
"Kasih tahu kakak kalau dia datang lagi."
"Iyaaa ...."
Tuhan. Cemburunya dia bukan main-main. Baik pagi atau siang pembahasan video call pasti soal Marcel yang menyebalkan. Tiada henti mengingatkanku untuk memberitahunya, jika sewaktu-waktu Marcel datang ke rumah. Kak Bagas menyatakan diri siap terbang lintas kabupaten demi menghalangi Marcel menemuiku. Hah, ada untungnya juga mereka bertemu. Dia jadi semakin lengket, kan?
"Kak, udah dulu, ya." Terpaksa harus menutup obrolan karena aku sudah sampai di tujuan.
"Harus masuk kelas, ya?" tebaknya dengan nada sedih.
"Hm-m. Nanti malam kita sambung lagi," janjiku.
"Oke. Jangan lupa kirim kakak chat!" peringatnya.
Selepas mengucap janji dan kalimat penenang, aku bergegas memutus sambungan. Niatku sekarang hanya kembali ke kelas, menunggu bel berbunyi dengan berbincang santai bersama kawan-kawan. Sudah balikan pun, aku tetap menghormati mereka yang berstatus lajang. Tidak baik kalau terus-terusan fokus kepada pacar, hingga melupakan aktivitas curahan hati teman.
"Dara!"
Panggilan dari arah belakang mampu menghentikan derap saat memasuki kelas. Aku menoleh ke sumber suara, mendapati Prayoga sudah berdiri tegak sambil melambaikan tangan. Seperti biasa, si murah senyum itu menampakkan wajah yang enak dilihat.
"Hei, Ga," sapaku santai seraya membalas lambaian tangan.
"Ikut, yuk!" ajaknya penuh semangat.
"Ke mana?" Aku bertanya sambil berjalan menghampirinya.
"Ruang Pak Abigail."
"Yakin mau sekarang?" Aku menyempatkan diri menengok arloji. Tersisa sepuluh menit sebelum bel masuk berbunyi.
"Iya. Beliau kirim chat-nya barusan."
Baiklah. Jika sudah ada perintah, maka kami tidak bisa mengelak. Sisa waktu istirahat yang ingin kuhabiskan bersama teman-teman pun terpaksa pupus.
"Jam baru ya, Ra?"
Pertanyaan yang terdengar tiba-tiba saat kami menyusuri koridor menuju ruang pembina.
"Ini?" Aku mengapungkan tangan, bermaksud menunjukkan arloji pemberian Ayang.
"Iya. Kayak baru lihat."
Wah, dia pandai memperhatikan juga rupanya. Cuma Prayoga yang sadar tentang jam tangan ini. Eren—teman sebangkuku bahkan tidak menyadarinya.
"Iya, emang jam baru," ucapku seadanya.
"Dari ... Kak Bagas?" Tebakan yang terdengar ragu-ragu.
Aku memberi anggukan singkat untuk menjawab pertanyaan itu.
"Ah, jadi bener ...." Gumaman disertai embusan berat itu memancing perhatianku untuk menolehkan kepala. "Kamu balikan lagi ternyata," sambungnya.
"Kamu tahu aku putus?" tanyaku yang mengingat sesuatu hal tempo lalu.
__ADS_1
"Tahu."
"Tahu dari mana?"
Seingatku dulu dia juga memberi keyakinan kalau Kak Bagas punya alasan tersendiri saat meminta break. Aku merasa tidak pernah bercerita kepada siapa pun, tapi Prayoga satu-satunya yang peka karena melihat perubahan profil WhatsApp Kak Bagas. Sekarang, saat aku balikan pun dia satu-satunya orang yang sadar akan hal itu. Kira-kira dari mana dia tahu? Tidak mungkin kalau asal tebak saja bukan?
"Dari wajah kamu." Jawabannya malah menciptakan rasa penasaran.
"Wajah aku kenapa?" Tidak mungkin ada label PUTUS CINTA ataupun BALIKAN 'kan?
"Kemarin-kemarin wajahnya suram. Terus sekarang ada ciri-ciri kasmaran."
"Oh, ya?" Aku senang ada orang yang peka terhadap sekitar. Jarang-jarang, lho, ada cowok seperti Prayoga. Teman-temanku saja tidak sadar perubahan kecil itu.
"Hm-m. Kemarin kamu putus 'kan? Terus sekarang udah baikan?"
"Iya, bener. Kemaren aku putus, terus sekarang udah baikan." Tidak ada salahnya juga terbuka. Toh, Prayoga bukan kategori cowok yang ember bocor.
"Kayaknya, kamu sayang banget sama Kak Bagas, ya?"
"Iya, lah. Kalau gak sayang, mana mungkin mau balikan."
Mendadak lawan bicaraku menghentikan langkah. Aku yang tersita perhatian melihat wajahnya yang kehilangan senyuman.
"Ra, coba jawab sekali lagi."
"Apa?" Ketegangan ikut menyeruak.
"Kamu beneran sayang sama Kak Bagas?"
"Ah ...." Dia mengangguk sambil tersenyum miring. "Oke, saya ngerti."
***
Kami memasuki ruangan Pak Abigail di lantai dua. Baru sampai dan bertatap muka, beliau langsung menunjuk dua bangku di depan meja untuk kami duduki. Tanpa berucap pun kami sudah mengetahui isyarat perintah tersebut. Kalau dilihat dari gelagatnya, beliau pasti ingin membahas masalah yang serius.
"Tadi bapak berdiskusi dengan para petinggi sekolah," ucap beliau mengawali percakapan setelah kami duduk berhadapan. "Mereka meminta konsep baru untuk pentas seni nanti."
Astaga. Lagi? Konsep baru dan konsep baru. Apa yang spesial dari angkatan kami, sehingga banyak mengundang konsep baru?
"Pihak sekolah bersedia menurunkan dana lebih dari yang kalian minta dengan syarat open house."
"Open house?" tanyaku dan Prayoga hampir bersamaan.
"Ya. Sekolah kita ingin mengundang beberapa siswa SMP untuk menonton langsung pentas seni sekaligus demo antar ekskul."
"Oh, ajang promosi," gumamku yang mendapat anggukan dari beliau.
"Jangan terlalu banyak masukin peran. Cukup intinya saja, supaya mereka bisa mengenal sekolah kita dengan baik. Singkatnya, kalian tinggal buat konsep acara pentas seni, pembagian hadiah kegiatan PORSENI kemarin, dan tambahannya demo ekstrakulikuler. Sudah."
"Siap, Pak," jawab Prayoga menyanggupi.
***
__ADS_1
Sore harinya kami benaran mengeksekusi tugas dari Pak Abigail. Seluruh barisan tim dengan cepat dikumpulkan demi tercapainya konsep dalam satu kali rapat.
Ada pembagian empat kelompok di sini. Kelompok pertama fokus membahas pentas seni, kelompok kedua membahas hadiah dan door prize, kelompok ketiga pengaturan demo tiap ekstrakurikuler dan terakhir kelompok pimpinan acara. Aku berada di kelompok terakhir. Masih menyandang tugas yang sama, yakni seputar penanggung jawab proposal dan menuliskan agenda rapat.
Awal hingga pertengahan rapat berjalan dengan baik. Semua kelompok aktif silih mempertanyakan keraguan mereka kepada Prayoga. Beruntung karena jalan pikir ketua pengganti cepat dan tanggap. Alhasil, semua pertanyaan anggota terjawab dengan sempurna.
Tiba giliranku mengapungkan tangan, bermaksud menginterupsi dan menarik perhatian semua orang karena memiliki sebuah pertanyaan. "Ga, maaf! Aku mau tanya." Seisi ruangan hening seketika. "Untuk demo ekstrakulikuler, apa kita harus kumpulin semua ketua ekskul dalam satu ruangan?"
"Buat apa?" tanya Prayoga sambil memandangku malas.
"Buat kasih tahu mereka tentang demo. Kalau dikumpulin sekarang, kan—"
"Repot banget, sih," potongnya.
"Ya?" Aku mengerjap, sedikit terhenyak karena ucapannya barusan.
"Kenapa gak mikir praktis, Ra? Kita bisa buat pengumuman, tempel di mading, beres! Gak perlu buang-buang waktu kumpulin semua ketua."
"Ah, bener juga." Aku tersenyum tipis.
"Oke, ada pertanyaan lain?" tanyanya langsung menutup pembicaraan denganku.
"Untuk kertas pengumuman dibuat siapa, Ga?" tanya Putri yang kali ini ikut kelompok demo.
"Dibuat sekretaris, aja." Dia mulai membuat keputusan sepihak.
"Bukannya Dara gak bisa Corel dan Photoshop, ya? Kenapa gak pakai jasa anak jurnalis dan mading? Biar kertas pengumumannya lebih oke," saran Putri.
"Hah!" Prayoga memijat pelipisnya. "Ra, memangnya kamu gak bisa edit foto?"
"Ya ... bisa, sih, tapi hasilnya gak akan sebagus waktu pengumuman PORSENI."
"Kenapa gak bisa sebagus mereka? Ini, kan, bagian tugas sekretaris juga. Mau sampai kapan kamu melibatkan anak jurnalis buat bikin pengumuman?"
Hening kembali karena Prayoga tiba-tiba ngegas.
"Masa buat print selembar kertas kita perlu angkut mereka? Kalian lupa ribetnya kemaren? Kita harus bikin surat permintaan dulu lah, tunggu antrian lah, dan segala macem. Coba kalau sekretaris kita kreatif, mungkin kerjaan bisa cepet beres."
Arah pandangnya ke semua orang, tapi jelas-jelas omelan itu ditujukan padaku. Prayoga kenapa, sih? Perasaan tadi siang dia baik-baik saja.
"Tapi, Ga!" Riska ikut mengapungkan tangan. "Yakin mau tempel pengumuman? Gak akan bikin surat edaran, aja?"
"Nah, itu juga boleh." Prayoga menjentikkan jari. "Jadi, Ra, tugas kamu nambah. Bikin proposal, surat edaran antar ekskul, dan pengumuman."
Aku tersenyum dan mengangguk. Terasa seperti pelampiasan amarah, tapi tidak menjadi masalah. Selama waktu yang diberikan panjang, aku merasa bisa menyelesaikan semuanya.
"Harus selesai besok, ya!"
"Hah?" Aku sampai setengah berteriak karena terkejut mendengarnya.
"Kesambet apa, Ga? Dara mana bisa ngerjain semuanya dalam satu malam." Eren saja sampai membelaku.
"Lah, harus bisa dong! Ini, kan, tugasnya dia. Sekretaris memang pusing diawal, tapi pas acara santai-santai. Jadi, saya gak mau tahu. Besok harus selesai semua tugasnya."
__ADS_1
***