
Bukannya kembali bertugas, aku malah mengikuti kemauan lelaki menyebalkan. Duduk berhadapan di koperasi, tempat dia biasa beristirahat selama di sekolah.
Jantung tidak berhenti berdegup cepat. Berduaan dengan jarak yang dekat membuatku rindu kenangan kami di masa itu. Tentu saja, jauh di lubuk hati ada sejuta pertanyaan yang ingin diajukan. Baik pertanyaan tentang kesehatan, pola makan, keseharian, hingga kesulitannya selama berada di rumah sakit.
Wajahnya tidak terlihat segar. Berkali-kali kesusahan menelan ludah, hingga botol mineralnya pun tinggal tersisa setengah isinya. Sudah dapat dipastikan kalau kondisinya sedang tidak baik-baik saja.
"Oke ...." Dia mulai membuka pembicaraan setelah berdeham beberapa kali. "Kita mulai dari mana?"
"Terserah," jawabku cepat. Aku sudah memantapkan hati untuk tidak melarikan diri. Urusan topik yang mau dibahas, aku serahkan saja padanya. Terlalu banyak yang ingin dibicarakan, sehingga bingung menentukan prioritas utama.
"Kakak bingung mulai dari mana."
Nah, kan, dia sendiri yang mengajak break bingung. Apalagi aku. Alhasil karena tidak ingin mengulur waktu, aku memberinya masukan hebat. "Kasih aku alasan, kenapa waktu itu ngajak udahan."
"Break," ralatnya.
"Hm ...." Terserahlah. Mau break kek, mau putus kek. Bagiku intinya sama-sama udahan.
"Tuh, bener berarti. Kamu gak nyimak chat dari kakak."
Aku mulai memandang malas. Sudah inisiatif bertanya, tapi dia tidak terbuka juga.
"Makanya kalau kakak chat itu—"
"Kalau emang bener niat memperbaiki hubungan, tolong jelasin ulang!"
Diberi ketegasan begitu, dia langsung mengangguk setuju. "Oke. Kakak jelasin lagi biar lebih sah."
Dia mengambil napas panjang, sebelum akhirnya memberiku penjelasan. "Gak sehari, dua hari kakak mikirin tentang break. Jauh sebelum kamu datang ke kos-an, kakak udah pengen ajak kamu break."
Ah, sudah lama ada niatan ternyata. Aku pikir baru kemarin dia berpikir tentang jeda hubungan.
"Bukan karena ada main sama cewek atau udah gak ada rasa. Kakak mikirin jeda karena kamu ... terlalu dirugikan."
Justru sebaliknya, kan? Ingin menyela, tapi masih aku tahan. Dia harus bicara semuanya.
"Coba kita pikirin ini, Ra! Selama LDR, kakak selalu banyak ninggalin kamu. Gak bisa kasih kabar tiap waktu. Sampai apa-apa kamu yang harus nunggu. Kamu yang dulunya manja beralih jadi serba bisa. Gak pernah minta apa-apa, gak pernah nuntut apa-apa. Dari segi itu, aja, kamu udah banyak berkorban. Coba sekarang kakak tanya, apa ada hubungan kayak gini? Apa ada hubungan yang merugikan sebelah pihak?"
"A-ada," jawabku dengan bibir bergetar.
"Ada?"
"Hm ...." Aku mengangguk. "Buktinya kita." Setitik air mata jatuh bersamaan dengan ucapan itu.
"Tapi, Ra .... kamu terlalu baik, terlalu aktif, dan kakak merasa gagal bikin kamu bahagia. Kakak—"
"Coba, deh, mind set-nya diganti," selaku. Dia yang termenung memancingku bicara lebih banyak. "Gak usah merasa bersalah. Gak usah jadiin hubungan orang sebagai patokan karena kita beda sama mereka." Napasku tertahan, seiring dengan dada yang menyesakkan.
"Demi Tuhan, aku bahagia sama kakak. Kakak gak ada buat aku, gak masalah. Kakak gak bisa atur waktu, biar aku yang ngalah. Aku bisa sempatkan waktu, tahan rindu, dan samperin kakak kalau emang gak kuat-kuat amat. Aku gak pernah ngerasa rugi. Aku seneng bisa jadi bagian dalam perjuangan kakak."
__ADS_1
Aku menghapus air mata sebelum kembali melanjutkan. "Pas kemarin minta break. Jujur aku kaget banget sampe gak bisa ngomong apa-apa. Aku terus mikir, letak salahku itu di mana? Aku kurang apa? Segalanya udah aku pikirin, tapi gak nemu jawaban apa-apa. Aku merasa sudah memberikan yang terbaik."
Hening sesaat karena matanya ikut berkaca-kaca.
"Segalanya udah aku kasih buat kamu," tunjukku ke wajahnya. "Apa susahnya bilang, makasih udah selalu ada. Makasih udah selalu sayang. Makasih udah nunggu kakak. Makasih udah datang ke kos-an. Apa susahnya bilang itu, Kak? Aku gak butuh apa-apa. Aku cuma pengen kamu bertahan, aja. Apa kayak begitu juga susah? Kenapa malah bikin aku patah dengan kata-kata capek sama hubungan ini? Capeknya sebelah mana?"
"Kakak salah ngomong, Sayang," sahutnya dengan bibir bergetar. "Gak sengaja ngomong begitu."
"Kenapa malah kepikiran break, sih? Setiap harinya, Dara mikirin cara supaya kakak tetep nyaman. Kenapa kakak malah tega mikir udahan?"
"Kakak cuma takut kamu kesepian, aja."
Aku mengangguk, menghela napas, lalu berbicara lagi. "Pernah gak, sih, kepikiran kalau ini tuh ujian buat hubungan kita?"
"Pernah, pernah ada pikiran ke sana."
"Terus kenapa gak bertahan?" Dilempar pertanyaan itu dia tidak menjawab, malah menunduk dalam.
"Kak," ucapku setelah berhasil mengatur diri untuk tidak menangis lagi. "Kalau fase ini, aja, kita kalah. Gimana sama fase-fase lainnya?"
"Udah. Jangan diterusin. Jangan ngomongin itu lagi."
Sayangnya, aku malah ingin memperpanjang permasalahan. "Kita kayak udah gak cocok, ya?"
"Enggak ... enggak ... enggak!" Gelengnya. "Kita cocok. Masih cocok. Maafin, ya. Hm?"
"Gak perlu minta maaf. Aku yang salah—"
"Memangnya, kakak salah apa?" Yakin gak akan minta maaf?
"Kakak salah. Pokoknya kakak yang salah. Kakak udah mikir yang aneh-aneh. Kakak gak jaga ucapan. Kakak udah buat keputusan sendiri. Kakak udah bikin kamu sedih."
"Cuma itu?" Panggilan adek jadi kamu, gimana ceritanya itu?
"Hm ...." Dia malah berpikir keras. "Apalagi, Sayang?"
Aku mendengkuskan napas.
"O-oke ... oke ... oke." Mulai terserang panik. "Kakak minta maaf. Untuk kesalahan kemarin, kakak minta maaf. Seperti yang kamu bilang, seharusnya kakak ucap terima kasih sebanyak-banyaknya. Kakak ... kakak janji gak bakalan ambil keputusan yang aneh-aneh lagi. Udah, ya? Jangan ngambek lagi, ya?" Dia yang menatap penuh harap malah membuatku gemas.
"Sayang?" desaknya ingin mendengar jawaban sekarang juga. "Baikan, ya?"
"Kenapa jadi baikan? Bukannya, kakak pengen break sampai selesai prakerin?"
"Itu kemarin, Ra. Astaga. Sekarang beda. Sekarang nyesel. Gak kuat harus pisah lama-lama. Janji baikan, ya?"
"Enggak, ah!" Aku menggeleng.
"Kok, enggak? Kita, kan, udah bahas semuanya."
__ADS_1
"Masih ada yang belum dibahas." Aku tidak mungkin melewatkan satu hal pun.
"Oke, nurut. Mau bahas apalagi?" Wajahnya berubah tegang.
"Perasaan kakak. Masih sama atau—"
"Sama!! Selalu sama. Selalu sayang Dara." Dia berteriak sambil menepuk dada.
"Yakin masih sama? Terus kenapa panggilannya jadi kamu? Bukannya dulu manggil adek?"
Dia mengembus berat. "Mulai sekarang kakak panggil Adek. Kemarin lagi kesel, aja, makanya manggil kamu."
"Lah, kenapa jadi kakak yang kesel?" Heran, deh!
"Ya, gimana gak kesel coba? Udah gak balas chat, gak jawab telepon. Gimana kakak mau jelasin semuanya?"
"Ya, usaha, dong. Masa gitu doang nyerah?" Dasar, mental kacang!
"Udah usaha, Sayang. Saking berusahanya kakak sampai nanya Kak Soraya."
"Kak Soraya?" Mataku menyipit.
"Iya. Kakak udah kehabisan cara buat bujuk kamu ngomong. Alhasil, tanya-tanya Kak Soraya."
"Terus dia jawab apa?" Jangan-jangan, ada sangkut-pautnya sama hadiah waktu itu.
"Kak Soraya suruh kakak nantangin kamu."
"Hah?"
"Kalau cara baik-baik gak bisa bikin Dara ngomong, berarti harus pancing dia emosi sampai mau ngomong. Begitu, katanya."
"Oh, pantesan ...." Aku paham sekarang. "Pantesan dari kemarin nantang. Udah kayak ngajak adu tinju."
"He-he-he." Dia nyengir kuda. "Putus asa, Sayang. Gak tahu lagi harus gimana, jadi lakuin semua saran yang ada."
"Hah, harusnya Kak Soraya gak ikut-ikutan. Biar kakak makin putus asa buat mikirin caranya."
"Tega bikin kakak putus asa?"
"Iya, lah! Kakak juga tega bikin Dara galau kemarin."
"Cie ... galau." Dia malah kesenangan. Seolah aku salah ucap barusan. "Udah mending baikan, yuk! Biar gak sama-sama galau lagi."
"Tapi kakak harus janji dulu sama Dara."
"Janji apa?"
"Janji gak bakalan sembunyiin apa pun dari Dara."
__ADS_1
"Oke." Dia tersenyum. "Kakak janji gak bakalan umpetin masalah apa pun dari Adek."
***