
Aku memutuskan untuk membuntuti Riska. Keluar dari tempat persembunyian dengan berjalan perlahan. Dia penuh percaya diri mengitari gedung perpustakaan sebelah kiri, lalu besok ke arah kanan, tempat pintu utama gedung terbuka lebar. Jujur, ini cukup menegangkan. Aku takut ketahuan olehnya.
Dari kejauhan, mataku menangkap Kak Bagas. Dia berjalan dari arah koperasi bermaksud menjemputku di belakang gedung ini. Tak ingin Kak Bagas menyapa atau memanggil, aku lekas menempelkan telunjuk di atas bibir. Langkahnya seketika terhenti bertepatan dengan Riska yang memasuki pintu utama perpus.
Seolah paham isyarat telunjuk, Kak Bagas mengangguk pelan. Dia memberiku kebebasan untuk menyusul Riska ke dalam dan memilih memantau di jendela perpustakaan.
Takut kehilangan jejak tersangka, aku kembali berjalan bermaksud menangkap basahnya di dalam ruangan. Namun, niat itu akhirnya gagal total karena kami malah berpapasan di depan meja administrasi.
"Dara!" Tangannya melambai penuh senyum ceria. Dia bersikap seolah menemukan permatanya yang hilang.
"Ngapain di sini? Bukannya kamu di kantin?" Aku ingat betul tujuan utama makan siang di kantin.
"Iya, tadi abis dari kantin, terus nyusul kamu ke sini. Kamu abis darimana? Aku tadi keliling rak, lho, tapi kamunya engga ada."
Belibet sekali ucapannya. Untung aku cerdas, bisa menangkap inti pembicaraan itu.
"Ra?" panggilnya karena aku tidak bergeming. "Kamu abis darimana?"
"Dari koperasi." Aku menunjuk wajah Kak Bagas yang terpantau dari jendela. "Kamu kenapa nyusul?" Kembali aku menodongkan pertanyaan.
"Oh, itu. Mau kasih ini!" Dia mengeluarkan kotak kecil dari saku rok.
Berjaga-jaga karena takut itu sebuah jebakan, aku tidak langsung mengambil benda yang diulurkannya.
"Buat kamu." Riska mendorong lagi kotak itu.
Diiringi rasa segan, aku mengambil pemberian darinya. Dia terus menatapku, seolah memberi perintah supaya aku lekas membukanya. Perlahan aku mengambil napas dalam-dalam, mengumpulkan nyali untuk membuka kotak ini.
"Kejutan!" jeritnya tertahan karena kami sadar sedang berada dikawasan penuh keheningan.
Tertampak sebuah gelang saat aku membuka kotak. Gelang yang terbuat dari tali satin berwarna hitam itu dilengkapi liontin berbentuk bunga matahari.
"Ini apa?" tanyaku yang belum paham maksudnya.
"Dara ...."
Panggilan itu mampu menarik perhatianku untuk menatapnya serius. Dia menunjukkan gelang yang sama dan sudah memakainya di pergelangan tangan.
__ADS_1
"Aku tau kita baru kenal, tapi engga tau kenapa aku ngerasa sama kamu, tuh, ngobrol nyambung, aja. Kamu asyik diajak curhat, aku rela nunggu dan ngeliatin kamu pacaran, aku juga seneng dititipin makanan sama kamu. Aku pernah kehilangan sahabat dulu dan nemuin kamu di sini. Jadi sahabat aku, ya, Dara? Aku enggak akan pernah ngekhianatin kamu, kok. Riska janji!"
......***......
Prasangka burukku berkurang sedikit demi sedikit. Aku semacam menemukan keyakinan mendadak kalau prediksiku soal Riska tak bersalah itu benar. Namun, sebelum memutuskan hasil akhir dari strategi, aku harus menuntaskan rencana pertama ini sampai berhasil menemukan titik terang.
"Ris, kenapa kepikiran beli ini, sih?" Aku bertanya sambil menunjukkan gelang pemberian darinya. Lumayan cantik. Selera Riska yang simpel cocok denganku pokoknya.
"Enggak kepikiran, sih," akunya. "Aku cuma bantu beli jualan Putri."
"Oh, Putri jualan." Aku baru mengetahuinya.
"Iya, aku pesen sekitar tiga hari yang lalu. Beli dua biar couple sama kamu. Tadinya kejutan ini mau aku kasih di kantin. Putri juga udah nunggu di sana, tapi karena kamu milih Kak Bagas ... ya, oke, aku nyusulin ke sini."
Baik. Aku harus bertanya hal selanjutnya. "Terus kenapa kamu nyari aku di gedung belakang?"
"Oh, kamu liat juga?" Dia seperti tidak terkejut karena kedapatan berdiri dan menelpon seseorang di sana.
"Aku tadi liat kamu belok ke belakang bangunan." Alasan yang sungguh tidak masuk di akal.
"Iya, aku nyari kamu. Karena enggak ketemu, aku telepon Putri, deh!"
"Kak Bagas ke sini, tuh!" Dagu Riska bergerak, memberiku perintah supaya menoleh ke arah pintu perpus.
Benar, aku lupa ada Kak Bagas di sini. Dia sepertinya bosan sampai menyusulku kemari.
"Kenapa, Bang?" tanyaku dengan wajah tanpa dosa.
"Makan dulu, Sayang," ajaknya sambil menggoyangkan kotak bekal dari Ibunya.
"Astaga! Kalian belum makan? Lima belas menit lagi masuk, lho!" komentar Riska itu sukses membuatku melirik ke jam dinding jumbo di atas pintu.
"Belum. Dara malah bantu-bantu beresin koperasi."
Wah, si raja sandiwara beraksi. Sekali ucap saja, alasannya terdengar bisa dipercaya. Aku benar-benar harus memungut contoh darinya supaya sukses menjalankan misi tanpa takut ketahuan.
"Ya, udah gini, aja." Kak Bagas mengeluarkan kotak nasi berwarna merah muda dari tas bekal itu. "Makan di kelas, gih! Jadi kalau bel bunyi, Adek enggak perlu ribet lari."
Setelah memilih berpisah tempat makan dengan Kak Bagas. Aku berjalan didampingi Riska menuju kelas. Mungkin untuk sementara aku akan tetap memperhatikan dia, membuntuti ke manapun perginya, sampai gelar bukan mangsa disahkan oleh Kak Bagas.
__ADS_1
"Aku baru, lho, ditembak buat jadi sahabat." Kali ini aku aktif mengajak bicara karena ingin mengetahui lebih banyak tentangnya.
"Sweet, enggak?" tanyanya yang aku akui dengan anggukan.
"Waktu SMP aku punya sahabat. Sahabat deket banget." Dia mengalungkan tangannya di lenganku lalu kembali berkata, "Tapi dia nikung. Gebetan aku malah jadian sama dia, padahal dianya sendiri punya gebetan lain, gitu."
"Ris, aku juga nikung, kan? Kamu yang pertama bilang demen sama Kak Bagas."
"Eh, denger dulu!" perintahnya. "Parahnya, dia enggak cerita pacaran sama gebetan aku. Aku malah tau sendiri, Dara! Andai dia ngomong, mungkin aku bakalan ikhlas. Semacam kamu."
"Yakin, nih, kamu ikhlas liat aku sama Kak Bagas?" Aku menatapnya sanksi. BagasLovers saja tak rela, ya, siapa tahu dia juga sama.
"Yakin. Kamu orang baik, Ra. Aku dukung kamu sama orang yang sekarang, ketimbang sama yang dulu. Kamu berhak bahagia pokoknya." Ucapannya terdengar begitu tulus dan menghanyutkan.
"Aku, tuh, simpel sebenernya, Ra! Asalkan ngomong, aku bakalan terima. Kalau engga ada ucapan, ya, aku bakalan kecewa. Ngerasa enggak dianggap banget, gitu. Makanya, sekarang aku pengen bener-bener jadi sahabat kamu. Adanya gelang dan tembakan tadi biar aku diakui sahabat juga sama kamu."
Aku tersenyum, belum mau menentukan posisi yang tepat untuknya karena takut ditusuk dari belakang. Bagaimana pun, aku harus mendengar pendapat Kak Bagas, jika tak mau jatuh ke dasar jurang.
Lima langkah lagi, kami sampai di depan kelas. Riska tak hentinya menggandeng tanganku. Tanpa sadar, saat pandanganku melipir ke ruang guru, langkahku terhenti. Riska yang menyadari langkah terhenti ini, ikut menetap dan memandang ke objek yang sama.
Di sana, di depan ruang guru, sekelompok anak yang merundungku berdiri melingkar. Mereka seperti berbicara dengan seseorang yang punggungnya tak asing dari penglihatan.
"Kenapa, Ra?" tanya Riska.
"Itu siapa, sih?" Aku malah balik bertanya karena tak sabar.
"Mereka? Anak kelas XI."
Kepalaku menoleh karena Riska lebih tahu ketimbang aku.
"Kenalannya Putri."
"Putri?" Aku mengulang nama itu dan setengah tak menyangka. Pantas saja, rasanya punggung yang membelakangi kami itu terlihat lekat dalam ingatan.
"Putri," panggil Riska spontan.
Entah sebuah kebetulan atau memang fakta yang mengarah pada petunjuk baru. Sosok yang dipanggil Riska menoleh dan membalikan badan. Benar saja. Dia yang berdiri melingkar dengan dua orang perundung itu memang benar Putri.
......***......
__ADS_1