
Kubangan pasir berhasil kami lewati dengan baik karena Cecilia berkenan mempercayai jawaban yang dipikirkan olehku. Dia mendadak menurut dan tidak egois lagi supaya kelompok tiga berhasil sampai di lapangan tanpa berkotor-kotor ria.
Kini kami berjalan menyusuri jalan sepetak. Melewati beragam pepohonan besar tanpa memedulikan tubuh yang menggigil karena diterpa angin malam hutan. Sesekali aku menengok anggota yang berjalan di belakang. Mereka berusaha kuat, berjalan seraya memeluk dada dengan kedua tangan masing-masing. Ah, melihat pemandangan itu rasanya aku ingin segera sampai ke tenda, membuat teh hangat atau bahkan api unggun bersama mereka. Anehnya, situasi seperti ini tidak lagi membuatku memandang posisi teman atau musuh. Mendadak semua rata, sama teman seperjuangan dan layak untuk diapresiasi kegigihannya.
Daftar rencana yang berkelebatan dalam benak pun menguap karena Shafira menarik sebelah lenganku. Tentu saja hal itu membuat langkah kami terhenti. Seluruh kepala serta merta menoleh, memperhatikan dia yang mendadak membungkukkan badan sambil tangannya meremas baju di bagian depan.
"Kenapa?" tanyaku hati-hati akibat tidak bisa membedakan dia yang benaran sakit atau dia yang sedang berakting sakit.
"Dada ... aku ... sesak," jawabnya lemah.
Kami saling pandang. Sedikit bingung dengan perubahan kondisi seperti ini. Mana jauh ke mana-mana pula. Terlebih karena kami belum menuntaskan tantangan terakhir, kubangan lumpur.
"Kuat jalan, gak?" Kali ini Cecilia menunjukkan perannya sebagai senior kelompok tiga. Mewakiliku, dia menepuk lembut punggung Shafira.
"Kamu punya asma, ya, Fir?" Pertanyaan itu seakan menjawab kebingungan kami karena tingkah Shafira yang berubah tiba-tiba.
Aku lekas mengambil posisi jongkok, menyetarakan kepala kami. "Kamu benaran punya asma?" Aku mengulang pertanyaan Eren. Takut tebakannya meleset.
Seakan memberi jawaban, kepala Shafira mengangguk cepat. Tentu saja aku bereaksi seadanya. Tanpa permisi mengacak setiap kantung yang terbalut di tubuhnya. Sayangnya, aku tidak menemukan benda yang biasa digunakan orang asma di kantung celana dan jaketnya.
"Ga-gak ... ada ...," katanya lagi dengan terbata. Dia menepis tanganku yang terus berusaha menggeledah isi kantungnya.
"Masa kamu gak bawa inhaler?" teriakku akibat panik yang mendera.
Shafira tidak menjawab, punggungnya semakin naik-turun. Sekuat tenaga dia menunjuk ke arah jalan setapak yang tadi kami lewati.
"Inhalernya jatuh?" Cecilia berusaha menebak arah tunjuk Shafira dan ia pun menganggukkan kepala. "Jatuhnya di mana? Ingat, gak?"
"Ya, mana ingat," semprotku mendadak kesal. Pertanyaan macam apa coba itu? Kalau dia tahu dan ingat inhalernya jatuh, mungkin Shafira sudah memungutnya sewaktu kami berjalan.
"Gue, kan, nanya ke Shafira." Telunjuk Cecilia sampai mendorong kepalaku.
Tak terima diperlakukan bak orang bodoh, aku bergegas menegakkan badan menjadi berdiri berhadapan dengannya. "Ya, kalau nanya juga yang logis. Kalau dia ingat pasti udah puter arah tadi."
"Ya, udah sekarang keputusan lo gimana?" Cecilia malah balik membentak. "Lo itu ketua. Ada anggota yang kalap begini, lo harus bisa ambil pergerakan cepat."
Aku langsung membuang muka. Beralih fokus ke arah Eren, Riska, dan Putri. Hah, astaga! Sebenarnya, aku gengsi, tetapi aku tidak mungkin menggenggam ego terus karena ada nyawa orang lain juga yang menjadi taruhannya.
"Oke." Aku menyempatkan diri menelan ludah sebelum kembali berkata, "Riska, Putri, aku boleh minta tolong?" Mereka langsung sigap dan memasang tubuh tegak.
"Nyari inhalernya Shafir 'kan?" tebak Riska tepat sasaran.
"Tolong, ya, telusuri lagi jalan yang tadi." Aku mencoba menurunkan gengsi sampai ke mata kaki.
"Oke, Dara. Aku sama Putri bakal cari inhaler Shafira. Batas pencarian sampai mana?" tanyanya serius.
"Aku penginnya kalian cari sampai dapat. Kalau perlu sampai pos pertama, tapi kalau sampai pos kedua itu barang gak ketemu juga, tolong putar balik, aja. Aku, Eren, sama Shafira bakalan tunggu di sini."
Tak terduga, mereka pun setuju. Tidak banyak menyela, apalagi mengelak. Riska dan Putri bergegas pergi, memutar balik langkah ditemani dua senter yang kami bawa.
__ADS_1
"Keputusan lo salah," komentar orang yang sedari tadi diam terus.
"Terus yang benar itu yang gimana?" Tantangku karena kesal dia terus-menerus merasa benar.
"Ya, lo pikir, aja! Dua senter dibawa mereka. Kita di sini malah gelap-gelapan. Ada pasien Dara. Ada pasien." Tunjuk Cecilia kepada Shafira yang kini sudah terduduk lesu di tanah yang dingin.
"Dikira cari barang mini di tempat gelap itu mudah, apa?" bentakku. "Nih, ya, daripada lo komentar mulu mending bantu kelompok tiga."
"Bantu apa?" teriaknya sambil berkacak pinggang.
"Lo panitia, pasti bawa HP. Bisa 'kan hubungi teman-teman lo? Kasih tahu tim kesehatan kalau kita punya pasien darurat di sini!"
Lidah Cecilia berdecak, tetapi tangannya tetap menuruti perintahku. Dia langsung melihat ponsel, mengetuk-ngetuk layar sambil sesekali mengapungkan benda mungil itu ke udara. Apes lagi. Sudah bisa tertebak dari gelagatnya. Kami tidak memiliki harapan. Ponselnya pasti tidak ada sinyal.
"Dalem hutan susah sinyal," keluhnya. "Tim yang lain pakainya walkie talkie."
Ide cemerlang lantas muncul. "Berarti pos terakhir ada yang pegang walkie talkie?" tanyaku cepat.
"Iya, mereka pasti dikasih sama Arfan."
"Oke. Bisa, kan, lo pergi duluan?" Aku ingin mengirim Cecilia ke pos tiga duluan.
"Lo gila? Gelap, Dara! Gue gak bisa lihat jalan." Dia tak kalah berteriak.
"Lo bawa HP, Cecil!" bentakku tak bisa lagi menahan gejolak emosi. "Lo tinggal pakai mode senter, lari cepat ke pos tiga. Minta bantuan teman-teman lo!"
Bungkam. Akhirnya, dia berhenti membentakku. Hitungan detik kemudian, Cecilia berjalan penuh rasa keterpaksaan. Dia menyalakan cahaya senter dari belakang ponsel dan meninggalkan kami di sini.
"Kamu ikutan ekskul PMR 'kan?" Mendadak kelebatan ingatan itu muncul saat aku melihat Eren.
"Iya, posisi sudah benar, kok, Ra." Dia mengusap lembut punggung Shafira. Menggerakkan naik-turun, lalu memberinya aba-aba. "Tarik napas pelan-pelan. Keluar juga pelan-pelan, ya." Arahan itu terus dia ikuti dengan benar. Aku yang menyaksikan perjuangan Eren untuk mengurangi bunyi ngik-ngik di napas Shafira jadi sedikit merasa lega. Ada yang bisa diandalkan, aku tidak sendiri.
Sayup-sayup aku mendengar suara derap lari dari jalur yang pernah kami lewati. Cepat-cepat aku bangkit, menyambut kedatangan Riska dan Putri dengan tatap penuh harap. "Gimana?" todongku tanpa memberi mereka jeda untuk mengambil napas.
"Aku sama Putri udah bagi tugas. Di pos pertama dan kedua gak ada inhaler Shafira. Kayaknya jatuh pas masuk kubangan pertama, deh." Kesimpulan itu aku dapatkan dari Riska karena dia yang lebih dulu mengatur napas sampai normal.
Mataku terpejam. Sudah begini, apa yang harus aku lakukan? Aku beralih arah, menengok jalur yang akan kami lewati. Tidak ada satu pun tanda-tanda Cecilia yang datang dengan membawa bala bantuan.
"Ra, gawat!" ucap Eren tiba-tiba membuat tegang suasana.
"Apa? Kenapa?" tanyaku cepat sambil menghampiri pasien dan perawatnya. "Kenapa?"
"Dia udah gak bisa olah napas sendiri. Bener-bener butuh inhaler."
Napasku berembus berat. Seketika kepala terasa pening. Sungguh, kasus ini menguras batin dan otak supaya bekerja dalam satu waktu.
"Oke, sebentar ...." Aku memejamkan mata. Menaik-turunkan napas sampai kepala terasa lebih rileks. Baiklah. Mau tak mau aku harus melakukan ini.
"Geng, dengar baik-baik," kataku karena merasa mantap dengan rencana super kilat ini. Mereka menatapku serius. "Aku punya rencana. Kita gak bisa nunggu Cecilia lebih lama lagi. Mau gak mau, kita yang harus ke sana, bersama-sama."
__ADS_1
"Shafira gimana?" tanya Putri. Pandangannya beralih menatap orang yang bersangkutan. Dia sudah tidak bisa bernapas dengan normal. Terdengar bunyi ngik-ngik, padahal Eren sudah mengajarkan olah napas sementara barusan.
"Dia tetap kita bawa." Aku sudah memutuskan. "Putri, kamu jalan duluan. Bawa senter dan terangi jalan. Shafira aku yang gendong dan tugas kalian berdua." Tak lupa aku menunjuk Eren dan Riska secara bergantian. "Tolong bantu sangga badan Shafira dari belakang."
***
Akhirnya, sampai di pos tiga setelah perjuangan yang panjang. Tak hanya aku, kedua rekan yang membantu pun napasnya ikut naik-turun. Tidak aku dapati batang hidung Cecilia yang pergi lebih dulu guna meminta bala bantuan. Sialan! Pantas lama. Apa dia memang berencana lari?
"Itu kenapa?" tanya penjaga pos tiga setelah melihat kami dari jarak dekat. Tangan lelaki itu sudah menggenggam sehelai kertas yang berisi pertanyaan untuk kami jawab.
"Sakit, Kak," jawab Putri mewakili kami yang sedang mengatur napas.
"Sakit?" Dia malah mengerutkan kening. "Sakit benaran atau cuma iseng?"
"Ya, kali sakit dibawa main-main," sungut Eren disela kembang kempisnya dada.
"Sakit apa dia? Bisa berdiri gak?"
"Kalau bisa berdiri, dia gak mungkin diboyong begini, Kak." Suara Eren semakin keras dan menajam.
"Lah, biasa saja, dong. Saya, kan, nanya baik-baik. Lagian, kenapa tim kalian gak ada mentornya? Kabur apa, gimana?"
"Justru itu yang bikin kami bingung. Kami udah tunggu dia dari tadi. Jalannya ke arah sini buat cari bala bantuan, tapi kenapa tim kesehatan gak muncul juga?" Bersyukur karena Putri menanyakan hal yang ingin aku tanyakan.
"Lah, dia cari bala bantuannya ke mana? Dari tadi saya sama Anne diam di sini. Gak ada, tuh, mentor yang minta bala bantuan. Kalian jangan mengada-ada. Saya gak akan kasih kalian percaya kalau bukan mentornya sendiri yang cerita." Lelaki itu malah bersungut-sungut.
Aku tak mau berbicara. Hanya bisa mendengarkan perlawan anak-anak kelompok tiga karena tak ingin membuang tenaga. Takut malah terjatuh karena terlalu kebanyakan membuka mulut.
"Jadi, ini gimana, Kak? Teman kami dapat keringanan, gak? Sudah gak bisa berdiri tegak soalnya." Riska ingin segera menuntaskan pos terakhir ini.
"Maaf, ya. Sebelum mentor kalian yang cerita, kami gak akan percaya kalau orang yang di belakang sana itu sakit." Suara wanita yang katanya bernama Anne memecah keheningan dan rasa tidak percaya dari kami.
Untuk apa coba berbohong? Repot-repot gendong teman sampai keringat turun ke mana-mana. Tidak ada kerjaan sama sekali.
"Kalian gak akan kami kasih keringanan. Kalau mau cepat sampai tim kesehatan, harus lewati kubangan lumpur dulu." Telunjuknya sudah mengarah ke kubangan terakhir yang harus kami hadapi.
"Anak zaman sekarang aktingnya suka gak ketulungan, ya. Segitunya banget pengin istirahat dan lepas tanggung jawab," cemooh panitia lelaki.
"Gila, aja. Masa kita harus lewati jebakan ini, padahal Shafira, kan, sakit beneran," rengek Riska yang tertangkap jelas olehku.
"Udah. Kita jawab, aja, pertanyaannya. Mereka gak punya hati nurani kayaknya," ejekku pelan.
"Mana pertanyaannya, Kak!" Tagih Eren karena mendengar ejekanku.
"Nah, begitu, dong. Kalian harus jawab pertanyaan apa pun kondisinya. Mau ada yang sakit atau enggak, kalian wajib jawab dan lalui jebakan ini biar bisa sampai ke pos kesehatan."
"Cepat, Kak. Mana pertanyaannya!" desak Riska karena tidak mau mendengar basa-basi panitia perempuan.
"Oke. Pertanyaan untuk melewati kubangan lumpur. Siapa nama ketua OSIS angkatan kelima sekolah SMK Farmasi Bangsa."
__ADS_1
Lah, pakai nanya itu lagi. Ya, mana kami tahu coba. Kami angkatan ke-27. Sejauh itu jaraknya dengan angkatan kelima. Ya, kali bisa hapal namanya. Bertemu saja sepertinya tidak pernah. Memang mereka sengaja memberikan pernyataan yang tidak masuk di akal. Sengaja ingin mendorong kami yang kesusahan ke kubangan lumpur.
***