
Kami larut dalam keheningan berkat efek menanggalkan rasa malunya seorang Dara. Suasana berujung saling diam padahal duduk bersebelahan. Kak Bagas sudah membuka dua penutup botol air mineral dan menyimpannya di karpet lesehan.
Ponselku belum kunjung menyala, seketika aku teringat kedua teman yang masih mengantre nasi padang. Apa aku bilang saja, ya, kalau meja mereka diisi Arfan?
"Woi!" Spontan tubuh kami tersentak. Sosok Wayan yang katanya memberikan pesan online tentangku kepada Kak Bagas muncul. "Kenapa kaget, gitu, Ngab? Lo lagi berbuat dosa, ya?"
"Sotoy!" sahut Kak Bagas sambil nyolot. Aku yang merasa bersalah telah memeluknya langsung menundukkan kepala.
"Mau berbuat dosa atau kagak gue enggak peduli, sih. Nih, mission completed. Nasi padang pake rendang!" Tangannya terulur, menyerahkan dua kantong plastik berisi dua pincuk nasi.
Kak Bagas bergegas berdiri, menyerahkan tiga lembar uang sepuluh ribu, lalu mengambil kantong itu. "Thanks! Itu udah gue kasih ongkirnya juga." Dua pincuk itu dibawanya menuju meja kasir. Badannya sampai menunduk untuk membuka laci dan mengambil dua piring plastik beserta sendoknya.
"Yah, Bagas gimana, sih? Sekalinya punya cewek malah diajak jaga toko," cibirnya saat Kak Bagas sudah duduk lagi di sampingku. "Ra, kalau engga betah di sini putusin, aja, Bagasnya."
"Tolong mulutnya dijaga!" tindas Kak Bagas dengan mata melotot.
Aku tersenyum, kehadiran Wisnu cukup mencairkan suasana. "Dara baik-baik aja, kok, Kak Wisnu. Lagian jaga toko adem." Mataku melipir ke arah AC yang dibiarkan menyala.
"Serius enggak pa-pa? Kamu juga dibawa makan lesehan, lho!"
"Ya, enggak pa-pa. Selama ada Abang, Dara baik-baik, aja. Mau makan kaki lima atau bintang lima, ya, rasanya pasti sama. Sama-sama bikin seneng."
"Gila ... gila ... gila .... Lo nemu cewek kek begini di mana, Gas?" jerit Kak Wisnu sambil memelototi Kak Bagas. Dia bahkan menekan etalase supaya bisa menunduk lebih dalam guna melihat ekspresi kami.
"Enggak salah pilih, kan, gue?" Kak Bagas tersenyum lebar seolah sudah memenangkan sesuatu.
"Ya, enggak, lah! Mending sama dia daripada sama yang dulu!"
......***......
Aku menunggu Kak Bagas selesai mengunci toko supaya bisa berjalan bersama melewati halaman belakang. Sedikit membutuhkan keberanian, sih. Mereka yang duduk di sana itu tak berhenti melihat ke arah kami. Aku khawatir kalau berjalan tanpa Kak Bagas akan mengundang ejekan verbal.
"Bang, ini!" Selembar uang tiga puluh ribu aku berikan kepada Kak Bagas yang sudah selesai menutup toko.
"Apaan?" Kak Bagas malah terlihat bingung.
"Uang buat nasi padang dan ongkirnya."
"Astaga, Dek! Ngapain diitung-itung, gitu?" sahutnya begitu terkejut. "Udah dari Abang, aja!"
Sayangnya, aku tetap ngotot mengganti uangnya. "Ih, enggak enak, ah! Mana bayarnya mahal lagi, kan?"
"Sayang!" Matanya yang berubah menatap tajam sukses membuat tubuhku mematung. "Cuma 20ribu, masa diitung-itung, sih? Udah, yuk, mending abang anter ke kelas."
__ADS_1
Genggaman tangannya mampu menyihirku untuk tidak mempersalahkan uang kembali. Kami melewati halaman belakang dengan langkah santai karena bel masuk belum berbunyi. Dalam perjalanan ke kelas ini aku mendadak teringat sesuatu. "Bang?"
Bingung, sih, sebenarnya. Aku takut Kak Bagas tidak berkenan meminjamkan bukunya. Namun, aku tetap harus meminta izin, kan? Aku sangat memerlukan asupan buku paket untuk mata pelajaran kejuruan.
"Apa?" Kak Bagas memalingkan wajahnya ke arahku.
"Buku paket waktu kelas X masih ada, enggak?"
"Ada," jawabnya cepat. "Kenapa? Mau pinjem?"
Wah, gayung bersambut!
"Kalau diizinin, sih, adek mau pinjem." Aku tersenyum lebar, berharap Kak Bagas tidak mempersulit hal ini.
"Ya, udah nanti pulang sekolah ikut abang ke rumah, ya!"
"Lho, mau apa?" Agak terkejut juga. Kenapa harus ikut ke rumahnya? Bukankah hari esok juga kami masih bisa bertemu?
"Bukannya mau pinjem buku? Bukunya ada di rumah, terus harus dicari dulu. Adek bantuin, ya?"
"Oh, oke." Aku tidak punya pilihan lain selain menuruti sang empunya, kan? Sudah butuh, tidak mau mencari. Ya, kali sultan!
...***...
"Permisi." Terlihat canggung, tetapi Kak Bagas tetap memasuki rumah.
"Duduk dulu, aja, Bang. Adek ganti baju dulu." Aku tidak mungkin, kan, naik motor dengan mengenakan rok? Bisa tersingkap sampai paha.
"Eh, iya, mau minum apa?" Langkahku tertahan di ambang pintu yang akan menghubungkan ruang tamu dengan ruang keluarga.
"Mami mana, Dek?" Rahangnya mengeras, posisi duduk dengan tangan mengepal bertumpu di kedua lutut menampakkan jelas kegelisahannya karena takut bertemu Mami.
"Tiap hari Senin pasti ke rumah sodara. Jaga Om Michael yang sakit." Sengaja aku memberitahunya untuk memberikan suntikan ketenangan. "Abang mau minum apa?"
"Kalau ada yang dingin mau, ya!"
"Oke." Sebelum menaiki anak tangga, aku melipir terlebih dulu ke dapur, membuka kulkas sampai menemukan jus jeruk kemasan. Dia tidak bilang soal varian rasa, kan? Dia hanya meminta minuman dingin.
Aku tuangkan segelas jus jeruk lalu menatanya di atas nampan sebelum dibawa keluar. "Bang, kalau masih haus tambah lagi aja, ya!" Nampan berisi gelas dan jus kemasan itu aku letakan di meja. "Adek ganti bajunya sebentar, kok."
"Makasih, ya!"
Sesudah menjawab dengan anggukan, aku berlari menaiki anak tangga menuju kamar, menutup pintunya, kemudian berlari lagi sampai menggapai lemari pakaian. Aku termenung beberapa saat, berpikir dengan keras baju yang harus aku kenakan untuk pergi ke rumah Kak Bagas.
__ADS_1
"Astaga!" jeritku sambil meremas rambut. Kenapa mendadak baju yang ada di lemari terlihat buruk semua, sih? Apa yang harus kupakai, dong? Aku tidak mau terlihat buruk untuk kesan pertama di mata ibunya.
"Oke, tenang!" Tangan aku angkat sampai ke depan dada. Menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. "Waktunya mikir pinter!"
Aku ingat betul niat awal berganti pakaian karena tidak ingin terlihat paha. Artinya, aku harus memakai celana dan untuk atasan akan kupilih yang paling baik dan tertutup saja. Celana panjang berbahan jeans dan satu hanger sweater rajut lekas kukenakan.
Sebelum keluar kamar, aku menyempatkan diri menata rambut yang menutupi kening, lalu berlari kecil menuruni tangga. "Ayo, Bang!" ajakku setelah mendapatinya tengah duduk bersandar dengan kepala menengadah ke langit-langit kamar.
"Udah?" Dia mengakhiri rehat kilat dengan berdiri sambil merentangkan tangan. "Dek?"
"Hem," sahutku tanpa mengalihkan pandangan dari memilih sepatu.
"Rapi bener," ujarnya sambil terkekeh-kekeh.
Dia sedang memuji atau menghina, sih?
"Abang lagi muji. Adek rapi bener, jadi keliatan cantik."
...***...
Pagar rumah aku tutup terlebih dahulu sebelum akhirnya berlari mendekati Kak Bagas. Tanganku terulur bermaksud meminta helm yang dia peluk. Namun, bukannya menyerahkan benda itu, Kak Bagas malah memakaikannya di kepalaku.
Mataku membulat mendapati jarak yang kembali berdekatan. Dia yang tidak menyadari keresahan tubuhku beralih membungkukkan badan untuk membuka footstep belakang. Tangannya tiba-tiba terapung di depan wajahku. "Pegang tangan abang. Hati-hati naiknya, ya!"
Tanpa sadar aku menelan ludah. Tak menyangka kalau seorang Bagas bisa seromantis dan sehangat ini kepada pasangan. Tanpa merasa ragu, aku menggenggam uluran tangan itu, lalu menaiki motor dengan hati-hati.
"Udah?" tanyanya memastikan dengan kepala sedikit dimiringkan ke belakang.
"Udah, Bang!" Porsi jok belakang yang kecil membuat posisi dudukku maju ke depan.
"Pegangan, lho!"
"Ah, enggak usah!" tolakku karena merasa tak perlu. Aku bisa memegang kendali pada besi jok belakang.
"Harus, Dek!" Kak Bagas menekankan sampai menengok ke belakang. "Enggak aman kalau Adek pegangan ke behel."
"Behel, tuh, apa?" Otakku langsung buntu. Kenapa dia bawa-bawa kawat gigi?
"Behel itu besi yang ada di belakang jok motor. Kalau naik motor Adek, Adek bisa pegang itu, tapi kalau naek motor abang, jangan!"
"Emang kenapa?" Bukankah akan berakhir sama-sama saja, ya?
"Rawan jatuh, Sayang! Udah mana tangannya?" Kak Bagas mengapungkan kedua tangan ke belakang. Aku yang tak mau kami berdebat lebih panjang, langsung menyerahkan kedua tangan. Tanpa disangka, dia menarik tanganku sampai melingkari pinggangnya. "Kalau gini, pasti aman!" ujarnya terdengar lebih bersemangat.
__ADS_1
...***...