
Berakhir merebahkan diri setelah mandi dan makan malam. Kegiatan hari ini, baik itu menangkap tersangka ataupun berdiskusi ria, sangatlah membuatku lelah. Sebelah tangan perlahan memijat kening karena masih terasa ngilu dan berdenyut, padahal obat pereda nyeri sudah diminum sedari tadi.
Aku mengubah posisi jadi tidur menyamping. Menatap ponsel yang sudah tergeletak di atas ranjang. Tanganku perlahan terapung. Gelang yang melingkar itu mendadak tak enak lagi dipandang. Perlahan aku melepaskan kaitnya, lalu melempar benda mungil itu ke sembarang arah. Sudah waktunya aku berlaku dingin terhadap semua orang. Mereka bisa saja menusukku dari belakang dan aku harus ekstra mengetatkan pengawasan. Ini menyangkut nyawa, aku tidak boleh lengah.
Sudut mataku menangkap kelap-kelip layar ponsel. Penasaran dengan penyebabnya, aku lekas mengambil benda itu. Tertera satu panggilan masuk, itupun dari nomor tak dikenal. Lidahku berdecak sebal. Siapa coba yang menelepon? Perundungku atau pembelaku? Tak ingin dihujani rasa penasaran, aku lekas menerima panggilan.
"Ya!" sapaku sambil memutar bola mata. Awas saja kalau mereka bagian dari tim perundung.
"Ini Dara, ya?"
Suara wanita. Ah, sudah pasti dia tim perundung. "Iya, ini Dara. Kenapa?" bentakku keras.
"Saya mau kasih tau kamu petunjuk penting tentang Ketua BagasLovers."
"Ini siapa?" Aku tahu ini bagian dari jebakan. Pasti ujung-ujungnya meminta bertemu, kan?
"Kalau ketemu aja, gimana? Biar kamu percaya juga, saya ada dipihak kamu."
"Udahlah, tinggal ngomong doang, kan? Ngapain ketemu? Ditelepon juga bisa." Aku menegaskan. Ingin tahu saja seberapa kerasnya dia berada dipihakku.
"Dara tinggal di Kompleks Dago Asri, ya?"
"Astaga, kalian enggak ada kerjaan banget kayaknya, ya? Sampe alamat rumah gue, aja, dihapalin." Rasa sabarku sudah menguap ke udara. Aku tidak bisa lagi berlaku baik di depan mereka.
"Dara saya tunggu di depan kompleks, ya? Bawa temen juga enggak pa-pa kok, Dara."
Wah, besar juga nyalinya. Dia tidak tahu kalau kenalanku satpam-satpam kompleks.
"Atau kalau mau ketemu di pos keamanan juga boleh. Biar Dara ngerasa aman."
Aku mendengkuskan napas. Cewek ini kebelet sekali ingin bertemu denganku. "Emangnya mau ketemu kapan?" Nada bicaraku masih setinggi langit.
"Sekarang, gimana? Saya udah nyampe di sini soalnya."
...***...
"Dek! Ngapain, sih, malem-malem ngajak ke depan? Laper kamu? Mau cari tukang baso?"
Tiada hentinya Kak Sonia bertanya, padahal aku sudah menjelaskan saat meminta izin kepada Mami tadi. Aku ingin menemui seseorang, tetapi seseorang itu tidak dikenal. Ya, wajar, dong kalau aku ingin ditemani. Semua, kan, untuk meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.
"Dek!" Tangannya kini mencekal lenganku. Kami berdiri berhadapan, saling pandang di bawah keremangan lampu trotoar. "Kalau Bagas bikin hidup kamu susah, kenapa masih dipertahanin, sih?"
Aku terjerat kontrak, Kakak.
"Dulu juga pas Arfan ketauan main serong kamu enggak gini-gini amat. Sesayang itu, ya, sama Bagas?"
"Bukan itu." Kepalaku menggeleng. Sudah mulai frustrasi rasanya karena tidak ada satu pun orang yang bisa aku ajak bicara dan bercerita. Satu-satunya teman yang bisa aku percaya adalah kakakku sendiri, tetapi karena alasan kontrak, aku tidak bisa mengutarakan semua kejujuran dan kejadian yang terjadi padaku.
__ADS_1
"Ra!" Bahuku dirangkul olehnya. "Lama-lama hubungan kalian berubah jadi toxic relationship. Sadar, enggak, sih?"
"Enggak!" tandasku ingin mengakhiri semua ini. "Stop, ya, Kak. Lebih baik, Kakak ikut aku ketemu orang itu. Jaga aku dari kejauhan. Nanti kalau keliatan aku bakalan dipukul atau didorong, Kakak langsung panggil semua satpam di pos keamanan buat ringkus orang itu."
"Ih, dibilangin ngeyel!" gerutunya. "Nih, ambil!" Sebuah botol parfum berukuran 30ml didorongnya ke perutku.
"Ini apaan?" Aku menerima botol itu meski heran.
"Itu jimat," ucap Kak Sonia asal sambil memalingkan wajah. Dia mulai merajuk karena aku kukuh pada hubungan ini. "Udah kamu pegang, aja. Isinya air rebusan cabe sama merica."
Ah, semprotan merica. Lah, kenapa dia bilang jimat?
"Ini Kakak yang buat?" Aku mulai terinovasi untuk membuat hal yang sama.
"Iya, lah! Kamu pikir selama ini kakak pulang malem enggak bawa perlindungan?"
"Ah, makasih!" Pelukku erat sambil berjingkrak-jingkrak. "Dara bawa ini ke mana-mana boleh?"
"Boleh. Everything for my beloved sister."
......***......
Dari kejauhan, aku mendapati seorang wanita terduduk di teras pos keamanan. Kepalanya menunduk dalam, tangannya seperti menggenggam selembar kertas. Kalau dilihat dari caranya berpakaian, dia tidak seperti orang arogan atau tukang mem-bully orang. Apa sebaiknya aku beri kepercayaan dulu, ya? Sepuluh persen sepertinya cukup dan tidak terlalu kebanyakan.
"Kakak nunggu di mana, nih?" tanya Kak Sonia saat lima langkah lagi kami menepi di tujuan.
"Dalem pos, aja. Aku bakal ajak ngobrol dia di sini."
"Hai, Dara," sapanya dengan tangan terulur.
"Hai, juga." Aku melewatkan uluran tangan itu, selain karena tidak ingin dianggap terlalu akrab, aku juga harus menjaga tangan supaya tepat diposisi jimat keamanan. "Ngobrol di sini, aja!" Belum mendengar persetujuannya, aku sudah duduk di tempat yang tadi dia duduki.
Orang itu sepertinya sedang menahan diri, berkali-kali aku mendengar helaan napas berat darinya. Maaf, ya, Non! Hari ini aku berubah jadi gadis yang menyebalkan. Terlalu baik kadang berujung dimanfaatkan oleh semua orang.
"Ada apa?" tanyaku yang tak ingin berbasa-basi.
"Saya punya satu syarat."
"Hah?" sahutku sambil mengangkat bibir. Gila saja! Dia yang memaksaku datang kemari, tetapi dia juga yang mengajukan syarat.
"Kamu enggak akan rugi denger petunjuk dari saya, Dara."
Napasku berembus keras. Lagi-lagi dia begitu percaya diri.
"Ya, udah apa syaratnya?" tanyaku malas.
"Kamu cuma boleh ngajuin tiga pertanyaan buat saya."
__ADS_1
Hah? Dia gila atau gimana, sih? Jangankan satu, memikirkan pertanyaan untuknya saja aku tidak pernah.
"Iya," ucapku asal biar cepat selesai.
Aku melihat langsung wajahnya. Begitu asing dalam ingatan. Apa dia kakak kelasku juga? Aku merasa tidak pernah melihatnya di kelas.
"Ini, Dara!" Sebuah kertas terulur ke hadapanku. "Kamu boleh liat dan ambil kertas ini."
Tak banyak bicara, aku lekas mengambilnya. Kertas yang sudah berada dalam genggaman itu berisi sebuah denah ruangan.
"Kalau kamu ikutin denah ini, biang bully pasti ketemu." Dia terdengar sangat meyakinkan.
Aku mengamati dalam diam, mengingat-ingat ruangan yang bentukannya seperti dalam gambar. Namun, sekian detik menatap dan mengingat, aku belum jua menemukan titik terang. Tidak ada bentukan ruang kelas seperti ini.
Dalam gambar hanya tertera satu papan tulis, meja dan kursi guru, lalu di tengah ruangan tidak ada kursi ataupun bangku siswa. Ruang kelas mana coba yang seperti itu? Dia bermaksud menipu atau apa, sih?
"Ketua BagasLovers sembunyi di Klub Jurnalis dan Mading."
Aku lantas tercengang. Tak tanggung, wajahku melongo menatap tangannya yang hendak menunjuk sebuah gambar.
"Ini, kamu pasti bisa nebak kalau ini papan tulis, kan?" Pertanyaan itu aku jawab dengan sekali anggukan. "Kamu harus buka papan tulis ini, di belakangnya kayak ada semacem bagan pengurus BagasLovers udah lengkap sama foto-fotonya, terus ada juga visi misi, sama nominal bayaran yang bakalan mereka dapet kalau berhasil nyelesain misi."
"Maksudnya nominal itu apa?" tanyaku yang mulai menaruh setengah kepercayaan padanya.
"Kamu kira, mereka kayak gitu karena inisiatif suka sama Bagas?" Lagi-lagi aku mengangguk dan dia menjelaskan. "Semua karena uang Dara. Ada orang yang rela ngasih apa pun, biar hati Bagas terus-terusan hancur."
"BagasLovers, kok, mau hancurin Bagas? Kenapa bisa, gitu, konsepnya?" Dia pasti tahu alasan dibalik klub penggemar itu, kan?
"Saran saya, coba kamu pastikan dulu nama dan wajah ketua yang ada di balik papan. Setelah tau orangnya, kamu bisa langsung tanya motif dia sebenarnya."
"Kamu tau ini darimana?" Aku merebut kertas itu dari tunjukan tangannya.
Dia tersenyum sebelum menjawab, "Saya cuma nyelidikin aja, tapi kamu harus percaya Dara. Ini petunjuk yang bisa kamu coba."
"Kenapa kamu repot-repot kasih ini ke aku, sih? Motifnya apa?" Aku benar-benar penasaran. Jika dia punya peluang besar untuk mengungkap fakta, kenapa tidak melakukannya saja? Panggil Kak Bagas, kek, atau langsung ke BK.
Dia terdiam lama dan aku menatapnya lekat demi menanti sebuah jawaban dari pertanyaan tadi. Ini membuatku dimabuk rasa penasaran.
"Segitu dulu, ya, Dara." Tiba-tiba dia beranjak. "Kamu udah tanya saya tiga kali."
Astaga. Aku tidak sadar melakukannya. "Tunggu-tunggu!" Aku menahan lengannya dan ikutan bangkit dari posisi duduk. "Kasih aku satu kesempatan, satu bonus," bujukku yang lebih terkesan memaksa. "Aku harus tau nama kamu, kan?"
"Enggak bisa Dara, syaratnya cuma tiga pertanyaan."
Ah, sial! Dia begitu kukuh pada pendirian.
"Ayolah!" rengekku tanpa sadar. "Katanya kamu ada dipihak aku, masa aku enggak boleh tau nama pembela?"
__ADS_1
"Dara, kamu harus nepatin janji kalau enggak mau ditusuk dari belakang. Nanti juga kamu bakalan tau nama saya. Sukses, ya! Setiap bahagia pasti butuh usaha dan saya yakin kamu bisa!"
......***......