Pacar Bohongan

Pacar Bohongan
BC 17 | Kamar Kos (2)


__ADS_3

Aku tidak ikut tidur meskipun kasur bagian atas kosong. Sengaja memilih menghabiskan waktu dengan melipat baju Kak Bagas, lalu menyimpannya di lemari. Lagaknya memang sudah seperti pengantin baru. Benaran menghayati peran karena ternyata menyenangkan juga, ya. Hihihi.



Beberapa kaos dan kemeja formal sudah masuk di kedua rak. Seragam yang nantinya dipakai Kak Bagas praktik juga sudah digantung dengan rapi. Tersisa satu buntalan yang belum masuk ke tempatnya. Namun, begitu buntalan itu terbuka, tanganku lantas menetap, tidak mau bergeming. Bagaimana ini? Ini, kan, underwear Kak Bagas. Aku masukan, tidak, ya? Aduh.


Tanganku menangkup wajah menahan malu. Merasa mengintip, padahal hanya tumpukan kain celana dan kaos dalam. Kebingungan terlalu merajai kepala, sehingga aku tidak bisa melakukan pergerakan apa-apa.


"Simpan, aja, dulu."


"Hah?!?"


Tubuhku tersentak, menoleh ke arahnya dengan perasaan segan. Kak Bagas sudah membuka mata. Entah sejak kapan dia duduk bersandar ke dinding kamar.


"****** *****, 'kan?" Wajahnya teramat santai, padahal ini menyangkut perkara sensitif. "Simpan dulu, aja, biar nanti kakak yang masukin ke lemari."


Mendadak situasi ruangan terasa panas. Guna menutupi rona pipi yang terbakar, kepalaku lantas mengalihkan pandangan.


"Malah salting," gumamnya yang kini terasa melangkah ke arahku.


Masih dengan mode santai Kak Bagas melakukan pergerakan. Dia mengambil buntalan underwear di dekatku, lalu menyimpannya dengan rapi ke lemari pakaian.


"Nah, sudah," katanya sambil mengambil posisi duduk di sebelahku. "Enak begini, ya?"


"Apanya?" tanyaku yang sudah merasa agak baikan.


"Hm ... kita."


"Hah?" Apa, sih? Dia mencoba bicara apa?


"Hm, enak seatap, enak sekamar juga. Apa mending nikah, aja?"


"Nikah apa kawin?" Spontanitas aku bertanya begitu.


Kak Bagas terlihat menahan tawa. "Apa bedanya coba?"


Lah, kenapa jadi aku yang ditanya? Tak bisa memberikan jawaban apa pun, mataku mengerjap beberapa kali. Kedua pipi yang asalnya sudah baik-baik saja, kini terasa terbakar lagi.


"Jelasin, Sayang. Kayaknya kamu lebih paham daripada kakak." Dia malah menggoda, menarik tanganku supaya mau menatapnya lagi.


"Aku, kan, tadi tanya. Bukan berarti aku paham." Aku mulai berang.


"Hm, yakin gak paham?" Dia semakin gila mengerjai dengan mencolek pipi beberapa kali.


"Iya, Dara gak paham." Kepalaku menggeleng. Berusaha keras kepala guna menyelamatkan harga diri dari rasa malu. "Lagian, Kak. Kita belum tujuh belas tahun, memangnya bisa nikah?"


"Mau nikah dulu atau kawin dulu, nih?"


"Astaga!" jeritku karena dia tidak berhenti bermain-main.


"Bisa, Sayang. Nikah siri, aja. Banyak, kok, di sinetron-sinetron yang nikah muda."


Aku tertawa tanpa suara. "Korban sinetron ternyata."


"Hah, yang pasti kalau nanti nikah kakak maunya sama Adek." Dia mulai berlagak sok romantis.


"Yakin, nih, mau sama Dara?" Aku menatap penuh selidik.


"Yakin, lah," jawabnya tanpa berpikir dulu.

__ADS_1


"Nanti kakak nyesel, lho."


Kak Bagas tersenyum. "Justru kakak bakalan nyesel kalau kehilangan Adek."


"Jiah ... gombal." Kembali kedua pipi terasa terbakar.


"Serius. Apa perlu bukti? Kakak bisa, kok, telepon ibu sekarang. Minta biar dinikahi sama Adek, kalau perlu sekarang."


"Eh, jangan!" Aku menahan tangannya yang hendak mengeluarkan ponsel dari saku celana. "Kita lagi diam di kamar. Nanti kalau mereka salah paham gimana?"


"Salah paham apa?" Kak Bagas malah terlihat bingung.


"Ya, salah paham. Coba, deh, Kakak pikirin. Kita lagi diem di kamar, terus gak ada angin gak ada hujan minta dinikahi sekarang. Ya, pasti mereka mikir kita udah unboxing duluan."


"Unboxing?" ulang Kak Bagas sambil menahan tawa.


Astaga. Lagi-lagi aku salah kata.


"Pinter, ya, cewek kakak. Pakai tanya nikah dulu apa kawin dulu, terus sekarang ada bahasa unboxing. Coba jelasin unboxing itu yang gimana?"


"Ah, udah, ah." Aku mendorong tubuhnya sampai terjengkang. "Kenapa, sih, godain mulu?"


"Ya, habis lucu. Muka Adek putih, sekalinya salting jadi gosong."


Mendengar dia yang tergelak, aku memukul tubuhnya habis-habisan. Dia pikir lucu bercandaan begitu. Aku juga tidak tahu apa-apa soal menikah, kawin, atau unboxing.


"Oke, oke, maaf. Kakak gak bakalan begitu lagi."


Anehnya, sebanyak apa pun aku memukul, dia terlihat menerima tanpa menjerit kesakitan. Dia semacam menahan supaya kehebohan ini tidak terdengar sampai keluar. Wajahnya yang berubah memerah membuatku tak tega. Mau tak mau, aku mengalah dan berhenti memberi pukulan.


"Udah siang, mau makan apa?" Kak Bagas benaran menghentikan pembicaraan tentang itu.


"Terserah, sih, tapi kayaknya di sini susah pesan makanan online."


Iya, aku tahu. Tadi sudah melihat sendiri, di sekitar sini tidak ada restoran atau tempat makan ternama yang biasa melakukan layanan pesan antar.


"Ya, udah paling bikin, aja, gimana?" tanyanya.


"Bikin apa?" Setahuku kalau pun ada dapur umum tidak bisa seenak jidat memakainya.


"Bikin makanan khas anak kos." Kedua alisnya terangkat sambil tersenyum lebar. "Mau?"


"Mie rebus?" Aku sekadar memastikan. Apalagi coba makanan khas anak kos kalau bukan itu?


***


Benaran ada dapur umum ternyata. Letak pastinya di lantai dua, sebelum jemuran. Sudah tersedia kompor dua tungku, dua bak wastafel, peralatan masak seadanya, dan lemari pendingin. Tidak ada apa-apa di kulkas itu, hanya terdapat beberapa botol air yang sudah dilabeli nama masing-masing pemilik.


Kak Bagas yang mengambil alih menu makan siang kami. Menu sederhana ala anak indekos itu dibuatnya dengan semangat dan konsentrasi penuh. Harap dimaklum, ini pertama kalinya dia memasak setelah berpisah dengan keluarga. Pasti terasa asing dan menggembirakan.


"Mie bikinan kakak enak, lho."


Aku mengangguk, menebar senyum seperlunya. Di mana-mana yang namanya mie rebus, ya, begitu-begitu saja rasanya. Terkecuali kalau mie yang Kak Bagas masak dimodifikasi sedemikian rupa dengan bumbu rempah. Baru bisa dinilai enak dan tidaknya.


"Eh, penghuni kamar baru, ya?" Suara sapaan itu terdengar bersamaan dengan masuknya seseorang ke area dapur. Lelaki yang diperkirakan mahasiswa kesehatan itu datang bersama wanita yang memilih mematung di ambang pintu.


"Iya, Kak. Salam kenal, Bagas." Kak Bagas mengulurkan tangan yang terbebas dari sendok.


"Salam kenal, ya. Gue Arman." Senyum yang mengembang itu seolah menjadi pertanda bahwa dia sosok yang humble. "Sekolah di mana, Gas?"

__ADS_1


"SMK Bangsa, Kak. Saya PKL di RSJ."


"Oh, farmasi, ya. Kirain udah kuliah." Mendadak lelaki yang bernama Arman itu mengalihkan pandangannya padaku. "Ini pacarnya?"


Aku menegakkan tubuh sambil memberinya senyum perkenalkan.


"Iya. Pacar saya, Kak," jawab Kak Bagas cengengesan.


"Sekamar juga?" tunjuknya padaku.


"Ah, enggak." Buru-buru aku memberi klarifikasi.


"Adik kelas, Kak. Jadi belum PKL." Kak Bagas ikut menjelaskan.


"Lah, kirain PKL barengan."


"Enggak. Ini juga bentar lagi pulang. Tunggu sore," kata Kak Bagas lagi.


"Yah, padahal kalau libur nginep, aja. Di sini bebas."


Aduh, pakai digoda begitu pula.


"Saya juga dengernya di sini bebas bawa teman, Kak."


Tuh, kan, dia malah menanggapi dengan senang.


"Iya, memang. Tuh, cewek saya udah nginep seminggu."


Kami memandang wanita yang masih mematung di ambang pintu. Sekali tatap dengan perasaan sungkan kami mengangguk dan tersenyum padanya.


"Seminggu, Kak?" Kak Bagas terlihat antusias. "Gak jadi masalah sama pemilik kos?"


"Lho, kamu gak tahu? Pemilik gedung, kan, orang Jakarta. Ke sini kalau waktu bayar sewa, aja. Terus beliau juga orangnya fleksibel. Asal tanggungjawab mungkin kalau misal ceweknya kenapa-kenapa."


Kepalaku menunduk. Rasa-rasanya Kak Bagas salah memiliki kamar kos.


"Nanti kalau misal ceweknya libur ajak, aja, nginep. Biar ada temen cewek saya."


Setelah bicara begitu, mereka berlalu dari area dapur. Kami yang ditinggal pergi jadi saling beradu tatap.


"Apa?" semprotku, padahal Kak Bagas tidak berbuat apa pun. Aku hanya merasa dia kelihatan lebih bahagia mendengar kebebasan gedung indekosnya.


"Gak. Gak apa-apa," katanya sambil menggelengkan kepala. "Ya, kali, aja, Adek juga mau nginep."


"Enak, aja. Gini-gini juga adek takut dosa," tampikku.


"Lah, kok, bawa-bawa dosa. Memangnya kita mau ngapain?"


"Hah?" Aku malah hilang kata-kata, terlebih karena Kak Bagas mulai berjalan mendekat.


"Udah, jangan mesum mulu pikirannya."


"Siapa yang mesum?" jeritku tidak terima.


"Itu tadi Adek bawa-bawa dosa." Telunjuknya mengarah ke wajahku. "Sekadar nginep gak akan buat dosa kali, Sayang. Toh di kamar ada dua kasur."


"Nye-nye-nye," jawabku sekenanya.


Dia terkekeh, menarik daguku supaya berhenti berpaling. "Intinya kakak cuma mau bilang, sebebas apa pun kondisi di sini kakak bisa jaga diri dan jaga nafsu."

__ADS_1


Suaranya terdengar lembut di telingaku. Sedetik menghela napas, dia pun kembali melanjutkan. "Arti bebas buat kakak itu, bebas bawa Adek keluar-masuk buat main. Bebas tanpa batasan waktu. Cuma itu yang kakak perluin. Kakak juga pengin ditengokin pacar ke sini, masak dan makan bareng, terus bobok siangnya dilihatin kayak tadi. Gak lebih dan gak kurang. Jadi, jangan berpikir aneh-aneh karena lingkungan yang kakak pilih begini. Kakak juga gak mungkin berani bertindak kelewat batasan. Sampai sini paham 'kan?"


***


__ADS_2