Pacar Bohongan

Pacar Bohongan
Berkenalan


__ADS_3

"Mami," panggilku sambil menahan emosi begitu sambungan terhubung. "Kenapa mami kirim baju yang ini? Dara, kan, minta yang dress polos satunya, yang warna abu." Benaran tidak ada waktu untuk bertegur sapa karena perkara baju yang salah kirim.


"Itu, kan, warna abu. Maksud kamu itu abu yang mana?"


"Dress abu yang ada kerah sama lengannya." Aku mengulangi penjelasan, padahal saat mengirim pesan pun sudah dideskripsikan dengan jelas.


"Oooohhh ...." Mami seolah baru paham maksudku. "Jangan pake itu, ah! Udah pake yang mami kirim, aja."


Respons yang membuatku semakin naik darah. Bagaimana aku bisa menyaingi Irish kalau pakaiannya saja seperti ini? Dari segi warna saja sudah terlihat kusam, tidak menarik, terlebih baju ini tidak berlengan. Kalau seksi begini, auto dipecat dari garis calon mantu.


"Mi, ini Dara serius, lho. Dara mau belanja sama ibunya Kak Bagas. Masa pakai baju begini? Apa gak malu-maluin? Mana keliatan ketiaknya pula." Aksi omelan masih berlanjut.


"Lho, memang kenapa kalau keliatan ketiak? Ketiakmu gak bersih? Banyak bulunya?"


"Mami, serius, ah!" erangku sudah tak bisa bersabar lagi.


"Udah, nurut apa kata mami. Kamu pake baju itu, aja. Dijamin cocok. Ester juga pasti suka."


"Yakin suka?" Aku meragukan kalimat penenang itu karena mami baru bertemu dua kali dengan beliau. Mana mungkin selera seseorang langsung ketahuan dalam waktu singkat?


"Udah, pokoknya kamu pakai itu. Cantik seriusan. Mami juga udah bekali alat mandi sama kosmetik. Jangan lupa dandan."


Sambungan terputus, padahal hati masih ingin menumpahkan kekesalan. Sungguh menyebalkan. Bagaimana bisa aku terlihat cantik, jika gaun sesuai selera ibu-ibu ini aku kenakan? Dandan setebal apa pun tetap percuma.


"Astaga! Apes banget keknya hari ini. Dari pagi sampai sore ada, aja, yang bikin kesal." Aku merutuk sambil mengacak rambut hingga tak beraturan.


Terpaksa menerima keadaan, tote bag yang berisi baju pilihan mami kubawa menuju toilet sekolah. Beruntung karena tersisa segelintir orang yang belum pulang. Mereka yang mengikuti ekstrakurikuler diwajibkan stand by hingga jam enam petang. Jika begini kondisinya, aku yakin bisa mandi tanpa hambatan.


Terbukti, sepinya suasana membuat acara membasuh diri selesai dalam waktu lima menit. Dress pilihan mami tetap aku kenakan, walau enggan. Berbekal kosmetik yang ada, aku memoles wajah sebaik mungkin sebelum akhirnya menata sederhana rambut yang tergerai.


Persiapan tubuh selesai, sekarang waktunya mengeluarkan tas dan sepatu. Hah, untuk yang dua ini aku bisa bernapas lega. Mami memadupadankan pakaian dengan benar. Benaran simpel, sih. Ya, sudahlah. Terbuka sedikit tidak jadi masalah. Mami bilang cantik, ya, sudah.


Aku tertegun begitu membuka tas putih pilihan mami. Ada dua benda asing yang pastinya bukan milikku. Spontan napasku tertahan begitu mengangkat benda asing tersebut.


"Ini, kan, ATM mami."


Mataku memanas karena memiliki ibu yang pengertian. Tahu anaknya tidak punya limit belanja, beliau sampai menyelipkan kartu debit. Tanpa pemberitahuan, langsung menyelipkan dua buah pula. Tahu begini, aku tidak akan marah-marah tadi.


Tidak mau tenggelam dalam penyesalan, buru-buru aku mengeluarkan ponsel, menekan layar di sana-sini, sampai menemukan riwayat pesan bersama mami. Ada satu pesan yang belum sempat dibaca. Pesan yang menyangkut dua benda asing ini.


Dari : Mami


Beli yang dirasa perlu


Struknya jangan sampe hilang

__ADS_1


Aku terkekeh. Rasa haru dan ingin menangis pun menguap dengan cepat. Dasar, mami! Ada-ada saja. Ya, tidak apa-apa, sih, aku tetap bahagia diberi limit, meskipun dibatasi. Selesai membaca pesan, ponselku kembali bergetar. Satu panggilan masuk ini datang dari Bu Ester.


"Iya, halo, Bu?" Penuh semangat, lain daripada tadi.


"Dara, sudah jam pulang kan, ya?"


"Sudah, Bu. Dara juga udah selesai siap-siap," jawabku sambil memasukkan sisa perlengkapan ke tote bag.


"Wah, Dara gercep juga, ya. Ini ibu jemputnya depan gerbang atau depan kelas?"


Buset! Kalau dijemput depan kelas terlalu keenakan. Bisa gagal dapat poin plus nantinya.


"Gak apa-apa, Ibu. Dara bisa, kok, jalan ke gerbang. Ibu tunggu di situ aja, ya. Ini Dara mau jalan ke situ."


Bukannya mendapat tanggapan persetujuan, aku malah mendengar kekehan dari ujung sana. "Yah, Dara. Ibu udah sampai depan kelas X-A."


Astaga! Kenapa baru bilang sekarang coba?


"Hm ... Ibu tunggu sebentar, ya. Dara ke situ sekarang."


Panggilan aku putus begitu aja. Cepat-cepat aku memasukan ponsel, mengenakan sepatu, lalu bercermin untuk terakhir kalinya. Baiklah, setelah merasa diri layak masuk deretan calon mantu, aku siap berlari menghampiri Bu Ester.


Tidak perlu memerlukan waktu lama, lorong-lorong menuju kelas X-A sudah aku lewati dengan baik. Beliau yang menangkap kehadiranku lantas berjalan menghampiri dengan wajah khawatir.


"Dara, padahal jalan, aja. Gak perlu lari-lari begitu. Gimana kalau kepeleset? Mana kamu pakai high heels."


"Enggak, kok. Ibu juga baru sampai. Gimana? Udah siap pergi?" tanya beliau kali ini sambil mengalungkan tangan di sebelah lenganku.


"Udah, Bu. Dara cuma bawa ini, aja." Aku menunjukkan tote bag yang berisi seragam dan make up.


"Lho, tas kamu di mana?" tanya beliau sambil melirik ke belakang punggungku.


"Udah dibawa sopirnya mami, Bu. Tadi sekalian antar baju Dara."


"Berarti baju ini pilihan mami kamu, dong?" Bu Ester menunjuk dress yang tidak ingin aku pakai.


Belum berangkat nyaliku sudah ciut duluan. Kenapa Bu Ester bertanya begitu? Apa karena aku tidak pantas, ya?


"Iya, Bu. Ini langsung dipilih mami." Aku menjawab, meskipun ragu.


Namun, bukannya menampilkan sorot kekecewaan beliau malah menepuk bahuku penuh semangat. "Pantesan," ucap Bu Ester. "Cantik banget."


Puji Tuhan. Nilaiku di mata Bu Ester tidak berkurang. Kalau sudah begini, aku jadi percaya diri bertemu Irish.


"Ayo, Nak. Kita bareng-bareng ke parkiran. Irish sudah nunggu di sana?"

__ADS_1


Ah, hilang lagi seperempat nilaiku. Ada yang lebih dulu bertemu Bu Ester. Sudah menunggu di mobil pula. Apa aku tanya-tanya dulu tentang Irish di sini, ya? Duh, kalau tanya-tanya, nanti Bu Ester berpikiran apa? Takut dibilang KEPO, tapi memang aku KEPO.


Saking galaunya dengan pemikiran, aku sampai berubah jadi sosok pendiam. Tidak jadi bertanya tentang Irish, tidak pula mengajak beliau berbicara. Perhatianku hanya satu, tak lain dan tak bukan hanya mengikuti jejak Bu Ester menuju tempat parkiran mobil.


Sesuai yang dikatakan ibunda Kak Bagas, memang sudah ada bayangan seorang gadis di dalam sana. Dari balik kaca mobil berjenis tempered ini pun aku masih bisa melihat kecantikan seseorang bernama Irish.


Bu Ester yang pertama masuk, duduk di jok belakang, lalu membiarkan pintu terbuka lebar. "Dara duduk di belakang sama ibu aja, ya."


"Siap, Bu," sahutku bersemangat sembari masuk dan duduk di samping beliau.


Mobil yang dikendarai Irish melaju mulus meninggalkan parkiran sekolah. Dia yang dijadikan sopir hari ini tampak cantik, meskipun wajahnya hanya bisa kulihat dari kaca spion. Potongan rambut classic bob yang dibubuhi warna ash brown ini terlihat mahal. Gaya dan pilihan aksesorisnya juga cukup elegan. Sudah pasti Irish bukan orang sembarang. Sekali pandang saja aku sudah yakin kalau dia womenpreneur.


Ta-tapi ... apa benar ini sainganku? Maksudku, Kak Bagas masih pelajar, Irish juga terlihat seperti sudah lulus sarjana. Ah, mungkin benar prediksi Putri dan Riska. Dia bukan saingan.


"Ah, daripada sepi begini, mending ibu kenalkan kalian berdua. Gimana?"


Ide bagus sih, tapi aku belum siap berkenalan dengannya. Masih ada getar ketakutan disaingi, meskipun aku tahu kalau dari segi usia Irish dan Kak Bagas sangatlah tidak cocok.


"Boleh, Bu. Irish juga gak sabar kenalan sama Dara."


Aku meredam rasa tak suka dengan senyum mengembang. Memang pandai bicara, ya, dia. Sok-sokan ingin berkenalan, padahal sudah hapal namaku.


"Oke, ibu mulai aja, ya." Bu Ester kembali mengalungkan tangan di lengan kananku. "Dara, yang pandu mobil kita hari ini namanya Irish. Kamu bisa panggil dia kakak. Umurnya udah dua puluh dua tahun."


"Aih, Bu. Malah bocorin umur," sahutnya sambil tertawa.


Bu Ester yang mendengar hal itu pun ikut tertawa renyah. Hah, benar-benar, ya. Mereka berlainan denganku. Mendengar itu aku hanya tertarik untuk menampilkan senyum tipis-tipis.


"Gak apa-apalah, Rish. Lagian umur 20 tahun masih kebilang muda. Masih keliatan cantik, tuh!" Pujian pertama yang terdengar.


"Ah, Ibu bisa, aja. Irish jadi malu dengernya."


"Iya, Kak Irish keliatan cantik banget." Entah sadar atau tidak, mulutku dengan fasih mengatakan hal itu.


"Tuh, kan, denger pendapat Dara. Lagian kalau bocorin umur sekarang, Dara jadi tahu harus panggil kamu apa."


"Iya, Dara juga awalnya bingung. Mau panggil nama takut gak sopan. Eh, untung Ibu kasih tahu umurnya juga. Jadi, Dara langsung panggil kakak." Lambat laun, aku jadi terbiasa dengan Ibu Ester dan Irish.


"Duh, ya, ampun. Makasih, ya, atas pujiannya Ibu, Dara." Suaranya yang bergetar itu tidak bisa menutupi rona kemerahan di kedua pipi.


"Oke, sekarang kita lanjut. Soal Irish tadi belum kumplit ibu kasih tahu ke Dara."


Wah, ada informasi lain ternyata.


"Jadi, Ra. Irish ini pacarnya Bima. Kakaknya Bagas."

__ADS_1


Sebentar-sebentar, jadi dia bukan saudara, bukan pula saingan Dara. Astaga. Sia-sia, dong, aku overthinking. Mana dari tadi aku cuek dan sinis pula. Ya Tuhan, kacau sekali pikiranku hari ini. Hah, baiklah! Demi menebus rasa bersalah, aku akan memanggilnya kakak. Bukan lagi Irish, gadis ini, atau dia.


***


__ADS_2