
Sehari sebelum kedatangan Kak Bagas. Perhatianku tidak lagi tertuju pada ponsel karena sore ini diwajibkan menghadiri rapat OSIS. Rapat perdana setelah kakak kelas memulai PKL. Langsung dipimpin Prayoga, kami junior dalam organisasi bermaksud merumuskan sebuah kegiatan untuk tiga bulan ke depan. Beruntung karena sebelum pergi, Kak Cecil dan Kak Bagas memberitahu bocoran acara yang bisa dilakukan selama senior tidak ada. Beberapa acara yang bisa kami gelar adalah PORSENI, Seminar Kesehatan, dan Bazar.
Acara pertama yang kami pilih adalah PORSENI. Aku diposisikan sebagai sekretaris inti yang nantinya akan memegang kunci. Acara bisa digelar atau tidaknya sangatlah bergantung pada kunci ini. Ya, kunci ini adalah proposal. Lembaran kertas yang berisi rincian maksud dan tujuan acara, deretan panitia penyelenggara, dan yang pasti total biaya yang kami minta dari pihak sekolah.
Selama rapat perdana ini, tugasku hanya duduk termenung di samping Prayoga. Masih bermalas-malasan ria karena pembuatan proposal tidak bisa langsung dimulai. Perlu ada bahannya dulu. Mereka yang tergabung dalam seksi-seksi diwajibkan menyerahkan hasil diskusi konsep dan perhitungan biaya padaku, supaya bisa langsung dimasukkan ke dalam proposal permohonan.
Silvia yang kedapatan tugas sebagai seksi dokumentasi mengapungkan tangan, meminta izin kepada Prayoga dan Dion untuk melipir sebentar ke kamar mandi. Terhitung lima menit dia berlalu dan akhirnya kembali, langsung mendekatiku.
“Ra, ada tamu.”
Aku menoleh sebentar. “Tamu buat OSIS?”
Sedikit aneh, sih. Selama bergabung dengan organisasi, aku tidak pernah mendengar OSIS kedatangan tamu.
“Pacar lo kali.”
Benar atau tidaknya ucapan Dion itu urusan nanti. Bagiku yang terpenting sekarang adalah berlari. Tanpa mengucap izin aku keluar ruangan OSIS, meninggalkan segala yang tengah berlangsung karena ingin melihat sosok yang datang.
Silvia tidak memberitahu letak spesifik orang itu menunggu, tetapi sekali lihat saja sosok yang datang itu sudah tertangkap bayangannya. Mungkin, itu mungkin saja Kak Bagas. Layaknya yang kutahu, minggu ini Kak Bagas mendapat giliran dinas pagi. Bisa jadi, dia pulang lebih awal karena besok libur bekerja.
Namun begitu selangkah lagi menepi, kakiku tertahan karena menemukan sebuah kesalahan. Punggung tegak yang berdiri membelakangiku itu bukanlah Kak Bagas. Tubuhnya, gaya berdirinya berbeda. Tebakanku terjawab saat dia membalikkan badan.
“Kamu ....”
Sorot mataku berubah penuh. Kecewa, kesal, dan tak paham seakan bercampur jadi satu. Iya, aku tak paham. Kenapa di antara banyaknya manusia malah Marcel yang datang?
“Dara,” sapanya disertai senyum tanpa dosa.
“Mau apa ke sini?” tanyaku masih dengan rasa ketidaksukaan.
“Mau antar itu.”
Telunjuk Marcel mengarah ke mobil yang terparkir di halaman sekolah. Cukup mendengar sekali pencetan kunci, pintu bagasi yang semula tertutup pun menampakkan isinya. Kotak nasi. Bukan hanya sebuah, pula. Apa coba maksudnya?
“Soraya bilang, kamu lagi ada rapat. Saya jauh-jauh dari kampus bawa ini buat kamu dan teman-teman yang lain.”
“Dara gak minta, lho.” Berharap dengan kata-kata itu dia paham kalau aku tengah melayangkan penolakan.
“Saya juga cuma inisiatif. Murni ingin traktir kamu dan teman-temanmu.”
Baik. Jika menolak baik-baik tidak dimengerti, maka jalan satu-satunya hanya menolak secara gamblang.
“Gak perlu traktir-traktir, Kak. Temen saya gak kenal Kakak. Gak usah repot-repot juga. Di sini kantin buka sampai siswanya pulang.”
“Ah ....” Dia mengangguk. Aku tahu wajahnya bingung, tetapi senyuman tidak pernah luput ia tampilkan. “Kalau, gitu, apa perlu saya buang makanannya?”
“Ya, itu terserah. Pokoknya Dara gak minta. Dara juga gak mau terima.” Sudah sewajarnya aku keras kepala. Aku tahu, kok, taktiknya dia. Sekali diterima, maka tidak ada lagi jarak yang tersisa untuk menghindarinya.
“Oke. Sebentar, ya.”
Entah apa yang hendak dia lakukan, tetapi yang jelas kepalanya celingukan. Sampai tidak berapa lama kemudian, tangannya melambai. Penasaran dengan sosok yang dirinya panggil, tubuhku lantas berbalik ke arah lambaian tangan tersebut. Sial. Sukses mataku terpejam. Kenapa Riska dan Putri pakai acara keluar ruangan lagi? Mereka jadi bertemu Marcel, kan?
“Ke sini,” panggil Marcel semakin lantang.
Sebisa mungkin aku memberi isyarat, supaya mereka melangkah mundur. Hanya saja, alih-alih paham dan menuruti keinginanku, Putri dan Riska malah mempercepat langkah.
“Temannya Dara, kan?” tebak Marcel begitu mereka sampai di tengah-tengah kami.
“Iya,” jawab Riska terlihat kebingungan dan langsung memberiku sebuah bisikan. “Siapa, Cuy?”
__ADS_1
“Kebetulan banget. Saya bawa makanan buat kalian. Kalau Dara yang bawa sendiri, kayaknya gak mungkin. Kalian berkenan bantu saya, gak?”
Lemah lembutnya memang patut diacungi jempol. Terbukti, Putri yang kental dengan kata gratisan langsung aktif bertanya. “Berkenan, Kak. Di mana makanannya?”
Alhasil, dia orang pertama yang dibawa Marcel untuk memindahkan kotak makanan itu ke ruang rapat. Masih menunjukkan penolakan, tanganku terlipat depan dada. Tidak mau menunjukkan getar-getar rasa tertarik atas perlakuan baik Marcel.
“Siapa, sih, Ra? Kamu kayak gak suka, gitu?” Riska yang belum menyusul mereka mendadak menunjukkan rasa ingin tahu.
“Teman kakakku.”
“Hah? Terus ngapain ke sini? Dikirim Kak Soraya?”
Kepalaku menggeleng. “Inisiatif, katanya.”
“Kok, aneh.” Dia yang tak kalah peka terhadap perasaan seseorang langsung menilai dengan akurat. “Suka, deh, kayaknya dia sama kamu.”
***
Aku menyaksikan semua rekanku memakan nasi kotak yang dibawa Marcel. Lain dengan mereka yang menunjukkan raut bersyukur, jatah makananku bahkan belum tersentuh sedikitpun. Tidak bernafsu, terlebih karena yang membawanya adalah musuhku. Prayoga yang menyadari gerak-gerik tak suka ini lantas mengetuk meja didekat kotak makanku.
“Kenapa?” tanyaku sengit. Dia jadi kena imbasnya, kan. Bodoh, ah! Suruh siapa mengganggu keheninganku akibat menahan amarah.
“Kenapa gak dimakan, Ra?” Prayoga menunjuk kotak nasi Hokiben yang belum terbuka.
“Kamu mau nambah?” Aku menawarkan.
“Ya, kagak. Saya cuma tanya.”
“Ya, kalau mau nambah ambil, aja.” Kotak nasi kudorong ke dekatnya.
“Rezeki, Ra. Sayang kalau dikasih-kasih ke orang.”
“Izin angkat telepon, Bos,” kataku kepada Prayoga.
“Angkat, aja. Lagi jeda ini, kok.”
Selepas mendengar persetujuan dari ketua sementara, tanganku lantas mengetuk layar demi menerima panggilan dari ketua sebenarnya.
“Kakak,” sapaku setelah layar menunjukkan wajahnya.
Dia pasti selesai mandi. Terlihat dari rambut yang licin dan sudah disisir rapi. Wajahnya juga segar. Semakin adem dilihat pokoknya.
“Makan sama apa?”
“Hah?”
Keningku berkerut dalam. Dari mana dia tahu kalau aku sedang jeda makan? Sekali lagi kulihat mini layar yang tengah mempertontonkan wajahku dan dinding ruangan saja. Benaran nihil. Tidak sedikitpun bentuk kotak makan itu tertangkap layar kamera.
“Kayak yang lagi makan enak,” ucapnya lagi semakin membuatku kebingungan.
“Kakak tahu dari mana?” Ya, daripada penasaran dengan hal itu lebih baik aku bertanya langsung.
“Ada yang laporan.”
“Siapa?” Aku berujung celingukan, mendapati semua rekan yang sedang fokus menyantap makanan.
Tak berapa lama terdengar kekehan dari ujung sana. “Bercanda, Sayang.”
“Ah, masa?” Aku benar-benar meragukan hal itu. Setidaknya, aku bisa membedakan raut wajah Kak Bagas yang sedang menunjukkan keseriusan dan candaan.
__ADS_1
“Asli. Kakak cuma tebak-tebakan, aja. Itu lagi di ruangan OSIS, kan? Kalau Adek angkat telepon, ya, berarti lagi dikasih jam istirahat.”
Ya, benar juga. Logikanya memang masuk di akal.
“Lagi makan sama apa?” tanyanya lagi seolah ingin mendengar jawaban langsung.
“Adek gak makan, cuma mereka, doang.”
Telunjukku memencet icon untuk membalik kamera. Seketika pemandangan junior Kak Bagas yang menyantap makanan pun terlihat.
“Lah, kenapa Adek gak makan?”
“Malas,” jawabku cepat sambil mengubah mode penyorotan kamera. Jadi, menunjuk ke wajahku seperti sedia kala.
“Jangan begitu, dong. Apa pun makanannya. Siapa pun pemberinya, tetap harus dimakan. Hitung-hitung untuk menghormati.”
Sebentar, sebentar, kenapa Kak Bagas seolah tahu kalau makanan ini pemberian seseorang? Jangan-jangan benar, nih, ada yang laporan!
“Sayang,” tegurnya karena mataku terus melipir ke mana-mana.
“Ya?"
“Kakak pulang sekarang, tapi gak bisa ketemu Ayang dulu.”
“Kayaknya, Kakak langsung pulang ke rumah, ya?” Tebakanku mendapat anggukan darinya.
“Ibu udah bawel. Tanya-tanya terus kapan kakak pulang. Kayaknya kangen.”
Ah, lawanku ibunya. Ya, sudahlah.
“Hati-hati di jalan, ya,” pesanku.
“Besok kakak main ke situ.”
“Ke situ, ke mana?” Harus jelas, dong. Harus spesifik juga biar aku tidak penasaran.
“Ya, ke situ,” ulangnya malah main rahasia-rahasiaan.
Sayangnya, bukan Dara Dwiana kalau mengalah begitu saja. “Ke situnya, ke mana, Sayang?” Aku mulai merasa gemas.
“Nanti kakak hubungi lagi, deh.”
Lah, dia mulai tidak jelas.
“Sudah, ya. Kakak mau kemas barang bawaan dulu."
“Ya, udah. Kakak hati-hati di jalannya,” pesanku.
“Iya, pasti hati-hati. Adek juga jangan siksa perut! Kalau lapar makan, aja, kakak gak bakalan marah, kok.”
Nah, kan, dia semakin misterius saja.
“Kakak tahu dari mana---“
“Kakak pamit dulu, ya. See you,” potongnya sambil memutus sambungan.
Hah, jadi penasaran. Kenapa Kak Bagas seolah tahu tentang kotak makanan ini? Apa jangan-jangan betul ada yang laporan? Kalau memang benaran ada, kira-kira siapa orangnya?
***
__ADS_1