Pacar Bohongan

Pacar Bohongan
Kesepakatan


__ADS_3

Pagi hari sebelum bel berbunyi, kami menyempatkan diri membahas denah yang kudapat semalam. Beralaskan tikar, kami duduk dibalik etalase koperasi yang rolling door-nya yang sudah Kak Bagas kunci dari dalam.


Mungkin sudah lima belas menit kami membahas ini. Wajah Kak Bagas dan Kak Wisnu tampak serius menatap denah yang tercantum dalam kertas itu.


"Posisinya, sih, udah bener. Ini ruangan Klub Jurnalis." Begitulah hasil pengamatan Kak Wisnu.


"Tapi kalau sekarang kita ke sana pun, enggak bakalan nemu apa-apa," ucap Kak Bagas yang mulai menarik diri dari kertas.


"Iya, pasti dikunci dan yang pegang kuncinya ketua jurnalis," timpal Kak Wisnu.


Aku yang tak tahu-menahu tentang ruangan di sekolah ini hanya mampu termangu. Mendengarkan dengan baik sambil sesekali bolak-balik untuk menatap wajah keduanya.


"Ketuanya siapa, sih?" tanya Kak Wisnu.


Hening. Kak Bagas terdiam seperti butuh waktu lama untuk memberikan kawannya jawaban, padahal menyebut sebuah nama sangatlah mudah.


"Woi?" desaknya karena tak ingin rasa penasarannya melekat lebih dalam.


Bukannya menjawab, Kak Bagas malah menatapku dalam. Tangannya perlahan terangkat, didorong sampai telunjuknya mengarah ke wajahku. "Mantannya Dara."


"Hah?" pekikan Kak Wisnu yang mendahuluiku. "Bukannya Isabel?"


"Bukan. Isabel, kan, udah kelas tiga. Ya, pasti lengser, lah! Nah, gantinya Arfan," terang Kak Bagas.


...***...


Sekarang aku paham. Pantas saja waktu itu Klub Jurnalis mengunggah foto Arfan dan Cecilia, pakai video klarifikasi segala pula. Ternyata, eh, ternyata. Tujuannya untuk mencuci muka biar sukses dianggap ketua. Bukan main! Aku sampai dijadikan tumbal supaya citranya tetap terjaga. Gila! Dia benar-benar berubah drastis sekarang!


Bagai pucuk dicinta ulam pun tiba. Aku yang sedang asyik menggerutu di dalam hati, malah dipertemukan Tuhan dengan orang yang bersangkutan. Ah, ayolah! Aku tidak pernah berharap ingin bertemu atau berpapasan dengan orang sialan itu.


Kakiku menepi, begitupun dengan dia yang malah ikut-ikutan mematung. Wajahnya kontras akan rasa terkejut efek kebetulan bertemu denganku. Alhasil selama beberapa detik, kami hanya bersitatap tanpa menyapa atau melempar senyum.


Ingin menghindari gosip yang tidak diinginkan, aku memilih melangkah lagi. Toh, melewatinya bukanlah perkara yang sulit dan mustahil untuk aku lakukan.


Namun, rupanya melewati tubuh lelaki sialan itu, tidak mudah seperti yang aku pikirkan. Dia yang menahan langkahku dengan satu genggaman tangan.


"Ra!" panggilnya yang masih terdengar sama. Berat, hangat, dan menenangkan.


Astaga! Dara! Sadar ... sadar! Dia pantas dimaki, bukan diberi hati atau bahkan dikagumi. Dia sungguhlah tak layak diberikan fasilitas semua itu.


"Apa?" tanyaku sambil menepis keras genggaman tangan itu.


"Enggak." Kepalanya menggeleng tak jelas. Dia mengulum senyum lalu kembali berkata, "Kamu masih bertahan sama Bagas ternyata."


"Lah, emang kenapa?" Aku mulai sewot padahal nada bicaranya biasa saja. Kenapa coba dia bertanya begitu? Apa jangan-jangan Ketua BagasLovers itu dia?


"Ya, enggak nyangka aja, kamu bener-bener bisa lupain kakak!"

__ADS_1


Please, deh! Hello .... Dikira dirinya hebat kali, ya, sampai aku tidak bisa melupakannya?


"Jangan sama Bagas, deh, Ra!"


Ucapan itu terdengar kembali. Dia pernah mengatakan itu, kan, sebelumnya? Kenapa dia begitu kukuh, sih? Takut tersaingi apa, gimana? Atau jangan-jangan dia lagi biangnya!


"Kak!" Aku mendadak sopan dan lemah lembut, padahal dalam hati ogahnya minta ampun memanggil orang brengsek ini dengan sebutan kakak.


"Kakak sekarang jadi Ketua Klub Jurnalis?" tanyaku langsung ke intinya.


"Hem, kamu tau darimana?"


"Aku boleh masuk ruangannya, enggak?" Sayangnya, aku tidak berminat menjawab pertanyaannya. Aku lebih ingin tahu soal kunci ruangan itu.


"Mau apa? Mau ikutan jadi anak jurmad?" Matanya mendadak berbinar.


"Enggak," sanggahku penuh percaya diri. Malas banget ikutan itu. Bisa-bisa ketemu dia tiap waktu. Cukup di OSIS, aku dipertemukan dengannya, di tempat atau klub lain jangan. Aku tidak mau menambah-nambah penyakit hati.


"Terus mau ngapain masuk ke ruangannya?" Arfan tampak kecewa dan kebingungan.


"Mau liat-liat, doang!" jawabku sekenanya. "Emang non-member enggak boleh lirik-lirik, gitu?"


"Kamu aneh deh, Ra," komentarnya. "Dulu kamu enggak tertarik soal lahan orang lain. Kenapa sekarang jadi pengen masuk ranah orang?"


Eh, kok, dia jadi sewot?


"Ya, kalau enggak boleh tinggal ngomong, aja. Dara juga enggak bakalan maksa!" bentakku yang langsung mengambil langkah maju.


"Nih, kakak kasih kuncinya!"


Langkahku tertahan lagi. Bisa-bisanya dia mengatakan hal yang menarik minat sampai aku rela memutar balik haluan.


Mataku lantas berbinar, mendapati benda yang aku, Kak Bagas, dan Kak Wisnu inginkan. Kunci berwarna silver dengan gantungan berlogo klub diulurkannya padaku.


"Kakak kasih kamu izin buat masuk ke ruangan, tapi dengan satu syarat!" Dia begitu menekankan.


"Apa syaratnya?" Daguku maju tiga senti. Memberinya ekspresi kalau aku siap menerima tantangan darinya kapan saja dan di mana saja.


"Putus sama Bagas!"


"Hah?" Aku tak bisa menahan diri untuk menjerit. Syarat macam apa itu?


"Kakak kasih kunci ini kalau kamu putus sama Bagas." Dia mengulangi perintah seolah aku gagal dalam menyimak hal itu.


"Kenapa syaratnya kayak begitu, sih?" Mataku sampai menyipit saking tidak paham dengan jalan pikirnya.


"Dia enggak pantes buat kamu, Dara!"

__ADS_1


"Ya, terus siapa yang pantes buat Dara?" tanyaku dipenuhi emosi yang membludak.


"Cuma saya yang pantes buat kamu. Cuma saya yang bisa milikin hati kamu!"


"DASAR GILA!" semprotku semakin berani.


"Ya, terserah! Mau enggak, nih, kuncinya?" Benda yang begitu ingin aku dapatkan, digoyang-goyangnya perlahan.


"Oke. Cuma putus, kan?" tanyaku yang dia setujui dengan anggukan. "Tapi kasih aku waktu satu minggu." Aku yakin Kak Bagas tidak akan marah, jika aku menyerah seminggu sebelum kontrak selesai.


"Kelamaan, ah!" keluhnya yang mulai menarik kunci itu.


"Oke, oke. Lima hari!" Tanganku menebar seluruh jari kanan ke hadapannya.


"Tiga hari!" pungkasnya yang membuatku dilema total.


Aku terdiam. Mulai berpikir keras sampai menemukan suatu keputusan yang mantap. Ini demi hidupku juga, urusan hubunganku dengan Kak Bagas bisa kita bahas nanti saja.


"Oke. Tiga hari."


"Janji?" Dia melemparkan mata serius.


"Iya, janji!" kataku pasti.


...***...


"Kamu yakin itu kunci jurmad?" Kak Wisnu malah tidak percaya kalau aku sudah mendapatkannya.


"Iya," jawabku lagi memperjelas cerita yang tadi sudah aku utarakan.


Layaknya tadi pagi, kami berkumpul di sini setelah bel tanda istirahat terdengar. Kembali membahas hal yang sama di tempat yang sama pula.


Entah kapan pastinya kegiatan ini akan berakhir. Aku sedikit capek dan muak, prasangka buruk itu terus-menerus hadir di kepalaku saat menatap atau berpapasan dengan semua orang di kelas. Hidupku terasa tak tenang. Aku semua permasalahan tuntas hari ini juga.


"Kenapa bisa punya kuncinya, Dek?" Kak Bagas bertanya begitu tegas, bahkan tangannya kini menggenggamku kuat.


"Pinjem, lah!" kataku seadanya.


"Dari Arfan?" tanyanya lagi meskipun sudah tahu jawabannya. Aku terdiam, memberinya isyarat kalau tebakan itu benar. "Kenapa enggak koordinir dulu sama abang? Abang juga bisa pinjem sama dia."


"Ya, sama aja, Bang. Intinya sama-sama pinjem, kan? Enggak ada bedanya."


Kenapa dia begitu sewot, sih? Jika tujuan kita tercapai dengan cepat bukankah itu langkah yang baik?


"Ya, beda, Dara!" bentaknya untuk kali pertama semasa kami menekan kontrak. "Kalau kamu yang pinjem, rasanya pasti beda buat Arfan. Namanya mantan, kalau deketan pasti ujung-ujungnya balikan!"


......***......

__ADS_1


__ADS_2