Pacar Bohongan

Pacar Bohongan
Nomor Tidak Dikenal


__ADS_3

"Kenapa ini anak? Pagi-pagi udah asem." Telunjuk Eren mengarah ke wajahku begitu memasuki kelas.


Riska yang datang lebih dulu, sudah mengetahui alasan dibalik muka yang ditekuk. Untung saja ceritaku tadi disimak dengan baik. Aku yang sedang dalam mode hening jadi memiliki juru bicara untuk menjawab pertanyaan Eren. "Dia diajak adu jotos sama Prayoga. Jadi, cemberut, deh."


"Adu jotos?" Eren terkejut. "Terus lo kalah, Ra?"


"Eh, sori, ya. Kagak ada menang dan kalah di sini." Aku bersungut-sungut. Tidak terima dibilang kalah, meskipun kami tidak benar-benar adu jotos.


"Lah, gue kira ada yang bonyok di sini," candanya sembari duduk di sampingku. "Ya, begini kalau cowok bocah ketemu cewek gak PEKA. Gak ada ujung."


Spontan Riska terkekeh, bertepuk tangan, sambil berkata," Yes! Bener. Gue setuju."


Aku yang duduk di tengah-tengah mereka lantas menatap sinis. Sungguh tidak habis pikir dan tidak mengerti. Apa maksudnya coba? Apa hubungannya cowok kayak bocah dengan cewek tidak PEKA-an?


"Nah, kan ...." Eren menunjuk wajahku lagi, kali ini sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Dia emang gak PEKA."


"Kasih tahu, Ren. Kasih tahu," timpal Riska yang masih setia terkekeh-kekeh.


"Ini apa maksudnya, sih?" Aku tersulut emosi lagi.


"Kamu sadar, gak, Ra? Setiap perilaku itu pasti ada alesannya?"


"Iya, aku tahu." Kepalaku manggut. "Tapi yang bikin aku gak paham itu alesannya Prayoga."


"Kamu udah tanya kenapa dia jadi nyebelin?" Riska bertanya.


"Udah. Tadi udah tanya, tapi jawabannya—"


"Dia suka sama kamu." Tamparan keras dari seorang Eren.


Aku terdiam selama beberapa saat, memikirkan dengan baik kemungkinan ucapannya. Namun, bukannya menemukan titik terang, aku malah merasa itu konyol. Alhasil, aku tersenyum geli.


"Nah, kan, baru sadar. Cie .... Dara seneng punya fans." Eren mencolek pipiku sambil menahan gemas.


"Bukan!" Aku menepis kekonyolan itu. "Gak mungkin dia suka sama aku. Dia begitu pasti karena punya dua muka." Bukankah itu yang dia katakan tadi? Aku lebih percaya pada ungkapan itu ketimbang pemikiran Eren yang pastinya meleset.


"Dia suka sama kamu, Ra." Eren mengulang kalimat yang sama seakan itu adalah kebenaran.


"Hah, kagak!" Jadi gemas sendiri karena dia tidak paham juga. "Prayoga sendiri tadi yang bilang kalau dia punya dua muka."


"Ya, gak bakalan ngaku, Ra! Gengsi tingkat dewa itu." Riska yang sebelumnya diam jadi ikut berkata. "Dia juga mundur alon-alon karena tahu kamu punya Kak Bagas."


"Nah, bener!" Eren menjentikkan jari karena pemikirannya didukung dengan baik. "Udah, mending sekarang kamu inget-inget kelakuan Prayoga sebelum berubah. Kali, aja, ada titik yang bikin kamu ngeuh kalau dia punya rasa."


***


Sial!


Tiada henti aku mengumpat sambil mengedikkan badan. Ucapan Eren dan Riska sukses mengganggu pikiranku. Sulit rasanya menyerap ilmu yang didapat di empat jam pertama masuk kelas karena banyaknya hal yang ingin aku ingat tentang perilaku Prayoga. Kepalaku sekarang malah dipenuhi tanda tanya yang meragukan diri. Apa, iya, aku sebegitu tidak PEKA? Apa, iya, dia begini karena suka? Apa, iya? Apa tidak? Apa, gimana? Astaga!


Untuk kesekian kalinya rambut menjadi lahan acakan. Benaran membingungkan. Bagai diminta mencari jarum dalam rimbunnya jerami. Sekeras apa pun berpikir dan mengingat, kalau perkara rasa aku tidak bisa menyimpulkan dengan cepat. Semua waktu malah terbuang sia-sia. Aku sampai tidak ikut mereka membeli makanan karena masalah konyol ini.


Seakan tahu pemikiranku terganggu, ponsel yang sedari tadi membeku pun bergetar hebat. Ada satu panggilan masuk dari orang yang selalu membangkitkan semangat di detik-detik keterpurukan. Siapa lagi kalau bukan Kak Bagas orangnya?


Ibu jariku menekan icon hijau dengan cepat. Tidak sampai semenit, layar yang semula memperlihatkan wallpaper ponsel berubah jadi wajah Kak Bagas yang full senyum. Napasku perlahan lebih lega. Bibir yang sedari tadi membeku pun ikut tersimpul karena menemukan secercah cahaya baru.

__ADS_1


"Kenapa?" Belum bertegur sapa dia langsung bertanya begitu.


"Kenapa apa?" Tentu saja aku tidak mau terbuka. Terlebih karena pemikiran Eren belum bisa dipastikan kebenarannya.


"Kayak kurang semangat, gitu."


Ah, bahkan dia yang jauh di sana juga menyadari hal ini. Benar, sih. Aku memang tidak PEKA, berbeda dengan Kak Bagas yang sekali lihat bisa langsung sadar.


"Siapa, nih, yang berani ganggu Ayangnya Bagas?"


Eee-ah .... Aku sukses tersipu. Bisa saja dia. Tahu benar kalau aku membutuhkan suntikan kegemasan. Ah, memang ada baiknya dia cepatan selesai. Sudah tidak mengenakan suasana di sini. Jabatan memang harus diberikan kepada orang yang sesuai.


"Sayang?"


Panggilan itu seakan menyadarkanku dari keheningan singkat. Pelan-pelan mataku mengerjap. Kembali menampilkan senyuman ringan, supaya dia berhenti mengkhawatirkan hal yang tidak penting.


"Serius, nih, gak akan cerita?"


"Gak ada yang harus diceritain, sih." Ya, kali menceritakan kisah ini ke Kak Bagas. Bagaimanapun Kak Bagas percaya kepada Prayoga. Sangat tidak menguntungkan jika kekompakan mereka terkotori hanya karena masalah sepele.


"Yakin? Kakak bisa, kok, jadi tempat berbagi. Waktunya juga cukup kalau Adek mau cerita sekarang. Setengah jam lagi sif kakak dimulai."


Hati yang berusaha terlihat baik-baik saja, berubah goyah. Sejenak aku berpikir cepat. Agak bingung juga kalau begini jadinya. Tidak cerita, takut dibilang tidak terbuka. Kalau cerita ... aku juga tidak bisa memprediksi hasilnya. Baiklah. Berhubung sudah ketahuan, aku akan bercerita untuk keterbukaan.


"Hm ... ini tentang temen adek." Bohong, sih, tapi mau bagaimana lagi?


"Temen?" Kak Bagas terlihat mengernyitkan kening. "Temen yang mana?"


"Itu ...." Aku berpikir lagi. Temen yang mana, ya? Siapa, ya? Ah, sudahlah. "Riska." Ya, itu saja.


"Bu-bukan, bukan." Buru-buru aku menenangkan karena takut kebohongan ini menyudutkan orang lain. "Dia ada cerita sama adek, tapi adek belum kasih kesimpulan karena bingung."


"Coba ceritain ke kakak. Barangkali kakak bisa bantu kasih saran."


Susah payah aku meredam cepatnya degupan jantung. Tangan yang memegang ponsel berubah gemetaran efek kebohongan yang tidak direncanakan.


"Iya, Kak. Jadi, Riska punya temen. Awalnya, dia baik sama Riska. Peduli, suka menolong, suka bercanda. Ah, pokoknya baik, deh."


"Hm ... lalu?"


Kak Bagas masih mendengarkan dan aku kembali melanjutkan, "Terus dia berubah jadi nyebelin. Suka bikin kesel, kek ngajak berantem. Riska bingung kenapa anak ini berubah tiba-tiba."


"Riska udah tanya alasan temennya berubah?"


"Udah." Aku menjawab pasti dan mantap.


"Apa alasannya?"


"Katanya, sikap asli dia memang begini. Dia memang punya dua muka." Selesai. Inti cerita sudah aku ungkapkan dengan baik dan benar.


Terlihat tidak ada reaksi berarti dari Kak Bagas. Dia seperti menelaah dulu, membayangkan situasi sebelum akhirnya memberi kesimpulan. "Kayaknya, dia suka sama Riska."


Sorot tatap Kak Bagas berubah membingungkan. Dia seperti menahan keinginan untuk menginterogasi. Ada sinyal dingin yang tertangkap hati. Ah, apa aku sudah ketahuan?


"Sayang?"

__ADS_1


"Ya?" Aku mengerjap untuk menyadarkan diri.


"Menurut Adek, cowok itu gimana?"


"Gimana? Apanya?" Arah pembicaraan ini ke mana, sih?


"Ya, menurut Adek cowok itu cocok buat Riska, gak?"


"Enggak." Kepalaku menggeleng pasti.


"Lah! Bukannya kata Adek, dia baik, suka nolong dan bercanda. Kenapa gak cocok buat Riska?"


"Riska punya yang lebih baik dari dia."


"Serius?"


Anehnya, aku melihat rona merah di pipi Kak Bagas. Dia yang semula menatap dingin berubah jadi menahan geli. Ah, sudahlah. Sepertinya, dia memang sudah tahu kalau cerita ini bukan tentang Riska, melainkan tentang aku.


Jawaban untuk pertanyaan terakhir Kak Bagas sontak tertahan. Sambungan video call pun mendadak terhenti karena ada satu panggilan masuk.


"Siapa, nih?" Keningku mengernyit. Bingung karena tidak seperti biasanya ada panggilan masuk dari nomor tidak dikenal.


"Kenapa, Ra?" Suara Putri tiba-tiba terdengar dari arah belakang. Mereka yang tadi pamit membeli makanan, sudah pulang dengan berbagai tentengan.


"Kak Bagas?" Riska juga ikutan bertanya setelah melihat layarku menyala.


"Bukan." Aku menjawab penuh keyakinan. Tidak mungkin ini nomor Kak Bagas. Kami baru bertukar telepon tadi dan nomornya tidak berubah sama sekali.


"Angkat aja, Ra. Penting kali." Putri memberi saran.


"Angkat gak, ya?" Mendadak diterpa kebingungan, padahal mengangkat telepon itu mudah.


"Mendingan angkat, deh. Takutnya penting itu."


Dua saran yang kuterima berhasil menarik keberanianku untuk mengangkat telepon. Setelah mengatur napas dua kali, ibu jariku mulai menekan layar sampai panggilan itu terhubung.


"Ha-halo?" sapaku ragu dengan jantung berdegup. Tidak punya utang, tidak kenal rentenir, tapi aku tidak memiliki nyali menjawab panggilan ini. Dasar aneh!


"Halo!"


Suara merdu. Perempuan. Siapa ini?


"Siapa?" bisik Putri sambil mencolek pundakku.


Aku enggan memberi ketidakpastian. Tangan yang terbebas dari ponsel langsung mengapung di udara, pertanda ingin menahan mereka bertanya.


"Ya, ya, halo?" Aku mengulang sapaan karena ingin dia sendiri yang memperkenalkan.


"Ini Dara, kan?"


Lah, dia tahu namaku.


"Iya, betul. Ini siapa, ya?" Masih kaku, dingin, dan ketus. Enak saja dia tidak memperkenalkan diri, padahal tahu ini nomorku.


"Saya Ester, Dara. Mamanya Bagas. Mama mertuamu."

__ADS_1


***


__ADS_2