Pacar Bohongan

Pacar Bohongan
BC 26 | Sebelum Acara


__ADS_3

Untuk : Ayang


Romantic Cafe reservasi atas nama Dara Dwiana pukul 19.00


Pesan terkirim sejak empat jam yang lalu. Perlu menunggu sejam lamanya sampai aku menerima balasan Kak Bagas. Dia berjanji akan datang tepat waktu sambil tidak lupa membawa hadiah yang sudah dipersiapkan untuk mengejutkanku.


Puas berdandan, sling bag yang sedari tadi terkapar di ranjang pun ditenteng keluar kamar. Mami sudah tahu perkara makan malam ini. Sekarang giliran meminta izin Papi yang kebetulan sudah pulang bekerja.


"Mau ke mana, Nak? Rapi amat," ujar beliau saat mendapatiku menuruni anak tangga.


"Dinner bareng pacar, dong," balasku penuh kebanggaan.


"Uangnya ada?"


Sontak pertanyaan itu membuat pergerakanku dalam mengambil sepatu tertahan. Pandanganku lantas tertuju kepada Papi yang duduk di sofa tamu. Senyumnya yang mengembang seolah memberiku isyarat baik. Tidak ingin kehilangan kesempatan, buru-buru aku menghampiri beliau.


"Kenapa Papi tanya itu? Mau tambahin uang main Dara?" Tatapku penuh harap.


"Butuh berapa, sih?"


Ucapan itu sungguh membuat detak jantung tidak karuan. Ini lebih menegangkan. Menunggu nominal yang turun sambil hati berharap cemas.


"Kalau Dara, sih, sedikasihnya Papi." Jauh di lubuk hati, aku mengharapkan keringanan hati beliau. Sedikasihnya, kata klasik dengan sejuta selipan doa dan bujukan. Semoga saja dapat nominal merah beberapa lembar.


Papi terlihat mengocek isi dompetnya, sorot mata yang serius itu seolah tengah menunjukkan padaku bahwa benaknya tengah berpikir keras.


"Berhubung kamu gak minta hadiah tahun ini, jadi mau gak mau sebagai kado Papi kasih uangnya. Nih!" Tiga lembar uang seratus ribuan terulur di hadapanku.


Sungguh sesuai ekspektasi. Mataku langsung berbinar menyaksikan kemurahan hati seorang ayah yang menyerahkan nominal besar di hari ulang tahun putrinya.


"Tiga ratus ribu. Beli apa pun yang kamu mau."


***


Rezeki mendadak tadi mengurungkan niat awalku untuk mampir ke rumah Riska. Ya, tadinya untuk menutup kekurangan budget ongkos, aku berniat meminjam uang Riska. Cuma seratus ribu, kok. Hanya saja, berhubung uang seratus ribu itu datang dengan sendirinya dan nominal diganti tiga kali lipat lebih besar, rencana meminjam uang pun buyar.

__ADS_1


Sambungan telepon yang kubuat supaya terhubung dengan orang bersangkutan pun dijawab olehnya. "Ris?" panggilku di tepi jalanan kompleks.


"Gimana, Ra? Jadi ke sini? Aku ada tabungan, kok, kalau seratus ribu."


"Gak usah, Ris. Gak jadi pinjem." Cukup bersyukur juga. Dari banyaknya orang, dia bisa diandalkan meskipun kami sempat terlibat pertengkaran sebelumnya.


"Lho, kenapa? Bukannya butuh buat ongkos ke sana?"


"Dapat rezeki nomplok dari bokap." Aku sampai menjerit saking bahagianya hari ini.


"Hah, tepat waktu banget, ya. Jadi, gak akan pinjem duit aku, nih?"


"Enggak, enggak. Duit yang papi kasih udah lebih dari cukup, kok. Makasih, ya."


Riska sempat mendoakan kesuksesan acara yang kubuat sebelum akhirnya memutus panggilan. Tugas membatalkan pinjaman pun selesai. Kini giliranku memesan kendaraan karena sudah di pinggir jalan. Waktu yang tersedia untuk berkendara memang banyak, hanya saja aku perlu berjaga-jaga. Takut kena macet juga karena Senin salah satu hari produktif. Pasti banyak yang berlalu-lalang menuju area pemukiman di Lembang.


Tidak menunggu lama, pesanan ojek online pun datang. Menaiki motor matic menuju ke sana aku harus menghabiskan ongkos empat puluh lima ribu rupiah. Sayang banget, sih. Terlalu kemahalan untuk kantong pelajar semacam Dara, tetapi tidak apa. Pulangnya bisa naik si moge. Lumayan gratisan.


Jalanan yang diprediksi macet rupanya benar terjadi. Molor di waktu. Untung saja aku sudah menyiasati hal ini sejak awal. Jadi, tidak perlu takut terlambat sampai di lokasi.


Aku sampai di Romantic Cafe setelah menduduki motor abang ojek selama satu setengah jam. Setiba di sana, saat melewati parkiran aku memperhatikan semua motor yang berjajar rapi terlebih dulu. Sejauh mata memandang, sudah bisa dipastikan kalau moge belum terdampar di sini. Artinya, Kak Bagas belum datang. Aku bisa menata tempat dan memilih menu makan malam duluan sebelum bertemu tamu spesial.


"Untuk berapa orang?" tanya penjaga loket tersebut.


"Dua orang, Mbak."


"Dua orang, ya." Beliau tampak mengetik sesuatu di keyboard komputer. "Totalnya, jadi seratus ribu."


Aku mengeluarkan selembar uang yang petugas minta. "Tapi, Mbak. Karcis satunya mau dititip di sini, bisa? Orangnya belum datang."


"Oh, boleh," jawabnya sambil menerima uluran uang dariku. "Atas nama siapa?"


"Bagas. Untuk Bagas."


Selesai dengan urusan karcis, aku melanjutkan langkah memasuki kafe. Ada dua pintu yang disediakan begitu melewati tempat pembelian tiket. Pintu sebelah kanan akan terhubung dengan gedung megah berisi spot foto-foto mewah. Berhubung Kak Bagas belum datang, aku yang belum mau menyusuri lokasi itu lantas memilih pintu sebelah kiri.

__ADS_1


"Sudah reservasi, Kak?" sapa seorang greater sambil melihat karcis yang tadi diberikan rekannya di loket.


"Sudah, Kak. Atas nama Dara Dwiana."


"Oke, sebentar, ya." Greater tersebut melihat layar yang disediakan di ambang pintu restoran. Tangannya dengan lihai mengetik namaku di kolom pencarian.


"Atas nama Dara Dwiana, reservasinya paket dinner couple area swim pool. Sudah masuk DP 50% ya, Kak?"


"Iya, betul." Aku mengiyakan hasil dari pencariannya.


"Mari, Kak. Saya antar ke lokasi."


Aku berjalan mengikutinya, menyusuri deretan set meja makan yang tertata dari di dalam ruang anti rokok. Perlu berjalan sedikit dalam dan lama sampai akhirnya menepi di lokasi pesanan. Set meja makan yang sudah terdapat dua kursi di areanya. Kami benaran akan makan malam di tengah-tengah kolam yang sudah dihias lilin-lilin temaram dan balon-balon hias yang mengapung di air kolam. Seusai ekspetasi, sesuai dengan namanya. Makan malam romantis di Romantic Cafe.


"Mohon ditunggu, ya, Kak. Pelayan akan datang dan membawa buku menunya."


"Oh, oke." Aku mengangguk paham dan melihat kepergian greater yang mengantarku barusan.


Tak selang berapa lama dari kepergian kakak tadi, seorang pelayan lelaki datang menghampiri mejaku. Tangannya sudah memeluk dua booklet menu.


"Selamat malam. Silakan dilihat dulu menunya, Kak."


"Terima kasih, Kak," sahutku sambil menyambut uluran buku menu itu.


Kecepatan kilat aku membuka buku tersebut. Memilih menu yang tepat untuk menemani dinner kami nanti. Setelah berpikir keras soal menu dan harga, akhirnya aku menemukan keputusan tepat.


"Kak, saya udah pilih menunya." Aku memberi informasi sekaligus instruksi supaya dia bersiap menulis pesanan.


"Baik, Kak. Silakan."


"Avocado salad, Grilled Chicken Spicy, dan Strawberry Smoothies. Masing-masing pesan dua, ya, Kak." Aku mendikte tanpa kesalahan satu huruf pun.


"Oke, Kak. Itu saja?"


"Ya, itu saja." Itu juga sudah habis empat ratus ribu, Kak. Ya, kali mau tambah. Aku tersenyum guna menepis pemikiran yang lewat.

__ADS_1


Pelayan pun pergi, kembali membawa dua buku menu menjauhi mejaku. Ah, sisanya tinggal menunggu. Menunggu Kak Bagas datang, menunggu makanan siap tersaji. Sejauh ini segalanya berjalan sempurna dan sesuai keinginanku. Semoga, semoga saja ... tidak ada kejadian yang buruk hari ini. Amin.


***


__ADS_2