
Setelah sah menjadi anggota OSIS, keseharianku semakin dicampuri kesibukan. Entah itu tugas sekolah ataupun tugas organisasi, segalanya terasa membutuhkan waktu yang cepat untuk mengerjakannya. Layaknya hari ini, aku tidak langsung pulang setelah bel usai sekolah berbunyi. Masih ada agenda rapat OSIS untuk membahas konsep acara di Hari RA Kartini mendatang.
Selesai menyimpan ransel di kursi keanggotaan, aku bersama Riska, Putri, dan Eren melangkah lagi keluar ruangan. Berniat mengisi perut sebentar, sebelum rapat konsep acara dimulai. Kami biasa diberi waktu lima belas untuk membeli dan memakan makanan di luar ruangan rapat.
Beberapa menit melangkah menyusuri lorong, dari kejauhan aku menangkap sosok Kak Bagas berjalan mendekat bersama ajudannya. Gaya berjalannya seakan sudah lengket dengan pandangan. Apalagi kalau bukan menyimpan kedua tangan ke dalam saku celana?
"Sayang," sapaku begitu jarak sudah terkikis hingga lebih dekat. Spontan bukan cuma aku yang menepi. Eren, Riska, Putri, dan Kak Wisnu juga ikut-ikutan memperhatikan kami.
"Mau ke mana?" tanyanya yang langsung mengeluarkan sebelah tangan lalu mengacak pucuk kepalaku pelan.
"Jajan. Mau titip?" Sekadar menawarkan karena biasanya juga begitu. Aku yang belanja dan Kak Bagas yang biasa menyerahkan uang sambil menunggu pesanan.
"Hm, gak dulu." Kepalanya menggeleng. Sungguh jauh dari perkiraan.
"Lho, tumben." Jelas saja aku keheranan.
"Lagi hemat dia. Jajan sehari gak boleh lewat dari lima ribu." Informasi baru dari Kak Wisnu.
"Memangnya Kakak mau beli apa? Kenapa tiba-tiba hemat?"
Kak Bagas hemat artinya mau belanja. Dia tidak pernah meminta uang lebih kepada ibu. Jika ingin sesuatu, dia selalu mengumpulkan sebagian uang jajan hingga nominal mencapai harga sesuatu tersebut. Namun, sependek yang kutahu Kak Bagas tidak pernah menjatah diri terlalu kecil. Lima ribu, lho, ini. Biasanya juga kalau berhemat jatah jajannya jadi lima belas ribu per hari. Sedikit aneh saja kalau dia tiba-tiba irit habis-habisan.
"Pengin, aja. Kakak ngerasa terlalu boros akhir-akhir ini."
Boros? Sebelah mananya, sih?
"Ya, udah. Kalian kalau mau jajan, jajan dulu, aja. Kakak sama Wisnu ke markas dulu, ya."
Aku mengangguk sambil tak berhenti menatap punggungnya yang sudah lalu.
"Ra." Riksa tiba-tiba mengalihkan duniaku. "Lima ribu cukup buat makan apa?" tanyanya setelah aku kembali memulai langkah.
"Cimol, Cilok, Cireng," celetuk Putri dengan wajah tanpa dosa.
Mataku mengerjap. Sedikit berat di hati dan pikiran jika menyangkut kebiasaan Kak Bagas. Kenapa, sih, harus berhemat begitu? Belum tentu juga perutnya kenyang. Maksudku, kenapa harus berhemat, tetapi perut keroncongan?
"Gak bisa dibiarin." Aku bergumam, tetapi cukup tertangkap telinga ketiga teman.
"Maksudnya, Ra?" Eren yang pertama menyatakan kebingungan.
"Gak bisa dibiarin," ulangku lebih jelas. "Aku mau beli nasi padang, aja. Biar bisa dimakan berdua sama Kak Bagas."
***
Lain daripada ketiga kawan. Ketika mereka membeli makanan ringan sebagai pengganjal perut, aku lebih memilih memesan nasi padang supaya bisa dimakan bersama Kak Bagas.
Satu per satu kawan yang memesan makanan ringan kembali ke meja tempatku menunggu. Menu pilihanku masih dalam antrian pembungkusan.
"Sudah jam pulang, tapi tetap antre, ya," komentar Eren yang memang ada benarnya.
"Mereka mau kumpul ekskul kali," balas Riska. Seperti biasa, dia selalu logis dalam berbicara.
__ADS_1
"Ra, Kak Bagas hemat kayak begitu karena ulang tahun kamu kali." Eren tiba-tiba membicarakan kekhawatiranku lagi.
"Bukan, ah!" Aku serius menyanggah. "Ulang tahun aku masih lama. Dua bulan lagi."
"Ya, bisa jadi karena dua bulan lagi makanya kumpul-kumpul duit dari sekarang. Mau bikin kejutan mewah kali." Putri masuk dalam topik pembicaraan.
"Apa iya, ya?" Aku jadi berpikir ke arah sana. Napasku jadi memberat. Takut dan terlampau khawatir karena pemikiran yang Putri utarakan. Duh, jangan, deh! Jangan gara-gara aku ulang tahun, dia sampai mengirit diri begitu. Aku tidak suka. Lebih ke tidak tega.
Begitu melihat jongko nasi padang sepi, aku bergegas membeli sebungkus nasi dan dua jenis lauk pauk karena hendak dimakan berdua. Selepas membayar uang dua puluh ribu, aku langsung mengajak ketiga kawan untuk kembali ke ruang rapat. Terasa seperti dikejar waktu, takut tidak keburu juga memakan nasi ini.
Aku berembus lega saat melihat kondisi ruang rapat di ambang pintu. Masih terlihat sepi, terpantau anggota dan senior masih jajan di kantin. Kak Bagas yang duduk di meja utama menyadari kehadiranku. Buru-buru tanganku melambai, memberi isyarat padanya untuk keluar sebentar. Aturannya, tidak boleh membawa makanan ke ruang rapat.
"Kenapa, Dek?" tanyanya setelah sampai di hadapanku.
"Ini." Sebungkus nasi padang aku goyangkan ke hadapannya. "Bantu habisin, yuk."
"Lah, kakak gak lapar," ujarnya hendak menolak.
Sayangnya, bukan Dara namanya kalau tidak bisa memaksa kekasihnya untuk makan. Alih-alih memaksa hingga mengajaknya bertengkar, aku lebih memilih membujuk dengan cara tak wajar.
"Jadi ... gak mau bantu habisin makanan Dara, nih?" Aku memasang wajah cemberut. "Hah, nanti kalau Dara gendut gimana? Mana pacarnya ganteng lagi. Auto direbut cewek-cewek seksi."
"Kok, jadi berpikir, gitu? Kamu gendut juga tetap cantik, kok." Dia langsung menggenggam kedua lenganku erat. "Kakak gak lapar, serius. Kamu kalau mau makan, ayo, kakak lihatin."
"Ya, udah, deh. Nasinya aku buang, aja." Aku menepis genggaman tangan itu dan bergegas berjalan menuju tong sampah.
"Ya Tuhan. Gak boleh buang-buang makanan, Sayang." Kak Bagas menyusul dan menahan tanganku yang hendak memasukan nasi ke tong sampah.
"Sudah tahu gak bisa habisin semuanya, kenapa beli dua porsi segala?"
Lidahku berdecak keras mendengar pertanyaan ringan di mulut itu. "Kakak gak peka, ya?"
"Hah?" Dia malah terlihat bingung.
"Kenapa beli dua porsi? Ya, sudah jelas disengaja, lah! Aku beli biar bisa makan berdua sama Ayang. Pengin disuapin sama Ayang."
Hening karena Kak Bagas malah melongo.
"Gak paham juga?" Aku jadi meradang. Perkara ingin makan sepiring berdua saja harus sampai adu ketangkasan.
Dia terkekeh-kekeh setelah berhasil memancing kejengkelanku. Tanpa meminta izin, tangannya kemudian mencubit sebelah pipiku. "Gemes," kata Kak Bagas. "Ya, udah, ayo. Kakak bantu habiskan makanannya."
"Nah, begitu. Dari tadi, kek," dumelku sambil berjalan menjauhi tong sampah.
Aku mengambil posisi duduk di lantai. Tidak terlalu dekat dengan ketiga kawan, tetapi tidak terlalu jauh dengan pintu ruangan. Kak Bagas yang berkenan makan sepiring berdua tak kalah mengikuti jejakku. Dia ikut duduk lesehan. Tanpa beralasan tikar, ia duduk penuh percaya diri di hadapanku. Sebungkus nasi padang yang berisi dua porsi nasi itu langsung aku buka di tengah-tengah kami.
"Kakak yang mana, nih? Rendang atau ayam balado?" tanyanya setelah melihat dua lauk yang berbeda jenisnya.
"Rendang, aja. Kakak, kan, suka rendang."
"Oke."
__ADS_1
Berkata oke, tetapi sendoknya memotong sedikit ayam balado milikku. Tatapanku bagai elang ke arah wajahnya yang polos tanpa merasa berdosa. Bersiap merebut jatah lauk milikku dengan segenap ketangkasan jiwa. Tadi aku berkata jatahnya rendang, kan? Kenapa dia malah memotong ayam?
"Nih!"
Sendok bebek berisi sedikit potongan ayam balado itu pun diulurkan Kak Bagas ke depan mulutku. Senyumnya yang lebar jelas saja membuatku malu. Sudah berpikir negatif, padahal jelas-jelas dia ingin memberiku suapan pertama.
"Eh, malah bengong. Katanya, mau disuapin kakak."
"Eh, kapan aku bilang begitu?"
Memangnya, tadi aku bilang begitu, ya?
"Astaga. Tadi Adek bilang mau disuapin ayang. Ayangnya itu kakak bukan, sih?" Dia mulai menatap tajam.
"Ah, benar. Tadi aku bilang begitu, ya." Aku terkekeh-kekeh, membalas perilakunya saat di depan tong sampah tadi. "Sori, lupa." Tak ingin Kak Bagas mengerucutkan bibir, buru-buru aku melahap isi dari sendok miliknya.
"Kak," panggilku di sela-sela kunyahan.
"Hm?" Kak Bagas tidak menatap wajahku karena fokus memotong daging rendang.
"Kakak mau beli apa, sih, sampai hemat segala?"
Dia tersenyum masam. "Masih kepikiran, aja. Gak mau beli apa-apa, Sayang. Kakak cuma iseng hidup hemat."
"Yakin?" Aku sudah memandang penuh selidik.
"Iya, Sayang," sahutnya berusaha meyakinkan.
"Kakak begini bukan karena hari ulang tahunku, kan?"
"Hah? Kok, Ayang bisa GR begitu?"
Dia malah balik bertanya dan gilanya karena pertanyaan itu sukses menampar harga diriku. Aku langsung membuang muka, tak mau melihat wajah Kak Bagas karena ketiban malu sejagat raya.
"Gini ... gini ... maksud kakak, kenapa kamu berpikiran begitu? Ulang tahunnya, kan, masih lama. Kakak niat hemat bukan karena itu, kok, serius." Dia mencoba menjelaskan sambil mengelus tanganku penuh kelembutan.
"Aku bukan GR, lho." Sengaja mengoreksi karena tak ingin dibilang begitu.
"Iya, kakak salah sebut tadi. Kakak salah. Maafin, ya," ucapnya seperti biasa yang selalu mengalah.
"T-tapi serius, kan, bukan karena Dara?" Aku merasa ingin lebih diyakinkan lagi.
"Serius. Jamin, bukan karena kamu." Kak Bagas tersenyum lembut.
"Hei, Bos!"
Panggilan keras itu langsung mengalihkan perhatian kami. Obrolan hangat ini sampai terjeda karena Arfan sudah berkacak pinggang di ambang pintu.
"Kenapa?" Kak Bagas bertanya dengan intonasi yang tak kalah kerasnya.
"Mau sampai kapan berduaan begitu? Jam makan udah lewat. Waktunya rapat."
__ADS_1
***