Pacar Bohongan

Pacar Bohongan
Bertemu Mami


__ADS_3

Pintu pagar sudah dibuka selebar motor, sebelum masuk pekarangan aku menyempatkan diri untuk menawarkan. "Kakak mau mampir?" Siapa tahu saja dia berniat istirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke Cisarua.


"Iya, lah. Sebulanan ini gak nyapa mami. Takut dipecat jadi calon mantu."


"Ck! Calon mantu apaan, sih?" cibirku sambil menyipitkan mata. Wajah sudah pucat begitu, tetapi kadar candaan Kak Bagas tidak berkurang sedikitpun. Alhasil aku menyetujui keinginannya untuk mampir.


Gerbang pun dibuka dua kali lebih lebar. Kami memasuki pekarangan rumah dan memarkir motor secara berdampingan. Tidak terdapat tanda-tanda keberadaan motor Kak Aya. Dia terpantau belum pulang, padahal hari sudah mulai petang.


Aku berhenti memikirkan keberadaan kakak satu-satunya karena tangan Kak Bagas sudah menggenggam tanganku erat. Masih mengaktifkan mode kangen-kangenan sampai berjalan pun wajib bergandengan tangan.


"Tunggu ya, Kak. Adek cari Mami dulu," pesanku begitu kami memasuki ruangan depan.


Kak Bagas menurut. Langsung mengambil sedikit lahan di sofa panjang, lalu menyandarkan punggungnya dengan tenang.


"Kakak mau minum apa?" tanyaku sebelum memasuki rumah lebih dalam.


"Sedikasihnya, aja," ucapnya.


Baiklah. Berhubung kondisi dia sedang tidak enak badan, ada baiknya aku menyiapkan teh hangat. Sementara waktu mengecualikan jus atau minuman dingin sampai Kak Bagas terlihat sehat dan bugar.


"Mami," sapaku girang karena menemukan orang yang ingin ditemui Kak Bagas. Pantas saja beliau tidak menyambut kepulangan si anak bungsu. Ternyata memang sedang berjibaku memasak untuk makan malam.


"Lho, Ra? Kirain bakal pulang malam," kata Mami. Jelas sekali beliau terkejut mendapatiku pulang sore hari.


"Dara izin pulang lebih awal karena Kak Bagas sakit." Memang begitu faktanya. Niat hati ingin menunggu tim selesai makan, tetapi Kak Bagas memaksa pulang duluan. Untung kondisinya diketahui banyak orang, jadi kami tidak perlu kerepotan membuat alasan.


"Bagas? Bagas ke sekolah?"


"Iya ...." Aku mendekati Mami, membuka pintu salah satu lemari pantri untuk mengambil cangkir.


"Ikut kamu ke sini, gak?" tanya Mami lagi sambil memperhatikan gerakan tanganku yang hendak menyeduh teh.


"Tuh, ada di depan. Mau jenguk Mami, katanya." Aku menggerakkan kepala ke arah depan.


"Kok malah jenguk mami? Masa orang sakit jenguk orang sehat?" cerocos Mami yang dipenuhi getar khawatir. Beliau terlihat mematikan kompor, menyimpan pisau, lalu tergesa menghampiri Kak Bagas di ruang depan.


Aku yang melihat kepedulian Mami hanya menggeleng tidak percaya. Hah, memang dasarnya calon menantu. Dapat kabar sakit sedikit langsung ditemui. Acara memasak pun dibiarkan terjeda karena penasaran dengan kondisi pacar anaknya. Tentu saja aku tidak mau kalah dengan Mami. Tancap gas ikutan masuk ke ruang depan sambil membawa secangkir teh manis hangat untuk Ayang.


"Gas, katanya kamu sakit?" Pertanyaan Mami terdengar saat aku sampai di dekat mereka.


"Sedikit gak enak badan, Mi—"


"Tadi juga mimisan," selaku karena sepertinya dia tidak ingin Mami tahu.


"Lho, kenapa gak istirahat? Tubuh, kan, udah kasih tanda. Kamu disuruh rebahan itu." Mami benar-benar mengkhawatirkannya.


"Gak bisa, Mi." Kak Bagas menggeleng sambil nyengir. "Bagas harus kejar Dara biar gak marah lagi."


"Astaga. Segitunya banget, Ra. Kamu marahin Bagas?"

__ADS_1


Nah, kan, jadi aku yang kena.


"Marahin, sih, enggak. Cuma kasih pelajaran aja." Tidak ada yang membela, lebih baik membela diri sendiri.


"Kasih pelajarannya lama lho, Mi. Chat gak pernah dibaca. Bagas telepon gak pernah diangkat. Mau cerita apa-apa jadi susah. Akhirnya, Bagas susul ke sekolah."


Dasar! Jadi, ini alasan dia mau bertemu Mami? Mau mengadu sudah diperlakukan buruk olehku. Benar-benar, ya. Pintar sekali cari perhatian.


"Duh, Ra. Jangan setega itu dong kamunya. Kasihan Bagas. Udah kerja capek, kamunya gak ngertiin."


Ya Tuhan. Malah semakin dibela.


"Mami," jeritku sudah ingin memprotes semuanya. "Semuanya juga berawal dari dia. Coba kalau waktu itu gak minta break."


"Nah, kamu sekarang!" Mami beralih menengok Kak Bagas. "Kenapa minta break segala? Pantesan mami gak pernah lihat kamu main ke sini lagi."


Kali ini aku bisa tersenyum lebih lebar. Mudah sekali memutar keadaan untuk mencari pembenaran.


Sayangnya, dia yang ingin aku jatuhkan malah terkekeh. "Bagas waktu kemarin sok-sokan, Mi. Sok bisa hidup tanpa Dara. Tahunya malah galau. Gak kuat jauhan lama-lama."


"Hah, kalian." Mami geleng-geleng. "Lebay banget."


"Bukan lebay, Mi. Bagas beneran sayang," sanggahnya.


"Kalau beneran sayang gak mungkin minta break."


"Nah ...." Aku senang Mami berbicara begitu.


"Janji, ya?" tanya Mami lagi dan Kak Bagas mengangguk sambil tersenyum. "Hah, udahlah. Gak akan selesai kerjaan kalau terus gabung sama kalian. Mami masak dulu, ya."


"Mami masaknya nanti, aja. Bagas masih kangen."


"Kamu kangen Dara kali. Masa kangen Mami," balas Mami sambil berlalu dari ruang tamu.


Lepas dari perhatian Mami, tanganku berlanjut memukul lengan Kak Bagas.


"Sakit, Sayang," ucapnya pelan sambil mengelus lengan yang menjadi sasaran.


"Puas! Suruh siapa ngadu?" Aku tidak dihantui rasa bersalah sedikit pun.


"Tadinya kakak mau aduin yang cium pipi."


Sukses mendapat pukulan kedua. Berani sekali dia kalau benar membuat pengaduan. Bisa digorok depan umum kalau sampai Mami tahu.


"Bercanda, Sayang," tawanya sambil menangkis pukulanku. "Sini! Duduknya, kok, beda kursi? Jangan jauhan bisa?"


"Hih, udah kayak lem. Nempel mulu." Mulut memang bicara begitu, tetapi hati menggerakkan tubuh untuk duduk berdekatan dengannya. Jadilah kami yang duduk di sofa yang sama.


"Kakak seneng mami gak marah," ucapnya pelan karena takut terdengar ke belakang.

__ADS_1


"Adek gak cerita soal kita." Tidak terbayang kalau aku bercerita ke mana-mana. Pasti Mami akan salah paham.


"Hm, makasih udah jaga privasi hubungan kita."


Aku tersenyum. "Makasih udah datang ke hidup adek lagi."


"Gak bisa pergi." Dia menggeleng. "Hidup kakak kayak ada yang kurang."


"Mulai lebay," ejekku sambil menepuk lembut punggung tangannya.


"Serius," ujarnya mantap. "Sayang?"


"Hm?" Aku memandangi wajahnya lekat.


"Pijit di sini boleh?" Dia menuntun sebelah tanganku untuk memijat bagian kening.


"Masih sakit, ya, kepalanya?" Cepat-cepat aku indahkan untuk membuat pergerakan. Pijatan lembut aku mulai meskipun posisi kami tidak terlalu menguntungkan.


Andai saja bisa bergerak bebas. Mungkin aku akan meminta Kak Bagas merebahkan kepalanya di pangkuanku. Sayang, aku belum berani melangkah ke arah sana. Takut ada sesi kelepasan kedua dan dilihat Mami juga.


"Kakak nanti pulang gimana?" Kekhawatiranku bermunculan mengingat jarak yang akan dia tempuh tidaklah dekat.


"Naik moge, pasti," ucapnya dengan mata terpejam.


"Maaf, ya, kalau pijatannya gak enak. Adek gak biasa soalnya." Apalah daya? Tanganku tidak pernah bergerak untuk memijat seseorang.


"Enak, kok. Kalau jadi tukang pijit kayaknya laku, Dek."


"Sembarangan," semprotku sambil menepuk lengannya. Masih saja luwes bercanda, padahal kepala sudah oleng.


Tak berapa lama kemudian, kedua matanya terbuka. Ada guratan merah di bagian sclera mata. Semakin merasa khawatir karena warna kemerahan itu seakan menjadi pertanda bahwa kepalanya memang kesakitan.


"Mau minum obat?" tawarku tidak mau menyerah. Minimal dia harus meminum obat pereda nyeri.


Namun, tetap saja. Dia menolak seperti tadi. "Biasanya kalau udah mimisan suka baikan. Paling juga cuma pusing sebentar," terangnya yang tidak berhasil membuatku nyaman.


"Oke, kalau gitu Kakak minum dulu." Secangkir teh hangat aku ulurkan ke hadapannya.


Dia menurut, tidak banyak bicara dan langsung minum saja. Selama beberapa saat Kak Bagas larut dalam menikmati teh hangat buatanku. Keheningan di antara kami seketika memudar karena menangkap suara pagar yang digeser seseorang. Kepalaku melongok melewati jendela, melihat Kak Aya membukakan pintu selebar mobil yang menunggunya.


"Kok pulang pakai mobil, ya," gumamku bertanya kepada diri sendiri. Seingatku Kak Aya pergi naik motor. Tadi pun aku tidak melihat motornya di garasi. Kenapa sekarang dia pulang naik mobil?


"Kak Aya? Sama pacarnya, ya?" Ucapan Kak Bagas seakan menarik perhatianku pada pengemudi mobil. Mata lantas terbelalak begitu mendapati orang yang sudah tak asing lagi.


"Marcel ...." Ucapanku semakin pelan saja. Beruntung karena Kak Bagas tidak mendengarnya.


"Pacarnya?" ulang Kak Bagas. Kali ini sambil menatap ke arahku.


"Bu-bukan," jawabku sedikit kikuk.

__ADS_1


"Terus? Kenapa adek tegang gitu?"


***


__ADS_2