Pacar Bohongan

Pacar Bohongan
BC 31 | Indekos Lagi


__ADS_3

Kami selesai bertukar video call. Obrolan-obrolan yang ringan seperti biasa tanpa berani mengikrarkan sebuah janji untuk bertemu. Kak Bagas kapok menjanjikan suatu hal yang nyatanya tidak bisa ia tepati berkali-kali.


Malam Minggu yang tersisa empat jam lagi terpaksa aku habiskan untuk merenung, menatapi langit-langit kamar dengan perasaan tak tentu arah. Sudah mulai terbiasa, tanpa dia di sini ataupun di sekolah. Hah, sukses LDR sepertinya. Kak Bagas sudah membuat jarak kurang lebih satu setengah bulan, sisa satu setengah bulan lagi dan kami akan berkumpul seperti dulu.


Keheningan merenungi hubungan terhenti karena pintu kamar dibuka tanpa izin. Kak Soraya datang dengan binar wajah kebahagiaan. Beruntung saja dia karena tenagaku untuk membentaknya sudah habis tidak bersisa. Kali ini, aku meloloskan dia dari perilaku tidak sopan karena sudah keluar-masuk kamar seenaknya.


"Ada apa?" Lebih cepat bertanya, lebih cepat dia pergi.


"Besok mau ikut, gak?"


"Ke mana?" Masih dengan posisi terlentang, aku menyaksikan dia berjalan mendekat, lalu duduk di samping ranjang.


"Healing."


"Siapa, aja?" tanyaku dengan tatap penuh selidik. Aku takut ini salah satu akal busuk Marcel. Dia, kan, agak agresif.


"Temen-temen kakak."


"Siapa, aja?" ulangku lebih ngotot.


"Mobil cewek ada Ayesha, Clairine, sama kakak."


"Oh, kalau mobil cowok?"


Kini giliran dia yang menatapku penuh selidik. "Kenapa kamu pengin tahu soal itu?"


"Memangnya gak boleh?" Pada situasi ini aku harus terlihat lebih menantang, supaya Kak Aya tidak curiga.


"Ya, paling juga Andreas, Anthony---"


"Marcel?" Hanya satu nama itu yang ingin kudengar.


"Kenapa kamu tanya dia? Kesemsem, ya?" Dia malah berpikiran yang tidak-tidak.


"Mana ada," sanggahku. "Dia gak selevel sama Kak Bagas."


"Awas, jangan begitu! Jilat ludah sendiri baru tahu rasa!" Kak Aya terdengar ngenes.


"Kok, Kakak ngomong, gitu? Bukannya Kakak yang suka sama Marcel?"


Dia malah terdiam. "Udahlah, jangan bahas dia!"


Mataku langsung menyipit. Ada yang tidak beres, nih! Jangan-jangan Kak Soraya sudah tahu tentang perasaan Marcel yang sebenarnya.


"Kakak ...." Aku mengganti posisi hingga duduk berdekatan dengannya. Tanganku menggenggam lengan Kak Aya erat. "Kakak udah tahu, ya?" tebakku.


Dia pun mengangguk. "Jujur sama kakak. Omongan kamu waktu di mobil itu kode, kan? Kode kalau penilaian kakak meleset."


"Iya, itu." Akhirnya, Kak Aya paham maksud ucapanku dulu. "Kapan Kakak sadar kalau penilaian Kakak meleset?"


"Pas dia ngaku."


"Ngaku apa?" Jantungku langsung bertalu-talu.


"Ngaku kalau ternyata ada cewek lain yang dia suka."


"Oh, ya?" jeritku dengan mata terbelalak. "Dia bilang ceweknya siapa?"

__ADS_1


"Enggak. Dia gak bilang. Inisialnya pun kagak dikasih tahu. Ya, intinya cewek yang dia suka itu bukan kakak."


Hah, syukur, deh! Bisa berabe kalau Marcel jujur apa adanya. Berhubung raut wajah Kak Aya sudah tidak bisa terkondisikan, ada baiknya aku menutup topik pembicaraan seputar Marcel.


"Jadi, besok mau main ke mana?"


"Curug Indah Cimahi."


"CIC?" Aku mengulang singkatan lokasi tersebut dan Kak Aya pun mengangguk. CIC. Bukankah akses ke sana bisa melewati rumah sakit Kak Bagas?


"Gimana? Kamu mau gabung, gak?" ajaknya lagi meminta kepastian.


"Kak," panggilku yang lebih ingin mendengar detailnya sebelum menjawab ajakan itu. "Berarti nanti kita lewat mana?"


"Cisarua. Kenapa? Mau mampir ke kos-an Bagas?"


Aih, ketahuan, deh. Dia ingat tentang lokasi prakerin Kak Bagas ternyata.


"Dara boleh nebeng, gak?" Tidak mau berbasa-basi tentang niatku bertanya tadi.


"Memangnya Bagas gak dinas?"


"Justru karena Kak Bagas dinas makanya aku mau mampir," jawabku berseri-seri.


"Oh, ceritanya mau bikin kejutan, gitu?"


"Hm-m." Kepalaku mengangguk mantap.


"Ya, boleh, sih. Nanti kakak anter sampai sana."


"Ah, makasih." Aku menjerit kegirangan dan memberi Kak Soraya sebuah pelukan.


"Nebeng lagi, dong."


"Hah? Kenapa gak dianter Bagas?" Kak Soraya menepis pelukanku yang nyatanya membuat dia sesak.


"Kasihan, ah. Motornya baru servis, aku gak mau si moge sakit lagi. Keluar duit banyak soalnya."


Terdengar Kak Soraya mendecakkan lidah. "Moge prioritas kalian, ya, kayaknya."


"Lebih tepatnya prioritas Kak Bagas. Aku cuma gak mau motor kesayangan dia bikin repot pemiliknya lagi."


"Oke, deh. Besok kita berangkat jam tujuh pagi. Inget, kalau mau nebeng harus sadar diri!" Telunjuknya mengarah ke wajahku.


"Iya, iya. Dara bakalan sadar diri. Jam tujuh pagi bakalan udah bangun dan siap berangkat pokoknya."


***


Efek dari menepati janji, aku yang sudah siap jam tujuh pagi berhasil sampai di indekos Kak Bagas tepat jam delapan. Tidak ada moge di parkiran, artinya Kak Bagas sudah berangkat dinas. Takut masih ada orang dalam yang tersisa, terlebih dulu aku mengetuk pintu utama. Tidak sampai lima menit, sosok tetangga Kak Bagas pun mendekat dan membukakanku akses untuk masuk.


"Dara, ya?"


Dia masih ingat aku rupanya. "Iya, Kak Arman, kan?" Aku takut salah sebut namanya.


"Wah, masih ingat gue ternyata. Sini masuk, Ra!" Kak Arman berjalan mendekati sofa tamu, mempersilakanku masuk dan duduk di sana.


"Kalau gak salah, Bagas itu sif pagi." Kepala Kak Arman melongok keluar jendela. "Tuh, motornya gak ada. Lo gak dikasih tahu?"

__ADS_1


"Dikasih tahu kok, Kak. Dara datang tanpa ngomong dulu," jelasku malu-malu. Takut dinilai sebagai pacar yang posesif karena menyusul Kak Bagas kemari.


"Oh, mau buat kejutan." Dia seperti paham. "Gak jauh beda sama pacar gue ternyata," gumamnya sambil menganggukkan kepala. "Tapi lo punya kunci kamar Bagas, kan?"


Aku menggeleng sungkan. Iya, ya. Aku tidak punya akses memasuki kamar Kak Bagas.


"Lah, pintu kamarnya pasti dikunci." Kak Arman menunjuk pintu kamar Kak Bagas yang tertutup rapat.


"Iya, Kak, Dara gak punya kunci kamarnya. Kalau minta kunci dulu, nanti Dara ketahuan lagi datang ke sini." Bingung sudah. Kira-kira jalan terbaiknya bagaimana?


"Oh, ya, udah. Nanti gue tolongin!"


"Tolongin apa, Kak?" tanyaku kebingungan.


"Tolongin lo masuk ke kamar dia."


"Memangnya bisa, Kak? Kuncinya, kan, ada di Kak Bagas." Jangan-jangan dia mau membobol paksa pintu kamarnya lagi!


"Ah, elu! Seribu alasan bisa dibuat biar kunci Bagas datang."


"Ta-tapi alasannya jangan bawa-bawa Dara, ya, Kak." Aku sudah ketakutan duluan.


"Iya, tenang. Gue juga gak bego-bego amat, kok. Kalau, gitu, lo tunggu sebentar di sini. Gue susul Bagas ke rumah sakit buat ambil kuncinya."


Kak Arman langsung pergi, berkendara dengan motor maticnya. Dia menembus sinar matahari pagi menyusul Kak Bagas. Harap-harap cemas aku menanti. Memohon dengan kesadaran penuh kepada Tuhan, supaya Dia berkenan menyukseskan acara mengejutkan Kak Bagas di sini. Hanya Kak Arman yang bisa aku andalkan sebagai satu-satunya perantara.


Bagai doa yang disambut dengan sukacita, sosok si pembawa kunci pun datang dengan senyuman merekah. Hatiku berembus sejuta bahagia. Tanpa dijelaskan pun, aku sudah tahu kalau Kak Arman sukses membawa kunci tersebut.


"Nih!"


Tebakanku atas raut wajahnya seratus persen benar. Sebuah kunci berganci fotoku dan Kak Bagas diulurkannya dengan penuh percaya diri.


"Gampang banget ngubulin dia," ejeknya sambil tertawa.


"Kakak pakai alasan apa?" Tentu saja aku penasaran.


"Pinjam charger laptop."


"Hah? Serius? Sesimpel itu?" Tidak menyangka kalau alasan yang dibuatnya terlalu mendasar.


"Iya. Dia percaya dan kasih gue kuncinya." Kak Arman sampai tersenyum lebar karena sukses membawa benda yang aku inginkan.


Terlepas dari alasan yang dia buat, aku tetap harus memberinya ucapan terima kasih yang tulus.


"Makasih, ya, Kak. Udah berkenan bantu Dara."


"Sama-sama. Gih, istirahat di kamar Bagas. Lo pasti capek abis perjalanan jauh."


Aku mengangguk, mengucap terima kasih sekali lagi sebelum akhirnya berjalan mendekati pintu kamar Kak Bagas. Benda hasil pembohongan pun sudah masuk ke lubang kunci. Tanganku lekas memutar benda mungil tersebut. Cukup sekali tekanan dan aku berhasil membuka akses masuk ini.


"Astaga!" Spontanitas aku menjerit begitu melihat pemandangan yang ada.


Jeritan yang cukup melengking itu pun memancing Kak Arman mendekat ke belakang badanku. "Ada apa, Ra?" tanyanya pasti kebingungan.


Aku tidak berani menjawab. Pergerakanku hanya sebatas menggeser posisi tubuh, supaya dia bisa melihat pemandangan yang membuat mataku terbelalak.


"WOW!" Kepala Kak Arman menggeleng. " Bagas pasti mati di tempat kalau tahu lo datang, Ra. Gila! Berantakannya udah melebihi kandang sapi."

__ADS_1


***



__ADS_2