
Sudah seperti terikat. Kak Bagas menggenggam tanganku tanpa berniat melepaskannya sedikit pun. Jadi, terjebak di sini. Tidak bisa pergi ke lantai bawah untuk membawa barang apalagi makanan. Ya, hanya bisa berdoa saja di dalam hati. Semoga salah satu dari mereka peka dan mengirimkan kami makanan.
Aku menyudahi pemikiran tentang makanan karena usapan lembut di punggung tangan. Kak Bagas yang pucat sepenuhnya pun tersenyum lebar. "Kirain gak bakalan kayak gini lagi," gumamnya yang masih bisa tertangkap pendengaran dengan jelas.
Hah, untung diingatkan. Ada hal yang belum aku bahas dengannya. Saat di koperasi tadi, kami terlalu fokus membahas arah hubungan sampai melupakan masalah pekerjaan. Mumpung dia mengungkit tema itu, ada baiknya aku langsung melemparkan rasa penasaran.
"Kayaknya kerja bikin capek, ya?" Basa-basi terbaik yang aku punya.
Dia menatapku sayu. "Capek nahan rindu. Pak Abigail kirim kakak ke lokasi yang jauh. Kalau PKL-nya di sekitar sini, mungkin gak bakalan kayak gini."
Bagus. Saatnya melangkah ke topik selanjutnya. "Jauh gak jadi masalah asal sering ketemu. Hari Rabu sekarang kakak libur, kan?"
Umpan yang baik. Terlihat Kak Bagas mematung sekarang.
"Kenapa, Kak? Kok diem?"
"Hah! Kakak gak dapat libur, Sayang."
Tinggal selangkah lagi. "Kalau minggu depan dapet libur, gak?"
"Enggak juga." Gelengnya.
Yes. Tiba saatnya pertanyaan pamungkas keluar. "Kenapa gak dapat libur terus?"
"Kakak sengaja gak ambil libur biar nilainya A." Dia yang terkekeh membawa percikan sebal di hatiku. Baru juga tadi pagi berikrar janji untuk tidak menutupi apa pun. Sekarang, dia masih belum jujur tentang hari libur.
"Kakak bohong." Apa gunanya memancing kalau ujungnya dia tetap menutup-nutupi.
"Bohong apa?" Dia sedikit terperangah.
"Adek denger semua omongan kalian waktu di sana." Aku menunjuk ruangan Pak Abigail yang letaknya sejajar dengan UKS.
"Di sana, di mana?" tanyanya yang masih berusaha menutupi rasa terkejut.
"Di sana, di ruang Pak Abigail. Adek denger semuanya tadi. Kenapa kakak gak mau jujur terus?" Sudah mulai ada jeritan kesal di sini.
"Memangnya adek dengar apa di sana? Kami gak ngomongin apa-apa, kok." Masih mengelak juga.
"Kakak gak dapat off karena ketahuan bohong." Mendengar perkataan ini, dia pun membeku. "Kita udah janji bakalan saling terbuka kalau ada masalah—"
"Masalah ini gak ada sangkut-pautnya sama adek—"
"Ada!" semprotku tak kalah memotong omongannya.
"Sangkut-pautnya di sebelah mana, Sayang? Hm?" Beruntung karena dia tidak balik membentak.
"Kakak bohong, kan, karena Dara. Kakak bohong karena mau ke ulang tahun Dara. Kakak jadi sakit kayak gini karena ulah Dara. Kalau, aja, waktu itu Dara gak ajak makan malam. Kalau, aja, waktu itu Dara geser waktu makan malamnya, mungkin kakak gak bakalan kena hukuman." Mataku memanas lagi. Bagaimana bisa aku tegar seperti diawal? Kak Bagas sakit sekarang karena ada campur tanganku.
"Harusnya adek gak ganggu kakak, kan?" Air mata mengalir lagi dan kali ini dia ikut menyekanya.
"Ini, nih, alasan kakak gak mau terbuka," ucapnya masih dengan nada lembut yang sama. "Pasti adek khawatir, pasti adek nyalahin diri sendiri."
"Emang faktanya adek yang salah," sahutku masih ngegas.
"Kakak yang salah, Sayang. Coba diinget-inget lagi! Adek cuma minta kakak tuker off."
"Ih, sama aja," isakku. "Awalnya, kan, dari situ."
"Ya, kan, adek cuma minta kakak tuker off. Alasannya, kan, kakak yang buat. Tuker off itu boleh, kok. Yang gak boleh itu bohong demi tuker off. Jelas, kan, sekarang? Kakak yang salah di sini. Harusnya, kakak jujur ke pembimbing. Harusnya, kakak gak cerita ke siapa-siapa tentang rencana kita." Dia mengambil napas sebentar sebelum melanjutkan. "Kakak ambil hukuman karena merasa harus bertanggungjawab."
__ADS_1
Perkataan Kak Bagas masuk akal, sih, tapi aku tidak bisa berhenti menyalahkan diri sendiri juga. Tidak adil saja, jika dia yang menanggung segalanya sendiri.
"Udah gak usah dipikirin. Kakak baik-baik aja, kok."
"Baik-baik aja, tapi mimisan," cibirku sambil menepis tangannya yang mencoba mengusap sebelah pipi.
"Cuma mimisan, Sayang. Gak sampai pingsan, kok." Dia masih bisa berkelakar.
"Janji gak akan ditutup-tutupi lagi?" Aku mengacungkan jari kelingking.
"Janji gak akan terjun bebas lagi?" godanya.
"Kak, serius, nih!" Aku mulai melotot.
"Kakak juga lagi serius. Jangan mode terjun lagi, ya? Susah mau ngejelasin apa-apa, tuh!"
"Hm, janji," ucapku.
"Pulang, yuk?" ajaknya tiba-tiba.
"Pulang ke mana?" Maksudku, bukannya dia harus kembali ke Cisarua karena besok mulai bekerja?
"Ke rumah adek. Kakak kawal kayak waktu itu. Kalau kita pulang duluan juga gak akan bikin masalah. Pasti abis makan-makan mereka pulang."
Ya, iya, sih. "Tapi kakak udah baikan?"
"Udah. Kakak gak kenapa-kenapa."
"Ah, yang bener?" Mataku sampai menyipit.
"Iya, tadi emang pusing makanya mimisan, tapi sekarang udah enakan, kok," jelasnya sambil menggerakkan bahu.
"Gak usah. Kakak udah dapet suntikan obat, kok."
"Hih, gombal!" Tangan yang sedari tadi menggenggam, aku tepis keras.
Dia terkekeh. "Gombal apa?"
"Suntikan obatnya apa?" Sengaja balik bertanya.
"Dara yang jadi pacar kakak lagi."
"Tuh, kan, gombal." Aku mencubit lengannya pelan karena gemas.
"Iya, iya, kakak gak akan gombal lagi," ujarnya sambil menyentil hidungku. "Ayo!"
"Yakin mau ikut adek pulang?"
"Yakin, lah! Adek gak kangen dikawal kakak?" Dia malah mempertanyakan hal aneh.
"Ya, kangen. Cuma itu ... Kak Cecil pulangnya gimana?"
"Lah, malah mikirin dia!" Tangan Kak Bagas mengibas. "Nanti juga dijemput cowoknya."
"Cowoknya?" Terdengar asing dengan kata ini.
"Hm-m. Loh, Cecil belum cerita?"
Spontan kepalaku menggeleng.
__ADS_1
"Dia balikan lagi sama si Arfan."
"Serius?" Mataku terbelalak. "Serius, Kak, balikan lagi?" ulangku sampai menggenggam tangan Kak Bagas. Mencekal tubuhnya yang hendak turun dari bangsal.
"Kenapa jadi semangat gitu denger mereka balikan?" Getar-getar cemburu mulai terasa.
Aku tersenyum. Tidak mau mengelak dari penilaian Kak Bagas sekarang. Faktanya aku memang bersemangat. "Lebih tepatnya adek ikut berbahagia," kataku penuh keyakinan.
"Kok bisa bahagia? Mantanmu, lho, ini!" Dia terlihat tidak percaya.
"Justru karena dia mantan, makanya ikutan bahagia. Sekarang gak ada lagi yang bakal ganggu hubungan kita karena mereka udah punya prioritas dan kehidupan."
"Masa, sih? Yakin hati adek aman? Gimana pun Arfan balikan sama Cecil, lho. Mantan sama selingkuhannya bersatu lagi."
Ya Tuhan. Harus dengan cara apa meyakinkan Kak Bagas? Sudah kubilang, aku turut bahagia. Kenapa juga merasa hati tidak aman?
"Dara yakin bahagia dan hati aman, kok," kataku pada akhirnya. Entahlah. Aku juga bingung meyakinkan Kak Bagas. Hanya kata-kata ini saja yang mendadak melintas. "Kak Cecil keliatan banget sayang sama Arfan. Kasihan, aja, kalau cintanya terus-terusan bertepuk sebelah tangan."
"Kalau cinta kakak bertepuk sebelah tangan, gak?" Dia bertanya sambil menahan tawa.
"Kakak ngomong apa, sih?" Aku mulai gemas lagi, nih.
"Jawab, dong!" Dia yang sudah duduk sempurna, menarik tanganku hingga posisi kami berdekatan.
"Pengen jawaban apa memangnya?" Ya, kali sudah sejauh ini bertepuk sebelah tangan. Mana ada coba?
"Jawaban jujur," tandasnya.
"Gak mungkin bertepuk sebelah tangan seromantis ini."
Dia tersenyum. "Coba kasih kakak bukti."
"Bukti apa?" Kenapa makin ke sini, dia semakin menyebalkan, ya?
"Apa, aja, terserah."
Entah ada keberanian dari mana, aku mendekatkan wajah ke sebelah pipinya. Hingga dalam hitungan detik berikutnya, cup!
Hening beberapa saat karena kami sama-sama terbelalak. Sebentar, sebentar, i-ini ... ini ... tadi aku ngapain? Kenapa Kak Bagas syok begitu? Kenapa juga jantungku deg-degan? Ah, gila!
"Kelepasan ...." Aku langsung membekap mulut.
Kak Bagas masih diposisi yang sama, mematung dengan mata melotot. Bibirnya yang bergetar berusaha berkata, walaupun pelan. "Sayang ... a-ada CCTV, lho."
"Gak sengaja," kataku ditengah mulut tertutup dan kepala menggeleng kuat.
"Co-coba ulangi! Ini kecupan pertama kakak. Cepet banget, tadi udah kayak kilat."
"Kakak! Apaan, sih?" jeritku sambil menepuk pipi yang tadi terkena bibir.
"Bercanda," ujarnya sambil menggenggam tanganku lagi. "Sering-sering, ya, kelepasannya."
"Gak! Gak akan! Tadi beneran gak sadar! Udah, deh! Jangan dijadiin bahan candaan bisa, kan?" Bukannya meminta maaf, aku malah ngegas. Bagaimanapun tadi salah bibirku. Kak Bagas tidak meminta sama sekali.
Dia terkekeh geli, lalu mencubit pipiku gemas. "Iya, iya. Gampang ngambek, nih, sekarang. Janji, deh, kakak gak bakalan bahas itu lagi."
"Awas, lho, kalau dibahas lagi!" Seolah aku yang jadi korban.
"Enggak akan, Sayang. Janji!"
__ADS_1
***