Pacar Bohongan

Pacar Bohongan
BC 27 | Pertama Kalinya


__ADS_3

Makanan sudah tersaji sejak sepuluh menit yang lalu. Telapak tanganku sudah berkeringat dingin karena sosok penting dalam undangan belum terlihat pandangan. Pesan sudah kukirim berkali-kali. Pun sambungan telepon, sudah kubuat berkali-kali juga. Namun sejauh ini, hasilnya tetap sama. Kak Bagas tidak membalas, tidak juga menjawab panggilan.


Tiba-tiba menghilang seperti ini, menjadi momen pertama kali saat posisi memegang janji temu. Selama berpacaran dengannya, dia tidak pernah sekalipun ingkar janji apalagi ingkar ucapan. Sampai beberapa menit selanjutnya, aku mencoba sabar menunggu dan tetap memberinya kesempatan waktu. Otak sudah diajak berpikiran positif terus-menerus. Mungkin saja dia sedang berada dalam perjalanan, sehingga dia tidak bisa menjawab panggilan.


Detik dan menit terus melaju. Makanan yang semula mengepulkan asap sudah dingin sepenuhnya. Kak Bagas masih belum datang dan ponselku belum menunjukkan perkembangan. Deru napasku sudah tak karuan, degupan jantung bahkan ikut ribut hingga suasana semakin menegangkan. Kepalaku tidak berhenti naik-turun ponsel, memastikan keadaan sekaligus layar yang standby menyala.


"Tuhan," rengekku dengan hati sesak. "Dia gak mungkin ingkar, kan? Kak Bagas udah janji bakalan datang."


Kembali benda mungil sebagai sarana informasi itu diangkat sampai menempeli daun telinga. Tersambung, tetapi tidak diterima. Dengkusan napasku sudah keluar berkali-kali. Kedua mata yang terpejam seakan membantu menahan pedih supaya tidak berangsur berkaca-kaca.


Waktu terus berlanjut hingga sejam terasa berat. Kepalaku sudah tertunduk sepenuhnya. Kalau pun terlambat atau kejebak macet, dia pasti memberiku kabar atau balasan pesan. Ini? Tidak ada sama sekali. Jika sudah begini, siapa yang harus aku tanyai? Ke mana aku harus menghubungi untuk bertanya keberadaan Kak Bagas? Bu Ester tidak aku miliki nomornya.


Kecamuk rasa sesak itu semakin diperparah oleh keadaan. Seolah tidak cukup kecewa, Tuhan memberiku cobaan yang lain. Seorang staf restoran berjalan menghampiri mejaku. Senyumnya yang gugup seakan memberi isyarat kalau meja ini akan diambil oleh orang lain.


"Mohon maaf, Kak. Kami memiliki standar waktu untuk meja reservasi. Berhubung jumlah tamu sedang banyak-banyaknya, saya bermaksud menawarkan meja mandiri untuk Kakak. Letaknya ada di dalam gedung. Kalau seandainya Kakak pindah ke dalam, bisa?"


Hatiku tersayat. Ini lebih dari ditolak cinta rasanya. Baru kali ini aku dipindah area karena kelihatan seorang diri duduk di kapasitas meja yang bisa memuat empat sampai enam tamu. Mereka yang sedang berdiri menunggu mejaku pasti berpikir kalau aku kelewatan. Sudah duduk sendiri, tetapi nekat memilih meja luas untuk keluarga kecil.


"S-saya gak sendiri, Bu." Bibirku sampai bergetar untuk mengutarakan hal itu. "Teman saya belum datang."


"Ah, berdua, ya? Kalau begitu saya akan menawarkan meja yang lain. Ada satu meja di balkon sana yang bisa diisi dua orang."


Pandanganku tertuju ke balkon restoran yang sudah dipadati pengunjung. Bersamaan dengan pandangan itu, ponsel yang sedari tadi terdiam di meja bergetar singkat. Spontan aku meraup benda itu, mengejutkan staf restoran yang tengah membuat penawaran.


Jantungku semakin berdegup cepat. Ibu jari yang hendak membuka aplikasi pengirim pesan sampai bergetar hebat karena mendapat balasan dari orang yang bersangkutan.


Dari : Ayang


Dek, maaf. Kakak batal ke situ. Ada telepon dari pembimbing rumah sakit, salah satu peserta PKL gak masuk. Kakak disuruh gantiin dan terpaksa balik Cisarua tadi.


Pluk!

__ADS_1


Saking tersentaknya, tangan yang kuat pun menjatuhkan ponsel itu ke atas meja. Aku pikir ini serius. Jika kejutan pun Kak Bagas tidak mungkin melakukannya sampai sekejam ini. Pesta makan malam yang sudah dirancang jauh-jauh hari aku pastikan batal terlaksana.


"Bu," kataku tanpa memandangi wajah staf itu.


"Ya, Kak?"


"Kalau mau isi meja ini juga boleh." Masih berusaha tegar aku berbicara tentang pembatalan pesanan. "Saya gak jadi makan di sini."


"O-oh, iya, Kak. Kalau makanannya gimana?"


"Bisa kembali uang gak, Bu? Saya belum sentuh makanannya sedikitpun." Mataku baru terangkat, berusaha melihat ekspresinya karena ini bersangkutan erat dengan hak keuanganku.


"Kembali uang? DP 50% itu maksudnya?" Beliau tampak kurang berkenan.


"Iya, itu." Aku mengangguk meskipun sungkan. Tahu, sih, pasti tidak bisa kembali uang.


"Kalau kembali uang gak bisa, Kak. Kakak juga, kan, udah pakai buat pesan makanan. Lagipula, makanan ini totalnya empat ratus ribu. Kakak kemarin baru masuk dua ratus lima puluh ribu. Berarti Kakak tetap harus bayar sisanya."


"Iya. Memang begitu aturannya, Kak. Acara batal atau tidak, itu bukan tanggung jawab kami. Kami sudah memesankan tempat dan menyediakan makanan yang dipilih Kakak. Kakak tetap harus membayar biaya pelayanan dan makanan ini."


Penjelasan yang semakin membuat remuk hati. "Oke." Aku memutuskan dengan cepat. "Saya bawa, aja, makanannya." Aku sudah menghabiskan banyak uang, sungguhlah sayang kalau makanan ini harus dibuang.


"Baik. Pelayan kami akan mengemas makanan ini."


***


Kehancuran hati langsung memporak-porandakan perasaanku. Setelah kehilangan empat ratus ribu secara cuma-cuma, aku terduduk di kursi kosong menunggu makanan pesanan yang sedang dikemas seorang pelayan. Rasa ingin membuangnya, tetapi sayang. Butuh perjuangan mendapat uang untuk acara ini. Sebagai ganti kekecewaan, aku akan memakan menu dingin itu di kamar seorang diri.


Setelah mendapatkan hak itu, kakiku melangkah gontai ke arah pintu. Pikiranku sudah melayang sedari tadi. Sebisa mungkin aku menahan pedihnya mata yang sudah berair karena tidak mau orang lain melihat kehancuran ini.


Tiba didekat loket, kepalaku menoleh. Masih ada karyawan tadi, dia duduk di depan komputer seperti sibuk mengetik sesuatu penting. Seolah ingin diyakinkan tentang gagalnya dinner bersama Kak Bagas, aku melanjutkan langkah mendekatinya.

__ADS_1


"Mbak," tegurku dengan suara parau dan hampir tercekat.


"Ya, Kak?" Dia memalingkan pandangan dari komputer yang menyala.


"Tiket atas nama Bagas masih ada?" Itulah hal yang ingin aku pastikan.


"Atas nama Bagas, ya? Ada, Kak."


Dia mengulurkan kertas tiket yang sudah diberi nama Kak Bagas. Bagai mendapat tamparan keras, tubuhku langsung bergetar. Ini tidak tertahankan. Bukan sekadar memberiku momen kejutan. Dia benaran tidak datang. Terbukti tiket itu masih disimpan baik si penjaga karcis.


Merasa pertahanan diri akan goyah, kaki dibawa melangkah lebih jauh lagi. Sesampainya aku di parkiran, air yang tertahan itu pun menetes perlahan. Tanpa aba-aba, tidak bisa dicegah pula. Tangisku pecah. Aku sampai mengabaikan fakta lokasi umum yang bisa dilalui orang-orang karena perasaanku sudah hancur berkeping-keping. Pertama kalinya aku kecewa dan itu terjadi hari ini. Hari di mana seharusnya aku bahagia menyambut ulang tahunku. Bahkan alasan tidak hadirnya pun membuatku galau untuk merasakan kekecewaan.


"Astaga!" jeritku yang langsung duduk bersimpuh karena pusat topangan tubuh sudah pasrah dan terluka parah. Tanganku menutupi wajah. Aku menangis sesenggukan, membiarkan orang yang lewat melihatku dengan rasa penasaran.


Tidak peduli. Aku tidak peduli lagi. Rasaku sudah tidak bisa ditahan. Aku tidak sekuat itu berjalan pulang dengan kondisi yang menegaskan. Sebuah getar ponsel kembali terasa. Buru-buru aku merogoh benda itu dari saku celana jeans. Jemariku dengan cepat mengetik sandi layar, lalu membuka aplikasi pengiriman pesan. Ada satu pesan masuk dari Kak Bagas. Tidak ingin dihantui rasa penasaran, aku lekas membuka pesan tersebut. Sebuah voice note terdengar lantang.


"Sayang, selamat ulang tahun. Maaf karena hari ini batal datang ke acara makan malam. kakak beneran disuruh dinas dan gak bisa nolak karena ini permintaan langsung atasan. Kakak janji, Rabu depan bakalan pulang dan rayain ulang tahun Adek. Digeser hari gak apa-apa, kan, Sayang?"


Bukannya membaik, tangisku malah semakin pecah. Ucapan dia tidak menghibur sama sekali. Bagaimana dia tega membatalkan segalanya, setelah lewat jam janjian. Dia seharusnya memberitahuku dari jauh-jauh jam.


"Uangku gimana, Kak Bagas!" isakku sambil memeluk kedua lutut. "Aku dapetin itu dengan susah payah. Sampai ada acara mau pinjam uang Riska karena gak punya ongkos. Ini juga aku pulangnya gimana?"


Suasana parkiran berangsur hening, tetapi tangisku tidak secepatnya reda. Masih ada tetesan air yang mengalir dan sesenggukan di detik-detik terakhir. Tak berapa lama kemudian, aku mendengar derap langkah yang berjalan mendekat, kian mendekat, dan berhasil membuatku menolehkan kepala. Seorang kaki lelaki dengan sandal gunungnya berdiri di dekatku. Aku yang malu dengan wajah bengkak memilih menunduk dan melihati kakinya yang bersih.


"Dara," panggilnya hati-hati.


Sedikit terkejut. Nyatanya, dia mengenalku. Penuh rasa sungkan kepalaku bergerak mendongak.


"Dara!" panggilnya lagi, lebih pasti dari sebelumnya.


***

__ADS_1


__ADS_2