Pacar Bohongan

Pacar Bohongan
Video Call Massal


__ADS_3

Kami menggeser posisi kursi, langsung mengosongkan ruangan karena berniat duduk lesehan. Beberapa anak yang sudah datang bergegas mengambil lahan masing-masing. Bukan tanpa alasan aku duduk di samping Prayoga. Kami berniat memberitahu mereka perihal permintaan Pak Abigail yang tidak masuk di nalar. Bukankah di saat seperti ini kami harus bekerjsama? Saling meringankan beban ketua pengganti yang tanggungjawabnya lebih dari ketua inti.


Prayoga yang lebih dulu memaparkan keinginan Pak Abigail. Tidak jauh berbeda dengan reaksi kami, para anggota pun turut tidak terima mendengar perintah yang serba dadakan itu. Hitungan detik selanjutnya, seisi ruangan heboh karena meminta penjelasan.


“Saudara-saudara, harap tenang!” teriak Prayoga demi menembus keriuhan mereka. “Boleh bertanya, tapi giliran!” Mendengar penuturan itu mereka pun terdiam. “Oke, siapa yang mau bicara? Acungkan tangan duluan!”


“Ini serius?” Dion bicara setelah mengapungkan tangannya.


“Serius,” ucapku dan Prayoga hampir bersamaan.


“Jadi, kita harus mulai dari nol lagi?” Kali ini Eren yang ambil bagian.


“Ya, betul,” balas Prayoga.


“Sebentar-sebentar ….” Riska ikut bersuara. “Pak Abigail minta konsepnya berbeda dari tahun lalu, kan?”


“Ya.” Aku dan Prayoga kembali menjawab berbarengan.


“Gimana kita tahu konsep tahun lalu? Masuk sekolahnya, aja, baru tahun ini,” komentarnya yang membuat pikiranku terbuka.


Ada benarnya juga. Bagaimana kami tahu tentang konsep tahun lalu, sedangkan kami masih siswa baru? Bukankah wajar jika ada kesamaan? Pemikiran semua orang bisa saja serupa terlebih karena ini acara pekan olahraga dan seni.


“Saya juga sempet mikir itu sebelum datang ke sini.” Prayoga berusaha menangapi anak buahnya. “Kita cuma punya satu solusi sekarang.”


“Apa, tuh?” tanya mereka serempak.


“Bertanya pada orang yang tepat.”


Aku tertegun. Sedikitnya ucapan dia mengingatkanku pada seseorang. Jangan bilang kalau dia mau---


“Kita hubungi Kak Bagas dan---“


“GAK BISA!” sambarku dengan mata terbelalak.


“K-kenapa, Ra?” Prayoga menatap bingung.


“Kamu yakin mau hubungi dia?” Aku balik bertanya.


“Iya. Kak Bagas yang bisa bantu kita karena dia ketua.”


“Dia bukan satu-satunya solusi, Ga.” Aku bersikeras mempertahankan pilihan untuk tidak menghubunginya.


“Iya, memang. Kak Bagas memang bukan satu-satunya orang yang tahu tentang acara PORSENI tahun lalu. Saya juga udah hubungi Kak Cecilia, tapi dia dinas sore hari ini. Cuma Kak Bagas yang libur---“


“Libur? Bukannya sif pagi ya, Ra?” Suara Riska menyela obrolanku dan Prayoga.

__ADS_1


“Iya, Dara bilang tadi kalau Kak Bagas sif pagi.” Putri juga ikut-ikutan.


Mataku terpejam. Belum sehari penuh, tetapi kebohonganku sudah terbuka dan di depan umum pula. Tuhan bagaimana ini? Ingatan ketiga temanku tidak mungkin menghilang. Masa, iya, aku harus mengakui fakta? Masa, iya, aku harus memberitahu mereka kalau kami putus? Lagipula kenapa hari libur dia berganti? Bukannya kemarin terus hari Rabu? Kenapa tiba-tiba menjadi hari Senin?


Tiba-tiba terdengar kekehan dari lawanku bicara. “Ah, iya, itu … Kak Bagas sif pagi. Saya lupa. Salah bicara.”


Kenapa? Kenapa jadi dia yang memberi klarifikasi? Aku yakin Prayoga tahu kalau di sini yang berbohong itu aku.


“Jadi, gak masalah kan, Ra? Kita hubungi Kak Bagas buat nanya tentang konsep tahun lalu?”


Napasku berembus berat. Jika sudah begini, apa aku bisa menolak? Apa kata mereka kalau aku bersikukh tidak mau menghubungi orang itu?


Alhasil, penuh keterpaksaan aku mengangguk. Bukan hanya aku yang diminta memberikan pendapat. Setelah mengantongi persetujuan dariku, dia juga meminta pendapat kawan yang lain. Tidak membutuhkan waktu lama, acara menghubungi ketua OSIS sebenarnya pun digelar karena suara terbanyak jatuh kepada ide ketua pengganti.


Layar proyektor yang sudah menyala terhubung ke laptop Prayoga. Kami berniat menghubunginya via WhatsApp desktop. Sengaja tidak melakukannya via ponsel, supaya wajah Kak Bagas bisa dilihat manusia seisi ruangan. Posisi dudukku sudah tak menentu, seringkali berubah sambil menunggu panggilan tersambung. Kepalaku bahkan tertunduk dalam, melihat kedua tangan yang gemetaran. Jari-jarinya bahkan sudah berwarna keputihan, terasa menggigil dan kebal. Ini lebih gila dari berhadapan dengannya secara langsung.


Tanpa terduga, sebuah tangan mencolek lenganku. Tidak mengerti dengan isyarat yang dia buat, aku pun mendongak dan melihat langsung wajahnya.


“Apa?” tanyaku pada Prayoga si tersangka yang membuat colekan.


“Tuh,” jawabnya sambil menggerakkan mata, supaya aku melihat ke arah layar.


Entah sejak kapan panggilan tersambung, tapi yang pasti wajah Kak Bagas sudah memenuhi layar. Dia melihatku, ke arahku. Astaga. Ingin rasanya menjerit di sini. Tidak munafik, kok. Terlepas dari dia menyakitiku atau tidak, aku tetap saja merindukannya. Kelebatan bahagia yang dia ciptakan tidak semudah itu membuatku lupa. Terlalu banyak kenangan manis, walaupun hubunganku denganya tidak selama hubunganku dengan Arfan dulu.


“Dara ….”


Sukses napasku tercekat. Tidak terduga. Dia malah melafalkan namaku.


“Kenapa diem terus?” Dia berusaha menampilkan senyum. “Semua orang udah nyapa kakak.”


Tidak. Aku tidak bisa. Menyapa sama dengan berbicara. Artinya, tangisku bisa saja pecah.


“Terlalu kangen Kak Bagas kayaknya. Jadi, Dara diem terus.”


Entah apa yang merasuki Riska, tapi aku cukup berterima kasih karena dia sudah berbicara mewakiliku.


“Kakak, sih, gak pulang-pulang. Jadi, Dara kangen, kan. Harusnya Kakak pulang biar Dara senyum lagi.”


Kali ini, aku ingin menarik rasa terima kasih itu. Putri yang ikut-ikutan bicara malah semakin memperberat keadaan. Terdengar kekehan ringan dari Kak Bagas. Rupanya sinyal membuat pendengaran dan ucapan orang tidak sinkron, sehingga Kak Bagas agak terlambat dalam merespons.


“Hah!” Dia mengembus berat. “Kalau boleh jujur … kakak juga maunya pulang sekarang, biar bisa kumpul bareng Dara lagi.”


Aku menunduk. Kali ini demi menyembunyikan air mata yang menetes. Rok sepan keabuan sudah menjadi bahan remasan. Aku tidak kuat lagi, bagaimana cara supaya bisa lari dari situasi ini?


Selembar kertas terulur dari tangan yang tadi memberiku colekan. Ada sebuah perintah yang tertulis jelas di sana. AMBIL CHARGER LAPTOP DI KELAS SAYA!

__ADS_1


***


Lorong menuju kelas Prayoga yang menjadi saksi pertahananku memudar dan pecah. Kondisi terisak dan bercucuran air mata, aku masih berusaha menguatkan langkah, supaya bisa secepatnya sampai di tujuan. Ada tugas mengambil charger yang harus segera diselesaikan.


Tanganku mendorong pintu kelas X-D perlahan. Membiarkan akses masuk terbuka lebar karena situasi kelas sudah tidak ada orang. Berbekal mata sembab, aku menyusuri ruangan, memeriksa di setiap barisan, supaya cepat menemukan benda milik Prayoga. Nyatanya sekeras apa pun mencari, barang yang diperlukan itu tidak tertangkap pandangan.


Perhatianku berusaha teralih. Masih terpaku di kelas ini, aku merogoh ponsel dan menekan layar. Ada pesan dari Prayoga dan Kak Bagas. Tidak mau konsentrasi pada pencarian charger buyar, aku mengabaikan pesan dari orang terkasih dan memilih menekan profil Prayoga.


Dari : Prayoga


Saya kasih waktu setengah jam di sana. Puas-puasin sakit hati, habis itu balik lagi. Saya butuh kamu yang profesional, Ra.


Malunya setengah mati. Ketahuan juga rupanya. Sudah disembunyikan habis-habisan, tetapi pada akhirnya terbuka juga.


"Elu, sih, gak bisa profesional. Jadi ketahuan, kan!" Aku memukul dadaku karena gemas.


Bagaimana ini? Apakah benar cuma Prayoga yang melihat gelagat anehku? Bagaimana kabar yang lain? Takut saja mereka juga berpikiran serupa.


"Udah, udah, udah, udah ...!" teriakku sudah seperti manusia kehilangan akal. "Udahlah! Kalau mereka mikir putus, ya, udah. Mau gimana lagi? Toh, emang bener udahan. Kamu nutup aib dia kayak ngarepin balikan."


Memang faktanya aku mengharap bersama lagi. Astaga benar, ya. Mulut memang mudah berucap, tetapi hati sulit menerima kenyataan.


Setengah jam yang diberikan Prayoga, aku gunakan dengan sebaik-baiknya. Lebih ke aktivitas menata hati. Ruangan yang sepi memang menjadi fasilitas terbaik, sehingga memberi ketenangan batin yang maksimal. Merasa sudah lebih percaya diri, aku mulai bangkit dari kursi di barisan akhir. Tidak boleh istirahat lebih dari waktu yang diberikan. Masih ada tugas dan tanggung jawab yang harus dituntaskan.


Akses memasuki kelas kembali ditutup perlahan. Kakiku melangkah bersamaan dengan ponsel yang diangkat ke depan wajah. Benda mungil ini terus-menerus bergetar. Panggilan masuk dari orang yang mengirimiku pesan pun datang. Sepertinya, sesi video call dengan anggota sudah selesai. Dia yang terbebas dari sambungan mereka langsung menghujaniku dengan panggilan juga.


Aku mengabaikan, terus berjalan menyusuri lorong, supaya sampai di ruangan rapat. Tidak ada gunanya mengangkat telepon dari dia. Aku benaran tidak ingin lagi bicara, pokoknya. Bentuk dari penolakan panggilan, benda mungil yang sudah berhari-hari menjadi sasaran kekesalan kembali masuk ke saku seragam.


Jarak menuju ruangan rapat tinggal tersisa beberapa langkah lagi. Bukannya bergegas, aku malah mematung karena mendapati sosok Prayoga di ambang pintu. Dia tersenyum, melambaikan sebelah tangan seakan tengah memberi salam sambutan.


"Udah?" ujarnya kembali menyimpan lambaian tangan karena aku tidak memberi tanggapan.


"Udah. Makasih," kataku.


Dia sontak mendatangiku, mengabaikan fakta kalau seharusnya aku yang datang ke sana dan memasuki ruangan. Begitu kami berdiri berhadapan, dia kembali mengucap beberapa patah kata. "Jangan terlalu benci ke Kak Bagas."


"Benci apaan? Kalau benci, aku gak mungkin ngelihat wajah dia tadi." Jujur aku tidak terima. Berani sekali dia memberiku wejangan semacam itu.


"Kenapa harus sewot, Ra? Saya, kan, cuma asal ngomong."


Hah! Ya, gimana tidak nge-gas? Dia bicara menyinggung mental yang berantakan. Wajar saja aku bereaksi demikian.


"Maksud saya, jangan terlalu benci! Dia pasti punya alasan tersendiri, makanya membebaskan kamu untuk lari sementara waktu."


***

__ADS_1


__ADS_2