
Aku mengikuti Kak Soraya yang hendak menyiapkan minuman. Mengikutinya ke dapur dan terpaksa menyatukan Kak Bagas dengan Marcel di ruangan yang sama. Tanganku sudah menggapai lengan Kak Aya, menahannya dalam mengambil secangkir gelas dari lemari pantri.
"Kenapa?" tanyanya dengan raut bingung.
"Kenapa bawa Marcel ke sini?" Tanpa basa-basi langsung saja menanyai hal itu.
"Emang kenapa? Dia, kan, temen kakak." Jawaban yang tidak aku harapkan.
"Di sini ada Kak Bagas. Mereka akhirnya ketemu, kan," kataku gemas.
"Kakak gak tahu kamu bawa Bagas ke sini. Kakak juga ngiranya kalian masih berantem." Alasan yang cukup masuk akal. "Lagian biarin, aja, mereka ketemu. Toh, kamu gak pernah ngapa-ngapain sama Marcel."
"Dara takut Kak Bagas salah paham." Itu yang membuat tegang sedari tadi.
"Astaga. Bagas juga gak bego-bego amat kali, Ra. PD aja lagi. Kamu, kan, gak ada hubungan apa-apa sama dia," ujar Kak Soraya lagi.
Mudah memang bicara begitu. Lain denganku yang harus mengalaminya sendiri.
"Mending kamu ke sana, deh. Biar kamu tahu obrolan mereka juga," saran ini tidak aku sia-siakan lagi.
Secepat kilat aku kembali ke ruangan depan, menyaksikan dengan mata kepala sendiri Marcel dan Kak Bagas yang duduk di sofa terpisah. Lagaknya sudah seperti orang musuhan. Sama-sama melihat ponsel dan mengacuhkan satu dengan yang lain.
Tentu saja tugasku untuk menemani Kak Bagas. Tidak perlu berpikir dua kali, aku duduk di sampingnya dan melihat ke layar ponsel yang sama. Dia sedang bertukar pesan dengan Ibu Ester.
"Ibu minta nomor Adek," ucapnya sesuai dengan permintaan sang ibu dalam chat online.
"Kasih, aja." Mendengar persetujuanku, dia mengangguk. "Buat apa gitu, Kak?" Penasaran sekali. Alasan meminta nomorku tidak terbaca saat Kak Bagas membuka aplikasi chat barusan.
"Bentar lagi ulang tahun ibu. Paling juga mau undang calon mantu," bisiknya sambil menyentil ujung hidungku.
"Ehem ...." Deheman keras yang sukses memancing kepala kami mendongak. "Oh, maaf. Tenggorokannya gatel," ucap orang yang melakukan itu.
Aku dan Kak Bagas saling pandang. Berlanjut mengabaikan karena Kak Soraya sudah datang. Dikira bakal menarik perhatian kami apa? Dasar tidak jelas.
"Ra, gak akan duduk di sini?" Kak Soraya menepuk kursi yang cukup untuk dua panggul.
Spontan saja aku menggeleng. "Di sini, aja."
"Nempel mulu. Kirain kalian putus," ucapnya setelah mendapat penolakan.
"Gak jadi putus, Kak. BTW, makasih saran yang waktu itu." Kali ini Kak Bagas yang mewakiliku bicara.
"Iya, sama-sama. Bener, kan, kata kakak? Dara harus diajak berantem dulu biar mulutnya mau ngomong."
Ah, benar. Aku baru ingat. "Jadi, beneran kakak yang nyuruh? Kak Bagas berubah nyebelin tahu, Kak."
"Ya, kalau itu cuma satu-satunya kunci. Kenapa enggak dicoba?" Kak Aya mengerlingkan mata.
"Anggap, aja, kakak nurut karena udah putus asa buat ajak Adek balikan." Kak Bagas mencolek sebelah pipiku dengan senyuman penuh.
"Bucin ... bucin ... bucin," ejek Kak Aya keras.
"Dara," panggil Marcel tiba-tiba cukup mengheningkan suasana. Dia yang semula diam menyeruput secangkir teh hangat pun melihat ke arahku tajam. "Kayaknya kamu seneng baca novel yang sama ya, Ra?"
__ADS_1
"Hah?" Keningku mengeryit. Mendadak memandang ke wajah Kak Soraya dan Kak Bagas karena ingin meminta pendapat mereka. Apa cuma aku yang tidak memahami pertanyaan ini?
"Kayaknya kamu seneng dengerin lagu yang sama," gumamnya lebih lanjut.
"Sebentar ...." Tanganku mengapung di udara. "Ini maksudnya gimana?" Kenapa tiba-tiba membahas novel dan lagu? Arah bicara dia itu ke mana? Dia melantur atau apa?
"Oh ... mungkin maksudnya Marcel itu kamu seneng, ya, balikan sama mantan?" Kak Soraya yang lebih dulu mengerti.
"Nah, itu. Kayaknya, kamu seneng mengulang sesuatu. Buktinya, mau-mau aja diajak balikan sama mantan," jelasnya sambil menatap sinis kekasihku.
Jelas saja Kak Bagas gerah. Perlahan posisinya pun berubah. Jadi, duduk tegak dengan tangan saling bertautan. Kepalanya yang mengangguk-angguk seakan jadi isyarat. Emosinya sedikit terpancing.
"Saya serius mau tanya nih, Kak." Kak Bagas mulai bersuara. "Gak ada dua minggu putus, emang layak disebut mantan?" Tatapannya tidak kalah menyorot tajam.
Sedikitnya, ini yang membuat tegang. Siapa pun tahu kalau Marcel agresif. Bisa terjadi percekcokan.
"Lagipula, saya sama Dara putus karena alasan kurang jelas. Cuma kurang komunikasi dan terbuka. Tidak dihitung mantan dong harusnya," katanya lagi.
Marcel yang diajak bicara malah tersenyum miring. "Ya ... kalau udah ada embel-embel putus. Mau pisahnya setengah jam juga tetep sah disebut mantan."
"Hah!" Dengkusan sudah terdengar.
Tak ingin memperburuk suasana, cepat-cepat aku mengirim telepati kepada Kak Soraya. Berharap kedipan mataku bisa menggerakkan hatinya untuk membawa Marcel menjauh.
Namun, belum juga dibawa menjauh Marcel sudah lebih dulu bicara kembali. "Ra, kenapa gak coba buka lembaran baru?"
"Ya?" Aku benaran tak bisa menanggapi cepat karena tersentak dia melemparkan pertanyaan secara tiba-tiba.
"Kenapa juga Dara harus buka lembaran baru?" Kak Bagas kembali menjadi juru bicara.
"Saya juga nanya Anda, lho!"
Buset, dah. Baru beberapa menit, panggilan Kak Bagas sudah berubah dari kakak ke Anda. Memang tidak baik mereka disatukan lama-lama. Kak Bagas, kan, kalau cemburu tidak tanggung-tanggung. Arfan saja sampai diladeni terus.
"Dara?" Dia kembali menegurku karena tidak kunjung mendapat jawaban. "Kenapa gak coba cari cowok baru?"
Baik. Demi kelancaran hubunganku kedepannya, aku harus bicara sekarang. "Kenapa saya harus cari cowok baru?" Mengikuti pertanyaan Kak Bagas tadi, tidak ada salahnya 'kan?
"Ya, biar dapat sensasi yang lebih fresh."
"Sensasi ... sensasi ...." gerutu Kak Bagas sambil menyandarkan punggung ke sofa. "Gak ada pacaran yang butuh sensasi. Segalanya gimana hati."
"Wah, kata siapa, Gas?" Marcel seolah dapat percikan api. "Sensasi itu diperlukan, lho. Biar hubungan makin awet dan lengket."
Jujur, aku yang mendengar tidak paham soal sensasi. Ini maksudnya apa coba? Kenapa bawa-bawa sensasi?
"Jangan-jangan kalian belum pernah ngapa-ngapain, ya?" Telunjuk mengarah ke wajahku dan Kak Bagas.
Semakin gerah, Kak Bagas kembali membenarkan posisi duduk. Dia berdeham sebentar sebelum membela diri. "Memangnya harus ngapain? Tanpa sensasi juga kami bisa romantis."
"Dusta itu!" Marcel menggeleng dan tak lupa tersenyum miring.
"Udah ... udah ...." Akhirnya, orang yang kukirim telepati bicara juga. "Dara pasti punya alasan tersendiri makanya balikan sama Bagas."
__ADS_1
"Betul," sahutku cepat dan bersemangat.
"Oke, kalau gitu apa alasannya?" Dia masih saja kukuh menyerangku.
Tak mau dianggap kalah dalam pertarungan, aku pun tersenyum lebar. "Alasannya panjang. Kakak gak akan kuat dengernya."
"Gak masalah. Kalau kamu yang ngomong, saya sanggup dengerin sampai besok sekalipun."
Kak Bagas mendengkus lagi. Tidak ingin dia salah paham dan berpikiran macam-macam, aku pun menjawab, "Alasan aku pilih mengulang dan balikan sama mantan cuma satu ... karena masih sayang. Kalau aku nyoba buka lembaran baru kayaknya gak bisa semudah itu."
"Kenapa gak bisa? Mudah, kok. Apalagi kalau kamu memilih orang baru yang tepat." Dia sampai memajukan kepala dan memandang dua kali lipat lebih serius.
"Aku bilang gak bisa, Kak," tandasku tajam. "Aku gak mau memulai hubungan baru kalau cintaku masih tinggal di wisata masa lalu. Lagian aku kayak gini juga cuma sama Kak Bagas. Sama yang sebelum-sebelumnya, gak ada pikiran buat balikan."
Hening sejenak. Wajah Kak Bagas yang semula ditekuk lantas menegak dan membusung penuh kemenangan. Lain dengan orang yang aku bela, Marcel semakin tersenyum kecut dan seakan bersiap melancarkan serangan yang lain.
"Jadi, kamu lebih memilih orang lama ketimbang orang baru yang menawarkan kebahagiaan?" Sesuai dugaan, dia memang memberiku serangan.
"Iya, aku lebih memilih Kak Bagas ketimbang cowok baru."
"Wah! Kayaknya Dara kurang pengalaman, ya."
Kurang pengalaman apa coba?
"Kamu gak tahu, ya, Ra? Pasangan yang balikan itu gak pernah bertahan lama."
"Kata siapa?" Kak Bagas kembali bersuara.
"Kata saya, lah. Jangan-jangan ... kamu juga kurang pengalaman?" Tatapannya seolah merendahkan Kak Bagas.
"Udah deh, Cel. Kamu kenapa, sih? Isengin mereka terus." Kak Aya bersuara, tapi sepertinya itu tidak berarti apa-apa.
Terbukti, bukannya berhenti Marcel malah semakin membuka mulutnya. "Saya bukan iseng, Ya. Saya bicara fakta. Kasihan Dara buang-buang waktu buat balikan. Pasangan yang balikan itu gak bakalan bertahan lama karena rasanya udah beda."
"Rasa apa, sih? Rasa apa?" Tentu saja aku ngegas. Pertanyaannya terus belibet, terlalu basa-basi, sampai aku pusing mencernanya. Tanganku berkali-kali menggaruk kepala. Gatal rasanya mendengar ocehan dia yang tidak kunjung berhenti. Terlebih, ada hati Kak Bagas di sini yang harus aku jaga dengan sebaik-baiknya.
"Rasa sayang, Dara. Balikan sama awal jadian pasti beda rasa sayangnya. Romantisnya juga bakalan berkurang."
"Kata siapa?" tantangku. Serius, lho. Telingaku baru mendengar soal perkara ini.
"Kata saya." Jawaban klise kembali diutarakan.
"Alasan bisa bedanya apa?" tantangku lagi. Semakin ingin menyudutkannya.
"Alasannya, karena kalian pernah pisah setelah melihat kekurangan pasangan. Jadi, orang balikan itu romantisnya gak sehangat awal-awal jadian."
Aku melongo sebentar lalu tertawa hambar. Percaya diri sekali dia mengucapkan itu. "Maaf-maaf nih, Kak. Kemaren kami pisah bukan karena kekurangan pasangan."
"Masa, sih? Terus kenapa kalian bisa pisah kemarin?"
"Jawabannya cuma satu!" teriak Kak Bagas. Mulai ngegas dia. "Jawabannya, ra-ha-sia. Gak usah sok pengen tahu. Itu privasi masing-masing pasangan."
Baru saja mulut Marcel hendak terbuka, Kak Bagas sudah lebih dulu bersuara.
__ADS_1
"Nih, ya, saya kasih tahu. Orang yang serius sayang itu gak mungkin putus karena pasangan memiliki kekurangan. Ah, satu lagi. Orang yang serius sayang itu ... gak akan kesemsem sama cewek orang!"
***