua OSIS tidak sekalian masuk kubangan?
"Pertanyaannya gampang." Dia malah terkekeh-kekeh.
"Dikasih pertanyaan apa, gitu?" Aku jadi penasaran. Awas saja kalau pertanyaannya beda dengan pertanyaanku yang absurd.
__ADS_1
"Sebutkan sekretaris OSIS terbaik SMK Farmasi Bangsa."
Keningku mengeryit. Memangnya ada? Kenapa pertanyaan mereka tidak logis semua, sih?
"Kakak tahu jawabannya?"
"Tahu." Dia mengangguk mantap. "Namanya Bu Fatma."
Bu Fatma? Kenapa aku tak asing dengan nama itu?
"Beliau staf laboratorium sekolah kita, ingat?" Kak Bagas mengingatkan, tetapi ingatanku tidak sampai sejauh itu. Aku sampai melongo karena tidak terbayang wajah Bu Fatma.
"Bu Fatma alumni sekolah kita, sempat masuk OSIS juga, dan jadi sekretaris terbaik."
"Ah ... aku baru tahu ada penghargaan buat staf OSIS terbaik." Aku menanggapi penjelasan Kak Bagas.
"Sebenarnya, kalau penghargaan dari pihak sekolah, sih, gak ada. Adanya cuma penghargaan dari anggota OSIS, aja. Kami menghargai beliau yang punya pemikiran cerdas waktu SMK. Saking cerdasnya, beliau sampai mengetik proposal dengan format yang pas di mata Kepala Sekolah."
"Oh, ya?" Pantas saja dijadikan sekretaris terbaik.
"Iya, proposal bu Fatma itu yang terbaik dari tiga angkatan sebelumnya. Kamu tahu, kan, kalau proposal juru kunci keuangan acara?" Mendapati aku yang mengangguk, Kak Bagas kembali bercerita. "Nah, semenjak Bu Fatma yang buat proposal, uang untuk acara-acara OSIS selalu di acc kepala sekolah. Berapa pun nominalnya pasti di acc. Kepala sekolah sampai menjadikan proposal bu Fatma sebagai contoh permohonan izin terbaik. Jadi, sampai detik ini kami pakai format yang sama buat minta dana dan acc acara."
"Oh, jadi itu alasannya." Ya, sudah. Pantas saja dijadikan sekretaris terbaik.
"Kalau pertanyaan kelompok kamu apa, Dek?"
Hah, sontak hatiku terasa terbakar lagi karena mengingat pertanyaan gila itu.
"Nama ketua OSIS angkatan kelima. Kakak tahu, gak?" Aku menodong Kak Bagas kesal. Dia pasti tidak tahu nama ketua itu. Aku yakin. Memang pertanyaannya saja aneh-aneh.
"Pak Abigail."
"Hah?!"
Jeritanku sampai membuat langkah Kak Bagas berhenti. Mungkin karena telinganya tiba-tiba berdenging.
"Ketua OSIS angkatan kelima itu Pak Abigail, Sayang. Pembina OSIS kita sekarang."
***
__ADS_1