Pacar Bohongan

Pacar Bohongan
BC 29 | Gelagat Aneh


__ADS_3

Kata sebentar yang dia ucapkan benaran ditepati dan terjadi. Aku melihat dari kejauhan sosok Prayoga berjalan mendekat. Penuh rasa penasaran, kepalaku menunduk supaya akses mengekorinya tidak terhadang benda sedikitpun. Pintu kemudi dibuka perlahan, dia yang masih berdiri semakin membuat rasa penasaran bertebaran. Lalu sedetik kemudian sesuatu yang tidak kusangka datang.


“Happy Birthday, Dara ….”


Mulutku langsung dibekap tangan sendiri.


“Happy Birthday, Dara ….”


Tidak terlalu merdu, tetapi cukup menenangkan batin yang galau.


“Happy birthday, happy birthday, happy birthday, Dara.”


Sekotak kue blackforest berukuran sedang tersaji di depan mata. Lilin-lilin magic berwarna-warni itu bahkan dibiarkan menyala seolah tengah menunggu pemilik hari bahagia meniupnya dengan sejuta doa. Aku terkejut, terlalu terkejut sampai bingung menentukan reaksi yang tepat atas perilakunya yang mendadak. Tidak menyangka, seorang Prayoga akan melangkah sejauh ini. Lebih dari kata menghibur, sih, pastinya.


“Tiup, dong,” perintahnya sambil tak lupa mengulas senyuman.


Aku mengangguk, bersiap menurut dan sudah melepas bekapan mulut.


“Oh, ya, jangan lupa buat permohonan.” Dia mengingatkan.


Kedua tangan lantas menangkup di depan dada. Setelah memberinya senyum penuh rasa terima kasih, aku mulai memejamkan mata dan memanjatkan bait-bait permohonan. Aku harap tiupan lilin ini menjadi penutup atas kesialanku hari ini dan di hari yang akan datang.


Doaku, aku ingin diriku, kedua orang tuaku, keluargaku selalu dalam lingkar kesehatan dan kebahagiaan. Tidak lupa juga, untuk orang terkasih, terlepas dari kesibukannya, aku hanya ingin diberi kekuatan dan rasa sabar yang tiada batas. Bagiku dia prioritas. Jika dia tidak bisa memberiku waktu, maka aku akan memberikan segala yang terbaik supaya Kak Bagas nyaman dan merasakan arti kebahagiaan. Satu hal yang menjadi penutup doa ditiupan lilin ini, aku ingin Prayoga bahagia. Aku berterima kasih padanya dan semoga Engkau memberi hadiah yang setimpal atas kebaikannya. Amin.


“Banyak yang kamu minta, ya, kayaknya.”


Entah ejekan atau candaan, aku menanggapinya dengan santai. “Maklum, Ga. Orang yang kusayang banyak. Jadi, harus disebutin semuanya.”


“Wah, beruntung banget ya, mereka. Kira-kira, saya termasuk orang yang beruntung gak, nih? Didoakan orang yang berulang tahun.”


“Hm … beruntung gak, ya?” Aku malah ingin menggoda dia yang sudah capek-capek memberiku kejutan.


Alih-alih memohon, Prayoga malah memberiku senyuman penuh kelembutan. “Kayaknya, saya yang bisa dibilang orang baru gak layak didoakan sama kamu.”


“Lah, kenapa berpikiran, gitu?” Dia sedang merendah atau apa, nih?


“Iya, lah. Saya juga sadar diri. Gak mau nyuri kursi orang. Seenggaknya, orang yang paling layak didoakan itu orang yang paling banyak memberikan kamu kesan dan kenangan. Contohnya, Kak Bagas.”

__ADS_1


Tunggu, kenapa getar suaranya terdengar kecewa dan merendah, ya? Kenapa dia terlihat sedih? Bukankah seharusnya dia tidak mempermasalahkan hal itu? Pasti diluaran sana banyak yang mendoakan dia, kan?


“Ah, Dara, kebiasaan.” Dia kembali memberikan sentilan di dahiku. “Bengong melulu. Tiup lilinnya, keburu habis nanti.”


Aku terkekeh. Baru ingat kalau lilin-lilin kecil di hadapanku belum meredup sedikitpun. Tidak ingin menunda keberkahan di setiap nyala api, aku mulai meniup lilin-lilin kecil itu satu per satu.


“Yeeee …,” sorak Prayoga setelah aku berhasil memadamkan api doa. Dia kemudian meletakan kue tersebut di pangkuan, lalu mengeluarkan sebuah kotak bergambar dan berwarna kemerahan.


“Apa ini?” tanyaku begitu menerima kotak tersebut.


“Anggap, aja, hadiah. Saya gak tahu hari ini kamu ulang tahun, jadi gak sempat beli kado yang layak.”


Anehnya, hadiah dari Prayoga malah membuat suasana hatiku menghangat. Kotak yang terbuat dari kardus bergambar ini berisi kembang api. Mainan yang biasa aku mainkan dikala tahun baru atau Hari Raya Natal. Mendadak kelebatan momen masa kecil terbayang memenuhi pelupuk mata. Tanpa sadar sebuah senyuman mengembang total di wajahku.


“Kenapa? Lucu banget, ya, hadiahnya?”


Kepalaku menggeleng cepat. “Unik dan … menarik.”


Aku mengakui cara jitunya dalam penghiburan diri. Memang, jika dibandingkan dengan uang hadiah dari Kak Aya, Mami, dan Papi, hadiah dari Prayoga ini tidak bisa dibandingkan nominalnya. Namun, mengingat dia yang berusaha keras menghiburku sampai kepikiran membeli kembang api, tentu saja aku bersyukur sampai ingin mengucap kalimat ini berkali-kali. “Makasih, ya, Ga. Makasih banyak.”


“Makasih itu kalau kamu suka hadiahnya,” gumam Prayoga terdengar hendak merendah lagi. “Hadiah dari saya, kan, gak ada apa-apanya, Ra.”


“Iya, Ra. Saya mau kasih kebahagiaan buat kamu.”


Aku mematung. Tidak lagi menyahut atau memberinya senyuman penuh rasa syukur. Ada hal aneh yang terasa saat Prayoga menatapku sekarang. Tatapan lekat dan dalam itu terasa tidak asing karena aku bisa mendapatkan dari Kak Bagas. Tuhan … tidak mungkin, kan? Prediksiku salah, kan?


“Ra!!” Lagi-lagi dia menyentil dahiku. “Lama-lama gemes sama kamu. Bengong terus kenapa? Pengin apa? Lapar?”


Buru-buru aku mengalihkan pandangan dan tertawa sumbang. “Iya, kayaknya mode lapar.”


Bicara kata lapar, aku jadi ingat kantung plastik yang sengaja diletakan di bagian atas dashboard. “Mau makan makanan tadi, gak?” tawarku. Ya, sekadar berbagi perjuangannya dalam menukarkan makanan.


“Memangnya boleh? Itu, kan, mau dimakan kamu sendiri."


“Ya, berhubung ada dua porsi dan kita di sini cuma berdua. Jadi, makan, aja, barengan. Gimana?” Hitung-hitung aku memberinya ucapan terima kasih karena sudah menemani sampai semalam ini.


“Ya, kalau kamu mau ngasih, sih, saya terima-terima, aja.”

__ADS_1


Lagak bicaranya seperti mau tak mau, tetapi gerak-geriknya menunjukkan kemauan penuh. Terlihat dia menyimpan kue ulang tahunku dengan hati-hati di dashboard mobil. Paham isyarat itu, aku yang tidak mau berbicara terlalu lebar lantas mengambil bungkusan makanan, memberikan seporsi kepadanya, dan sisanya untuk jatah makananku. Kami mulai larut dalam keheningan menyantap makanan.


“Ra,” panggilnya disela kunyahan mampu menembus keheningan kami.


“Hm?” sahutku tanpa mengalihkan pandangan dari kotak yang berada dalam pangkuan.


“Kasih bintang buat masakan mereka.”


“Kasih bintang? Kamu minta komentarku, serius?”


Maksudku, aku bukan chef yang jago dalam hal ini. Rasanya, tidak etis saja kalau meminta pendapat dariku perihal makanan.


“Serius. Saya biasa minta komentar tentang kafe dari temen-temen yang udah datang ke sana."


Ah, baiklah. Aku akan jujur tentang masakan yang baru saja mengisi mulut supaya terdampar di perut.


“Oke, aku mulai kasih penilaian yang apa adanya, ya.” Setelah melihat Prayoga mengangguk, aku pun melanjutkan ucapan. “Avocado salad-nya enak. Lumer di mulut, langsung masuk, aja, gitu. Kalau untuk Chicken-nya, sih, mungkin kurang dari segi pedas menurut aku.”


“Kurang pedas?” Prayoga mengulang tentang itu.


“Iya. Mungkin karena aku seneng banget pedes kali, ya. Makanya makanan ini kurang nampol.”


“Kamu membandingkan pedas ini sama pedas apa?”


“Seblak,” jawabku tanpa ragu dan tanpa berpikir dua kali.


Jelas saja hal itu membuat Prayoga tertawa geli. “Malah sama seblak. Ini, kan, western food, Ra. Ya, jelas kalah kalau dibandingin sama seblak."


Aku ikutan tertawa. “Iya, justru itu. Ada baiknya kamu tanya ke orang yang lebih paham. Kalau nanya ke aku sama, aja, bohong, Ga.”


Prayoga tidak berucap lagi. Dia tengah berusaha menetralisir geli supaya tidak tertawa semakin menjadi. Aku yang tidak ingin terlibat aksi bersitatap mencoba menyuap sisa-sisa makanan dalam kotak.


Beberapa detik berlalu cepat, hingga tanpa diduga sebuah tangan terulur dengan pasti ke arahku. Spontan kepalaku menoleh, bertepatan dengan jemari Prayoga yang menyeka sesuatu di ujung bibirku.


“Ada saus, Ra.”


Ucapan yang singkat dan teramat santai. Dia seakan lupa ada garis pembatas yang harus kami jaga. Dia seolah lupa kalau aku masih punya Kak Bagas.

__ADS_1


***


__ADS_2