Pacar Bohongan

Pacar Bohongan
Strategi 1


__ADS_3

Kami selesai menyusun strategi untuk menumpas tuntas Klub BagasLovers. Rencananya strategi 1 akan kami luncurkan besok. Pada jam istirahat, di belakang gedung perpustakaan. Kak Bagas bilang kalau lokasi tersebut pernah dijadikan tempat perundungan Shafira. Sudah dapat kami yakini, mereka akan muncul di tempat yang sama, jika aku ikut bertandang juga.


Sungguh ini memang, lah, langkah nekat yang membutuhkan mental sekuat baja. Bermodal rasa percaya Kak Bagas akan memantau dalam jarak dekat, aku menyanggupi setiap poin yang kami rencanakan. Aku ikhlas, rela dijadikan umpan supaya tujuan menghentikan perundungan ini terlaksana tanpa kurang suatu apa pun.


"Dek, abang janji—"


"Iya!" Entah sudah berapa kali dia meyakinkanku dengan kalimat yang sama. Telingaku bahkan terasa berdenging, padahal dia belum menuntaskan ucapannya.


"Adek enggak marah, kan?" Wajahnya mulai mengikis jarak di antara kami.


Sayangnya, hal itu tidak berefek banyak lagi. Entah apa yang terjadi padaku. Setelah mendengar nama Shafira, degupan jantung yang biasanya bertalu perlahan mundur dan hilang dengan sendirinya. Hatiku kepalang yakin, dia melakukan ini karena dendamnya belum terbalaskan. Bagaimana pun alasan mereka berpisah bukan sudah tak lagi sayang. Siapa pun tidak akan rela, jika perpisahan hubungan mereka ada campur tangan orang lain di dalamnya.


"Adek baik-baik, aja." Berusaha tegar, aku mengulas senyum lebar.


"Deal, ya, kita mulai rencananya besok?"


Ajakan yang lekas aku sanggupi dengan anggukan. Lebih cepat selesai, lebih cepat terhindar dari bahaya, bukan? Mungkin sebagai penguat mental, aku akan meyakini setulus hati kalau Kak Bagas benar-benar akan datang dan melindungi di waktu yang tepat.


......***......


"Ris," panggilku berniat memulai sesi strategi.


"Hem?" Riska yang sibuk memasukkan alat tulis ke ranselnya menjawab tanpa memandang wajahku.


"Mau ke kantin?" Aku asal bertanya saja, sih.


"Iya, dong! Kenapa? Kamu pengen makan di sini?" Dia akhirnya memandang ke arahku.


"Hihi, enggak," sanggahku sambil menggelengkan kepala. "Hari ini, aku izin enggak makan bareng kamu, ya?"


"Ah, Elu! Pasti mau makan sama Bebeb, kan?" cibirnya yang sudah bisa menebak itu.


"Ibunya Kak Bagas udah siapin bekal nasi, tapi enggak langsung bisa makan juga, sih." Pura-pura aku memajang wajah sedih.


"Lho, emangnya kenapa?" Dia mendadak terlihat antusias, padahal topik yang kami bicarakan terdengar biasa-biasa saja.


"Kak Bagas mau ketemu Bu Nurmala dulu, katanya."


"Oh, ya, udah kamu ikut aku dulu. Nunggu Kak Bagasnya di kantin, yuk!"


"Enggak ... enggak," tolakku cepat. Bisa gagal rencana kami, jika aku mengikuti Riska sampai kantin. "Aku mau nunggu di perpustakaan, aja, Ris."


Keningnya terlihat mengernyit. "Kok, di sana? Tumben amat."

__ADS_1


"Ya, enggak tumben juga. Koperasi, kan, lebih deket kalau lewat koridor perpus."


Kepalanya mengangguk. Ucapanku yang memang benar adanya. "Kalau, gitu, mau berangkat bareng atau gimana? Nanti kita pisah di lapangan upacara?"


"Kayaknya kamu duluan aja, deh, Ris. Aku masih mager soalnya. Mau duduk agak lamaan dulu."


"Yakin, nih, mau sendirian di sini?" Tatapannya berubah menyelidik disertai senyum mistis.


"Iya. Aku mau di sini dulu."


"Ya, udah. Aku pamit ke kantin dulu, ya!" ucapnya penuh keramahan seperti biasa.


Aku memandangi punggung kepergiannya dengan hati teriris. Kebingunganku semakin bertambah karena hati ini terbagi menjadi dua sesi. Sesi satu, aku meyakini kalau Riska bukan orang yang tega menusuk temannya dari belakang. Sesi yang lain, aku sadar kalau kami belum terlalu mengenal dan paham sifat satu sama lain. Bisa saja dia menyembunyikan sesuatu, sama seperti aku yang menyembunyikan pacaran kontrak darinya.


Tak boleh larut dalam perasaan, lekas ponsel aku aktifkan. Mengirim sebuah pesan isyarat kepada Kak Bagas.


^^^Untuk : Abang ❤️^^^


^^^Riska udah pergi^^^


^^^Adek otw ke tempat 1^^^


Hanya berkisar dua detik, pesanku langsung dibaca dan dibalas olehnya.


Abang udah siap diposisi


Hati-hati Sayang


...***...


Strategi 1


Umpan : Dara


Mangsa : Riska


Status : Dimulai


Aku sudah berada di belakang bangunan perpustakaan. Lahan kosong yang sengaja dijadikan tempat pembuangan akhir itu dihinggapi banyak lalat dan bau tak sedap. Kursi dan meja yang sudah tidak layak pakai disimpan dan ditumpuk menjadi satu di sini.


Jujur, pertama datang aku merasa tak sanggup berdiri lebih lama. Gila saja. Bisa terluka hidungku, jika menghirup kebanyakan gas-gas sampah.


Aku menyempatkan diri untuk menguasai posisi. Mencari tempat berlindung yang aman sampai perundung itu datang. Otakku menghasilkan suatu ide yang brilian. Alih-alih bersembunyi di samping tempat pembuangan, aku lebih memilih membangun tempat persembunyian dari tumpukan meja dan kursi tak terpakai.

__ADS_1


Gerak cepat, aku menumpuk benda itu di pojok bangunan. Lokasi yang tidak terlalu dekat dengan tempat pembuangan. Posisinya cukup untuk menghalangi tubuhku dari penglihatan orang yang datang dari arah kiri. Semoga tebakanku tidaklah salah. Semoga mereka datang dari arah kiri, keluar dari koridor yang tadi aku lewati.


Lima belas menit mengambil posisi jongkok ditutupi tumpukan meja dan kursi. Aku baru menyadari, menunggu mangsa mematok umpan ternyata cukup membosankan juga. Hidungku sampai sudah beradaptasi dengan bau tak biasa ini.


Ponsel yang disimpan di saku kemeja tiada hentinya bergetar. Kak Bagas terus mengirimiku pesan demi memantau kondisi dan situasi. Tak ingin mengetik pesan berulang, aku memilih mengabaikannya dan fokus menunggu kedatangan para mangsa.


"Hah, seharusnya kami menambahkan tenggat waktu dalam strategi ini. Kalau kelamaan, alamat aku tidak makan siang."


Rasa sabarku perlahan mengendur. Pengawasan juga tidak seketat saat pertama aku datang bertandang. Entah kenapa aku begitu yakin Riska tidak akan menjebak dan mengirim orang-orang perundung itu ke sini. Hatiku selalu berkata tidak, tetapi otak selalu memaksa supaya tubuh ini melakukan hal yang sebaliknya.


Aku yang menolak mengomel karena panas, lapar, dan tak tentu perasaan, memilih menelepon Kak Bagas untuk mengoreksi strategi yang tengah berjalan. Tak perlu menunggu lama, panggilan pun lekas tersambung.


"Udah ada?" tanyanya yang kental akan panik dan khawatir.


"Belum," jawabku malas. "Kita tunggu lima menit lagi gimana?"


"Yakin, mau lima menit lagi?"


Dia terdengar ingin aku terus berjuang. Namun, aku sudah diambang batas rasa sabar. Tak mungkin bagiku menunggu mereka lebih lama dari ini.


"Lima menit, aja, ya? Adek enggak kuat, di sini panas banget." Faktanya memang begitu. Atap gedung perpustakaan tidak mampu melindungiku dari teriknya matahari dan keroncongan perut ini.


"Ya, udah. Adek tunggu di situ, ya? Abang jemput sekarang."


Aku mengiyakan lalu memutus sambungan. Letak perpustakaan dan koperasi memang berdekatan. Berjalan kaki pun tidak akan memakan waktu sepuluh menit. Aku hanya perlu menunggu mangsa lima menit lagi. Jika mereka tak datang hari ini artinya Riska terbebas dari gelar informan BagasLovers.


Benda mungil yang berhasil melaksanakan tugasnya itu, aku simpan ke saku kemeja lagi. Kepalaku perlahan tertunduk karena peluh di kening sudah mulai bercucuran. Panasnya memang bukan main hari ini.


Sedang asyik-asyiknya menunggu jemputan, telingaku menangkap derap langkah yang mendekat. Aku mengintip sedikit celah sembari memasang pendengaran rapat-rapat. Aku yakin kalau orang yang datang ini bukanlah Kak Bagas. Masa, iya, Kak Bagas berjalan begitu cepat? Belum sampai dua menit, aku memutuskan panggilan tadi.


Derap langkah itu berhenti tepat di sudut kiri bangunan. Dia memang datang dari koridor yang tadi aku lewati. Mataku lekas terbuat lebar dan hampir terbelalak. Aku perlu meyakini wajah yang datang sebelum mengakui kalau itu adalah ... Riska.


Napasku seketika tertahan disertai degupan jantung yang lebih kencang. Tak percaya pada kemampuan penglihatan sendiri, tanganku mengucek mata keras, lalu melotot lagi guna memastikan kalau dia memang benar Riska. Temanku, sahabatku, dan orang yang membelaku saat dicampakkan Arfan.


Aku masih fokus bersembunyi, tidak berniat mengejutkannya karena dia terlihat gelisah. Kepala yang celingukan itu seolah memberiku isyarat bahwa dia sedang mencari seseorang.


Terlihat tidak menemukan titik terang, Riska berujung menundukkan kepala, menengok ponsel yang menyala. Jemarinya begitu lancar menari di atas layar. Tak sampai semenit, Riska berujung mengangkat benda mungil itu dan menempelkannya ke daun telinga.


"Orangnya enggak ada," ucap Riska setelah terdiam beberapa saat. Suaranya terdengar berat, kesal, dan setengahnya membentak seseorang di ujung sana.


"Udah dijemput Kak Bagas kayaknya. Iya, nyebelin banget, kan? Gimana, dong? Gagal maning rencana kita!"


......***......

__ADS_1


__ADS_2