Pacar Bohongan

Pacar Bohongan
Pembagian Tim


__ADS_3

Semalaman berpikir, aku tetap tidak menemukan alasan Pak Abigail membutuhkan kami pagi ini. Tidak paham sedikit pun motifnya, meski beliau sudah menyediakan tugas dengan dispensasi nyata. Sungguh disayangkan, hal itu tidak membuatku senang. Dispensasi tidak memberiku rasa bahagia, terlebih karena jaminannya tidak bisa pulang dengan cepat.


Kenyataan menyedihkan itu membulatkan sebuah tekad. Aku berniat menyelesaikan tugas dengan cepat, supaya rencana jalan bersama pacar tidak terhalang oleh kendala apa pun.


Demi terealisasinya niat ini, aku sampai rela datang ke sekolah lebih pagi dari biasanya. Tentu saja fakta itu menghadapkan aku pada ruangan yang belum berpenghuni. Seakan tidak mengenal rasa takut, aku memasuki ruang pribadi OSIS, menekan sakelar lampu, lalu duduk di barisan paling depan. Bukan tanpa alasan aku memilih posisi depan. Kursi yang paling dekat dengan meja pembina diyakini memiliki potensi berkonsentrasi tinggi. Bukankah harus fokus dulu, supaya bisa mengerjakan segalanya dengan baik? Astaga, ambisiku untuk pulang cepat terus merongrong sampai tak tahan lagi rasanya.


Takut terlalap oleh keinginan terlalu tinggi, buru-buru aku menenangkan diri. Sebelum mengatur napas, aku terlebih dulu menyandar tubuh ke punggung kursi, lalu meluruskan kaki dengan sebaik-baiknya. Semua mulai terasa nyaman dan tenang sampai kehadiran seseorang menyadarkanku dari pusat rasa santai. Prayoga. Manusia yang paling ingin aku lempar ke ujung dunia malah datang di urutan kedua. Dia terkejut, sama halnya denganku. Selama beberapa menit, kami bersitatap dengan mulut yang terkunci rapat.


Lama terbuai dalam kecanggungan membuatku menarik mata terlebih dulu. Seolah ingin menunjukkan rasa tak suka, aku sampai membuang muka, dan tergesa mengeluarkan ponsel dari saku kemeja.


Prayoga tampak sadar diri akan hal itu. Dia yang aku abaikan, berusaha tidak terpengaruh, dan membalas kebencianku dengan keheningan. Sikap jantannya masih terlihat kentara. Dia bahkan sengaja memilih kursi pimpinan yang nyatanya malah mempertemukan kami di posisi duduk berhadapan.


Ini benaran tidak nyaman. Baru beberapa detik saja aku sudah merasa bulu kuduk meremang. Ibu jariku berusaha keras mengetik beberapa kata kepada Riska, Putri, dan Eren. Aku memohon dengan sangat kepada ketiganya, supaya bergegas datang ke sekolah dan ruangan OSIS. Namun, sekeras apa pun meminta, bilah profil mereka tidak menunjukkan tanda online. Pesan dariku bahkan tidak terlihat akan dibaca dalam waktu dekat.


Keheningan di antara kami semakin menjadi. Untungnya, ada Dion dan Hasan yang kemudian datang. Mereka yang berlaku seperti bom atom, sukses menghentikan sunyi senyap dan menggantinya dengan gelak tawa. Lambat laun semua bangku terisi sepenuhnya. Kelengkapan anggota yang hadir membuat rapat dadakan pagi dimulai oleh si Ketua Pengganti.


"Sebelumnya, mohon izin menyampaikan pesan dari Pak Abigail. Kali ini, kita dapat tugas spesial."


Sambutan pertama itu mendapat reaksi hebat dari audiens yang datang. "Tugas apa?" Eren yang pertama tertangkap pendengaran. "Semoga bukan tugas aneh-aneh, deh!" Doa Yesi mewakili kami. "Biasanya, yang spesial itu sulit didapetin," celoteh Dion tidak mau kalah.


"Oke ... oke ... semuanya harap tenang!" ucap Prayoga yang kini sudah bangkit dari kursi kepemimpinan. "Berhubung acara Kartini nanti akan ada sesi open house, kita selaku panitia penyelenggara diminta sebar undangan dari sekarang."


"Sebar undangan udah kayak mau nikah, aja," gumam Putri, tapi masih bisa terdengar jelas olehku.


"Undangannya berupa apa, Ga?" Pertanyaan Riska sangat bermutu untuk diajukan.


"Undangannya berupa brosur. Kita wajib sebar brosur dengan jumlah dan lokasi yang sudah ditentukan."


"Buset! Pantesan, aja, lo bilang jam pulang kita tergantung kinerja." Dion mengingatkan kami pada obrolan malam.


"Nah, karena kalian udah paham inti tugasnya, sekarang kita bagi-bagi tim." Hening sebentar karena Prayoga melihatku lama. "Ra, bisa tolong tulis pembagian tim di depan?"

__ADS_1


Yailah, pakai bahasa tolong. Biasanya juga dia menyebalkan. Mentang-mentang di depan kawan, lagaknya jadi berubah sopan. Hah, kalau begini situasinya, sangat tidak etis aku menolak. Mau tidak mau, aku harus menunjukkan sikap profesional, kan?


Sesi pembagian tim sebar brosur dimulai. Mula-mula aku diminta menuliskan daftar sekolah menengah dan rute bebas polisi yang akan kami lewati. Setelah itu, aku kembali diperintah menulis daftar nama anggota yang membawa kendaraan. Bagian daftar nama inilah yang paling mencolok mata Prayoga. Dia yang sedari tadi ramah, tamah, dan tidak sombong berubah jadi serba ingin tahu.


"Kamu bukannya bisa naik motor, Ra?" Pertanyaan pertama yang menarik semua mata tertuju padaku.


"Iya, memang bisa," jawabku sembari menatap dingin ke arahnya.


"Terus kenapa gak bawa? Saya inget, kok, semalem suruh anggota yang bisa naik motor buat bawa kendaraan." Bawel dan rewelnya mulai menyembul ke permukaan.


"Sengaja gak bawa." Jika memang harus jujur, aku akan jujur saja. "Saya ada acara sore ini. Gak bawa motor, biar pulangnya dijemput—"


"Kak Bagas?" Dia menebak, tapi itu tepat sasaran.


Aku tersenyum menantang sebelum menjawab, "Iyalah. Siapa lagi kalau bukan dia?"


Tidak disangka, Prayoga menanggapinya dengan tawa renyah. "PD amat ya, kamu. Tugas belum dimulai, tapi udah ada ancang-ancang bikin rencana pulang."


"Udah, sih, Ga. Biarin, aja." Riska berusaha membelaku dan melerai adu mulut ini.


"Ya, udah, Ga. Gue coba pinjem motor anak X-A, aja." Eren tiba-tiba bersuara sambil tak lupa mengapungkan tangan guna menarik perhatian semua orang.


"Kenapa harus pinjem motor anak kelas?" Prayoga kebingungan, begitupun aku dan anak-anak yang lain.


"Ya, biar dipake Dara. Biar tim-nya nambah. Lo marah pagi-pagi karena Dara gak bawa motor, kan? Ya, sih, tinggal pinjem ke anak kelas. Beres, deh, masalah. Aman."


Penjelasan Eren yang ngegas tanpa sadar memancing mataku mengerjap. Sungguh terenyuh hati begitu melihat mereka membelaku di depan semua orang.


"Jadi gimana, Ga? Boleh pinjem motor anak kelas gak, nih? Mumpung si Reza lagi online?" Putri yang sedari tadi diam bahkan ikut bergabung seraya tangan menyembulkan ponsel.


Prayoga yang didesak sampai ke pojokan lantas terdiam. Kepalanya tertunduk diiringi dada yang naik-turun. Terlihat jelas dia berusaha mengontrol emosi, supaya tidak ikut terpancing.

__ADS_1


"Ya, udah Dara masuk ke tim penumpang."


Akhirnya, perlu adu argumen dulu sampai dia mengatakan ini.


"Okay, next kita bahas pembagian tim. Kira-kira ada yang mau request lokasi dan temen jalan, gak?"


Pertanyaan itu jelas memancing semua anggota untuk bicara. Ruang rapat yang semula hening dan khidmat berubah jadi ricuh karena kebanyakan dari mereka ingin berkendara dengan rute mudah ditemani lawan jalan yang nyaman. Tentu saja aku bersama Riska, Eren, dan juga Putri turut mengajukan permintaan yang sama. Namun, berbanding terbalik dengan anggota lain. Permintaan kami justru dipersulit oleh Prayoga, sehingga memancing adu mulut sesi kedua.


"Kalian bertiga, kan, bawa motor." Alasan pertama yang disebutkan Prayoga. "Aturannya, satu SMP itu satu tim." Ini alasan kedua darinya. "Kalian mau berangkat bareng-bareng? Ya, gak bisa!"


"Ta-tapi ... tim Dion sama Anne juga, gitu." Putri sampai menambahkan contoh untuk menumpas persepsi ketua menyebalkan.


"Ya, kalau semuanya mau kayak begitu pembagian tim ini gak usah ada. Terserah kalian, aja, mau berangkat ke mana dan sama siapa."


Seketika dada ini dipenuhi hawa panas yang membara. Bisa-bisanya dia berucap demikian, padahal kedua tim sebelumnya sudah diloloskan dengan mudah. Aku yang mendapat ketidakadilan berujung menyuarakan pertanyaan karena ingin mengetahui alasan dibalik dia berlaku seperti ini. "Jadi, Ga. Mau kamu itu kayak gimana?"


"Ya, mau saya itu simpel. Putri ikut Eren ke SMPN 1 Wijanarko. Nadine ikut Riska ke SMP BPK Penabur V."


Ah, jadi Riska dipasangkan dengan Nadine. Heran. Jelas-jelas, aku kawan dekatnya. Kenapa Riska tiba-tiba dipasangkan dengan Nadine coba?


"Lah, kalau gue sama Nadine. Dara sama siapa?" Riska sampai bertanya dengan nada tinggi saking kesal dengan keusilan Prayoga.


"Kan, ada saya. Dara bisa ikut saya ke SMPN 1 Margahayu."


Jawaban yang membuat mulutku menganga. Benaran tidak habis pikir dengan akal sehat si Prayoga.


"Lo gak tanya pendapat Dara, Ga? Memangnya, Dara mau dibonceng sama lo?" Eren ikut-ikutan ngegas setelah dipancing berulang kali.


"Oke, Dara." Kursi pimpinan yang masih ia duduki berputar hingga posisinya bisa berhadapan denganku. "Kayaknya, kamu gak bakalan nolak dibonceng saya."


Aku tertawa hambar sebelum akhirnya menjawab, "PD amat lo!"

__ADS_1


"Saya punya pembahasan penting lho, Dara. Ini ada kaitannya sama acara makan-makan di hari Minggu."


***


__ADS_2