Pacar Bohongan

Pacar Bohongan
BC 13 | Kontes Busana Adat


__ADS_3

Kehebohan terjadi karena aku diminta bangun pagi dan buru-buru mandi. Harus melakukan gerak sat-set-sat-set karena pihak Kak Bagas sudah menunggu di salon kemarin. Aku tak tahu kapan tepatnya Kak Bagas sampai karena Mami yang mendapat informasi itu. Informasi eksklusif dari Ibu Ester tentunya.


Tidak seperti Hari Kartini semasa SMP, kali ini aku diantar ke salon bersama keluarga besar. Papi dan Kak Soraya juga ingin ikut serta. Jarang-jarang melihat Dara memakai baju adat luar Jawa, begitu katanya. Benar saja mereka, lagaknya sudah seperti hendak menikahkan aku dan Kak Bagas.


Dikendarai oleh Papi, keluarga kami menepi di De Lafina Salon. Ingin rasanya tergelak, menyaksikan bahwa keluarga Kak Bagas tidak jauh berbeda dengan keluargaku. Sama hebohnya ternyata. Kak Bagas juga tidak tanggung-tanggung, membawa ayah, ibu, dan juga Baim.


"Sudah kakak bilang, mereka terlalu niat sama kontes busana kita," ucap Kak Bahas saat aku sudah sampai di sampingnya.


"Kebayang gak, sih, kalau nanti kita nikah?" Aku bertanya asal dan Kak Bagas terkekeh-kekeh sebelum akhirnya membalas, "Ya, kurang lebih repotnya sama kayak gini."


Kami diajak memasuki ruangan kemarin, dipertemukan langsung dengan Bu Hana—pemilik salon. Beliau yang nantinya akan merias wajahku dan memasangkan beberapa atribut dalam baju adat ini.


"Dara rambutnya disanggul gak apa-apa, ya?" tanya Bu Hana.


Aku duduk terlebih dulu di depan meja rias, memandangi wajah beliau yang terpantul dalam cermin sebelum menjawab, "Bebas, aja, Bu. Dara hari ini nurut mau di gimana-gimanain juga."


Istilah halusnya nurut, istilah kasarnya pasrah. Sudah seperti ini, aku tidak bisa menolak karena dua belah keluarga sedang memantau di sofa tamu.


"Anak-anak zaman sekarang, mah, aneh-aneh, ya. Kontes baju busana juga udah melebar sampai kamu kebagian adat Bali. Kemarin juga ke sini ada yang cari adat Papua."


"Oh, ya?" Aku menatap tak percaya. "Satu sekolah sama Dara bukan, ya?" Soalnya, kemarin ada perwakilan kelas yang harus memakai baju adat Papua.


"Bukan. Dari SMA Negeri 5. Dara boleh tutup mata sebentar?"


"Iya, boleh." Tak perlu diperintah dua kali, aku langsung menutupkan mata karena Bu Hana hendak mendandani bagian mata.


"Kalau misal makeup-nya terlalu tebal, jangan risi, ya, Dara. Kita sesuaikan saja sama acaranya."


"Tebal gak masalah, asal tetap cantik," sahut Kak Bagas yang baru berganti pakaian menyusul duduk di sampingku.


"Pasti cantik, dong. Bagas juga nanti dikasih hiasan dikit, ya. Biar pantes sama Dara."


Terhitung sekitar dua puluh menit wajahku dipoles dengan gaya bold makeup. Rambut yang sudah disanggul pun tak luput dari gelungan bunga-bunga emas dibagian atas, dan bunga-bunga mawar segar dibagian belakang. Sukses dengan hiasan rambut dan wajah, kini giliranku menyusul Kak Bagas dalam berganti pakaian.


Aksi lilit-melilit pun terjadi. Aku yang biasa mengenakan pakaian tertutup bahu, terpaksa harus ikhlas untuk sehari ini saja. Bu Hana juga tidak lupa meminjamkan berbagai aksesoris penunjang kepada kami. Mulai dari anting, gelang, cincin, hingga kipas. Semua terasa lengkap untuk digunakan.


Tampilan sempurnaku sudah layak untuk di pertontonkan. Tak ingin menunggu Kak Bagas yang sedang didandani, aku keluar ruang riasan lebih dulu. Seketika pandangan kedua belah keluarga tertuju padaku. Mereka terdiam selama beberapa saat, sebelum akhirnya berteriak kegirangan.


"Dara cantik banget." Pujian pertama datang dari Ibu Ester.


"Ini benaran anak Mami?" Mami saja yang sehari-hari melihat wajahku ikutan pangling.


"Cantik, lho! Pantas Bagas tergila-gila." Ucapan paling membuatku malu dari ayah Kak Bagas.


"Gak kebayang kalau nanti kamu nikah kayak gimana," ujar Papi yang langsung mendapat sahutan keras dari anak sulungnya.


"Nikah-nikah. Baru juga SMA. Nih, Aya. Bentar lagi wisuda terus nikah."


"Eh, jangan dulu," cegah Mami.

__ADS_1


"Kerja dulu, cari duit yang banyak, puas-puasin dulu main pokoknya," timpal Bu Ester yang selalu sepaham dengan Mami.


"Dara! Kalau nanti kalah gimana?" Si kecil yang dewasa sebelum waktunya pun ikutan bicara.


"Baim! Doanya yang baik-baik. Masa Dara udah buka dada masih kalah," serobot Kak Aya. "Jurinya kurang melek kalau sampai kamu kalah."


Tak berapa lama dari ucapan-ucapan mereka, Kak Bagas sebagai pasanganku hari ini turut selesai didandani. Dia keluar ruangan dengan beragam pernak-pernik yang menempeli tubuhnya.


"Ini, nih! si Ganteng!" Ayah Kak Bagas bersemangat dalam menepuk pundak sang anak.


"Bagas ganteng, lho," puji Papi sambil ikut menepuk lengan kekasihku itu.


"Ya, gak salah-salah amat, ya, kita semangat. Sayang, kalau kecantikan dan kegantengan anak gak dimanfaatkan," celetuk Bu Ester.


"Betul banget, Bu. Untung kita gerak cepat, ya, buat sewa bajunya." Mami menambahkan.


"Dara!" Kak Bagas tiba-tiba memanggil. Pelan-pelan dia berjalan menghampiriku. "Itu kenapa bahunya kebuka?"


"Memang begini," kataku.


"Memang begitu, Bagas. Waktu fitting juga, kan, memang dibuka." Bu Ester ikut menjelaskan.


"Gak, waktu fitting gak begitu bajunya."


Ah, dia pasti ingatnya bahuku tertutup karena memakai kaos.


"Waktu fitting Dara pakai kaos, Bagas. Jadi, tertutup bahunya." Mami yang sepemikiran denganku turut memberikan penjelasan.


"Kalau pakai kaos kelihatannya gak bagus, Gas. Sudah begini saja. Sudah pas. Sudah cantik." Mami masih kukuh dengan kostum yang aku kenakan.


"Sudah, Bagas. Tidak masalah. Papi mengizinkan karena ini berkaitan dengan baju adat." Papi tetap bersikap santai ketika bahu anaknya terekspos keluar.


"Pi, Bagas cuma kasihan sama Dara. Nanti kalau masuk angin gimana?"


"Ya, kalau masuk angin, kamu yang kasih obat, dong, Gas. Masa anak farmasi gak bisa obati pasangannya?"


Alhasil setelah di sekakmat oleh ayahnya, Kak Bagas tidak meninggikan suaranya lagi. Dia berujung diam. Diam yang tidak betulan diam, sih. Bibirnya terlihat mengerucut. Setelah kami duduk di mobil pun bibirnya masih tak bersahabat untuk tersenyum.


"Kak, aku gak mau, ya, kita kalah. Udah belibet pakai baju, ditambah kalah. Gondoknya segede apa coba?" Aku sengaja ikutan cemberut.


"Kenapa berpikirnya, gitu? Bisa, aja, kita menang hari ini." Kak Bagas terlihat serius melihat jalan raya.


"Ya, udah pesimis, aja. Gimana bisa menang kalau Kakaknya cemberut mulu?"


Disindir begitu, dia pun menolehkan kepala sambil menghela napas panjang. "Galau berat!"


"Ya Tuhan, Kakak. Lebay amat! Sehari, doang, gak pakai moge udah kayak setahun. Kakak kayaknya lebih sayang moge ketimbang sayang aku, ya? Kakak lebih rela lihat aku ribet naik motor daripada keenakan naik mobil begini," cerocosku benaran marah.


"Bukan. Bukan cuma moge, aja." Dia meralat santai. "Sudah galau karena gak pakai moge, ditambah sekarang galau lihat kamu pakai baju terbuka."

__ADS_1


"Ini aku pakai jaket, Kak." Aku sudah melakukan apa pun yang dia inginkan.


"Ya, tapi, kan, di sana beda cerita. Pasti bentar lagi buka jaket," dumelnya lagi.


"Tenang, pokoknya tenang," kataku. "Aku bakalan lepas jaket kalau kita naik panggung. Di bawah panggung tetap pakai, kok."


"Serius?" Dijanjikan begitu, dia baru mau mengulas senyum.


"Iya, serius. Lagian juga dingin kalau di area terbuka lepas jaket."


Mobil yang Kak Bagas kendarai akhirnya menepi dengan selamat di lahan parkir. Acara pentas seni sekaligus open house sekolah farmasi ternyata sudah dimulai sejak lima belas menit yang lalu. Kak Esa yang kebetulan ditunjuk sebagai MC, terdengar tengah membacakan beberapa susunan acara yang akan dipertontonkan kepada kalangan murid SMP yang datang.


Ada untungnya juga kami dipilih sebagai perwakilan organisasi. Kami tidak perlu kerepotan lagi datang pagi-pagi buat untuk menyiapkan gelaran acara. Beberapa rekan yang melihat kedatangan kami lantas berjalan mendekat.


"Cantik banget, Bu. Terlalu menjiwai peran kayaknya," canda Eren sambil membantu membawakan kipas dan perlengkapan Kak Bagas.


"Ra, aku bantu kamu jalan," ucap Riska sambil mengangkat kain songket supaya tidak tersentuh tanah.


Baru berjalan beberapa meter, semua pasang mata sudah terlihat penasaran dengan kami. Aku yang memang sudah terlanjur menghayati peran hanya bisa menegakkan kepala sambil sesekali tersenyum ke arah mereka yang memperhatikan.


Langkah kami menuju ruang peserta kontes busana pun tiba-tiba tertahan karena dihampiri Prayoga—anggota OSIS yang hari ini diberi amanah sebagai seksi bidang dokumentasi. "Boleh foto dulu? Ada background Bali di sana," tunjuknya pada spanduk yang sudah dihias sedemikian rupa.


"Foto-foto ... yang ada repot, Curut!" semprot Kak Bagas yang juga tak kalah membantuku berjalan.


"Sayang, foto yuk," ajakku berlainan dengan emosinya. Mumpung ada kameraman yang tertarik, mumpung hari belum terlalu panas juga. Lumayan foto sedikit-sedikit.


"Adek mau foto?" tanyanya sedikit mengernyitkan kening karena berniat tidak menyetujui hal itu.


"Hm-m, ayo!" Aku menarik lengan Kak Bagas, mengabaikan kain songket yang menyeret tanah.


Seniat itu pihak dokumentasi mempersiapkan semuanya. Mereka sampai membuat banner pemandangan ala-ala lintas provinsi untuk dipakai background foto semua peserta yang mengenakan baju adat.


"Mas, request! Ingin rasa Bali banget," pinta Kak Bagas yang akhirnya setuju untuk mengisi memori kamera Prayoga.


"Siap, Bos! Mau ala-ala pengantin baru juga bisa."


"Ah, ya, udah! Itu, aja. Ala-ala pengantin baru." Dia makin bersemangat karena ditawari begitu.


Jelas saja, semua orang lebih tertarik karena kami mulai berpose. Banyak diantara mereka juga yang mengantre sambil membawa ponsel di tangan. Hawa-hawanya, sih, seperti ingin meminta foto bersama juga. Prayoga yang cukup profesional di bidangnya berusaha mengatur gaya, sehingga kami tetap fokus dalam pengambilan gambar.


"Dek, semoga, aja, jadi doa." Situasi ketat begini, bisa-bisanya dia berbisik, tetapi bibir menampilkan senyuman terlebar.


"Doa, apaan?" tanyaku ikut berbisik juga.


"Doa supaya kita jodoh."


***


Kurang lebih begini penampilan mereka. *Author kelamaan cari foto*

__ADS_1



__ADS_2