
Pagi hingga sore, semangatku tidak setinggi kemarin. Sepulang sekolah dengan tubuh lemah aku mengajak kaki melangkah memasuki ruang televisi. Langsung membanting diri tanpa permisi, padahal di sofa sudah ada Kak Soraya.
“Lemes, Bestie?” ejeknya. “Mi, yang lagi LDR lemes, Mi.”
“Berisik!” Aku sampai menampol wajahnya dengan sebelah tangan.
“Habisnya kamu lebay. Tinggal susul apa susahnya? Masih satu Bandung juga.”
Andaikan bisa menyusul, ya, pasti sudah aku susul. Sayang, SIM dan Pak Polisi menjadi sekat diantara kami.
“Kamu kalau takut ditilang naik taksi, aja.”
Saran yang bagus. Sayangnya, uangku tidak sebesar uang jajannya. Bisa gigit jari selama dua minggu kalau nekat menyusul Kak Bagas dengan taksi.
“Kalau gak punya duit, cukup tebar chat, aja.”
“Gak dibalas.” Baru saran ini yang menarik keinginanku untuk bicara.
“Punya yang lain kayaknya.”
“Bukan!” semprotku yang kembali menampol wajahnya. “Dia kebagian sif pagi minggu ini.”
“Kamu tahu jadwalnya?”
“Iya, lah. Dara, gitu.” Aku mulai menyombongkan diri.
“Dasar emang bucin, ya, si Bagas.”
“Udah, deh. Sirik, aja. Biarkan dia bucin. Kalau bucin, kan, minim selingkuh.” Aku mencoba membela hal yang menurutku benar.
“Iya ... iya ... gimana kamu, aja, dah!”
Aku tidak menyahut lagi. Berujung mengambil ponsel dari saku celana, lalu mengusap layar untuk memastikan perkembangan notifikasinya. Hah, nihil. Tidak ada perubahan sama sekali. Kak Bagas belum membaca pesan yang aku kirimkan di jam tujuh pagi. Dia ke mana coba?
Demi memastikan tiada kesalahan penglihatan, aku kembali membuka galeri foto, memperbesar jadwal kerja Kak Bagas. Benar, kok. Aku tidak salah lihat. Kak Bagas memang mendapat giliran sif pagi minggu ini.
Oke, aku bisa memahami dia yang tidak bisa membalas pesan di pagi hari karena jam tujuh pagi sudah mulai bekerja, tetapi apakah wajar jika sampai sekarang dia belum membalas pesan? Sudah pukul 16.00, lho. Dia seharusnya bisa membaca pesanku karena sif pagi berakhir di jam 14.00.
“Udah, deh. Semakin dilihat, semakin overthinking,” kata Kak Soraya setelah keheningan lama.
“Cuma heran, aja. Dia ke mana.” Aku bergumam karena tak ingin dibilang overthinking.
__ADS_1
“Ya, mungkin lagi cari makan atau lagi ngerjain tugas. PKL banyak PR, lho, Ra.”
“Iya, kali, ya,” balasku mengambang.
Rasanya, bukan itu alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaanku tentang Kak Bagas. Namun, jika pemikiran Kak Aya bisa membuat hati menjadi lebih lapang, ya, sudah anggaplah begitu. Anggap Kak Bagas tidak membalas pesan karena sibuk dengan dunia barunya.
“Ck! Udah daripada galau mending ikut kakak.”
“Ke mana?” Aku berkata malas. Nyatanya, masih ada juga orang yang menggodaku hang out selain ketiga teman di sekolah. Aduh, apa mereka tidak paham kalau aku sedang berhemat?
“Ke mana kek, cari angin.”
Ah, semakin tidak bersemangat karena Kak Soraya tidak jelas dan tanpa tujuan.
“Mau, gak?” desaknya sambil menyenggol lenganku.
“Gak. Gak ada duit.”
“Hah? Masa? Mami lupa kasih jatah? Gak mungkin, kan?”
“Berisik, deh!”
Tidak mau menanggapi lebih lanjut, aku langsung beranjak dan berjalan sambil menenteng ransel.
Aku berpikir cepat. Kalau diam di rumah, semakin kepikiran Kak Bagas. Mumpung ditawarkan makan gratis, kenapa tidak diambil? Merasa sudah mendapat keputusan yang benar, buru-buru aku membalikkan badan. “Dara mandi dulu.”
***
“Kak, lagi kesambet apa?” tanyaku begitu mobil berhenti di lampu merah.
Aku tak tahu ke mana dia akan membawa mobil ini. Berbekal pinjam dari Mami, nekat disopiri seorang diri pula. Alasan bertanya tadi karena aku merasa tidak menyangka saja. Kak Aya yang notabene cuek dan hanya peduli di saat-saat genting mendadak memperlakukanku secara istimewa hari ini.
“Maksudnya?” Dia malah balik bertanya.
“Ya, gak biasa, aja, baik sama Dara.”
“Ah, kamu. Jangan terlalu peka, Ra. Kakak jadi ketahuan, kan, kalau ada maksud.”
Ah, Tuhan. Pantas saja firasatku tak enak. Benar ada udang dibalik batu ternyata. Bodoh saja karena aku pikir di dunia benaran ada makan gratis. Tahunya ....
“Aku harus ngapain, nih?” Sudah tidak mau berbasa-basi.
__ADS_1
“Tes seseorang.”
“Maksudnya?” Aku memandangi wajah Kak Soraya yang begitu misterius.
“Kakak lagi deket sama cowok. Dia baik ke semua orang, tapi kakak ngerasa dia baiknya beda kalau berurusan sama kakak. Nanti kita ketemu di sana. Kamu bisa, kan, lihat gelagat orang yang suka? Kakak takut meleset, aja.”
Aduh, benar-benar, deh. Semenjak putus dengan ketua BEM, dia jadi berulah. Sudah tahu aku punya Kak Bagas masih saja dilibatkan dalam urusan ini. Bukannya tidak ikhlas membantu, aku cuma takut saja teman yang sedang dekat itu malah naksir diriku. Bukan GR. Cewek cantik memang harus PD.
Kami sampai di lokasi pengujian perasaan. Masih menggunakan sabuk pengaman, kepalaku melongok ke jendela untuk mengetahui tempat yang dipilih mereka. Ah, CityFestival. Memang dasarnya aku harus menonton kali, ya. Kemarin menolak tawaran tiga rekan, tahunya sekarang datang karena dibawa Kak Soraya.
Sebelum naik ke lantai tiga, aku dibawa menunggu terlebih dulu oleh Kak Aya. Beruntung karena sofa yang tersedia di lobi tidak berpenghuni. Aku jadi bisa sebebas ini mendudukan tubuh sampai tidak mempedulikan kakakku yang terus berdiri sambil celingukan ke area parkir.
“Kak,” tegurku setelah kami dibuat menunggu lima belas menit.
“Bentar.” Dia mencoba menahanku untuk bicara lebih lanjut karena tidak ingin acara menghubungi temannya terganggu.
Namun, bukan Dara namaku kalau semudah itu menyerah. Mulutku terbuka, kembali melantunkan kata-kata untuk menyadarkan sang kakak. “Kasih waktu lima menit lagi. Kalau masih gak datang juga berarti itu jawabannya.”
“Jawaban apa?” Kak Aya malah berujung sewot.
“Bukannya Kakak ke sini mau lihat perasaan dia? Ya, kalau dia telatnya kelewat batas berarti memang Kakak bukan prioritas. Masa begitu, aja, harus diajar sama anak SMA.” Mendadak aku jadi terbawa emosi.
“Diem, deh, Ra. Bisa, aja, kan dia telat karena ada kendala.”
Susah, sih, memberi tahu kakakku ini. Ya, sudah untuk sementara waktu aku akan diam. Biar dia yang rasakan sendiri. Kalau benaran niat mencari jawaban, sih, seharusnya dia sudah tahu kalau temannya itu tidak menaruh rasa sama sekali.
Lelah dengan pemikiran dungu Kak Soraya, aku jadi beranjak. Kepalaku turut celingukan, tetapi tiada maksud mencari orang yang bersangkutan.
“Mau ke mana?” tanyanya sambil menahan lenganku.
“Minta duit!” Tanganku terulur karena terpikirkan sebuah ide cemerlang.
“Apaan minta duit? Belum juga misi, udah minta bayaran.”
“Ya, minimal DP dulu, lah. Gak rugi juga jajanin adik sendiri.”
Kata-kata yang kupikir tidak akan berhasil menarik hati, nyatanya malah mampu mencairkan isi dompetnya. Benaran pakai DP, dong. Dibayar tunai pula. No transfer-transfer.
Berhasil mendapat selembar uang seratus ribu, aku berlari mendekati stan minuman kekinian. Berusaha memilih varian yang enak dengan harga murah dengan cermat. Ya, walaupun uang Kak Aya, tetapi aku cukup tahu diri. Dia juga tidak diberi uang besar-besar amat oleh Mami. Jadi, sebisa mungkin aku harus mengaktifkan rasa iba.
Aktivitas memilih menu pun mendadak terhenti karena kehadiran seseorang di sampingku. Tanpa mengatakan apa pun, dia tiba-tiba mengulurkan ponsel tepat ke depan wajahku. Perbuatan itu jelas saja membuatku bingung. Tubuhku yang menegak lantas menjauhi papan menu. Aku sudah siap memberinya semprotan dan tatapan tajam. Namun, baru juga membuka mulut dia sudah lebih dulu memberiku kata-kata.
__ADS_1
“Adiknya Soraya, ya? Boleh minta nomor?”
***