Pacar Bohongan

Pacar Bohongan
BC 15 | Dara yang Lebay


__ADS_3

Aku memandangi papan pengumuman dengan berat hati. Menyaksikan dengan mata kepala sendiri nama Kak Bagas dalam tabel pembagian lokasi PKL. Harapan kami yang ingin Kak Bagas ditempatkan didekat rumahku atau di sekitar lingkungan sekolah seakan musnah begitu saja.


Kak Bagas ditempatkan di rumah sakit besar. Saking besarnya, jarak yang memisahkan pun teramat lebar. Memang masih satu pulau, satu Bandung juga. Kami hanya dipisahkan karena berbeda kabupaten. Kabupaten Bandung Barat, letak pastinya. Perlu menghabiskan waktu sekitar satu jam untuk sampai ke sana baik dalam keadaan macet ataupun lengang.


Meyakini bahwa sebentar lagi kami akan LDR, langkahku pun gontai saat menuruni anak tangga. Lemas, letih, lesu, seakan beradu menjadi satu. Tak ingin menerima kenyataan, tetapi mau bagaimana lagi? Permintaan Kak Bagas kepada Pak Abigail tidak diindahkan sama sekali. Bukannya didekatkan, pihak sekolah malah sengaja menjauhkan lokasi PKL.


Ponsel dalam kantung kemejaku bergetar. Sebuah notifikasi masuk dari orang yang akan meninggalkanku terpampang dalam layar.


Dari : Ayang


Di mana? Kakak tunggu depan kelas, nih.


Aku menengok lorong yang bisa membawaku ke depan kelas X-A. Rasa hati ingin menghampiri, tetapi langkahku berat hingga mampu duduk lemas di anak tangga terakhir.


Aneh. Bukannya hadir di detik-detik terakhir, aku malah bersikap pengecut dan ingin melarikan diri. Masih belum bisa rela, masih belum bisa membayangkan hari-hari tanpa seorang dia. Hah! Begini, nih, kalau setiap menitnya ditemani. Hati jadi statis ketika salah satunya pergi.


Kepalaku menunduk. Perasaan tak menentu semakin memenuhi dada hingga terasa menyesakkan. Berkali-kali sebelah tanganku meremas rok abu-abu sepanjang lutut. Ponsel yang berada dalam genggaman tangan satunya pun kembali bergetar. Kali ini bukan pesan yang masuk, melainkan sebuah notifikasi panggilan.


Sebelum mengangkat telepon, terlebih dulu ludahku telan. Tak lupa menaik-turunkan napas supaya nantinya suara terdengar lega dan lapang. Ibu jariku lantas mengetuk layar, bersiap menerima sapaan dari orang terkasih di ujung sana.


"Di mana?"


Belum apa-apa, dia sudah bertanya posisiku saat ini.


"Kakak di mana?" Sengaja balik bertanya karena aku tidak mau dia menyusul kemari.


"Ini di depan kelas. Chat kakak gak masuk, gitu?"


"Y-ya, masuk." Kepalaku menengadah, rasa sesak seakan kembali merongrong hingga membuat mataku berkaca.


"Terus kenapa gak langsung ke sini?"


"Hm?" Aku bingung menjawabnya. "Aku ... lagi ada urusan dulu."


"Urusan apa? Bukannya kita mau beli es krim? Jadi, gak?"


Ah, selain pulang bersama, hari ini juga aku ingin menghindari main bersama.


"Sayang?" tegurnya mulai kesal karena aku bersikap tak wajar.


"Beli es krimnya kapan-kapan aja, ya, Kak. Hari ini ada kerja kelompok dadakan di rumah Riska." Terpaksa berbohong karena aku ingin menghindar untuk sehari saja.

__ADS_1


"Oh, ya?" Dia pasti meragukan hal itu. "Terus kenapa kelasnya kosong? Riska dan yang lainnya ke mana?"


"Ini ada, lagi sama adek."


Wah, benaran penuh dengan kebohongan.


"Benaran mau kerja kelompok, kan?"


"Hm." Aku semakin menahan diri untuk tidak berbicara panjang lebar karena takut pertahanan tangisku goyah.


"Ya, udah. Kakak pulang sekarang. Nanti perlu dijemput, gak?"


"Gak. Gak usah," tolakku yang langsung menekan layar guna menutup sambungan.


Kepalaku kembali tertunduk dalam karena tak ingin melewatkan kesempatan untuk menangis sejadi-jadinya. Lebay memang, tetapi ini kali pertama aku berpisah dengan Kak Bagas. Terasa berat melangkah, bertemu, dan berpisah lebih lama.


Masih dengan tangis sesenggukan, aku menguatkan diri supaya mampu pergi dari tempat persembunyian. Ransel dan sepatu yang sedari tadi terkapar di dalam rak pun sudah ku ambil dan ku kenakan. Waktunya pulang. Seorang diri dan menaiki taksi.


Layar ponsel kembali menjadi sasaran empuk jari jemari. Buru-buru aku membuka aplikasi pemesanan taksi online karena ingin berlalu dari sekolah secepat mungkin. Sayangnya, harapan pulang dengan cepat tidak semudah itu dikabulkan Tuhan. Lima belas menit aku melakukan pemesanan dan dinyatakan gagal karena tidak ada satu pun sahutan dari pihak pengemudi.


Rasa-rasa frustrasi kembali melanda. Benaran tidak adil, ya, dunia. Tidak ada satu pun hal yang berjalan sesuai keinginanku sekarang. Penuh rasa terpaksa, aku berjalan keluar gerbang. Solusi pulang ke rumah tersisa satu akomodasi, yakni naik mobil angkutan umum.


Aku kembali dibuat menunggu, tidak berhenti celingukan ke arah kanan guna memastikan karena mobil jurusan tidak kunjung datang. Perhatianku seakan teralih sejenak. Ponsel yang masih dalam genggaman kembali menunjukkan getar yang hebat. Dadaku seakan dibuat sesak untuk kesekian kalinya. Kak Bagas menelepon lagi dan lagi. Mau tak mau guna menutupi kecurigaan, aku mengangkat sambungan telepon itu.


"Sayang," panggilnya di sela kebisingan suara jalan.


"Kenapa?" tanyaku yang kini fokus mengerjapkan mata.


"Tengok kiri!"


Spontan aku menoleh, mendapati sosok yang bertukar sambungan denganku tengah mematung di samping motor kesayangannya. Sedetik itu pun aku menyadari kalau kebohongan menutupi rasa sedih sudah terbongkar.


"Dek?"


Panggilan itu seakan menyadarkanku yang mematung sejenak. "Hm?"


"Adek marah sama kakak?" Perlahan dia mulai melangkah.


"Enggak," sahutku sambil menciptakan sebuah gelengan.


"Terus kenapa bohong?"

__ADS_1


Bibirku bergetar. Tidak sanggup menjawab dan mengakui kalau aku berdusta demi kebaikan sendiri. Kak Bagas tidak berhenti melangkah. Dia semakin mengikis jarak, hingga kini kami berhasil berdiri berhadapan. Tanganku menurunkan ponsel, buru-buru mengalihkan pandangan karena tak ingin Kak Bagas mendapati wajahku yang kacau.


"Adek pasti udah baca papan pengumuman, ya?" tebaknya dan aku hanya bisa menganggukkan kepala.


"Kalau itu yang jadi alasan Adek bohong, kakak minta maaf. Kakak punya alasan tersendiri karena belum kasih tahu Adek."


Aku mengangguk. "Iya, adek tahu." Susah payah aku menelan ludah supaya suaraku terdengar baik-baik saja. "Kakak gak mau kasih tahu lokasi PKL karena takut adek lebay kayak begini, kan?"


"Bukan." Dia menggeleng kuat. "Kakak cuma belum siap lihat Adek nangis."


"Hah!" Mendengarnya aku malah semakin sedih. Tak tanggung-tanggung, tangis yang berusaha tertahan pun pecah.


"Kakak ini gimana, dong?" ucapku disela tangis. "Kita LDR nanti. Adek gak bisa sering-sering ketemu, gak bisa sering-sering nyusul Kakak ke sana karena adek gak punya SIM. Adek juga yakin, Kakak bakalan sibuk nanti. Adek gak yakin kita bisa baik-baik, aja, kalau lokasinya berjauhan kayak gini."


Bukannya menjawab, Kak Bagas malah menarik tubuhku ke dalam dekapan. Di belainya rambutku beberapa kali. Dibiarkan aku menangis sampai hati terasa tenang dan lapang.


"Kakak janji," bisiknya. "Janji bakal selalu kasih kabar. Bakal selalu tengokin Adek ke rumah dan sekolah. Pokoknya, Adek harus percaya kalau kakak beda dari cowok-cowok biasanya. Kakak bakal jaga hati dan setia."


Kepalaku mendongak, merasa tertarik untuk memberikan respons. "Janji, ya, bakal setia?"


"Janji." Dia tersenyum lembut. "Bagi kakak, Adek sudah lebih dari cukup."


"Benaran, lho?" Aku takut saja dia seperti yang sudah-sudah.


"Benar, Sayang," balasnya lantang.


Setelah mendapat asupan kata-kata cinta barusan, tubuhku jadi bisa menegak lebih mantap. Tak tanggung-tanggung, aku juga merasa bisa melepaskan diri dari dekapan Kak Bagas.


"Sudah, ya, jangan nangis lagi!" perintahnya sambil menghapus sisa-sisa air mataku. "Jangan bohong-bohong lagi, lho. Kakak gak suka. Untung tadi gak langsung cabut."


Aku terkekeh dan merasa malu. "Iya, maaf."


"Udah sekarang ikut, yuk!" Dia langsung menyambar tanganku tanpa izin.


"Ke mana? Pulang? Beli es krim?"


"Ke Cisarua."


Keningku mengeryit. "Cisarua?"


Itu, kan, lokasi PKL Kak Bagas.

__ADS_1


"Hm, bantu kakak cari kamar kos-an."


***


__ADS_2