
Terbangun karena suara alarm ponsel. Setengah sadar celingukan ke sana kemari dengan mata yang belum melotot sepenuhnya. Aku berujung menguap, menggaruk kening dan leher belakang. Benaran sudah di kamar ternyata. Seingatku, semalam aku memutuskan tidur di sofa ruang televisi.
Guna menghentikan kebisingan ponsel, tanganku bergegas menggapai benda yang nyatanya tergeletak di nakas. Beruntung karena deadline semalam tidak membuatku terlambat bangun pagi ini. Terpantau masih pukul 05.00. Syukurlah, aku bisa santai bersiap-siap ke sekolah.
Alih-alih menyambar handuk, ibu jariku malah tertarik membuka aplikasi pengirim pesan. Notifikasi yang terpampang dalam layar seakan menenggelamkan niatku untuk membersihkan badan. Ada beberapa pesan masuk dari Ayang. Waktu pengirimannya menunjuk angka sebelas malam.
Dari : Ayang
Semua data udah dicetak. Nanti Adek lihat lagi ya takutnya ada kesalahan
.
Kakak juga bikin proposal cadangan. Takut proposal pertama ditolak Pak Abigail
.
Kakak tadi bikin empat desain pamflet. Jaga-jaga juga takut desain pertama dan kedua gak cocok di mata temen-temen Adek
.
Kakak pulang dulu ya. Maaf gak pamitan langsung. Adek pules banget, gak tega kalau harus bangunin dulu
.
Sayang. Kakak udah sampai rumah
.
Gak kebangun ya? Kakak gak bisa tidur loh
.
Sayang?
.
Ya udah deh lanjut bergadang sendiri. Mimpi indah ya. Lusa kita ketemu lagi. Love You ♥️
Selesai membaca isinya, kedua mata lantas terpejam. Hah, Tuhan. Pagi-pagi sudah terbawa perasaan. Bagaimana aku tidak meleleh coba? Pesan-pesan itu menunjukkan dia yang semalam suntuk mengerjakan semuanya. Aku ingat betul, jam sembilan malam ketiduran karena menunggu Kak Bagas menyelesaikan dua desain. Pantas saja dia pulang jam sebelas malam, nyatanya bukan hanya dua desain yang dia buat melainkan empat.
Tak sabar melihat hasil perjuangan Ayang, kakiku berderap mendekati meja belajar. Ada setumpuk kertas beserta laptop yang tertata rapi di sana. Seakan tidak mau kalah dengan pesan ponsel, Kak Bagas sampai menyematkan secarik catatan di bagian atas tumpukan. Tertulis,
Untuk Adek ♥️
__ADS_1
Hanya dua kata yang dia tulis, tetapi efeknya bisa sampai ke relung hati terdalam. Dia memang paling bisa membuatku tersenyum, memang paling pintar membuatku bersyukur. Untung kami balikan. Coba kalau tetap jadi mantan? Hah, tidak terbayang sepinya kehidupan Dara.
***
Anak tangga mulai ku jejaki satu per satu setelah selesai mandi dan berkemas. Benaran merasa penuh semangat juang karena sudah mendapat asupan cinta dari pesan-pesan Ayang. Tujuan kali ini, yakni ruang makan. Aku memutuskan mengisi perut yang keroncongan sebelum berhadapan dengan komentar Pak Abigail dan Prayoga.
Sampai di lokasi, aku langsung disajikan pemandangan hangat. Mami yang masih berbalut celemek itu tampak begitu telaten membagi nasi goreng menjadi tiga porsi sama rata.
"Mami gak akan makan?" tanyaku seraya menarik kursi, lalu mendudukinya.
"Makan, kok. Kenapa tanya gitu?" Beliau balik bertanya seraya melangkah ke dekat wastafel.
"Piringnya cuma tiga." Biasanya, Mami menyediakan empat porsi di meja. Apa Kak Soraya sedang mogok makan?
"Papi, kan, keluar kota."
"Hah?" Sukses melongo. "Kapan?" Kenapa aku baru tahu coba?
"Dari kemarin." Jawaban yang semakin membuat terhenyak.
"Te-terus yang angkut Dara ke kamar siapa?"
"Siapa lagi coba kalau bukan Bagas?"
"Iya. Mami suruh dia gak usah peduliin kamu. Eh, malah digendong ke atas. Kasihan kalau kamu tidur di sofa, katanya."
***
Pesan yang Kak Bagas kirim tadi malam, baru aku balas sekarang. Setelah memarkir motor dengan rapi, aku berjalan menuju kelas tanpa mengalihkan sedikitpun pandangan dari layar ponsel. Beberapa kata sudah aku ketik dan kirimkan padanya. Tidak tampak notifikasi terbaca karena statusnya belum menunjukkan tanda-tanda online.
Hah, sudah tertebak. Sudah dapat dipastikan kalau dia bergadang sendirian. Kasihan betul memang. Untung saja Kak Bagas kebagian sif malam. Setidaknya, bangun siang pun tidak akan jadi masalah besar.
Aku memutuskan mematikan layar ponsel. Kembali memasukkan benda itu ke saku jas almamater, lalu berjalan dengan arah pandang lurus ke depan. Terhitung delapan langkah lagi, supaya sampai ke kelas X-A. Namun, saat tiba di pertengahan jalan langkahku seakan tertahan akibat panggilan seseorang.
"Dara!" Panggilan kedua dari orang yang sama menarikku untuk menolehkan kepala.
Prayoga menghampiri cepat. Berjalan dari arah parkiran, lalu menepi di hadapanku. Dia masih berperan sebagai sosok yang sama. Tidak jauh dingin dan ketus seperti saat rapat kemarin sore.
"Mana tugas, Ra?" Nadanya bahkan tidak terdengar ramah di telinga.
Cepat-cepat aku membuka ransel, mengeluarkan lembaran hasil kerja bersama Ayang, lalu menyerahkannya kepada Prayoga. "Kamu cek, aja! Udah semua, kok." Tanpa sadar cara bicaraku jadi mengikutinya.
Namun, sungguh disayangkan karena Prayoga tampak tidak terpengaruh akan hal itu. Dia dengan luwesnya membuka tiap lembar kertas sambil sesekali terdiam untuk mengamati hasilnya.
__ADS_1
"Bukannya kamu gak bisa desain, ya?" Sebelah alisnya terangkat.
"Emang gak bisa," balasku sekenanya.
"Terus ini buatan siapa?"
Aku terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab, "Buatan Kak Bagas."
"Gak malu apa, Ra?" tanyanya lagi sambil tersenyum miring. "Masa kamu nyuruh ketua buat bikin ginian.'
"Eh, aku gak nyuruh, ya! Dia yang menawarkan bala bantuan. Lagipula, Kak Bagas kerjain ini di rumah bukan di sekolah."
"Memang apa bedanya?" Tangannya kini sudah disimpan di depan dada.
"Ya, bedalah! Status ketua itu kalau di sekolah. Kalau di rumah statusnya PACAR DARA!" Aku sampai membelalakkan mata karena kesal dengan tingkahnya.
Prayoga tertawa sumbang. "Lain waktu profesional, ya! Ketua itu bukan babu!"
"Lain waktu bawa telinga, ya! Inisiatif sama dijadiin babu itu beda!" semprotku tak kalah ngegas.
Ah, Tuhan. Dia kalau begini terus, lama-lama bikin muak juga. Tingkahnya terlalu berbeda dengan Prayoga yang kukenal sebelumnya. Hal yang wajar kalau sekarang aku bertanya, "Kamu kenapa, sih?"
"Kenapa, apanya?" Prayoga melemparkan pandangan ke sembarang arah.
Nah, kan, enggan bersitatap. Pasti ada sesuatu yang aku tidak tahu.
"Ya, kamu kenapa kayak gini sekarang?" Aku rela memperjelas pertanyaan itu.
"Emang dulu saya gimana?"
Napasku berembus berat. Sabar. Masih harus sabar, supaya masalah cepat selesai.
"Ya, dulu kamu baik. Sekarang suka marah-marah gak jelas."
Dia tersenyum miring sebelum memberiku jawaban. "Mungkin dulu kamu gak kenal saya dengan baik. Prayoga yang asli itu ... begini."
"Oh, jadi kamu punya dua muka. Wah, baru tahu saya." Alhasil, kata aku yang biasa terucap pun berubah jadi saya.
"Iya, saya punya dua muka. Kenapa? Kecewa?"
"Kagak!" pungkasku sambil tersenyum puas. "Maaf, ya, Ga. Kecewa itu buat orang yang berharap lebih. Saya pribadi ... merasa gak mengharapkan apa pun dari kamu."
***
__ADS_1