
"Bang, udahlah." Aku benar-benar menyerah. Setengah jam berkeliling Cihampelas demi mencari sebuah toko martabak yang buka. "Lagian Papi belum pulang kalau jam segini."
"Tapi Mami ada, kan?" tanyanya yang terdengar masih ingin berusaha mencari.
"Ada, tapi tetep enggak nyambung kali, Bang. Masa siang-siang gini makan martabak." Sekelebat ekspresi Mami yang melongo mengisi pelupuk mata.
"Terus beli apa, dong?"
Begini, nih, kalau pertemuan pertama yang direncakan. Dia jadi kelimpungan cari oleh-oleh, padahal itu tidak diperlukan.
"Udahlah, pulang, aja!" bujukku yang tak mau lagi berpeluh-peluh.
"Beli apa dong, Dek?" desaknya sampai berhenti di pinggir jalan.
"Engga usah beli apa-apa," jeritku karena Kak Bagas tidak mau mendengarkan.
"Salad buah, Mami suka, enggak?"
Aku bungkam, menundukkan kepala sampai helm kami beradu.
"Atau mau bakso? Rujak? Es buah? Jawab dong, Dek!"
Napasku berembus berat. Benar, kan! Sesuai dugaan, Kak Bagas tidak mau mendengarkan. "Terserah aja, lah!"
...***...
Alhasil, Kak Bagas membeli semua yang dia sebutkan. Aku cukup keheranan, ya, dengannya. Kenapa uang Kak Bagas tiba-tiba mengalir terus? Bukan tidak senang, sih. Aku cuma takut dia menggunakan separuh uang jajan demi menyenangkan Mami.
"Dek, enggak akan bantu?" Kak Bagas mendorong dua kantong plastik yang ada di tangan kirinya.
"Adek udah bilang, jangan beli apa-apa! Malah enggak ngedenger," gerutuku masih sebal.
"Dukung dong, Sayang! Abang, kan, mau nyenengin Mami."
"Iya, iya." Aku memasang wajah tak peduli, mengambil sekantong plastik yang berisi salad buah, lalu berjalan lebih dulu.
"Ehem ... ehem ...."
Aku menatap Kak Bagas yang sedari berjalan keluar garasi berdeham. "Kenapa?" tanyaku yang tahu kalau itu bagian dari persiapannya bertemu Mami.
"Tegang, nih!"
"Astaga...." Kepalaku menggeleng tak habis pikir. "Cuma kenalan doang, sikapnya udah kayak mau lamaran." Aku sampai menarik lengannya supaya lebih memacu langkah untuk memasuki rumah.
Baru aku sadari, pintu rumahku terbuka lebar. Kepalaku sampai menengok kanan-kiri untuk memastikan tidak adanya tamu yang sedang berkunjung. Tidak ada motor atau mobil siapa pun di halaman. Tumben Mami membuka pintu sampai selebar ini.
__ADS_1
"Bang." Aku mengajaknya sejenak menepi. "Tadi di garasi cuma ada motor kita, kan?" Hanya ingin memastikan.
"Iya. Kenapa, gitu?"
Kepalaku lekas menggeleng. Mungkin Mami sengaja membuka pintu tanpa niat apa pun. "Ayo, Bang," ajakku supaya kami kembali melangkah.
Namun, baru sampai di ambang pintu, tubuhku tersentak, lalu mematung.
"Lo ngapain di sini?" semprot Kak Bagas yang mewakili pikiranku.
Si pelaku hanya tersenyum miring, lalu berdiri dari sofa. "Ketemu mama mertua."
"Buset, dah!" Aku menjerit. Sudah bisa dipastikan mereka akan adu mulut lagi.
Tidak mau terseret dan ikut campur, aku melangkah lebih dalam lagi, memasuki ruang dapur karena melihat sosok Mami sedang berada di sana. "Mi, kenapa orang itu diizinin masuk?" tanyaku sampai berbisik karena tidak mau para lelaki mendengarnya.
"Namanya juga bertamu, masa enggak Mami izinin masuk, sih, Ra?" Mami dengan santainya menata satu gelas di nampan, tanpa tahu kondisi di ruangan depan.
"Mami, kan, tau dia mantan Dara," kataku gemas.
"Ya, terus kenapa?"
"Gimana perasaannya Bagas kalau liat dia di sini?" Kedua tanganku sampai di simpan di pinggang. Benar-benar meminta pertanggungjawaban Mami, nih.
"Bagas, kan, biasanya cuma mampir buat simpen motor. Mami juga tadi liat Arfan datangnya engga bawa motor. Ya, enggak bakalan ketauan sama Bagas."
"Bantu apa?" Mami jadi menatapku bingung.
"Di sana ada Kak Bagas juga. Dara bingung. Gimana coba cara ajak ngobrol mereka?"
......***......
"Bagas sama Arfan kalau saling liat terus bisa-bisa kesemsem, lho!" canda Mami yang mampu membuatku menahan tawa.
Dua orang yang dibicarakan tersebut langsung salah tingkah. Berhenti adu tatap, meluruskan posisi duduk sampai sesekali berdeham untuk mencairkan suasana.
Aku yang paham kalau ini pertemuan resmi Kak Bagas dan Mami lekas memuji dan mengagungkannya. "Mi, itu Kak Bagas bawa banyak makanan!" Tunjukku pada kumpulan kantong plastik yang tertata di tepi meja.
"Iya, Mi. Mohon maaf karena Bagas belum tau kriteria makanan yang Mami suka. Jadi, Bagas beli semuanya deh!" Dia mulai unjuk rasa percaya diri. Mendorong penuh hormat supaya Mami menerima dengan tangan terbuka.
"Wah, kebetulan banget. Mami suka pedes. Mana cuaca panas lagi, untung Bagas bawa rujak. Makasih, ya!"
Satu poin tercetak. Kak Bagas dan aku bisa tersenyum tenang sekarang.
"Mami, ini Arfan bawain yang manis-manis. Strawberry Pie, kesukaan Mami, kan?" Sang lawan ikut-ikutan melancarkan aksi.
__ADS_1
Sebelah alisku terangkat. Ya, memang benar, sih. Mami suka banget makan itu, tetapi yakin panas-panas begini makan kue
"Duh, Arfan! Inget terus, ya, kesukaan Mami." Mami terlihat berbinar mendapati makanan kesukaan terdampar di meja.
"Mana mungkin lupa, Mi. Arfan, kan, udah tiga taun bolak-balik sini."
Ah, dia mulai sombong lagi. Aku memutar bola mata dan mendengkus pelan.
"Terus kenapa Arfan berhenti ke sini kemaren-kemaren?"
Pertanyaan Mami ini bisa dibilang spontan. Aku tidak pernah menyuruh atau meminta beliau untuk mempertanyakan hal itu. Sungguh, aku tidak tahu kalau Mami akan ikut menanyai Arfan. Bisa dilihat dengan jelas sekarang, kesombongan yang Arfan bawa perlahan menyusut dengan sendirinya.
"Kemaren Arfan lagi ada problem sama Dara. Makanya sekarang mati-matian buat minta maaf." Dia beralasan.
"Oh, jadi Dara enggak bisa maafin Arfan?" Mami mulai melirikku tajam. "Kalau gitu mami minta maaf, ya, Arfan."
Serempak kami melongo. Kenapa coba Mami tiba-tiba minta maaf? Bukankah yang salah di sini Arfan?
"Mami kurang keras didik Dara, sampe dia jadi manusia yang enggak mudah memaafkan," tutur Mami dengan wajah sedih.
"Enggak, Mi. Ini bukan salah Mami. Arfan yang salah. Wajar Dara enggak bisa maafin Arfan. Kesalahan Arfan emang besar banget, Mi." Kak Arfan jadi terserang panik dan berusaha menjelaskan semuanya dalam satu tarikan napas.
"Ya, tapi Arfan tetep, aja! Sebesar apa pun kesalahannya, Dara tetep harus maafin kesalahan Arfan." Mami tetap mempertahankan aku diposisi yang salah.
"Enggak, Mami, enggak! Arfan emang layak, kok, diperlakukan kayak begini. Emang salah Arfan waktu itu ninggalin Dara karena cewek lain."
"Kok, Arfan tega lakuin itu ke anak bungsu Mami?"
Hening. Seolah sadar telah mencuatkan fakta ke permukaan, Arfan membekap mulutnya sendiri disertai mata yang membulat.
Ah, sekarang aku paham. Mami menjatuhkan anaknya untuk menangkap tersangka. Bagaimana pun, kan, Mami tidak tahu cikal-bakal yang membuat aku dan Arfan berpisah.
"Mami kira kalian putus bukan karena orang ketiga, lho. Dara sama sekali enggak pernah cerita apa-apa sama Mami. Pantes, aja, Dara sampe sakit. Tenyata penyebabnya itu." Mami mulai terbakar api.
"Mi, waktu itu ... Arfan khilaf!"
"Emangnya kamu habis ngapain cewek itu? Pake nyebut-nyebut khilaf segala!"
Semprotan Mami membuatku dan Kak Bagas saling pandang, melipat bibir, lalu menunduk pelan. Ada yang lagi dimarahi, daripada kena getahnya mending diam dan perhatikan saja.
"Arfan enggak ngapa-ngapain, kok, Mi. Arfan cuma kesemsem dikit, terus sekarang nyesel."
"Dan kamu berharap balikan, gitu sama Dara?" Mami semakin menindaklanjuti.
"I-iya, Mi. Arfan berharap balikan sama Dara, tapi Daranya malah jadian sama Bagas." Arfan seperti hendak mengadu.
__ADS_1
"Ya, bagus dong. Mending Dara sama Bagas. Kamu terbukti enggak setia. Selingkuh, kan, bikin ketagihan. Percuma kamu ngarep kesempatan kedua. Ujung-ujungnya pasti selingkuh lagi karena tergoda."
......***......