
Perhelatan acara Kartini kemarin bisa dibilang sukses karena semua sekolah SMP yang kami undang berkenan datang dan memberikan banyak perwakilan. Kami yang biasanya tidak diberi hadiah saat melaksanakan kegiatan pun mendadak diberi hadiah menarik oleh sekolah, yakni jajan gratis selama tiga hari di kantin. Tentu saja hal semacam itu seperti mendapat nikmat tak terhingga bagi kaum pelajar yang masih mengandalkan uang jajan orang tua. Kami yang biasa harus membayar untuk makan siang, jadi bebas dan sepuasnya memakan apa pun karena pihak sekolah yang akan menanggung.
"Hai, Jegeg!"
Panggilan itu sekarang sudah tidak asing lagi terdengar. Berkat memenangkan kontes baju adat kemarin, aku dan Kak Bagas dikenal sebagai Jegeg dan Bli SMK Farmasi Bangsa.
"Mana?" tanyaku pada Riska yang datang dengan membawa tiga kantung plastik putih. Dia yang paling rajin mengantre sengaja aku titipkan pesanan makan siangku dan Kak Bagas.
"Ini rendang, ini ayam balado," ujarnya sambil memberikan dua pincuk nasi padang. "Bli-nya ke mana?" Dia bertanya sambil celingukan kanan-kiri.
"Lagi ke ruang Pak Abigail bentar lagi kayaknya ke sini." Tiada henti aku melihat jarum jam arloji. Kak Bagas tadi mengirim pesan kalau dia akan mampir ke ruang Pak Abigail sebelum menemuiku.
"Hm ... kalau aku makan di kelas sama yang lain, gimana?"
"Eh, kirain mau di sini." Seperti biasa Riska, Putri, dan Eren akan meninggalkanku di kantin. Alasannya tentu saja karena tidak ingin menjadi obat nyamuk.
"Kamu tahu sendiri alasannya," ucap Riska sambil mengambil beberapa kantung pesanan yang lain. "Aku ke kelas, ya, Bye!"
"Iya, hati-hati, Ka. Makasih, lho, udah mau direpotin."
Tak berapa lama setelah kepergian musuh yang menjadi kawan baik itu Kak Bagas yang kutunggu akhirnya datang. Dia berjalan mengikis keramaian kantin dengan kedua tangan menggenggam masing-masing barang.
"Apaan, Kak?" Telunjukku sudah mengarah ke dua tangannya.
Kak Bagas duduk terlebih dulu sebelum menjawab, "Uang sama transkrip nilai buat bayar PKL."
"PKL, ya?" Benar juga. Kak Bagas sudah kelas XI. Bulan depan harus mengikuti PKL atau praktik kerja lapangan.
"Iya. Mau dikasih ke Bu Sintia, tapi kantor keuangan lagi tutup."
Aku terdiam dan hanya memandangi wajahnya dengan kemelut rasa sedih. Kalau tidak salah PKL-nya tiga bulan. Kami akan ditempatkan sesuai keinginan sekolah. Entah itu luar dan dalam kota, tetapi yang jelas aku akan berjauhan dengan Kak Bagas. Hah, belum apa-apa sudah sedih.
"Kenapa, Sayang?" tanyanya yang baru sadar sedang diperhatikan.
Tidak ada jawaban. Aku hanya menelan ludah, sambil menghela napas berat.
"Kenapa?" ulang Kak Bagas sambil menggenggam tanganku erat.
"Bentar lagi ditinggal." Aku merajuk. Tanpa diceritakan lebih jelas Kak Bagas yang paham lantas tersenyum.
"Kakak udah minta pengajuan ke Pak Abigail. Ingin ditempatkan di rumah sakit atau apotek sekitaran sekolah atau rumah Adek. Doakan, ya. Semoga dikabulkan."
Ah, dibicarakan begitu dadaku makin terasa sesak. "Tetap ditinggal, kan, ujungnya." Suaraku bahkan terdengar parau.
"Jangan begitu, dong," pintanya sambil mengusap pipiku. "Kalau Adek sedih, kakak jadi berat buat pergi. Janji, deh, kakak bakal sering mampir ke sekolah."
"Iya, iya, adek bakal berusaha jaga gawang di sini." Tak lupa aku menggelengkan kepala guna mengusir rasa sedih yang terus bersarang di hati.
__ADS_1
"Iya, dong. Harus jaga gawang, jaga hati juga," ucapnya.
"Jaga hati ... jaga hati. Kakak yang harus jaga hati. Di sana pasti bakalan banyak perawat atau senior-senior cantik," dumelku mulai timbul rasa tak rela lagi.
"Sayangnya, kakak gak tertarik sama cewek yang usianya lebih tua." Dia menyentil ujung hidungku sambil menahan gemas.
"Awas, aja, kalau ketahuan genit sama cewek-cewek." Tanganku terkepal di depan wajahnya. Benaran memberi sebuah ancaman karena tidak ingin kehilangan.
"Gak bakalan. Kakak orangnya setia. Digoda mantan, aja, tetap pilih Adek, kan?"
Lah, percaya diri sekali. Apa dia lupa pernah kepergok pelukan di koperasi? Jangan dikira aku mudah melupakan hal itu, ya. Bagiku, itu adalah momen yang paling mengenaskan. Melihat kesayangan dipeluk sang mantan.
***
Kegiatan PKL tersebut juga berimbas pada organisasi sekolah. Senior yang membimbing kami harus menyelesaikan masa tugasnya terlebih dulu. Mereka perlu menghibahkan tanggung jawab setiap bidang kepada adik kelas pilihan.
Ruang rapat mendadak terlihat serius karena kehadiran Pak Abigail di tengah-tengah kami. Agenda hari ini tidak lain dan tidak bukan untuk membahas pelepasan kakak kelas yang hendak fokus mempersiapkan praktik kerja lapangan.
"Kalian sudah punya pilihan 'kan?" Pak Abigail menatap wajah senior OSIS. "Jangan sampai posisi kosong pas kalian pergi." Hening sejenak dan beliau kembali berkata, "Bagas sudah punya pilihan ketua sementara?"
"Sudah, Pak." Kak Bagas menjawab mantap.
Banyak dari mereka yang memandangi wajahku ketika Kak Bagas menjawab hal tersebut. Mereka pasti mengira akulah yang akan menjadi ketua sementara menggantikan dirinya. Namun nyatanya, aku tidak tahu menahu perihal itu. Selama kami bersama, Kak Bagas tidak pernah sekalipun bertanya ataupun bercerita tentang ketua sementara. Dia terlalu profesional untuk ukuran ketua OSIS yang menjadi kekasihku.
"Baik. Kita mulai saja acara hibah tanggungjawab ini." Pak Abigail beranjak dari kursi pimpinan bersamaan dengan Kak Cecil yang memberinya selembar kertas bertulisan tangan. "Bagi kalian yang merasa namanya dipanggil, harap berdiri di depan ruangan!"
"Dara Dwiana."
Nama pertama yang disebut Pak Abigail langsung mendapat riuh tepuk tangan dari seisi ruang rapat. Firasat semua orang tentangku yang akan menjadi ketua pengganti pun terasa kental menyertai langkah sampai ke depan ruangan. Tidak mampu untuk tersenyum, aku yang takut dipilih sebagai ketua jadi melihat Kak Bagas dengan mata melotot. Dia yang dipandang begitu malah memberiku senyuman lebar.
Napasku baru bisa berembus lega begitu mendapati bukan cuma namaku yang ditulis para senior. Ada nama Prayoga, Dion, Riska, Putri, dan juga Eren.
"Bagas, silakan pilih salah satu dari mereka untuk menjadi ketua OSIS sementara," perintah Pak Abigail.
Spontan seisi kelas meneriaki namaku. Tak ayal, aku yang takut dipilih jadi memejamkan mata dengan kepala tertunduk dalam. Takut, sumpah takut. Aku belum siap jika harus dijadikan ketua.
Derap langkah terdengar di sela-sela mereka yang meneriaki namaku. Kak Bagas yang diprediksi sudah berdiri di depan ruangan pun terdengar mengatakan sesuatu. "Harap tenang, ya. Saya di sini bukan ingin memilih Dara."
Deg!
Mataku baru berani terbuka. Setiap pergerakannya tidak luput dari pandanganku sekarang. Merasa ringan di pundak saja karena katanya bukan aku yang menjadi ketua.
Kak Bagas melangkah lagi, lebih mendekati Prayoga dan langsung memberikan uluran tangan. "Yog, jaga baik-baik OSIS, ya. Tiga bulan lagi, takhtanya saya ambil kembali."
"Sebentar ... sebentar .... Bagas kenapa gak pilih Dara?" Pak Abigail yang tahu hubungan kami, jadi mempertanyakan keputusan itu.
"Sampai akhir kalau disuruh memilih, saya gak akan pilih Dara jadi ketua. Saya tahu susah dan pusingnya berada diposisi ini. Cukup saya yang menanggung tanggung jawab, orang yang saya sayangi ... jangan! Dia harus bahagia."
__ADS_1
Ya Tuhan. Gila sekali dia. Satu sisi romantis dan di sisi lain tidak tahu malu, padahal sedang disaksikan bapak pembina. Pak Abigail sampai harus menyela audiens yang bersorak-sorai karena ucapan Kak Bagas. "Bagas, cinta tidak selamanya indah, Gas."
"Kalau sama Dara semuanya selalu terasa indah, Pak," sahut Kak Bagas yang mendapat dorongan keras dariku di lengannya.
"Sudah ... sudah," teriak Pak Abigail setelah menggelengkan kepala. "Sekarang giliran wakil ketua. Bima, kamu mau pilih siapa?"
Kak Bima ikut berdiri di depan ruangan, menjabat tangan Dion sebagai penggantinya sementara waktu.
"Posisi sekretaris dan wakilnya, silakan dipilih saja," perintah ke sekian dari Bapak Pembina.
Kak Cecil dan Kak Dewi maju ke depan. Berjalan melewati Kak Bagas dan Kak Bima yang sudah mengisi posisi pengganti. Kak Dewi yang pertama memilih, dia memilih Puput yang akan memegang kendali atas wakil sekretaris. Tiba giliran Kak Cecil, langkahnya tak terduga malah menepi di depan tubuhku.
"Jegeg!" panggilnya sambil menahan tawa. "Kalau lo gak bisa jadi ketua, gue sengaja pilih lo sebagai sekretaris. Lo harus merasakan penderitaan gue sebagai staf inti."
"Eh, kemarin janji lo bukan itu!" Kak Bagas menginterupsi.
"Gue gak janji begitu, ah!" Kak Cecil malah menjulurkan lidah untuk mengejek Kak Bagas.
"Jangan masukin Dara ke anggota inti, Cil." Tangannya kini bereaksi, jadi menggenggam lengan Kak Cecil kuat.
"Gak mau, ah! Gue maunya Jegeg yang jadi gantinya gue. Biar dia rasain kesusahan gue didesak proposal sama ketua."
"Lo kalau mau balas dendam—"
"Bagas," potong Pak Abigail. "Coba tanya Jegeg, dia bersedia atau tidak menanggung posisi sekretaris utama?"
Lah, Pak Abigail malah ikut-ikutan memanggilku Jegeg.
"Jangan Dara, Pak. Mending Dara pegang posisi seksi bidang atau disuruh duduk lagi juga gak masalah."
"Kalau Dara bagaimana?" tanya Pak Abigail padaku langsung.
"Bisa, dong, Dara. Masa nyali lo ciut," ejek Kak Cecil.
"Saya siap, Pak," jawabku mantap meskipun mendapat pelototan mata dari Kak Bagas.
"Sayang—"
"Bagas!" Arfan kali ini ingin ikut andil. "Lo pacarnya apa, bukan, sih? Masa lo gak tahu kalau Jegeg pernah jadi sekretaris? Dia sekretaris sekaligus asisten terbaik gue waktu itu."
"Waktu yang mana, Bro? Kenapa lo gak lupa-lupa sama masa lalu?" teriak Kak Bagas sambil berkacak pinggang.
"Sudah, sudah. Kalian kalau di satu ruangankan debat terus kerjaannya."
Disemprot begitu oleh Bapak Pembina, mereka pun langsung terdiam.
"Berhubung Dara bersedia menggantikan Cecilia. Jadi, posisi sekretaris utama akan digantikan oleh Dara Dwiana."
__ADS_1
***