
Tidak ada waktu istirahat bagi seorang Dara. Begitu pintu terbuka, aku diharuskan memungut pakaian kotor yang berserakan, lalu menyimpannya ke pojok ruangan. Sebelum pergi ke kamarnya, Kak Arman sempat memberiku kantung plastik berwarna. Dia memahami kalau tugas membersihkan ini akan menghasilkan sekantung sampah yang banyak. Suntikan semangat yang dia berikan cukup bermanfaat karena kantung plastik ini dipastikan bisa menampung semua hal yang Kak Bagas buang.
Hati terenyuh mendapati semua bungkusan makanan ini. Tidak ada makanan sehat karena semua serba instan. Bisa dipastikan perutnya diisi makanan yang serupa setiap hari. Dia bahkan terlihat mengoleksi bungkusan mi instan dari berbagai merek. Hampir setiap sudut kamar diisi oleh bungkusan-bungkusan tersebut. Tak cukup sampai di situ, beraneka jenis minuman bersoda dan mengadung pemanis buatan ikutan andil memenuhi meja belajar. Dia bahkan lupa mematikan mesin pencetak kertas. Belum lagi bekas-bekas charger laptop dan ponsel, semua masih menempel dengan stop kontaknya.
"Hah!" Mataku terpejam. Aku tidak kesal, justru sangat merasa kasihan. Bisa terbayang kesehariannya yang jauh dari orang tua, saudara, dan Dara. Dia pasti kelelahan setelah pulang dinas. Belum lagi, ketika lapar tidak ada yang bisa diandalkan untuk membeli atau membuat makanan.
"Kalau deket, Dara beresin setiap hari kamarnya." Kalau dekat.
Tidak mau berlarut-larut merasa iba, aku kembali melakukan pergerakan. Kantung sampah yang sudah terisi sepenuhnya disimpan dulu di ambang pintu. Sengaja belum membuangnya karena aku masih harus merapikan ranjang dan meja belajar Kak Bagas. Aku menggeser laptop dan membenarkan posisi speaker yang terguling. Sungguh kasihan nasib speaker mungil keabuan ini. Dia terpisah dengan kembarannya dan terkapar seorang diri di lantai.
Selepas membenarkan posisi ini dan itu, aku melanjutkan aksi untuk menyapu dan mengepel kamar yang berdebu. Benaran tidak membutuhkan waktu lama karena ukuran kamarnya pun tidak besar-besar amat. Pengharum ruangan yang disediakan pemilik indekos tak lupa juga aku gunakan. Kini hanya aroma lemon yang semerbak di segala penjuru kamar. Hah, pekerjaanku dalam membasmi bau apek dan bau sisa makanan berhasil dalam kurun waktu sejam.
Acara membersihkan ini belum berhenti di kamar Kak Bagas saja. Masih banyak yang harus aku selesaikan, salah satunya mencuci pakaian. Aku membawa setumpukan baju kotor dan sekantung sampah keruang cuci. Beruntung karena pemilik indekos menyediakan mesin cuci untuk penyewa. Jadi, aku tidak perlu kerepotan mengucek baju-baju kotor ini.
Jeda sebentar karena tugasku tinggal menunggu mesin cuci selesai beroperasi. Mumpung tidak ada kegiatan, aku sengaja memanfaatkan waktu yang tersisa dengan mengistirahatkan diri. Langsung saja aku dudukan diri di bangku yang disediakan. Lumayan, napasku yang sempat ngos-ngosan jadi mendingan.
Keheningan suasana membuatku terpikirkan sebuah ide. "Apa aku masak buat Kak Bagas juga, ya?" Sebelum membuat keputusan, aku menengok dulu jam digital yang terpampang dalam layar ponsel. Masih tersedia banyak waktu, tetapi yang menjadi masalah di sini ... apa tidak terlalu kesiangan belanja ke warung sayur? Takutnya jauh-jauh berjalan, aku malah mendapat sayur dan ikan sisa pilihan orang. Beruntung karena kegamangan pikiranku tidak berlangsung lama. Kak Arman datang mendekat. Sebelah tangannya terpantau membawa bungkusan sampah. Hah, sepertinya bukan cuma aku yang OPSIH di sini.
"Beres-beres, Kak," kataku sebagai sebuah sapaan.
"Iya, nih. Cewek gue juga mau datang. Untung bilang dulu." Dia nyengir kuda.
"Jadi selamat, ya?" Aku terkekeh.
"Iya, lah. Bisa bahaya kalau dia lihat kamar gue berantakan. Gengsi gue tinggi soalnya."
Aku menunduk, mendadak kepikiran ucapan Kak Arman. Apa jangan-jangan Kak Bagas juga memikirkan hal yang sama?
"Tapi, Ra ...."
"Ya?" Kepalaku mendongak lagi.
"Bagas juga biasanya rapi, kok. Dia paling rajin beres-beres di antara yang lain."
Nah, kan. Waktu di rumahnya juga dia rapi, makanya aku bingung.
"Iya, Kak. Waktu Dara datang ke rumahnya juga kamarnya tuh rapi. Makanya pas tadi lihat agak kaget, gitu." Aku meringis membayangkan kembali kondisi kamar Kak Bagas sebelum dirapikan.
"Kayaknya, efek jumping sif jadi kayak begitu."
"Jumping sif?" Apa itu?
__ADS_1
"Iya, jumping. Lompat sif. Semingguan ini, kalau diinget-inget lagi Bagas tuh jam kerjanya gak normal."
"Ah, masa, sih?" Aku meragukan hal itu karena jelas-jelas jadwal Kak Bagas ada padaku juga.
"Serius. Dia itu sehari masuk malam, sehari masuk pagi. Gak ada sif siangnya. Kayaknya kamar dia berantakan gara-gara itu, deh. Kan, sibuk dan capeknya dua kali lipat kalau kayak begitu terus."
Masa iya, ya? Kenapa Kak Bagas tidak cerita kalau ada lompatan sif?
"Tapi ... coba lo tanya lagi orangnya. Kalau menurut penglihatan gue sih, gitu. Dia kecapekan kayaknya."
Aku mengangguk, menyimpan perkara jumping sif dengan baik dalam benak. Nanti akan aku tanyakan. Jika semua yang dikatakan Kak Arman benar, maka aku harus dua kali lipat memberinya pengertian.
"Oh, ya, barangkali lo mau titip makanan. Nanti gue beliin pas jemput Ayang."
"Memangnya di sini gak ada tukang sayur ya, Kak?"
"Lo mau masak?" Dia sampai menjerit saking tidak menyangka.
"Ya, rencananya begitu. Kira-kira di deket sini ada warung sayur, gak?"
"Ada, sih. Cuma, ya, gitu ...."
"Gitu, gimana?" Kenapa ucapannya malah mengambang?
Sesuai dugaan. Di mana-mana sama saja. Warung sayur daerah rumahku juga begitu. Kalau belanja di atas jam sembilan, suka kebagian hasil acakan orang.
"Kalau warung nasi ada, Kak?" Setidaknya, aku harus menyiapkan opsi kedua. Setahuku daerah sini sulit terjangkau ojek online, sehingga tidak ada yang menyediakan fasilitas layanan pesan antar.
"Ada, kok. Bagas juga kalau bikin nasi suka beli temennya ke warteg. Warungnya ada di belakang gedung ini."
"Hm ...." Aku berpikir sebentar. Kalau Kak Bagas sering membeli teman nasi di sana, artinya makanan yang dia makan akan itu-itu saja. Acara berpikir singkat membuatku menepi di suatu keputusan. "Aku titip makanan aja, deh, Kak."
"Gak jadi masak?" Dia tersenyum geli.
"Enggak. Alasan pertama, takut gak kebagian sayur yang seger. Alasan kedua, kalau beli teman nasi di warteg takut Kak Bagas bosen."
"Yes! Otak lo emang encer, Ra. Jadi, lo mau titip apa?"
"Nasi padang dua porsi." Pasti Kak Bagas rindu itu, kan? Secara di sini tidak ada warung nasi padang.
"Kalau ikannya?"
__ADS_1
"Satu pakai rendang, satunya lagi pakai ayam balado."
"Oke." Kak Arman mengangguk paham.
"Ini uangnya, Kak." Aku mulai mengaduk saku celana.
"Ah, nanti, aja. Itung-itungan duit bisa dibahas nanti pas gue pulang."
***
Selesai menjemur pakaian, aku kembali ke kamar Kak Bagas. Terpikir untuk beristirahat, tetapi langsung terjeda karena melihat kertas pembagian jam kerja Kak Bagas. Takut kertas ini jadwal yang salah, buru-buru tanganku menyalakan ponsel. Jadwal kerja bulanan yang selalu Kak Bagas kirim via WhatsApp aku buka dan aku bandingkan. Semua sama, baik dari segi nama bulan, pembagian kolom jam, hingga nama-nama yang terpampang. Aku bingung dengan ungkapan kata jumping sif yang tadi sempat dibahas Kak Arman. Jika memang, iya, ada lompatan jam kerja, kenapa tidak tertulis dengan jelas di sini? Jelas-jelas dalam jadwal bulanan, Kak Bagas kebagian sif pagi minggu ini. Apa yang salah kira-kira? Kenapa Kak Bagas tidak cerita juga?
Napasku berembus berat. Nyatanya, memikirkan hal yang tidak berkesudahan memancing rasa lelah hingga mengantuk. Baik. Aku akan mengabaikan isu jumping sif dan menunggu Kak Bagas untuk membahasnya. Mumpung masih ada waktu sampai dia pulang, ada baiknya aku mengistirahatkan tubuh dan mata. Lumayan mengisi daya, biar stamina kembali fit pas bertemu Ayang. Gerak pelan aku menata bantal, lalu merebahkan kepala di atasnya. Sebentar, kok, hanya sebentar. Aku akan terlelap dan kembali bugar setelah Kak Bagas pulang.
Kata sebentar yang aku lafalkan tadi faktanya tidak berpengaruh banyak. Tidurku terhenti karena goyangan dari seseorang. Menyadari gerakan tangan yang membangunkanku berasal dari si pemilik kamar, buru-buru mataku terbuka. Benar saja, kebablasan. Kak Bagas sudah pulang. Niat menyambutnya di depan pintu pun gagal terlaksana.
Aku berusaha sadar dari rasa kantuk dengan menarik diri dari posisi terlentang. Kak Bagas sudah menatapku dan duduk di samping ranjang lengkap dengan pakaian dinasnya.
"Baru pulang?" sapaku sambil tersenyum. Akhirnya, sosok yang kurindukan ada di depan mata.
"Hm, dari tadi di sini?"
"Dari ... pagi," jawabku penuh keceriaan.
"Kenapa gak bilang dulu? Kamu jadi kerepotan ujungnya."
Kamu? Kenapa tidak memanggilku adek? Ah, mungkin dia lupa.
"Sengaja. Kalau bilang dulu bukan kejutan namanya."
Dia terdiam. Lagaknya sedikit lebih tenang, padahal seharusnya dia terkejut dan histeris karena pacar datang. keheningan yang mengisi kami membuatku teringat Kak Arman.
"Kak Arman udah datang?" tanyaku karena ingin segera makan nasi padang bersama Kak Bagas.
"Udah," jawabnya singkat disertai anggukan lemah.
"Oke." Buru-buru aku menurunkan kaki. Bersiap melarikan diri dari kamar Kak Bagas dan mengambil jatah makan siang kami. "Ayo, Kak. Dara udah pesen---"
"Kita break, yuk!"
"Hah?" Break? Break itu apa?
__ADS_1
"Kita break," ulangnya. "Kakak capek sama hubungan ini."
***